
“Kino-nii…terluka…” Theo syok mendengar hal itu
Joel yang memegang bingkisan berisi kue krim menjadi serba salah. Dia meletakkan bingkisan tersebut dan beberapa kantong belanja yang ada di dekatnya ke atas meja dan meraih tangan Theo.
“Bocah kecil, dengarkan aku! Mereka selamat! Baik itu dua temanmu, orang-orang yang menjemput dan juga Kino-niichan yang selalu kau eluhkan…mereka selamat!” bisik Joel pada Theo
“Paman mesum…”
Joel meyakinkan anak-anak itu dengan berteriak.
“Kino-niichan kalian selamat! Kedua kakak kalian juga selamat!”
“Benarkah itu, Joel-ojichan? Tapi, tadi kau bilang dia terluka…” tanya Michaela
“Meskipun terluka, Kino-niichan kalian selamat. Sekarang dia sedang dalam penanganan jadi jangan menangis dan bersedih seperti itu. Bergembiralah”
Semua anak-anak itu yang tadinya menangis akhirnya tersenyum senang dan melompat. Bahkan untuk kedua kalinya, bingkisan kue di atas meja nyaris tidak selamat.
“Kalian harus berhati-hati dengan kue kalian ini!”
Joel berhasil menyelamatkan nyawa kue tersebut. Dengan cepat dia pergi ke dapur dan memasukkannya ke lemari pendingin sebagai langkah penyelamatan.
Setelah kembali dari dapur, dia langsung kembali ke tempat anak-anak itu dan berpesan pada mereka semua.
“Kita akan menjemput mereka! Kita akan pergi ke tempat mereka dan memastikan sendiri dengan mata kepala kita bahwa mereka selamat!”
Mendengar hal itu, Theo tersenyum dan mengangguk.
“Paman mesum, kau harus mengantarkan kami semua ke sana. Aku ingin bertemu dengan Stelani dan Fabil! Aku ingin melihat Ryou-nii dan Kaito-nii! Aku…aku ingin melihat Kino-nii lagi!!”
“Tenang saja! Untuk itulah aku mengatakannya padamu! Tunggu sebentar dan bereskan semua ini. Letakkan semua barang-barang ini di ruang karyawan dan tenangkan teman-temanmu. Aku akan panggil seseorang untuk menjaga dan mengurus tempat ini selagi kita ke sana!”
“Aku mengerti!”
Joel keluar dari bar dan langsung berlari. Dia berlari secepat yang dia bisa. Setelahnya, Theo berusaha menenangkan anak-anak itu.
“Kino-nii pasti baik-baik saja”
“Aku ingin melihat Fabil-niichan dan Kino-niichan!”
“Stelani-neechan! Akhirnya bisa bertemu dengan Stelani-neechan”
Semua anak-anak itu menangis bahagia dan memeluk Theo. Sebagai satu-satunya yang paling tua diantara mereka, Theo mencoba semua hal terbaik yang bisa dilakukannya. Dia menarik napas lalu menghembuskannya untuk menenangkan diri. Setelah itu, dia bicara dengan anak-anak itu.
“Dengar! Jangan ada yang menangis! Kita harus bahagia dan bersyukur untuk keselamatan mereka! Semua akan baik-baik saja. Sekarang kita letakkan dulu semua kantong belanja ini lalu kita berdoa bersama-sama”
“Kino-niichan akan baik-baik saja?” tanya Michaela dengan wajah sedih
“Benar. Kino-nii akan baik-baik saja! Ryou-nii dan Kaito-nii berjanji membawanya kembali. Arkan-nii juga bersama mereka. Jangan menangis! Kita harus bahagia!”
Michaela mulai memperlihatkan senyum cerianya meskipun matanya merah karena menangis di awal. Anak-anak lain mulai mengikuti Michaela dengan tersenyum lalu mengambil kantong belanja yang ada di lantai. Mereka pergi untuk menaruhnya di ruang karyawan yang ada di belakang.
Setelahnya, anak-anak itu duduk di kursi bar dan mulai berdoa selama menunggu Joel kembali. Theo menggenggam bandul kalungnya dan mulai berdoa.
“Aku mohon, lindungilah Kino-nii! Semoga kita semua bisa bertemu dengan semuanya dalam keadaan bahagia”
Anak-anak lainnya mengikuti apa yang dikatakan oleh Theo. Mereka mengulanginya lagi dan lagi.
‘Aku harus minta maaf pada Kino-nii karena mencuri jam sakunya! Aku harus minta maaf karena sudah membuat Kino-nii jadi terluka karena mencariku! Aku mohon Tuhan, tolong selamatkan Kino-nii!’ Theo berdoa secara khusus dalam hatinya
Waktu berlalu dan anak-anak itu menunggu cukup lama.
“Theo-niichan, dimana Joel-ojichan? Kita harus pergi ke rumah sakit” rengekkan anak-anak itu mulai terdengar
“Aku tidak sabar bertemu dengan semuanya”
“Kita tunggu sebentar sampai paman mesum itu kembali. Dia sudah berjanji akan membawa kita ke tempat Kino-nii dan yang lain”
Theo mencoba untuk menenangkan kegelisahan anak-anak itu, meskipun dirinya sendiri juga masih sangat gelisah. Tidak lama setelahnya, Joel datang dengan sangat mengejutkan. Dia tidak sendiri melainkan bersama seorang wanita.
“Anak-anak! Maaf membuat kalian menunggu lama. Haah…haah…” Joel berusaha mengatur napasnya
“Joel-ojichan!” Michaela memanggilnya dan berlari ke arahnya
Ada seorang wanita berambut pendek di belakangnya.
“Ini Margareth, istriku. Biasa dipanggil Maggy. Maggy, ini anak-anak yang diasuh Justin sebelumnya. Yang tadi aku ceritakan”
“Tempat ini benar-benar lebih buruk dari yang kau katakan, Jey!” kata istri Joel dengan wajah syok
“Karena itu, aku bilang padamu tadi kalau aku tidak berbohong! Kau tidak percaya pada suamimu!”
“Tentu saja aku tidak percaya! Aku pernah melihatmu jalan dengan wanita lain, Jey!” Maggy membentak Joel
“Kita bahas itu nanti! Tolong kau tunggu tempat ini, sayangku. Aku sudah meminta Sean untuk datang ke sini sebelum pulang ke rumah tadi. Dia akan merapikan tempat ini sementara. Karena ini, tolong jaga tempat ini dulu selagi aku pergi ke rumah sakit di pusat kota! Jangan terima pelanggan sampai renovasi tempat ini selesai!”
Joel terlihat panik dan terburu-buru. Sang istri yang awalnya kesal dan mencoba menahan emosinya hanya bisa mengangguk dengan terpaksa. Dia membiarkan Joel pergi bersama ketujuh anak-anak itu.
Sebelum pergi, Maggy mendekati gadis kecil di depannya dan mencoba menghibur anak itu.
“Aku sudah dengar ceritanya dari suamiku. Kalian sudah tidak apa-apa, kan?”
“Jangan khawatir, kami semua baik-baik saja. Kami sudah berdoa bersama dan kami sudah tersenyum demi menyambut Kino-niichan dan yang lain, Maggy-obachan” kata Michaela sambil tersenyum
Maggy memeluk anak-anak yang datang padanya dengan lembur. Setelah melepas pelukannya, Maggy langsung bicara pada sang suami.
“Sudah, cepatlah kalian pergi. Aku merasa bersalah sekali telah membuat kalian semua menunggu terlalu lama. Jey, bawa mereka. Aku akan menjaga tempat ini sampai Sean datang”
“Anak-anak, ayo kita pergi!”
Joel diikuti oleh semua anak-anak itu keluar dan berlari. Mereka bergegas menuju rumah sakit. Membutuhkan waktu sekitar kurang dari dua puluh menit sampai akhirnya mereka sampai di air mancur.
Anak-anak itu bernapas terengah-engah dan berhenti di depan air mancur tersebut.
“Kalian tunggu di sini dulu ya. Jangan pergi kemana-mana!”
Joel pergi lagi meninggalkan mereka. Theo dan anak-anak lain tidak sempat bertanya. Tidak lama setelah itu, datang dua kereta kuda dengan Joel di dalam salah satu kereta tersebut.
“I–ini…” Theo tercengang
Akan tetapi, waktu satu detik terlalu berharga untuk terkejut dan tercengang sekarang. Mereka tidak memilih di kereta mana mereka naik. Setelah itu, mereka menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka melihat Arkan yang berada di luar dengan memegang dua bilah pedang dan sebuah sabuk berisi tiga pisau. Arkan berteriak memanggil mereka dan meminta mereka untuk masuk ke dalam.
“Karyawan durhaka, kau memiliki banyak hutang penjelasan padaku!” Joel menghampiri Arkan dengan wajah kesal
“Lupakan soal itu dulu, manager! Mereka ada di dalam. Lantai dua kamar terakhir” kata Arkan pada Joel
“Setelah ini, kau harus menjelaskan semua dengan detail!”
Joel bergegas pergi dan Arkan hanya bisa menghela napas panjang.
Semuanya menaikki tangga menuju kamar yang dikatakan oleh Arkan. Setelahnya, hal yang menyambut mereka adalah Kaito yang menggendong Stelani dengan Fabil yang berdiri di sampingnya.
Kaito langsung menurunkan Stelani dan dengan cepat semua anak-anak itu memeluknya. Mereka langsung memeluk Stelani dan Fabil sambil menangis. Anak-anak itu bahkan mengungkapkan semua rasa rindu dan senangnya dengan air mata.
“Huwaaa….Fabil-niichan….Stelani-neechan…hiks”
“Aku merindukan kalian. Syukurlah kalian baik-baik saja!”
Stelani dan Fabil memeluk mereka semua dengan perasaan yang sama. Terharu dan menangis, itulah situasi yang terjadi di lobi rumah sakit di lantai dua tersebut. Joel yang menyaksikan momen mengharukan itu ikut senang. Namun, perhatiannya teralihkan.
‘Pemuda itu…’ pikir Joel dalam hati
Dia melihat pakaian pemuda yang awalnya menggendong Stelani itu penuh dengan bercak darah. Joel cukup terkejut melihat Theo menghampirinya dan memeluknya. Dia melihat pemuda itu mengelus rambutnya dengan lembut dan tersenyum bahagia.
Setelah itu, dia berjalan dan menghampirinya.
“Apa kau yang menyelamatkan teman dari bocah kecil ini?”
“Itu tidak benar. Anak-anak ini yang menyelamatkanku. Jika bukan karena aku, semua tidak akan seperti ini”
Joel melihat kembali pakaiannya dari atas sampai bawah dan berkata.
“Aku sangat yakin kau adalah penyelamat mereka. Namaku Joel, pemilik bar [Barre des Noirs]”
“Manager dari tuan bartender ya. Namaku Kaito. Sebelumnya, jika tuan manager sudah mendengar cerita Theo dan anak-anak lain…akulah yang membunuh Justin dan aku juga yang menghancurkan bar milikmu. Maafkan aku”
“Ti–tidak…bukan masalah. Itu tidak sebanding dengan hal yang kau lakukan untuk mereka. Mereka akhirnya bebas dari orang itu dan semuanya adalah berkatmu, Kaito” Joel tersenyum pada Kaito
Sebelum semuanya selesai, Theo bertanya pada Kaito tentang keberadaan Ryou.
“Kaito-nii, dimana Ryou-nii? Dimana Kino-nii?”
“Mereka ada di ruangan itu” Kaito menunjuk ruangan di depannya
“Apa semua baik-baik saja, Kaito-nii?”
“Tenang saja. Semua akan baik-baik saja” Kaito tersenyum pada Theo
Melihat itu, Joel berbisik pada Kaito untuk bicara empat mata padanya. Kaito mengikutinya. Mereka berjalan ke pojok koridor dan bicara hal yang serius. Theo hanya melihat dari jauh dan tidak tau apa yang dilakukan oleh kedua orang dewasa itu. Setelah beberapa menit, mereka kembali.
“Theo, tolong tunggu di sini sebentar. Aku akan turun untuk menemui tuan bartender di bawah”
Theo mengangguk dan hanya melihat punggung Kaito yang semakin menjauh. Setelah Kaito menuruni tangga, dia bertanya pada Joel.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Aku memberinya uang untuk membayar semua biaya rumah sakit ini”
“Kau membayar semuanya, paman mesum?”
“Bagaimanapun juga, dia adalah penyelamat kalian semua. Kau lihat pakaiannya yang penuh dengan darah itu, kan? Dia sudah melalui pertarungan yang sulit. Benar begitu, kan?”
“Itu benar! Kaito-niichan sudah berjuang untuk menyelamatkan Kino-niichan, aku dan Stelani” kata Fabil
Joel tersenyum dan mengangguk. Tidak lama setelah itu, Ryou keluar dengan perasaan tenang disambut dengan pelukan dari semua anak-anak itu.
Kembali ke waktu saat ini.
Setelah mengingat kejadian ketika dia dan anak-anak itu sampai di rumah sakit dua hari lalu, Theo tidak menyadari bahwa dirinya sudah hampir sampai di bar.
Bar tersebut sedang direnovasi ulang akibat banyaknya noda darah yang sulit hilang dan tembok serta pintu yang rusak.
“Selamat datang, kalian semua” Maggy menyambut mereka
“Maggy-obachan!” Michaela dan anak-anak lain tersenyum memeluknya
“Aku kembali, istriku” kata Joel
“Bagaimana? Apakah kakak kalian itu sudah bangun?” tanya Maggy
“Sudah! Kami sudah berjanji membawakan kue krim yang kemarin untuk Kino-niichan~” Michaela menjawab dengan penuh semangat
“Begitu. Kalau begitu, tunggu apa lagi. Akan aku siapkan dulu kuenya. Tapi sebelum itu, kalian makan siang dulu agar semangat ya. Aku akan memasak banyak makanan untuk kalian”
“Apakah Sean akan datang lagi?” tanya Joel pada sang istri
“Dia baru saja pulang. Katanya nanti akan datang lagi”
Joel duduk di kursi bar dan menghela napas.
“Sungguh hari yang sangat panjang” gumamnya pelan
Theo menghampiri Joel. Joel yang melihat anak itu datang padanya sedikit penasaran.
“Ada apa, bocah kecil?”
“Um…terima kasih banyak untuk semuanya, J–J–Joel-ojichan”
******