Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 303. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir: Area Level A bag. 5



Saat pertarungan hampir dimulai, Ryou berlari mendekati arena. Kedua orang yang baru ditemui Ryou ikut berlari mengejarnya.


Ujian dimulai.


***


Sebelumnya, saat Xenon baru selesai melawan Ryou dan gadis bertelinga kucing itu, remaja dengan pedang itu menatap Xenon dari kejauhan.


'Dia adalah target Earl. Orang yang harus dilenyapkan dalam surat Lady semalam. Tidak kusangka justru akan bertemu di sini'


'Ini sebuah keberuntungan. Aku mengira kami berempat akan bertemu dengannya saat sudah lulus ujian'


'Virgo dan Rayel yang menemui Lady sebelum ujian sepertinya melewatkan kesempatan besar. Jika darah kotor itu mati di sini, pernikahan Lady dengan calon pemegang Artifact yang baru akan berjalan lancar'


Dia sempat mengalihkan pandangannya dan berpikir sejenak.


'Aku ingin tau, apakah informasi itu benar atau tidak. Tapi sejujurnya, Rexa van Houdsen tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk hal itu'


'Artifact yang tersimpan di sini dan di kerajaan belum memberikan tanda-tanda pengguna baru yang cocok'


'Tapi, aku rasa itu bukan hal penting. Sekarang, targetku ada di depan. Seandainya dia mati di tanganku saat aku menghadapinya, itu semua bukan salahku'


'Ini demi rencana Master dan Earl. Demi rasa sakit dari leluhur kami dan sejarah yang telah dilupakan karena Raja Lucario!'


'Xenon van Houdsen, setelah ini kau akan mati'


***


Kembali ke saat ini, pertarungan dimulai dengan serangan kedua pedang yang dilakukan oleh remaja itu.


-SLAAASH


Xenon melompat untuk menghindari serangan tersebut. Matanya tajam kali ini dan dia tidak main-main sekarang.


Selama pertarungan pada ujian beberapa waktu lalu, Xenon selalu menghindari serangan pertama dan mengamati pola serangan peserta yang menjadi lawannya tanpa menyerang lebih dulu.


Tapi yang ini jelas berbeda.


Hawa membunuh cukup terasa dari jarak ini dan Xenon tidak punya jalan lain selain menyerang. Dia dan tangan kosongnya mulai bertarung.


Setelah menghindari serangan peserta itu, Xenon dengan kecepatan tinggi mulai menyerangnya.


Gerakan yang dilakukannya benar-benar seperti seseorang yang sedang bertarung dalam medan pertempuran, bukan sebuah ujian penerimaan masuk.


Karena gerakan itu begitu cepat, mata peserta lain tidak bisa mengikutinya.


"Apa ini? Jadi sejak awal penguji itu belum serius?! Yang benar saja?!"


"Apa dia seorang kapten? Atau wakil kapten?"


"Jika melawannya dalam mode serius seperti itu, semua orang mungkin tidak akan ada yang lulus!"


Banyak peserta yang terkejut hingga tidak bisa berhenti terperangah dengan kecepatan serangan tersebut.


Jene yang mengamati Xenon mulai terlihat begitu serius.


'Kecepatan serangan Xenon belum meningkat tapi dia juga belum menjatuhkan lawannya. Itu artinya ada yang tidak benar'


'Sudah kuduga peserta daftar kosong itu memang mengincar penguji. Tapi kenapa? Apakah ini ada hubungannya dengan kekhawatiran para kapten dan Algeria-sama?'


'Aku yakin...peserta ini tidak sedang mengikuti ujian masuk. Dia berusaha menyakiti Xenon bahkan mungkin ingin membunuhnya?!'


Jene lalu melihat Ryou yang khawatir.


'Teman barunya Xenon terlihat sama cemasnya dengan aku dan Jessie. Tampaknya dia mengetahui sesuatu yang disembunyikan Xenon'


'Dia bahkan bisa berteriak seperti itu. Mungkinkah saat mereka menghilang tiba-tiba kemarin malam itu, ada hal lain yang dilakukan keempatnya?'


Pertanyaan dan kecurigaan Jene terhadap Ryou akhirnya mulai menajam. Tapi, bukan hal itu yang harus dipikirkan.


"Jene?! Xenon terlihat tidak baik!" kata Jessie panik


"Apa?!"


Jene mulai melihat calon iparnya dan berteriak, "Xenon?!"


Di sisi lain, Piero dan Luna, kedua orang yang baru ditemui Ryou berdiri di dekatnya dan tampak begitu cemas.


"Ini tidak begitu baik" guman Piero


"Kau benar, nyaa. Penguji terdesak sekarang"


"Apa?! Xenon terdesak?! Bagaimana kalian bisa tau?!" tanya Ryou


Dia sudah berusaha mengikuti arah gerakan dari pertarungan itu, tapi tampaknya kemampuan Ryou masih belum bisa mengimbanginya.


"Kau tidak bisa melihatnya ya?" tanya Luna


Piero langsung berkata, "Ryou, sepertinya kau bukan seorang pemburu atau petualang. Jadi wajar jika kau tidak bisa mengikuti gerakan itu. Tidak semua orang di sini juga bisa mengikuti jalannya pertarungan itu"


"Apa maksudnya?!"


"Pekerjaanku sebelumnya adalah seorang penembak dan pembunuh wild beast, karena itu aku terbiasa bertarung"


"Sudahlah! Aku ingin tau bagaimana situasi Xenon sekarang?!" Ryou sudah tidak mau dengar basa-basi


Piero mulai mengatakan pertarungan itu pada Ryou.


"Dia sudah mencoba menendang dan melancarkan pukulan pada peserta itu. Namun bukannya berhasil, penguji semakin terdesak"


"Kenapa?! Apa Xenon salah melakukan serangan?!"


"Nyaa nyaa, bukan begitu Ryou. Hanya saja, peserta berpedang itu juga mengimbangi kecepatannya" kata Luna dengan ekspresi serius


"Luna benar. Penguji itu cepat, tapi jika kecepatan lawannya sama disertai dengan dua pedang sebagai senjata, hal itu sudah beda cerita" lanjut Piero


"Xenon..." Ryou terlihat khawatir


Dia sekarang yakin bahwa yang sedang dilawan Xenon adalah penyusup yang dibahas mereka semalam.


'Half-elf dan mencoba masuk melalui ujian seleksi, aura mengerikan dan hawa kematian yang aku rasakan. Meski tipis tapi tidak salah lagi'


'Sial! Kenapa justru benar-benar bertemu di sini'


'Dan lagi...kenapa guru bodoh itu malah menolak menggunakan sihirnya!!'


'Dia mencoba membunuh kami bertiga saat berlatih, tapi di sini malah tidak melakukan hal yang sama! Apa dia memang berniat untuk mati?!'


Ryou memang berpikir begitu, tapi dia mengingat sorot mata dan kata-kata Xenon saat melakukan telepati dengannya beberapa waktu lalu.


[Kau lihat saja dari sana. Aku akan menang]


Pilihan yang dimiliki Ryou hanya percaya pada Xenon saat ini.


Sekarang, di arena pertempuran.


Semua hal yang dijelaskan oleh Piero itu benar. Setiap Xenon melakukan tendangan tajamnya, peserta itu terus menghindar lalu menyerang dengan mencoba menebas tubuh Xenon.


Sekilas seperti mengincar tubuh, tapi aslinya bukan. Dia mengincar kepala sang penguji.


"Cih!" decaknya dengan ekspresi kesal


Xenon masih belum terlihat lelah atau berkeringat sama sekali. Seolah dia masih belum dikatakan 100% serius.


Tapi ini adalah mode bertarung yang hampir sering dilakukannya saat mengejar target eksekusi. Jadi bisa dikatakan, setidaknya 50-60% mode seriusnya dikeluarkan.


"Kenapa masih belum mengeluarkan serangan yang serius, penguji?"


"Apa kau terlalu khawatir pedangku akan menebas kepalamu secara tidak sengaja?"


"Kau sendiri yang mengatakan bahwa kami harus membuatmu mengakui kemampuan bertarung kami"


Tidak ada balasan dari Xenon. Ini tidak seperti dia memang sedang tidak baik-baik saja.


Lebih tepatnya, Xenon masih mencari saat tepat.


'Peserta itu sungguh banyak bicara. Dia merasa sedang berada di atas angin karena bisa menangkis seranganku yang tanpa senjata apapun ya' pikir Xenon


Tebasan pedang yang dilakukan peserta itu semakin cepat.


'Dia berniat membunuhku' pikir Xenon


'Aku sadar beberapa kali arah pedangnya mencoba memotong leher atau menusuk jantungku'


"......!!" Xenon terkejut dan mencoba menghindar


Sebuah tebasan dari sisi samping terjadi dan bersamaan dengan itu, serangan fisik dilancarkan.


Peserta itu menendang Xenon. Mau tidak mau, Xenon menahan serangannya dengan menyilangkan kedua tangannya.


Xenon terpukul mundur.


"Xenon?!" Ryou berteriak


Jessie mulai terlihat khawatir. "Xenon...Jene, bagaimana ini?!"


Jene mulai cemas sekarang.


'Jika sampai kau terluka dan membuat Jessie menangis, akan kuinjak kakimu!'


Xenon melihat pengguna dua pedang itu dan dia tidak ada di depannya.


Siapa yang tau, rupanya peserta itu sudah melompat ke arah belakang Xenon.


'Matilah, darah kotor. Jangan salahkan aku karena kau ternyata selemah ini'


Ryou dan kedua teman barunya mulai pucat.


"Penguji!!" teriak Luna


"Xenon... Xenon?!"


-BUAAAAK


"Kaaagh?!"


"......!!!" semua orang terkejut


Xenon berdiri dengan menatap tajam sang peserta.


"Jangan mencoba terbawa suasana. Aku tau, kau mencoba melakukan sesuatu padaku. Aku juga bermaksud untuk serius kali ini"


******