Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 329. Berbagi Informasi bag. 1



Di lorong koridor, Ryou sempat bertanya pada sang kakak sambil berjalan.


“Aku terkejut kau bisa mengetahui aku ada di sana, Kino. Bagaimana caranya? Telepati? Ikatan batin yang kuat walau kita bukan saudara kembar?”


“Ryou…” Kino hanya menatap adiknya dengan wajah aneh


“Jadi?”


“Itu karena setelah aku keluar, ada yang memberitauku”


“Hmm??


Mari kita mundur beberapa menit setelah Kino keluar dari ruangannya dan kebingungan mencari sang adik.


***


Setelah berpisah dengan Emily yang telah keluar lebih dulu dari ruang ujian, Kino sempat mencari ke beberapa ruangan di depan ruang ujiannya.


Karena jarak tiap pintu sangat panjang yang menandakan luasnya isi ruangan tersebut, Kino sempat bingung.


“Ini ruang ujian juga tidak ya?”


Kino mengetuk pintu sebelum membukanya. Dia melihat ke dalam.


“Permisi…”


“Ya?”


Ternyata ada orang. Ada beberapa orang di dalam. Tampak seperti ruang ujian yang baru selesai.


“Ah, maafkan aku karena mengganggu. Apakah ini ruang ujian?”


“Benar, ini ruang 6”


‘6? Jadi tiap ruang ujian ditempatkan secara acak. Aku baru tau’ gumamnya dalam hati


“Apa kamu mencari sesuatu?” tanya seseorang yang sepertinya petugas ujian


“Iya. Aku mencari ruang ujian nomor 2”


“Nomor 2 sudah selesai dari tadi. Mungkin mereka sedang ada makan siang di kantin”


“Kantin?”


“Kamu cukup berjalan lurus lagi sampai ke depan lalu belok ke sebelah kiri dari ruangan ini, kemudian lurus terus sampai menemukan pintu besar di tengah-tengah ya”


“Baik. Terima kasih banyak” Kino memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya lalu menutup pintu dan pergi.


Dia benar-benar mengikuti petunjuk dari orang tersebut dan berjalan ke kantin.


“Hanya bisa bertaruh dengan ini karena aku tidak tau ruang ujiannya. Aku kira Ryou ada di ruangan tepat di depanku, ternyata tempatnya berbeda tiap ruangan. Unik sekali”


Karena jaraknya memang cukup jauh, jadi waktunya cukup lama. Kino juga harus melewati para senior yang merupakan murid asli akademi sekolah yang baru keluar dari kelas mereka juga jadi dia harus bersabar.


‘Banyak sekali. Aku percaya mereka semua hanya berasal dari lantai ini seperti kampus di ‘dunia’ sebelumnya. Tidak mungkin mereka hanya punya satu ruang makan bersama dengan siswa sebanyak itu kan?’


‘Tapi unik sekali. Siswa sebanyak ini hanya berasal dari 25%-30% peserta yang diluluskan? Memang tidak ada cara lain untuk masuk ke akademi sekolah sihir ini?’


‘Sudahlah, aku baru saja dinyatakan lulus jadi sebaiknya tidak memikirkan hal yang macam-macam’


Kino berjalan dan akhirnya dia bisa melihat wajah adiknya.


***


“Begitulah ceritanya” kata Kino mengakhiri sejarah panjang untuk bertemu dengan sang adik


“Hmm…kukira kau dan aku memiliki ikatan istimewa seperti kembar. Sayang sekali”


“Ryou…” Kino jadi semakin aneh dengan nada bicara sang adik


Sekarang mereka hanya bisa mencari keberadaan Kaito.


“Kira-kira, dimana ruang ujian Kaito ya?” gumam Ryou pelan


“Entahlah. Tapi aku rasa akan jauh lebih aman jika kita menunggu di lobi”


“Kau benar. Sekalian, aku ingin cerita soal ujian di ruanganku” Ryou terlihat serius kali ini


“Ujian di ruanganku juga cukup mengejutkan. Emily-san ternyata lebih kuat dari yang kita duga, Ryou. Bahkan melihat kemampuannya bertarung tadi, Emily-san jauh di atas Xenon-san. Tidak heran jika dia seorang kapten divisi”


“Hah?!”


Ryou berhenti berjalan dengan teriakan tidak percaya. Hal itu membuat Kino sempat berhenti juga dan menengok ke arah sang adik.


“Kenapa?”


“Kau…kau bilang apa barusan?”


“Emily-san kuat dan–”


“Gadis kecil nakal yang menyebalkan itu ada di ruanganmu?! Kenapa?!”


“Karena dia adalah pengujiku”


“Apa?! Kau diuji oleh anak nakal menyebalkan itu?!” Ryou langsung mendekati sang kakak dan memeriksa seluruh tubuh sang kakak. “Kau sehat, kan? Dia tidak melakukan hal yang macam-macam padamu, kan? Kau tidak dipasangi penyadap kan?”


Reaksi berlebihan sang adik membuat Kino hanya bisa menunjukkan wajah anehnya sambil berkata, “Ryou…”


“Aku serius. Cih! Bocah sial itu! Dia bilang menyukaimu, menyukaimu. Awas kalau sampai dia meletakkan penyadap sihir di tubuh kakakku dan aku mengetahuinya. Akan aku cubit wajahnya yang menyebalkan itu!”


“Ryou…”


“Cih! Sial”


“……”  sepertinya Kino harus sedikit bersabar menghadapi emosi labil dari sang adik


Saat berjalan menuju lobi ketika Ryou menggerutu, Kino hanya bisa sabar mendengarkan gerutuan sang adik.


“Akan aku kutuk dia, kucubit wajahya, akan aku bilang kalau dia itu nakal, menyebalkan dan–…Kaito!”


Ryou melihat sosok Kaito dari jauh. Ternyata dia sudah ada di lobi dan tepat seperti harapan keduanya, mereka bertemu karena Kaito juga berpikiran hal yang sama.


“Kino, Ryou!”


Kaito menghampiri mereka yang berjalan ke arahnya juga.


“Aku senang aku menunggu di sini. Aku pikir kalian mungkin ada di sini juga”


“Kaito-san, bagaimana ujianmu? Apakah semua baik-baik saja?”


“Iya. Aku lulus, meskipun dengan drama”


“Keberuntunganmu bekerja kali ini, Kaito?”


“……” Kaito tidak mau menjawab Ryou


“Aku serius. Keberuntunganmu bekerja kali ini?”


“…Hmmm”


“Tidak niat sekali jawabanmu itu. Kau sendiri yang bilang dengan drama, jadi aku pikir keberuntungan yang suka meledekmu itu mungkin sudah mau bersahabat sedikit”


“……” Kaito sekarang jadi tidak mau bicara soal ujiannya pada Ryou


Kino melihat keramaian di lobi dan akhirnya memutuskan untuk mengajak mereka keluar dari tempat itu.


“Mau mencari tempat hening untuk bercerita? Aku rasa di sini tidak begitu mendukung. Kita masih di wilayah milik Divisi Dewan Sihir jadi ada kemungkinan kita masih diawasi”


Keduanya pergi dari tempat itu menuju pintu keluar.


“Aku tidak akan bertanya kalian lulus atau tidak karena aku percaya pada kalian berdua” kata Kaito dengan senyum


Ryou menjawab dengan senyum percaya diri juga, “Tentu saja! Biarpun kau tidak akan percaya siapa penguji dan pengawas ujianku”


“Siapa?”


“Xenon, sudah begitu si kembar adalah pengawasnya. Tadi aku bahkan diculik oleh mereka ke kantin dan mereka berusaha menyogokku! Untung malaikat penyelamatku datang dan langsung membawaku keluar dari mereka”


“Malaikat…ah. Kino, kau juga terlibat?”


“Bukan begitu, aku mencari Ryou dan ternyata memang ada di sana. Aku senang bisa menemukannya tanpa perlu susah payah”


“Hmm, kalian drama juga rupanya. Terutama kau, Ryou. Drama yang terjadi padamu ternyata cukup…”


“Diam kau!”


Kaito hanya senyum melihat Ryou yang tampak cemberut dan menggerutu.


Setelah keluar dari gerbang, ketiganya berjalan mencari tempat yang tidak begitu ramai. Mereka sempat melihat-lihat beberapa tempat, altar, aula umum dan taman.


Sampai akhirnya pilihan paling bagus adalah di dekat sungai tempat mereka berlatih.


Begitu sampai di tempat tersebut, hal pertama yang dilakukan mereka adalah membuka sepatu dan bermain air.


“Aku hidup dan aku senang!!”


Ryou meneriaki kalimat yang aneh, namun karena di sana sepi jadi tidak masalah. Kino dan Kaito akhirnya duduk di bawah pohon setelah puas bermain air.


“Jadi, aku ingin tau bagaimana ujianmu tadi, Kino”


“Cukup mengejutkan, Kaito-san. Emily-san yang menjadi pengujinya dan ada kejadian tidak terduga sebelumnya”


“Kejadian tidak terduga ya…”


Kaito terdiam sejenak dan memanggil Ryou, “Ryou, kemari sebentar!”


“Oo!!”


Ryou keluar dari air dan duduk di samping sang kakak.


“Ada apa?”


“Aku ingin bercerita soal beberapa informasi dan ini sangat penting. Ini menyangkut informasi yang ingin diketahui oleh Xenon dan kenyataan yang melengkapi penyelidikan kita”


“Informasi…”


***


Ini terjadi sebelum Kaito bertemu dengan kedua kakak beradik itu, lebih tepatnya terjadi bersamaan dengan kejadian saat Ryou ditarik oleh Jessie dan Jene serta Kino yang baru saja selesai ujian di ruang ujiannya.


Perbedaan waktu terjadi karena saat itu, Kaito yang masih bersama Mark berada dalam sihir [Astral Barrier] dan [Time Seal] yang membuat zona waktu mereka menjadi lambat.


Mark memperingatkan Kaito akan sesuatu saat itu.


“Gadis yang tadi itu adalah setengah elf dan dia ada dalam daftar yang harus aku awasi. Itu adalah perintah Lucas padaku”


“Apa?!”


Kaito terkejut mendengarnya. Tapi, yang menjadi perhatiannya saat itu adalah hal lain.


“Daftar kosong itu…apa maksudnya?”


“Saat kalian mendaftar pertama kali untuk ikut ujian, kalian mendapatkan nomor peserta yang hanya bisa dilihat oleh diri kalian sendiri dan sesama peserta lain. Kami tidak bisa melihatnya dari tangan kalian, namun kami langsung mendapatkan data kalian dalam bentuk kertas”


“Kertas?”


“Benar. Di sana tertulis semua data kalian. Nama, tanggal lahir dan asal kota, usia saat ini, keahlian, grafik kekuatan fisik dan sihir, pekerjaan sebelum dan yang sekarang dilakukan, catatan merah atau hitam jika ada dan berapa kali mengikuti ujian masuk akademi”


“Karena setiap tahun selalu ada peserta yang mengulang dan tidak ada batasan usia tertentu untuk masuk ke dalam akademi, jadi hampir semuanya diketahui”


“Namun, data milik gadis itu tidak memuat semuanya”


“Tidak memuat semuanya itu maksudnya…”


“Tepat. Seluruh informasi pribadi yang aku sebutkan tadi tidak ada satupun yang tertulis di kertas. Semuanya kosong”


“……!!!” Kaito terkejut


Kini, dia mendapatkan sebuah informasi lain yang berguna untuk misteri yang sedang dihadapi.


******