Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 156. Rasa Ingin Tau yang Kuat



‘Mungkinkah orang yang dimaksud Kaito sebagai ‘orang itu’ adalah pemilik jam saku kami?’


Ryou sempat berpikir hal yang masih mengganggunya.


Sejak Kaito mengatakan bahwa dia merindukan rasa masakan Kino yang menurutnya mirip dengan yang pernah dia cicipi, banyak prasangka yang bermunculan.


Selama mereka berjalan di jalan utam sambil melihat-lihat banyak hal, Ryou memikirkan semua yang diceritakan oleh Kaito ketika Joel datang.


[Orang itu’, orang yang pernah menolongku pernah membuat masakan ini sebelum aku pergi mencari kepingan ingatanku]


[Orang yang menolongku hanya memberitau bahwa ingatanku tersebar menjadi serpihan permata berwarna ungu, tapi aku tidak mengetahui hal lainnya]


[Orang yang menolongku memiliki semacam kekuatan yang mungkin jika di dunia lainnya disebut sihir]


[Orang yang menolongku bercerita bahwa dia menemukanku di halaman belakang rumahnya. Saat dia tau aku tidak bisa mengingat apapun, dia memberiku nama dan melakukan sesuatu dengan sihir untuk membantuku]


[Dia mengetahui apa yang aku alami dan memberitauku tentang kepingan ingatanku]


‘Kaito tidak memberitau kami siapa dan seperti apa rupa dari ‘orang itu’. Tapi, sejak kami berada di ‘dunia malam’ waktu itu, Kaito memang sudah pernah mengatakan tentang dirinya dan asal usul namanya’ gumam Ryou dalam hati


Kembali mengingat ke belakang, Ryou ingat apa yang terjadi saat dia dan sang kakak tertidur di penginapan ketika mereka bersembunyi dari para goblin.


Saat itu, Kaito bergumam sendiri tanpa disadari olehnya. Ryou masih mengingat hal itu dengan jelas seperti baru terjadi kemarin.


[Jika aku ingat kembali… sejak bertemu dengan ‘orang itu’, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan tetap hidup sampai saat ini]


[‘Orang itu’ lah yang menolongku dan memberiku sebuah harapan untuk hidup. Salah satu harapan itu adalah jam saku ini]


[Saat mendengar bahwa aku bisa menemukan ingatanku yang berada di tempat yang sangat jauh, aku sudah memutuskan tujuan hidupku. Aku bertekad menemukan kepingan ingatan itu dan mendapatkan kembali semua yang telah hilang dari tubuh dan hati ini]


*[Meskipun sudah berkali-kali ‘orang itu’ memperingatkanku bahwa tempat itu begitu berbahaya, aku tetap bersikeras untuk pergi. Sem*ua ingatan itu pergi melewati banyak ruang dan waktu yang tidak dapat kudatangi dengan cara biasa]


Ada satu hal lain yang menjadi pusat perhatian Ryou. mengingat hal itu, mata Ryou melebar.


[Setiap aku memejamkan mataku, aku selalu melihat mimpi yang sama. Seseorang menangis dan ada sesuatu di dekatnya yang membuatnya sedih. Setelah itu semua gelap dan hanya ada warna hitam]


Ryou menyadari sesuatu.


‘Kaito mengatakannya tanpa sadar, bahwa dia selalu melihat mimpi buruk ketika tidur. Mungkinkah itu bagian dari ingatannya? Dan apa yang dikatakannya saat berada di ‘dunia malam’ waktu itu, mungkinkah itu…’


Sebelum Ryou menyelesaikan kalimatnya, Kaito memanggil Ryou.


“Ryou, kenapa melamun begitu? Kami akan masuk ke toko ini”


“Ah!!” Ryou tersadar dari pikirannya


“Ryou, kau baik-baik saja, kan? Aku akan masuk bersama Kino ke toko ini untuk mencari sabun cuci baju. Kau mau menunggu di luar?”


“Aku…aku masuk! Tentu saja aku masuk! Jangan coba-coba meninggalkanku sendiri ya!”


“……” Kaito terdiam


Diam melihat gerakan Ryou tidak normal. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan atau dipikirkan olehnya. Tapi, mengingat ini adalah waktunya untuk bersantai membuat Kaito tidak terlalu memperhatikan.


Selesai membeli beberapa barang termasuk sabun cuci baju, mereka berpindah ke tujuan utama.


“Jadi, dimana bisa mendapatkan teh yang bisa membuat kita tidur nyenyak?” tanya Ryou


“Kembali ke toko obat pertama saat kita ada di ‘dunia siang’. Tempat itu masih ada di ‘dunia’ ini juga. Sama halnya dengan toko roti yang memberi kita ruangan ketika Ryou pingsan waktu itu” kata Kaito menjelaskan dengan santai


“Kalau begitu, tempat lain seperti kedai langgananmu dulu itu juga ada kan?”


“Masih. Sepertinya seluruh tempat di ‘dunia siang’ ada semua di tempat ini. Altar dan air mancur saja ada berarti yang lain juga ada”


“Masuk akal. Kau benar” Ryou setuju dengan pemikiran sederhana Kaito


Melihat mereka tenang dan tidak lagi berdebat karena hal kecil membuat Kino senang. Mereka sampai di toko obat [Magasin de drogue].


“Hoo, ternyata masih ada. Sudah begitu, ramai sekali” gumam Ryou


“Ayo masuk”


Kino membuka pintunya. Awalnya, dia cukup terkejut melihat orang yang melayaninya adalah orang yang sama dengan yang ditemui ketika berada di ‘dunia siang’ waktu itu. Kino berbisik kepada Kaito.


“Kaito-san…apakah mungkin…”


“Itu orang yang melayani kita waktu itu”


“Pelayan itu tidak ingat apa yang pernah kita pesan, kan?”


“Tentu saja tidak. Kau masih mengkhawatirkan hal itu setelah kita hampir satu minggu di sini, Kino?”


“Aku…aku hanya masih merasa bersalah” Kino terlihat cemas


“Jangan pikirkan hal itu”


Ryou mendekati pelayan wanita tersebut.


“Selamat datang tuan”


“Permisi, kami ingin membeli teh herbal untuk tidur lelap dan obat tidur jika ada”


“Mohon tunggu…ah! Tuan tampan yang terkena jus tomat waktu itu!” seru pelayan itu ketika melihat Kaito berdiri di belakang Ryou


Ryou langsung menengok ke arah belakang dan menatap Kaito dengan tatapan aneh. Kino yang berdiri di sampingnya menatap bingung. Sepertinya mereka berdua cukup terkejut mendengar sambutan dari pelayan toko obat itu.


“Tuan tampan katanya?” gumam Ryou pelan


“Kaito-san…”


“Aku benar-benar tidak tau apapun…” Kaito berusaha membela diri


“Tuan yang waktu itu membeli obat untuk temanmu, kan?”


“Oh…iya…” jawab Kaito dengan senyum yang dipaksakan


Dengan cepat pelayan wanita itu lebih terfokus pada Kaito. Tentu saja Ryou mundur ke tempat sang kakak dan menyerahkan semuanya pada Kaito sekarang.


“Kenapa mundur, Ryou?” bisik Kino


“Biarkan tuan tampan itu menghadapi mereka. Siapa tau kita dapat diskon”


“Ryou…”


“Uang dia yang pegang, Kino. Serahkan saja padanya. Kita lihat, setelah dia melihat kemampuan hebatku saat menawar di kios sayuran siang tadi, dia bisa mempraktekkan atau tidak” Ryou tersenyum licik


“Tuan tampan ingin beli apa? Temanmu bilang ingin beli teh herbal untuk tidur?”


“O…I–iya. Aku ingin membeli teh herbal yang bisa membantu kami agar bisa tidur. Juga obat tidur jika ada”


Kaito sempat berkata dalam hati.


‘Kenapa mereka memberiku julukan aneh yang ambigu?’


Kino melihat sekelilingnya dan tampaknya banyak mata tajam yang mengarah pada mereka semua. Terutama Kaito.


“Ryou…”


“Apa?”


“Suasana di sini ‘sangat panas’. Sebaiknya kita keluar sebentar ya” Kino memberitau bahasa kiasan pada Ryou


“Panas? Kurasa tidak”


“Lihat sekelilingmu”


“Sekeliling?” Ryou memperhatikan sekelilingnya


Tidak lama setelah itu dia melihat sang kakak sambil membuka mulutnya.


“Ooo….aku…paham maksudmu”


“Kita…keluar?”


“Tidak! Kita tunggu sampai ‘peperangan’ Kaito berakhir”


Ryou sepertinya mengabaikan tatapan panas dari pelanggan yang lain. Bagaimana tidak, Kaito tampaknya sangat menarik perhatian para pelayan wanita di toko tersebut.


Setelah menghadapi ‘peperangan’ panjang di toko obat, mereka bertiga keluar dengan ‘selamat’. Setidaknya, Kaito harus menerima tatapan sinis untuk beberapa saat. Mereka memutuskan untuk pergi ke tempat lainnya.


“Aku akan mencoret tempat itu mulai sekarang” ucap Kaito dengan ekspresi sinis


“Kau populer sekali, tuan tampan. Berapa banyak gadis yang menanyakan namamu?” Ryou meledek Kaito


“Kino, tolong beritau adikmu untuk berhenti meledekku” Kaito mulai sedikit kesal


“Ryou…” Kino mencoba menenangkan sang adik


“Ahahaha, aku benar-benar tidak percaya pria amnesia sepertimu berhasil membuat pelayan toko obat tergila-gila. Sepertinya aku terlalu meremehkanmu. Ahahaha” Ryou tertawa keras di jalan


“……”


Kaito tampak kesal namun tidak bermaksud membalas. Dia ingat hukum bila membalas komentar Ryou, jadi memilih untuk mengalah.


“Kita dapat banyak sekali teh herbal dan obat tidur. Apa benar tidak apa-apa?” Kino melirik ke arah kantong belanja yang dibawa oleh Kaito


“Tidak masalah. Aku ingin sekali tidur. Meskipun mungkin aku akan melihat mimpi aneh, tapi rasanya tidur itu adalah sesuatu yang tubuhku perlukan selain asupan makanan. Paling tidak, hal itu memberikanku kesempatan untuk mengingat bahwa aku manusia”


Perkataan Kaito membuat Kino dan Ryou terdiam.


“Kau benar, Kaito. kalau sampai lupa cara makan dan tidur akibat terlalu lama di ‘dunia’ aneh ini, berikutnya mungkin kita akan lupa caranya bernapas” celetuk Ryou


Sungguh kalimat yang sangat cocok menggambarkan keadaan saat ini.


Setelah menghabiskan sisa waktu untuk pergi membeli barang-barang lain, ketiganya kembali ke penginapan.


Setibanya di ruangan, Kaito mengunci pintunya dan meletakkan semua belanjaannya di atas meja.


“Akhirnya sampai~” Ryou langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur


“Kita belanja banyak sekali. Terima kasih banyak, Kaito-san”


“Ini semua berkat uang dari tuan manager itu. Yang terpenting kita dapat ini, teh herbal dan obat tidur. Aku rasa akan lebih baik jika membuat teh herbalnya sekarang. Setelah itu kita minum obat tidurnya untuk membantu kita agar bisa istirahat”


Kino mengambil teh tersebut dan membuatnya. Sambil menunggu Kino selesai dengan tehnya, Ryou melirik Kaito yang sedang memasukkan belanjaan ke dalam laci di dekat lemari pakaian.


‘Rasanya aku ingin bertanya padanya soal yang dia katakan sore tadi. Mungkin setelah Kino selesai’ pikirnya


Selesai dengan teh herbalnya, Kino menyuguhkannya kepada mereka berdua. Sambil memegang bagiannya, mereka duduk santai di kursi.


“Haa~Jepang memang harus meminum teh. Meskipun bukan teh hijau Jepang tapi ini masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali” ucap Ryou sambil meminum tehnya


“Teh ini enak. Aku tidak menyangka ada teh seenak ini. Ini teh dari dunia lain yang cukup aku suka” Kino juga tampak menikmatinya


“Begitu ya, aku senang rekomendasi dari pelayan wanita itu cocok di lidah kalian”


Ryou meletakkan gelasnya di atas meja dan mulai terlihat serius.


“Kaito…”


“Hmm? Ada apa?”


“Aku menagih ucapanmu” ujar Ryou


“Menagih ucapanku?”


“Kau bilang kau bisa menceritakan pada kami semua hal tentang dirimu. Aku…bukan, kami berdua ingin mendengarnya”


“Ryou…” Kino melihat sang adik


“Kau ingat janjimu saat berada di ‘dunia malam’, kan? Kau bilang kau akan menceritakannya pada kami. Kami memang tidak mengungkitnya lagi sejak aku bilang akan menceritakannya. Tapi, karena kau bisa menjawab paman manager itu…artinya kau bisa menjawab keingintahuan kami. Benar, kan?”


“……”


Ryou serius dengan ucapannya. Dari sorot matanya, tidak terlihat tanda-tanda dia sedang bisa diajak bercanda.


Kaito meletakkan gelasnya kembali dan menjawabnya.


“Aku ingat janjiku. Aku mengerti. Aku juga merasa bahwa kalian pasti akan bertanya mengenai hal ini lagi”


“Aku ingin tau tentang orang yang selalu disebut sebagai penolongmu. Orang yang kau panggil ‘orang itu’. Kau bilang namamu itu adalah pemberiannya. Ceritakan semuanya yang kau ingat”


“Aku mengerti”


Kaito memutuskan untuk menceritakan semua yang dia ingat.


******