
Di sebuah kota bergaya Eropa, mirip dengan sebuah kota terkenal di Inggris yaitu London. Meskipun terlihat sedikit berbeda dengan kota London yang sesungguhnya, namun suasana yang dihasilkan begitu mirip.
Di siang hari yang begitu cerah, banyak penduduk kota yang melakukan banyak aktivitas di wilayah tersebut.
Terlihat kereta kuda dan orang-orang berpakaian rapi. Beberapa ada yang berpakaian layaknya prajurit kerajaan.
Yang membedakan, ada sesuatu yang baru di tempat ini yaitu sapu besar yang bisa terbang dan makhluk aneh yang berdampingan dengan manusia.
“Ini…London?” tanya seorang remaja
“Aku yakin bukan. London tidak pernah punya makhluk setengah manusia setengah laba-laba. Selain itu, sejak kapan di London ada sapu terbang? Memang ini dunia Harry Potter?” kata seorang remaja yang berdiri di depan sebuah bangunan megah
“Ini…tidak mungkin di Eropa juga, kan?” kata remaja lainnya
“Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Kalau bukan dunia penuh mayat ya dunia penuh monster. Sejauh ini, kesialan Kaito itu menular kepada kita berdua. Kalau ketemu dengan salah satu dari dua hal itu, kau seharusnya sudah tau siapa yang bisa disalahkan olehmu, Kino”
“Ryou…”
Keramaian itu benar-benar sangat asing. Tidak ada kendaraan yang dikenal mereka. Semuanya seperti dunia fantasi lainnya.
“Lihat itu, itu namanya Lizardman. Di anime Overlord, mereka hidup di rawa. Di sini mereka bisa pakai jas dan dasi. Luar biasa” Ryou seperti memuji dan menyindir
Kino dan Ryou berjalan di sekitar jalanan itu.
Tampak sebuah pemandangan yang sangat asing. Kenapa bisa asing? Karena mereka tidak melihat mayat atau monster menyerang.
“Kaito sepertinya sedang dalam mode beruntung”
“Ryou, berhenti bicara begitu. Ini lebih baik dibandingkan masuk ke tempat yang penuh monster dan zombie”
“Tapi kita masih belum bisa pulang ke Jepang! Ditambah lagi, si bodoh itu malah menghilang!”
“Ryou, tenangkan dirimu. Kita cari Kaito-san terlebih dahulu setelah itu kita kumpulkan informasi tenang tempat ini”
Mereka pergi menelusuri kota.
Di tempat tersebut, benar-benar seperti kota London modern seperti yang mereka kenal. Banyak toko barang mewah namun yang membedakan penduduknya bercampur antar ras.
“Ryou, kamu sering melihat anime kan? Apa kamu tau mereka ini dari ras mana saja?”
“Oh kakakku yang baik, aku senang kau bertanya penuh rasa haru”
“Aku tidak bertanya dengan penuh rasa haru, Ryou. Aku hanya tau beberapa dari mereka karena Ryou sering menceritakannya di sekolah”
“Ah, kau benar. maafkan aku. Hmm…coba kita lihat. Wanita yang bertubuh ular di sana itu namanya Lamia. Lalu di sebelah sana, manusia dengan tanduk dan ekor naga itu namanya Dragonoid. Yang itu Elf, itu Dryad dan itu Dark Elf. Yang itu namanya Beastman”
“Beastman?”
“Benar. Ada ras kucing juga di sana, ras anjing, ras serigala. Huwaaa…ini benar-benar di dunia anime. Kenapa bisa seperti ini?”
Ryou memperhatikan orang-orang di jalan. Mereka terlihat tidak ada masalah dengan semua penduduk yang ‘bukan manusia’ di sana.
“Kino, kau tau anime tahun 1993 bernama Dragon League soal sepak bola?”
“Aku tidak tau”
“Aku mencarinya dan menonton anime itu setelah menonton Monster Rancher dan menamatkan gamenya. Kedua anime itu punya kesamaan yaitu hidup di kota yang penuh dengan ras monster lain secara berdampingan. Bedanya mereka hidup di set tempat yang begitu fantasi sedangkan di sini mirip dengan kota di manga atau manhwa Korea”
Kino tampak tidak mengerti dengan penjelasan dari sang adik yang asyik dengan dunianya.
“Aku…benar-benar tidak mengerti. Maafkan aku”
“Intinya kita di dunia fantasi, itu saja. Dan sekarang aku harus menemukan remaja amnesia itu untuk meminta penjelasannya”
Kino melihat jam saku miliknya. Jam tersebut menunjukkan pukul 07.00.
“Pukul tujuh? Kenapa aku merasa jam saku ini menyesuaikan waktu di tiap dunia?” Kino bergumam heran
“Benarkah? Mana? Oh kau benar. Rasanya sebelum ini masih jam lima tau jam setengah enam. Aku rasa jam ini memang aneh”
Tiba di sebuah jembatan lebar dengan sungai di bawahnya, Kino dan Ryou melihat ada keramaian di sana.
“Ada apa itu?”
“Ayo lihat! Aku rasa itu mungkin saja Kaito!”
Keduanya berlari dan betapa terkejutnya mereka melihat seseorang sedang mengancam orang lain dengan sebuah pedang di lehernya.
Remaja tampan itu tengah menodongkan pedang mata duanya kepada seorang pria botak berwajah menyebalkan yang saat ini sedang dalam kondisi tubuh ditahan olehnya ke tanah. Terlihat seorang wanita dan anak kecil juga yang ketakutan di dekat Kaito.
Kino dan Ryou yang melihat itu membuat wajah aneh. Yang satu terlihat pucat dan panik, sedangkan yang satu melihat hal itu dengan wajah senang.
“Jangan diam saja, kita harus menolongnya”
“Menolong yang mana? Yang sedang diancam dengan pedang atau yang mengancam dengan pedangnya?” tanya Ryou
“Kalau itu…”
“Ayolah Kino, ini tontonan gratis. Kalau menolong orang yang diancam, aku yakin kau tau orang itu pasti pihak yang salah. Tapi kalau menolong yang sedang mengancam, kurasa akan percuma juga”
“Setidaknya kita bantu Kaito-san agar tidak dianggap seperti pria jahat”
“Dia bukan pria jahat. Lagipula leher pria yang sedang diancam itu masih menempel rapi di lehernya. Tenang saja. Kaito akan menyelesaikannya dengan cepat”
“Kaito-san bisa dianggap kriminal lagi nanti”
“Tapi dia memang kri…” Ryou berhenti dan mengingat hal penting
‘Sial! Aku dan Kaito sekarang sama-sama sudah memiliki cap ‘kriminal’ bukan? Kalau aku memanggilnya dengan sebutan itu, sama saja mengatakan aku juga kriminal. Akh!’ Ryou seperti berteriak dalam hati
“Ah! Dia itu memang krim susu dalam kopi. Haha”
“Apa? Krim susu dalam kopi? Pribahasa dari Negara mana itu?”
Sungguh candaan yang sangat dipaksakan oleh Ryou.
Terlihat bahwa orang yang mengancam dengan pedang itu adalah Kaito dan yang diancam olehnya itu tampak seperti kriminal. Katakan saja pencuri.
“Aku senang memotong orang yang tidak memiliki norma sepertimu, tuan. Mungkin nasibmu akan lebih beruntung jika mencuri tapi bukan di depanku”
“Apa yang kau bicarakan! Aku tidak mencuri! Aku mencoba menghampirinya karena kukira dia temanku!”
“Hoo, teman ya. Tapi tidak membuka tasnya tiba-tiba seperti itu dan mencoba merobek luarnya, dasar bodoh” pria itu mulai berdalih
Mendengar itu, ibu dan anak itu memeriksa tas mereka. Terlihat bekas sayatan di belakangnya.
“Dia benar. ada bekas sayatan pada tasku” kata sang ibu
“Itu bisa saja anak ini! Dia memiliki pedang jadi….hoi! Jangan pegang-pegang bokongku!!” pria itu berteriak
Memang sekilas Kaito seperti memegang bokongnya, namun bukan itu tujuannya. Dengan mata dingin, Kaito melempar sebuah pisau lipat yang ada di saku celana belakang pria itu ke depan wajah. Dia mendekatkan kembali pedangnya ke leher pria itu hingga nyaris membuat sayatan kecil.
“Mau mengatakan pembelaan apalagi? Mau kuulangi lemparan itu dan ku arahkan ke matamu? Atau mau aku arahkan ke mulutmu agar kau tidak bisa lagi bicara?”
“Hiiiii!!!”
Pria itu gemetar. Semua orang yang melihat itu tampak begitu takjub.
Kino dan Ryou yang menyaksikan itu benar-benar sangat terkesan.
“Wow! Kaito terlihat seperti tokoh protagonis dalam manga. Ini keren. Coba kalau di sini ada ponsel seperti di tempat sebelumnya”
“Ryou, ini bukan saatnya bicara begitu”
Dari kejauhan, terlihat empat orang dengan pakaian dan senjata yang tampak seperti seragam pasukan penjaga. Keempatnya menghampiri kerumunan tersebut dan bertanya.
“Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?”
“Ada pencuri yang mencoba mencuri barangku dan anak remaja itu menghentikannya” jelas ibu itu
“Pencuri?”
Penjaga itu melihat remaja yang masih menodongkan pedangnya pada pria tersebut.
“Siapa saja saksinya?”
“Kami semua saksi” kata orang-orang
“Anak itu memang tidak bersalah. Dia menolong ibu itu”
“Benar. Sebaiknya kalian membawa pria itu”
Penjaga itu akhirnya memerintahkan rekannya yang lain untuk menangkap pria yang diduga pencuri. Kaito melepaskan kunciannya dan berdiri memasukkan pedangnya kembali.
Sang ibu dan anak korban pencurian itu akhirnya mengucapkan terima kasih dan ikut dengan tiga penjaga lain untuk dijadikan saksi. Penjaga yang seorang lainnya tampak masih berdiri dan bicara pada Kaito.
“Aku tidak menyangka ada orang sepertimu yang menyadari aksi seperti itu di tengah keramaian”
“Aku hanya kebetulan lewat. Selain itu, kedua temanku sudah menjemputku”
“Teman?”
“Itu, di sana”
Kaito berbalik ke belakang dan menunjuk ke arah dua kakak beradik itu.
“Kita ketauan” gumam Ryou
“Insting Kaito-san itu tajam. Aku sudah katakan untuk menghampirinya tadi tapi Ryou menolak”
“Cih”
Keduanya menghampiri Kaito dan menyapa penjaga tersebut. Ryou bersikap sangat ‘dewasa’ sekali dengan memberikan beberapa ‘salam hangat’ untuk sang sahabat.
-Plaak
“Hiyaaa, benar-benar aksi heroik yang bagus temanku. Aku tau kau belajar banyak dari kepintaranku”
“Ryou!!”
Kino berteriak setelah sebuah pukulan keras milik Ryou didaratkan ke punggung Kaito hingga dia nyaris terjatuh.
“Ryou…” ucap Kaito lirih
Ryou langsung berbisik ke telinga ‘korbannya’.
“Aku senang keberuntunganmu kali ini bekerja dengan benar. Kalau tidak, aku akan mengancam lehermu itu seperti yang kau lakukan”
“Kau datang untuk mengancamku?”
“Itu bukan ancaman, itu serius. Niatnya aku ingin mentertawakan nasibmu kalau sampai kau dibawa oleh penjaga itu juga. Bagaimanapun, antara kau dan aku…jelas kaulah yang paling terlihat seperti kriminal bila diperhatikan dari tiap sisi. Haha”
“……”
Baru bertemu kembali setelah beberapa menit berpisah, tampaknya Kaito tidak bisa lolos dari ancaman dan kalimat pedas milik Ryou.
******