Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 359. Dinding Hati bag. 2



Di ruangan Algeria, Xenon dengan tenang melakukan tugas. Baik Jessie maupun Jene sama sekali tidak mendekatinya.


Seperti ada sesuatu yang sulit untuk dikatakan, keduanya sama sekali tidak mencoba memanggilnya Xenon.


Xenon sendiri berpura-pura tidak menyadari bahwa kedua saudara kembar itu memperhatikannya.


‘Aku tidak mau membuat masalah dan aku sendiri tidak memiliki niat untuk menyapa mereka’


‘Mengingat banyak hal yang aku rahasiakan dari mereka, aku yakin jika aku membuka mulutku, mereka akan menanyakan banyak hal’


‘Sebaiknya, aku selesaikan tugas di sini dan keluar dari tempat ini’


Di sisi lain, Jessie yang sempat melirik Xenon mengingat apa yang terjadi semalam.


Misha yang terus mengutuk dan mengatakan akan membuat Xenon menyesal, dia tidak bisa tidur setelah mendengarnya. Selain itu, perasaannya yang masih sulit diterima oleh Xenon membuatnya semakin jatuh dalam dilema.


Apa yang terjadi semalam, tidak diberitaukan Jessie kepada Jene. Dia begitu tertekan mengingat apa yang Misha katakan dari ruangannya.


Sesekali, Jessie menengok ke arah Xenon diam-diam. Dia ingin sekali mendekatinya, namun dia mengurungkan niat itu setiap ada kesempatan.


Sedangkan Jene tidak bicara pada Xenon mengingat apa yang dikatakan oleh Kino ketika mereka ada di kantin kemarin.


[Bukan hanya kami yang akan kehilangan kepercayaan darinya, tetapi kalian dan hubungan yang telah dibangun oleh kalian selama ini akan langsung hilang]


Di antara semua kalimat Kino kemarin, hanya kalimat itu yang berdampak cukup dalam untuknya.


‘Apakah Xenon memang tidak mempercayai kami? Apakah hanya aku dan keegoisanku yang menganggap hubungan antara aku dan dia begitu dekat seperti keluarga?’


‘Hanya karena hubungan pertunangan adikku dan dia, apakah aku yang terlalu besar kepala menganggapnya sebagai saudaraku juga?’


Mereka bertiga memiliki pikiran yang berbeda namun semua itu mengacu pada hal yang sama. Sebuah tembok raksasa di sekitar merekalah yang menjadi penyebabnya.


“......”


Xenon yang selama ini mencoba menjaga jarak dan komunikasi dengan kedua orang itu membuat banyak pertanyaan dalam pikirannya.


‘Mereka tidak lagi menggangguku? Ada apa?’


‘Apa sudah lelah?’


Saat Xenon berjalan memindahkan kertas-kertas itu, dia tanpa sengaja menyenggol gunungan kertas lain di meja yang menyebabkan semuanya berantakan kembali.


“Gaaah!!!”


“Apa? Kenapa?!” tanya Jene panik


Xenon terlihat begitu polos, “Kertasnya…menyenggolku”


“Tidak mungkin dia yang menyenggolmu, bodoh! Pasti kau yang menyenggolnya, kan!!”


“Jene-sama, kau tidak punya saksi untuk hal itu!”


“Hentikan alasanmu itu! Haduh, kepalaku sakit! Aku bisa darah tinggi menghadapimu!”


Jessie mencoba melerai kedua orang itu, “Kalian berdua, jangan berteriak atau kerjaannya tidak akan selesai!”


“......” kedua laki-laki itu diam. Mereka saling melihat dan akhirnya tertawa bersama.


“Ahahaha. Akhirnya kerja dua kali kan”


“Apa boleh buat. Sejak aku di sini, Algeria-sama memang memberiku semua kertas tak berguna ini”


“Xenon, jangan membuat masalah dan bersihkan semuanya. Buang saja yang tidak perlu”


“Aku mengerti”


Jessie tersenyum, setidaknya keadaan tidak lagi sekaku seperti sebelumnya. Sambil membersihkan seluruh kertas-kertas itu, Jessie mendekati Xenon.


“Xenon…”


“Ya?”


“Um…apa kamu baik-baik saja?”


“Aku baik. Aku harap Jessie-sama juga baik-baik saja”


“Umm…”


Xenon melihat sesuatu yang tidak benar. ‘Kenapa dengan matanya itu?’ pikirnya. Dia lalu mendekati wajah Jessie dan memperhatikannya dengan seksama. Tangan Xenon bahkan menyentuh pipi Jessie dengan lembut yang membuat gadis itu memerah.


“Kenapa?!” tanya Jessie dengan panik


“Kenapa dengan matamu itu, Jessie-sama?”


“Eh?”


“Hah?” Jene yang mendengarnya langsung pergi mendekati sang adik. “Jessie, lihat aku!”


“Aku tidak apa-apa!” katanya


Xenon melihat Jessie sekali lagi.


“Sembab di mata itu masih ada sampai pagi ini, artinya Jessie-sama tidak bisa tidur karena menangis juga. Apa terjadi sesuatu?”


Jessie diam dan tidak menjawab. Jene bertanya pada sang adik, “Apa yang terjadi? Sampai kemarin semua baik-baik saja, kan?”


“Apa semalam terjadi sesuatu? Jawab aku, Jes!”


Jessie melihat Xenon, “Apa kamu memiliki masalah dengan Misha-sama?”


“Misha-sama?”


Jessie menceritakan semua yang terjadi semalam. Tentang bagaimana Misha terus berteriak dan menyebabkan kegaduhan di asrama mereka.


Jene yang syok sampai bergumam sendiri, “Misha-sama bisa berteriak sampai didengar oleh kamar di sebelahnya? Sekeras apa teriakan itu? Selain itu…kenapa?”


Xenon menghela napasnya.


“Kemarin siang aku bertemu dengannya dan memang sempat ada sedikit masalah kecil”


“Jadi benar!” Jessie mendesak


“Itu karena Misha-sama mengatakan hal yang cukup membuatku sakit hati kemarin dan dia mengatakan hal itu di halaman akademi. Terlalu banyak orang di sana dan dia sengaja melakukan hal itu”


“......” kedua saudara kembar itu terdiam


“Aku tidak ingin membuat Rexa-sama malu dengan sikap tunangannya yang seperti itu. Dan aku juga tidak ingin melibatkannya dalam masalah”


Jene terlihat kesal dan menunjuk wajah Xenon.


“Itu masalahnya! Itulah kenapa kau selalu membuat semua orang khawatir!”


“Apa sulitnya percaya pada orang lain, Xenon?! Memang kau kira kami ini apa?!”


“Kenapa kau sulit sekali terbuka padaku dan Jessie?! Kita sudah saling mengenal sejak kecil dan…”


Jene menghentikan semua kalimatnya. Dia hanya menghela napasnya pelan sambil menatap Xenon, “Kenapa dinding di hatimu begitu tinggi dan tebal sampai sulit sekali untuk ditembus, Xen?”


“......!!” Xenon terkejut


Panggilan dari Jene itu adalah sesuatu yang sangat nostalgia untuk Xenon. Mungkin hanya sebuah nama kecil dengan tiga huruf, ‘Xen’ dan hanya sebuah nama yang tidak begitu bermakna.


Tapi itu adalah kenangan dari Xenon di masa lalu saat semua senyum di bibirnya bisa terlihat dengan bebas.


Xenon tertunduk dan seakan menyesalinya, dia memberikan sedikit ruang untuk kedua saudara kembar itu untuk mengerti dirinya.


“Maafkan aku. Aku hanya berpikir…kalau kalian terlalu berarti untukku dan aku tidak ingin kalian mendapatkan hal buruk karenaku”


Di mata Xenon, mungkin kalimat itu tidaklah berarti apapun. Namun untuk Jessie dan Jene, pengakuan itu begitu berharga. Seperti mendapatkan sebuah cahaya baru untuk masuk ke dalam dinding hati Xenon, keduanya terlihat bahagia dengan itu.


Jessie memeluk tunangannya itu dengan erat.


“Jessie-sama?!”


“Xenon juga berharga. Karena itu, meski hanya sedikit…aku harap kamu mau membagi semua beban itu pada kami”


“Bukankah kita akan menjadi keluarga?”


“......”


Satu lagi momen hangat didapatkan untuk saat ini.


**


Di lobi, Algeria yang mencari Emilia menemukannya sedang sibuk dengan peserta yang lain.


“Emilia-sama, Tatiana-sama”


Keduanya berdiri dan melihat kedatangan Algeria.


“Algeria-sama. Ada apa terburu-buru?”


“Aku mendapat laporan bahwa ada sedikit masalah tadi. Apa semua sudah baik-baik saja?”


“Semua sudah kembali normal. Jangan khawatir, Algeria-sama”


Untuk saat ini, belum banyak yang terjadi. Namun dari kejauhan, mereka yang menjadi musuh melihat dan memantau situasi


******