Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 285. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir bag. 1



Pagi datang dengan keadaan ketiga remaja dunia lain yang sudah siap.


“Sudah siap?” tanya Kaito


“Fisik, mental, emosi sudah. Lagipula kita tidak perlu tidur jadi tidak masalah. Xenon sudah bangun belum?”


“Entahlah. Aku coba lihat keadaan Xenon-san”


Kino hendak berjalan ke kamarnya, namun tidak lama kemudian Xenon keluar.


“Selamat pagi, kalian bertiga”


“Selamat pagi, Xenon-san. Aku kira kamu belum bangun”


“Terima kasih. Aku sudah siap. Kita pergi sekarang”


Mereka berempat berjalan ke kota menuju Akademi Sekolah Sihir.


“Kalian ingin mampir beli sarapan dulu?”


“Tidak perlu” jawab Kaito


“Kalau begitu aku akan pergi ke akademi duluan. Aku adalah penguji. Jika berjalan bersama peserta, akan muncul prasangka yang tidak mengenakkan”


“Kami mengerti, Xenon-san. Hati-hati”


Sebelum pergi, Xenon berpesan mengenai beberapa hal.


“Kalian bertiga, mungkin para kapten sudah mengetahui identitas kalian sebagai penjelajah dimensi lain. Tapi, ada beberapa anggota yang mungkin belum tau termasuk Jessie-sama dan Jene-sama”


“Selain itu, mengenai penyusup yang telah masuk dan setengah elf…aku ingin kita simpan berempat seperti ini. Jika akhirnya terpaksa ketahuan, aku ingin kalian tidak begitu mencolok”


“Mengerti” jawab ketiganya


“Dan satu hal lagi”


“Apa?”


“Jaga diri kalian dan luluslah”


“Xenon-san…”


“Setiap tahunnya, seleksi ujian masuk akademi hanya meloloskan 25%-30% dari 100% peserta. Dan untuk yang sekarang, aku rasa mereka hanya akan meloloskan sedikit”


“Aku percaya kemampuan sihir kalian dengan melatih kalian meski hanya sebentar. Karena itu, jangan setengah-setengah dan luluslah”


“Tentu saja! Jangan khawatir” Ryou menjadi percaya diri


Xenon mengangguk. Tapi tampaknya masih ada lagi yang ingin dikatakan.


“Dan…”


“Ada lagi yang lain?” tanya Kaito


“Jika lulus, aku harap kalian mau bergabung dengan divisi yang sama denganku juga”


“Eh?”


“Itu kalau kalian mau. Sampai jumpa di akademi”


Xenon berlari meninggalkan ketiga remaja itu. Dia menyempatkan dirinya berteriak.


“Jangan sampai terlambat!”


Xenon terus berlari meninggalkan mereka.


“Dia guru yang baik” Kaito memberikan senyumannya


“Aku tau. Kita tidak boleh membuatnya malu. Tapi bicara soal ujian, aku kaget dia tidak bertanya soal ruangan dan nomor peserta kita. Dia juga terlihat tidak bisa tau ada tanda ini di tangan kita” Ryou penasaran


“Aku rasa ini dibuat dengan sihir yang membatasi orang lain. Wajar saja, benar kan?”


“Kau benar, Kaito. Mungkin juga. Ayo kita jalan”


******


Di akademi, di ruang serbaguna Dewan Sihir yang menampung semua divisi. Ada 7 dari 8 Divisi yang terdapat di Akademi Sekolah Sihir.


“Tampaknya divisi milik Marquis Vermillion tidak ada” ujar salah satu anggota dari divisi lain


“Mereka baru kembali. Sepertinya Kapten Vermillion meliburkan mereka sampai besok”


“Itu wajar. Tugas mereka lumayan berat. Aku dengar dari kaptenku kalau hasil yang mereka bawa sangat menakjubkan”


“Benar kah?! Divisi khusus memang hebat”


Tidak lama kemudian, para kapten masuk ke ruangan. Semua pasukan sudah siap, Yang belum tiba hanyalah Xenon seorang.


“Xenon belum hadir ya?” tanya Jessie saat di barisan divisinya


“Belum” jawab Jene


Bukan hanya si kembar, sang kakak juga mencarinya.


“Rexa” Lucas memanggilnya


“Maafkan kau, Lucas. Sepertinya Xenon terlambat”


“Tidak masalah. Dia memiliki prestasi yang bagus. Aku akan tutup mata untuk itu, jangan khawatir”


“Maafkan aku”


“Aku dengar Misha semalam membuat masalah”


“Aku harap tidak perlu memikirikan hal itu. Sekarang adalah hari yang penting. Bekerjalah layaknya seorang


Kapten setelah ini”


“Baik”


Algeria meminta izin pada Lucas untuk melakukan pembukaan.


“Silahkan”


“Terima kasih banyak, Lucas-sama”


“Ehem, selamat pagi kalian semua. Aku, Algeria von Essen-Trier yang ditunjuk sebagai ketua seleksi ujian masuk Akademi Sekolah Sihir tahun ini mengucapkan terima kasih kepada pemimpin para Dewan Sihir, Lucas Xelhanien-sama yang memberikan kepercayaan ini kepadaku”


“Aku ingin menegaskan sekali lagi pada kalian semua bahwa tujuan seleksi ini adalah mendapatkan siswa dan siswi berkualitas baik dalam sihir maupun penggunaan senjata”


“Juga sebagai kekuatan baru untuk melawan organisasi hitam. Seperti yang kalian tau bahwa ada masalah khusus yang kita hadapi yaitu organisasi hitam yang mulai menculik dan membunuh penduduk tidak bersalah”


“Tugas utama kalian terpilih menjadi Dewan Sihir bukan hanya sebagai murid di Akademi Sekolah Sihir ini, melainkan mengabdi kepada Negara dan menjadi bagian dari pasukan khusus untuk keamanan wilayah timur ini”


“Bahkan nantinya, setelah kalian lulus, kalian akan langsung bekerja dalam lingkup kerajaan di wilayah barat dan parlemen sihir”


“Kita memiliki peran penting untuk keseimbangan dan sudah tugas kita untuk melindungi semuanya”


“Sebagai informasi tambahan yang mungkin tidak semua orang ketahui, akan ada kemungkinan masalah serius saat seleksi ujian berlangsung”


Semua orang terkejut mendengar itu. Keributan mulai terjadi dan masing-masing divisi menjadi cukup cemas dan panik.


Emily maju ke depan, tepat di sisi samping Algeria.


“Kalian tenang. Emily akan memberitaukan semuanya”


Melihat Emily maju, semuanya tenang.


“Emily-sama…”


“Itu Emily-sama sang jenius”


Begitu mereka semua tenang, Emily mulai mengatakan hal yang dimaksud Algeria.


“Perlu kalian ketahui bahwa di ujian kali ini, kita harus mengantisipasi semua kemungkinan. Kalian tidak perlu panik atau cemas hanya karena perkataan ketua ujian karena tiap tahun, kita selalu menyingkirkan lebih dari 80% peserta”


“Tahun ini, pilihlah yang menurut kalian melebihi standar kalian dan sekolah. Kalian dipilih menjadi Divisi Dewan Sihir karena kekuatan dan kemampuan yang dimiliki dari segala aspek. Ingat itu!”


“Siap!”


Semua orang menjawab serentak.


Dari arah pintu, Xenon dengan napas terengah-engah masuk ke dalam ruangan. Rexa melihatnya datang. Meskipun tampaknya Xenon tidak melihat sang kakak, namun Rexa tersenyum melihatnya.


“Dia sudah datang, Rexa” kata Lucas pelan


“Aku senang dia tidak apa-apa”


Emily kembali ke tempatnya dan di sampingnya, Mark berbisik pada gadis kecil itu.


“Kita lakukan seperti perintah kakakmu, Emily”


“Mark-sama tenang saja. Emily akan melakukannya dengan baik. Jika penyusup itu ada di pos yang Emily jaga, Emily akan membunuhnya di tempat”


“Aku percaya padamu. [Tearlament Kaleido Heart] milikmu bisa diandalkan di saat seperti ini. Gunakan itu sejak awal, mengerti?”


“Baik. Mark-sama juga. [World’s Legacy Heart] milik Mark-sama tidak kalah kuat dari sihir Emily. Kita harus memusnahkan mereka yang mengincar Lucas dan akademi”


******


Di kota, ketiga remaja dari dunia lain tampak sangat santai. Kaito melihat jam saku miliknya.


“08.00. Ini masih terlalu pagi. Ujian akan dimulai jam 10.00, kita cepat karena mengikuti Xenon”


“Mau kemana sekarang?” tanya Ryou pada Kaito


“Aku tidak tau. Kino, menurutmu kita harus kemana?”


Kino berpikir sejenak, “Aku rasa kita bisa pergi lebih pagi ke gedung akademi. Mungkin sudah ada peserta lain di sana”


“Begitu. Kalau begitu kita pergi sekarang”


Di jalan, ketiganya mulai membicarakan beberapa hal.


“Menurut kalian, bagaimana tawaran Xenon-san barusan?” tanya Kino


“Tawaran soal masuk ke Divisi Eksekutor?” Ryou memastikan kembali


“Benar. Kita sudah ditawari oleh gadis bernama Emily Xelhanien untuk masuk Divisi Penyerang. Tapi, untukku saat ini rasanya ikut dengan Xenon-san adalah pilihan terbaik”


“Aku rasa begitu. Xenon adalah orang pertama yang kita temui sekaligus penyelamat dan guru sihir kita. Tanpa bantuannya, kita mungkin tidak akan memiliki sihir”


Kaito tampak begitu serius mengatakan hal itu.


“Aku rasa aku setuju. Selain itu, aku malas sekali harus masuk ke divisi yang dipimpin gadis sombong itu!”


“Ryou…”


“Sisi positifnya, kita bisa lebih dekat dengan Xenon dan mungkin kita bisa lebih sering bekerja di lapangan. Peluang yang cukup bagus untuk melakukan penyelidikan dan mencari permata Kaito”


“Aku setuju. Tapi untuk penyelidikan, tampaknya divisi milik Mark Vermillion adalah yang paling tepat”


“Apapun itu, aku rasa hal pertama yang harus kita lakukan adalah lulus terlebih dahulu”


******