
Saat ini, mereka yang berjalan di pusat kota hampir sampai di jalan belakang altar. Theo dan anak-anak lain tampak begitu bersemangat, sedangkan Joel dan Riz terus melakukan pembicaraan serius.
“Aku tau. Meskipun mereka adalah atasan tempatku berdagang, tapi aku masih menjaga hubungan pertemananku dengan Arkan. Aku tidak ingin berubah menjadi iblis sepenuhnya, paman Joel” kata Riz dengan sorot mata tajam
Joel cukup terkejut mendengarnya. Dia hanya bisa menghela napas dan mengatakan sebuah kalimat menyentuh untuk remaja tersebut.
“Kau itu manusia, Riz. Jangan menganggap dirimu sendiri sebagai iblis. Sekalipun kau selalu mengatakan bahwa kau adalah iblis berwujud manusia, tapi itu hanya karena kau mempunyai pekerjaan di luar nalar orang normal”
“Paman Joel…”
“Kalau soal iblis berwujud manusia…aku sendiri yang telah lama mengabaikan semua anak-anak itu juga tidak berbeda denganmu”
“……”
“Sekarang, aku sedang mencoba menebus dosaku sendiri dengan memberikan sedikit kebahagiaan pada anak-anak itu. Kau yang telah menyelamatkan orang yang berarti untuk mereka adalah orang baik. Itu bukti bahwa kau adalah manusia. Ingat itu baik-baik”
Akhirnya, ada seseorang yang mengatakan sebuah kalimat hangat untuk Riz. Meskipun remaja satu itu telah lama berada dalam bisnis gelap, namun untuk saat ini dia mulai melihat bahwa pada akhirnya dia bisa menjadi orang yang berguna untuk teman dan orang lain.
“Kau lebih baik dari yang kukira, paman Joel” Riz tersenyum dan memuji Joel dengan senyum
“Aku tau itu. Wajah menyeramkanku ini tidak ada hubungannya dengan hatiku yang cinta damai. Ahahaha!”
Joel tampaknya begitu percaya diri dengan semua hal yang dia katakan sampai bicara dengan nada keras. Tampaknya, kata-kata mutiara itu terdengar sampai ke telinga Theo dan dia memberikan respon ‘penuh pujian’ pada Joel.
“Kau memang suka anak-anak tapi kau tetap tukang selingkuh! Dasar orang mesum!”
-Jleb
Kalimat Theo yang dikatakan tanpa melihat Joel di belakangnya itu seperti sebuah pisau yang menujuk jantung Joel seketika.
Semua anak-anak yang mendengar ucapan keras Theo langsung melihat ke arahnya dengan wajah aneh. Bahkan Riz yang awalnya ingin terharu jadi melihat Joel dengan tatapan penuh rasa iba dan kasihan.
“Bocah…kau ini punya dendam pribadi padaku, ya? Aku orang yang cinta damai. Kenapa kau tidak bisa menunjukkan sikap ramah padaku”
Theo tidak menanggapi perkataan Joel dan hanya tersenyum meledek.
“Psst, Joel-ojichan itu sudah baik pada kita. Kau tidak boleh meledeknya seperti itu terus!” bisik Fabil pada Theo
“Kau jahat sekali, Theo! Kino-niisan akan membencimu nanti!” Stelani mulai menakuti Theo
“Geeh?! Ja–Jangan menakutiku begitu! Jangan ada yang mengadukan hal itu pada Kino-nii ya! Awas kalian!” Theo bicara dengan nada pelan pada semua anak-anak itu
Riz yang ada di samping Joel mencoba menghiburnya.
“Mereka hanyalah anak-anak, paman Joel. Aku yakin mereka menyukaimu. Percayalah. Lihat semua pakaian bagus itu. Aku dengar dari Arkan kalau kau yang membelikannya. Kau baik. Ingat, kau sendiri yang mengatakan padaku kalau aku bukan iblis berwujud manusia. Kau juga sudah dipastikan bukan. Semangatlah”
“Tapi, mereka mengatakan aku tukang selingkuh dan mesum” Joel berkata dengan nada lirih
“Ya…kan memang kenyataannya begitu. Terima saja….eh?”
Riz adalah contoh orang yang pandai membuat suasana hati orang lain semakin ‘membaik’, sama saja seperti Ryou. Sekarang. wajah Joel terlihat semakin memerah.
“Kau sama saja dengan Arkan. Dasar tidak punya perasaan! Sebenarnya kau ingin menghiburku atau menyindirku?!”
“Bukankah aku jujur? Jujur itu adalah hal yang dilakukan oleh malaikat, bukan iblis. Kalau aku berbohong, nanti hanya akan membuatmu semakin larut dalam kebohongan lain. Makanya aku bicara ju–”
“Cukup. Terima kasih karena mencoba menghiburku meskipun kalimatmu itu membuat hatiku semakin hancur. Hiks…”
Joel terlihat semakin mendung dan penuh dengan aura hitam. Terima kasih kepada Theo dan Riz yang sudah mengeluarkan semua kejujuran ‘manis’ pada Joel.
Dalam perjalanan, mereka akhirnya sampai di jalan sempit di wilayah terasing. Jalan yang selalu dilewati anak-anak itu ketika hendak pergi ke altar dan pulang dari altar.
Sepanjang jalan, Stelani dan Fabil bertanya banyak hal pada Theo.
“Theo, aku ingin tau…apakah kita akan jujur pada Kino-niisan soal pencurian itu?” Stelani bertanya sambil berbisik pada Theo
“Aku…aku hanya jujur pada Ryou-nii dan Kaito-nii sebelum mereka pergi menyelamatkan kalian. Tapi…” Theo terlihat ragu
“Kita harus jujur. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin berbohong pada Kino-niisan. Kino-niisan bahkan sudah membahayakan nyawanya untuk melindungi aku dan Fabil. Aku…aku tidak ingin dibenci olehnya” mata Stelani mulai terlihat merah
“Aku juga begitu, Theo. Aku dan Stelani sudah mengalami banyak hal buruk di tempat mengerikan itu. Mungkin jika Kino-niichan tidak menghalangi serangan wanita mengerikan itu, kami berdua akan dibunuh di tempat dan tidak akan dibawa dalam keadaan hidup” Fabil menambahkan kembali
Theo terdiam. Dia ingat apa yang dikatakan oleh Ryou mengenai niatnya untuk minta maaf pada Kino setelah semuanya berakhir. Tapi, hati kecilnya tetap saja takut. Dia tidak yakin apakah semua itu akan membuat hubungannya dengan Kino tetap seperti sekarang atau justru semakin buruk.
“Aku…aku masih memikirkannya. Aku masih…”
“Theo-niichan” Michaela yang bergandengan dengan Theo memanggilnya
“Michaela…” Theo melihat gadis kecil manis itu
“Kalau Theo-niichan ingin minta maaf, aku akan menemanimu. Teman-teman lain juga akan menemanimu. Tenang saja. Kino-niichan itu baik. Ryou-niichan juga…um…meskipun dia galak dan suka sekali berteriak pada kita semua saat memeluk Kino-niichan, tapi Ryou-niichan juga baik” Michaela mengatakan hal yang sangat jujur
Theo mulai tersenyum pada gadis kecil itu dan mulai menggenggam kembali bandul kalungnya. Kali ini, dia mengeluarkan bandul tersebut dari kerah bajunya dan melihatnya sambil berdoa.
‘Kalung yang bisa bercahaya ini…benar-benar membawa semua orang kembali dengan selamat. Aku berharap…aku bisa tetap mempertahankan hubungan baik antara aku dengan Kino-nii. Aku tidak ingin dibenci olehnya’
Meski hanya sekilas, kalung tersebut bercahaya.
******
Di rumah sakit, Kaito tiba-tiba merasakan sesuatu.
-Deg
‘Apa ini? Aku merasakan hal yang sama seperti yang ada di bar’ dalam hati Kaito
Sebenarnya, sebelum ini Kaito juga merasakan hal yang sama saat berada di pasar gelap. Hal itu terjadi ketika bertarung melawan Will. Namun, dia tidak begitu memperhatikannya karena terlalu fokus pada pertarungan.
Kaito melihat Kino dengan tatapan bingung. Pada saat itu, Arkan sedang bicara dengan Kino mengenai hal yang terjadi ketika mereka dalam perjalanan ke pasar gelap demi menyelamatkannya.
Kino sempat melirik ke arah Kaito karena merasa diperhatikan olehnya dan bertanya.
“Kaito-san? Apa ada sesuatu?”
Kaito cukup terkejut mendengar pertanyaan dari Kino. Dia tau bahwa Kino itu peka, tapi dia tidak menyangka kepekaannya itu semakin kuat sekarang.
“Aku…aku juga tidak mengerti. Entah kenapa aku seperti harus melakukan sesuatu atau mengatakan sesuatu…”
“Apa itu? Kenapa bicaramu tidak jelas begitu?!” Ryou langsung melihat Kaito dengan tatapan aneh
“Ada apa, Kaito-san? Apa ada sesuatu yang ingin dikatakan padaku?”
“Aku tidak yakin…” Kaito menjawab tidak yakin
“Jadi, katakan saja apa yang mau kau…”
“Aku merasa aku seperti harus melakukan sesuatu pada Kino–”
“Apa kau bilang?! Oi! Kau bercanda kan, Kaito?!” Ryou langsung berdiri dan menghampiri Kaito
Arkan yang saat itu berada dekat dengan Kaito langsung melangkah mundur sambil memperlihatkan ekspresi jijik padanya.
“Coba ulangi sekali lagi, kau bilang apa barusan?!”desak Ryou
“Kau memotong kalimatku, Ryou. Aku tadi belum selesai bicara”
“Kalau begitu selesaikan! Aku sudah menyiapkan tenaga pada tanganku ini!”
Sekarang, Ryou terlihat paling emosi.
“Sepertinya, aku harus melakukan sesuatu pada Kino atau mungkin mengatakan sesuatu padanya”
“Sesuatu? Apa itu? Aku akan mendengarkan apa yang ingin Kaito-san ucapkan padaku”
“Tunggu sebentar! Sampai tadi kita masih membicarakan hal yang serius! Kenapa sekarang jadi terdengar sangat ambigu sampai-sampai membuatku merinding sendiri?!” jelas Ryou sambil terlihat sedikit gemetar karena merasakan firasat tidak enak
Arkan yang terlihat menjauhi Kaito juga tidak berbeda dengan Ryou.
“Kaito, kau tidak memiliki kelainan kan?”
Kaito menengok ke belakangnya dan menatap Arkan dengan tatapan dingin.
“Satu-satunya kelainan yang kumiliki adalah berjalan dengan santai sambil membawa pedang tanpa sarung selama menetap di kota ini. Orientasiku pada lawan jenis masih normal jadi jangan berpikir hal yang tidak-tidak, tuan bartender”
“Tapi ucapanmu itu sangat aneh. Aku tidak heran kalau Ryou sampai terlihat seperti itu”
“Kalian berdua jangan bicara begitu pada Kaito-san. Kaito-san, aku akan mendengarkanmu. Jangan pikirkan Ryou dan ucapan Arkan-san. Apa yang ingin dikatakan oleh Kaito-san?” kata Kino yang melihat Kaito dengan senyuman
“Kino?! Kau tidak tau kalau otak Kaito tidak beres?!” ucap Ryou
“Kalau begitu, bukankah sikap Ryou juga tidak benar. Ingat apa yang kukatakan saat kita keluar dari penginapan pagi itu? Aku akan tegas pada sikap Ryou yang selalu bicara kasar pada Kaito-san. Sekarang, biarkan Kaito-san bicara atau nanti aku tidak mau mendengarkan Ryou”
Ucapan Kino itu keluar dari mulutnya dengan nada lembut, tapi makna yang tersirat di dalamnya sangat tajam sampai membuat Ryou tidak bisa berkata apapun kecuali berdecak dengan wajah cemberut.
Ryou kembali ke samping sang kakak. Di saat itu, Arkan menemukan sesuatu yang menarik.
‘Jadi ini sifat asli dari kakak Ryou. Menakjubkan! Bahkan si cerewet yang miskin adab itu bisa langsung diam. Aku harus mengadukan ini pada Riz nanti!’ pikir Arkan dalam hati dengan wajah berbinar
Sekarang, Kaito mulai mengatakan sesuatu pada Kino.
“Kino, apa kau tidak akan membenciku?”
“Hmm? Kenapa aku harus membenci Kaito-san?”
“Begitu. Ya sudah. Hanya itu saja yang ingin kukatakan padamu”
“……” Ryou dan Arkan terdiam dengan wajah aneh
“Tidak ada yang lain lagi, Kaito-san?” tanya Kino
“Tidak ada. Hanya itu”
Kaito bergumam dalam hati.
‘Apa aku masih normal? Kenapa aku merasa aku ingin melakukan sesuatu pada Kino tapi tidak tau apa yang ada dalam pikiranku?’
“Kaito…” Ryou memanggil
“Ya?”
“Kau tidak gila kan?”
“Tidak. Kenapa?”
“Jangan bicara lagi pada kakakku. Otakmu sakit. Ini pasti karena wanita iblis bernama Seren itu menjadi penggemarmu makanya otakmu mirip seperti dia. Tidak jelas, suka bergumam hal yang aneh dan labil. Dasar anak yang baru dewasa!”
“……” Kaito terdiam dengan wajah datar
Sekarang, Kaito hanya bisa menahan diri di depan Kino yang sedang sakit.
‘Jika bukan karena memikirkan perasaan Kino sebagai kakaknya, akan kulempar Ryou keluar dari ruangan ini’
******