
Di perjalanan, Arkan bertanya banyak hal pada Theo selama dirinya pergi. Pembicaraan itu dimulai dari hal paling sederhana seperti basa-basi untuk menciptakan suasana santai. Bagaimanapun juga, dia tidak pernah sedekat itu dengan semua anak-anak jalanan asuhan Justin.
“Apa kalian melakukan banyak hal bersama manager selama kami pergi?” Arkan bertanya dengan santai
“Ya. Paman mesum itu memberikan kami banyak sekali makanan dan uang”
“Paman mesum ya…kau cukup unik memanggilnya begitu, Theo”
“Dia sendiri menyadari hal itu. Bukan salahku!”
Arkan diam sejenak. Tidak lama setelah itu, dia mulai bertanya dengan nada serius.
“Apa semua baik-baik saja selama kami pergi? Kalian tidak menangis atau berpikir hal yang buruk saat itu, kan?”
Theo terdiam. Melihat reaksi itu, Arkan menyadari bahwa mereka pasti memikirkan kemungkinan terburuk dan dia paham akan hal itu.
“Aku dan yang lain selalu berdoa untuk keselamatan kalian semua. Buktinya, Arkan-nii pulang dengan semuanya kan?” jawab Theo dengan sorot mata serius dan penuh rasa percaya diri
Arkan terdiam. Tidak banyak hal yang serius lain yang ingin dia bahas. Bagaimanapun juga, semua hal buruk sudah terlalu panjang untuk satu hari itu.
“Besok, kalian akan pergi ke sana lagi?” tanya Arkan
“Hari ini, kami sempat masuk ke kamar Kino-nii. Tapi, dokter bilang dia butuh istirahat dan tidak akan bangun sampai besok, jadi kami hanya di sana sebentar. Ryou-nii akan menjaganya dan Kaito-nii mengantar kami saat akan pulang. Aku berharap besok kami bisa bertemu dengannya dan bicara”
“Apa Kaito masih di sana juga?”
“Sepertinya begitu, tapi aku sendiri tidak tau. Pedang mereka tidak bisa masuk jadi mungkin saja Kaito-nii akan pulang ke penginapannya. Kaito-nii sudah bercerita pada kami tentang itu” jelas Theo
Theo sempat melirik Arkan dan berkata.
“Arkan-nii, kau sudah banyak berubah”
“Berubah?”
“Aku tidak pernah ingat dekat denganmu meskipun sudah sering sekali datang. Aku tidak tau kalau kau bisa peduli pada nasib kami sampai seperti itu”
Arkan terdiam lalu tersenyum. Tidak ada balasan apapun sampai mereka tiba di rumah Arkan. Sebelum masuk, Arkan akhirnya memberi respon.
“Manusia itu berubah, Theo. Aku tidak ingin dipandang seperti seorang iblis terus menerus. Aku bukan Justin”
“Kau benar. Kau lebih baik daripada gorilla itu” Theo menjawab sambil tersenyum lebar
Arkan masuk ke rumahnya dan mengambil beberapa hal yang dimasukkannya ke dalam kantong besar. Isinya adalah pakaian gantinya, pasta dan bubur instan, minuman botol juga tidak lupa selimut. Dia juga sempat mengambil obat krim dan plester.
“Untuk apa krim dan plester itu?”
“Wajah memarmu itu masih terlihat. Setidaknya, itu harus diobati agar tidak sakit”
Theo memegang wajahnya lalu berbalik. Wajahnya memerah karena malu sambil berkata “ini bukan hal yang serius” pada Arkan. Setelah selesai dengan semua barang-barangnya, mereka berdua kembali ke bar.
Sambutan hangat diberikan oleh semua anak-anak itu. Arkan mengeluarkan beberapa kain yang dia bawa.
“Aku minta maaf karena di tempat ini tidak memiliki banyak kain untuk selimut. Jika kalian ingin tidur lebih hangat, sebaiknya menggunakan ruang ganti karyawan atau kalian bisa pakai ruangan yang dulu dipakai oleh Jus–”
“Abaikan ruangan itu! Kami akan pakai ruang ganti karyawan, Arkan-niichan. Selain itu, tidur di kursi bar juga tidak buruk. Tempat ini jauh lebih baik dibandingkan rumah kami” kata Fabil sambil tersenyum
Arkan hanya bisa membalas senyuman itu dengan senyum miliknya. Setelah masalah selimut dan tempat tidur selesai, dia segera membuat pasta dan bubur instan yang dia bawa untuk makan malam. Hingga akhirnya malam tiba dan semua tertidur.
Di malam itu, anak-anak tidur dengan nyenyak. Bisa dikatakan bahwa itu adalah malam dengan tidur paling nyenyak yang pernah mereka rasakan. Makanan enak, pakaian bagus, mereka memiliki uang dan yang paling penting adalah tidak ada lagi ketakutan. Mereka bebas karena Justin telah mati.
Rasanya seperti siang hari terasa begitu panjang namun malam terasa sangat singkat di hari itu. Semua yang terjadi di siang hari bagaikan mimpi buruk yang sulit untuk membuat mereka bangun, tetapi setelahnya semua berakhir begitu saja dan terlupakan bagaikan ilusi.
‘Ini adalah hari paling panjang yang pernah kulalui seumur hidupku’ pikir Arkan sebelum menutup matanya
Arkan sempat memeriksa semua anak-anak itu di ruang karyawan. Melihat semuanya tidur nyenyak membuat rasa lelah memeluknya. Dia pergi ke bar, menarik kursi dan tertidur.
Pada pagi hari, Arkan bangun lebih pagi seperti biasanya dan mulai bersiap-siap.
Setelah membangunkan anak-anak itu untuk mandi, mereka akhirnya sudah siap dengan pakaian terbaik mereka. Sambil menunggu Joel datang, mereka hanya duduk sambil bercerita sementara Arkan melakukan tugasnya seperti mengepel dan mencuci pakaiannya sendiri di tempat itu.
“Rasanya, bar ini benar-benar mirip dengan penginapan dibandingkan tempat kerja” gumamnya saat mencuci pakaiannya yang kotor kemarin sore.
Pukul 08.00 pagi, Joel datang bersama Maggy yang lengkap membawa makanan dan kue untuk mereka. Sebelum berangkat, mereka sarapan bersama terlebih dahulu.
“Manager, soal pesanmu semalam itu belum kulakukan. Akan kubawa ke tukang cuci langgananmu setelah kalian berangkat ya” kata Arkan saat makan bersama di bar
“Oh, soal itu. Semalam aku sudah katakan pada Maggy. Dia yang akan membawanya ke sana”
“Maggy-sama? Tapi, apa tidak masalah kalau seperti itu? Bagaimana dengan semua alat makan ini?” Arkan sedikit terlihat cemas
“Jangan khawatir semuanya akan ditinggal sementara di tempat ini. Aku yakin, kalian pasti akan pergi ke rumah sakit lagi besok. Lebih praktis meninggalkan semua ini untuk menyiapkan makanan besok. Jadi, aku hanya perlu membawa bahan makanan untuk dimasak di sini” jawab Maggy dengan senyuman
“Apa itu tidak masalah, manager?”
“Haaah~” Arkan hanya bisa menghela napas
Waktu makan terasa begitu singkat. Sekitar jam 09.15 pagi, Maggy pergi meninggalkan bar dengan membawa sekantong plastik pakaian kotor milik anak-anak itu. Joel pergi bersama anak-anak itu ke rumah sakit. Dan Arkan yang malang tinggal melakukan tugasnya sebagai bartender yang merangkap menjadi asisten rumah tangga.
Dia mencuci alat makan yang sebelumnya digunakan untuk sarapan tadi. Setelah selesai, dia bermaksud pergi untuk ke bar lagi tapi…
“Ukh, harusnya aku ikut membuang tempat makan dan botol minum milik Seren-sama”
Langkah kakinya terhenti karena melihat tempat makan dan botol yang kemarin dicucinya. Arkan benar-benar melupakan fakta bahwa dia membuang semua suguhan dari pengelola pasar gelap itu.
“Semoga benda ini tidak menarik dewa kematian itu kemari”
Kali ini, Arkan berjalan keluar dapur. Di bar, dia membersihkan gelas dan botol minuman di rak. Dia membersihkan lantai dan menyapu serta menggulung karpet yang kemarin baru saja dibelinya.
“Kurasa sementara harus kusimpan dulu sampai Sean-sama selesai memperbaiki tempat ini”
Arkan meletakkan gulungan karpet besar itu di ruangan yang dulu dipakai Justin. Setelah itu dia menggeser kursi dan meja sedikit ke arah tembok untuk membuat tempat itu sedikit lebih luar.
“Kalau lantainya dicat atau diperbaiki nanti, aku yakin Sean-sama akan meletakkan semua perkakas itu sembarangan seperti kemarin. Akan lebih baik jika dibuat seperti ini. Terlihat lebih luas dari sebelumnya”
Saat itu, jam menunjukkan pukul 09.50 pagi. Arka merasa sudah tidak perlu melakukan apapun lagi sejak bar sendiri tidak akan kedatangan pelanggan. Itulah yang dipikirkannya.
Sekitar 25-30 menit kemudian, Sean datang.
“Pagi Arkan”
“Sean-sama, selamat pagi. Aku pikir kau akan datang siang ini”
“Aku hanya datang untuk memberitaumu bahwa aku baru bisa memasang pintunya besok. Tiba-tiba ada urusan mendadak jadi aku belum bisa melakukannya. Tolong sampaikan maaf dariku pada Joel ya. Besok, aku akan ke tempat ini pagi-pagi untuk melakukannya”
“Baiklah kalau begitu, akan kusampaikan pada manager nanti”
“Aku benar-benar minta maaf ya” Sean terlihat menyesal
“Tidak apa-apa. Kami juga sedang dalam masa istirahat karena kejadian kemarin. Semoga besok bisa langsung selesai, Sean-sama”
“Baiklah. Aku permisi dulu. Aku buru-buru. Sampai jumpa besok!”
Sean langsung bergegas pergi dari tempat itu. Sekarang, Arkan benar-benar menganggur. Dia melihat kembali keadaan bar.
‘Untuk apa aku menggeser kursi dan meja itu tadi? Haah~’ Arkan mengeluh dalam hati
Karena sudah malas mengaturnya kembali, dia memilih untuk mengabaikan kursi dan meja itu lalu kembali mengelap botol minuman dan gelas di rak. Pukul 11.00 pagi atau bisa juga dianggap menjelang siang hari, rasa bosan Arkan diisi dengan mengelap semua botol minuman dan gelas.
“Sungguh hari yang santai. Terlalu santai sampai aku tidak tau apa lagi yang harus aku lakukan”
Sampai saat itu, dia hanya bisa mengeluh dan bergumam sendirian. Tapi, semua berubah dalam waktu lima belas menit.
“Haruskah aku membuat minuman dingin untukku sendiri? Waktu itu aku cukup senang karena berhasi meracik minuman spesial untukku saat Kaito dan Justin bertarung. Kupikir aku akan mati setelah itu” gumam Arkan sambil melihat-lihat minuman di dekat meja bar
Suara langkah kaki terdengar memasuki bar dan di saat yang sama, Arkan langsung menjatuhkan botol minuman yang ada di tangannya karena syok.
-CRAAASH
“Mu–mu–mustahil…kutukan itu…nyata…”
Arkan langsung menelan ludah dan meletakkan kembali lap yang ada di tangannya ke atas meja. Seseorang tersebut masuk sambil menunjukkan senyuman manisnya.
“Arkan~”
-Glek
Arkan kembali menelan ludahnya. Kedua tangannya tidak bisa berhenti gemetar dan wajah segarnya beberapa detik lalu langsung berubah pucat seperti melihat setan. Arkan seperti berteriak dalam hatinya.
‘Baru aku bilang untuk tidak bertemu dengannya, kenapa justu bertemu di pagi hari begini! Rasanya seperti mengalami déjà vu dan ini benar-benar gila!’
“Arkan, kenapa kau diam saja? Apa kau kurang tidur semalam? Aku datang untuk mampir~”
Seorang wanita berpakaian santai dengan tas selempang di pundaknya dan dia datang seorang diri.
“Se–Se–Se–Seren-sama….” Arkan mendadak menjadi gagap
“Selamat siang, apa kau sibuk sekarang Arkan?” tanya Seren yang masuk dan menghampiri Arkan yang berada di meja bartender
“Si–sibuk! Sangat sibuk! Se–se–seperti yang terlihat sekarang kalau bar sedang dalam renovasi akibat pertarungan kemarin jadi…hari ini kami tutup. Benar! Kami tutup dan kami tidak menerima pelanggan untuk satu, bukan dua minggu! Silahkan Seren-sama kembali saat bar ini selesai renovasi”
Arkan terlihat tidak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya hingga secara halus mengusir pengelola pasar gelap yang baru saja datang kurang dari lima menit.
******