Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 78. Pasar Gelap bag. 5



Sambil menarik gerobaknya dan menangis, Riz mencoba mendapatkan ketenangannya kembali tanpa berhenti mengeluarkan air matanya.


“Nee, Arkan. Kau tidak serius mengatakan dia mati kan? Itu Justin, kau tau…Justin!! Kita sedang membicarakan soal Justin yang kejam itu!!” nada Riz meninggi seakan tidak percaya


“Kau pikir di tempat ini ada berapa Justin yang kau tau?”


“Keponakkan kakakku bernama Justin juga!” jawaban Riz ini seperti berusaha lari dari kenyataan


“……” Arkan memperlihatkan wajah anehnya kembali sambil mengangkat pisaunya


Riz menyadari tatapan dingin Arkan dan langsung tidak membahas apapun untuk beberapa lama sampai akhirnya Riz bertanya kepada Arkan.


“Apa yang terjadi? Siapa yang membunuhnya?”


“Aku tidak tau apakah dia sudah mati sekarang atau belum tapi dia jelas terluka parah. Dia bertarung dengan orang yang dia cari sejak kemarin malam”


Raut wajah Riz mulai terlihat serius mendengar apa yang dikatakan Arkan. Dia bertanya padanya.


“Arkan, aku serius sekarang. Apakah ini ada hubungannya dengan mayat-mayat yang kau berikan padaku pagi ini?”


“Aku tidak mengatakannya padamu tadi pagi tapi sebenarnya Justin-sama mencari seorang pria dengan pedang tanpa sarung pedang yang masuk ke tempat ini beberapa waktu lalu. Kau sendiri tau seperti apa sifatnya itu, kan?”


“Justin tidak akan senang ada orang lain yang masuk ke wilayahnya. Lalu?”


“Seperti yang kau tau, mereka kebetulan mengganggu perasaannya dan akhirnya berakhir menjadi daganganmu nanti malam. Tapi, sepertinya Justin-sama tidak memperhitungkan bahwa orang tersebut lebih kuat darinya”


Riz kaget mendengarnya. Dia bahkan tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


“Lebih…lebih kuat kau bilang?! Apa kau tidak salah mengatakan hal seperti itu, Arkan?! Ini Justin kau tau. Kita sedang membicarakan–”


Sebelum Riz melanjutkan apa yang ingin dikatakannya, Arkan langsung memotongnya dan berteriak dengan nada tinggi.


“Kita sedang membicarakan Justin, kau mau mengatakan itu kan?!!”


“Um…”


“Masalahnya orang yang dicari Justin-sama itu memang kuat dan dia juga sudah berhasil mengalahkannya! Kau mau tau, bahkan kedua lengannya saja terpotong sempurna dan masih ada di jalan dekat bar!!”


Mata Riz langsung melebar. Tanpa memberikan aba-aba apapun, dia langsung dengan cepat berlari dengan gerobaknya itu.


“Oi! Kau pikir kau mau kemana?!”


“Aku tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri!! Ladang uangku!!”


“Si bodoh itu!!!” Arkan berteriak dan mengejar Riz


Dengan gerobak seperti itu, memang mustahil bisa berlari dengan cepat tapi sepertinya tidak juga. Paling tidak, kecepatan Riz lebih unggul dari Arkan sekarang.


Sambil menggerutu dalam hati, Arkan menggunakan semua tenaga yang dia miliki untuk menyusul Riz yang sudah di depannya.


‘Aku sudah berlari setengah mati untuk ke rumahnya dan dia dengan mudah berlari tanpa ada masalah dengan gerobak di belakangnya?! Apa dia memang sekuat itu?’


Sudah tidak ada lagi yang ingin dipikirkan oleh Arkan, melihat Riz berlari membuatnya cukup senang karena dengan begitu mereka tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk ke pasar gelap.


‘Aku tidak yakin apakah ini akan berhasil tapi hanya ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan. Bagaimanapun juga aku masih sangat berharap bahwa anak-anak itu bisa selamat termasuk teman dari Kaito itu. Dasar gorilla gila!. Aku memang tidak suka anak-anak tapi bukan berarti dia bisa sejahat itu sampai menjual mereka semua demi alasan tidak logis!!’ gumam Arkan dalam hati


Arkan terdengar seakan marah pada Justin walaupun sudah terlambat.


“Tidak perlu lagi memikirkan Justin sekarang karena ada yang lebih penting” gumamnya pelan


Arkan dan Riz hampir sampai di bar. Suara yang dihasilkan dari gerobak milik Riz menciptakan beberapa suara yang menggema di area tersebut. Jalanan yang dilewati oleh mereka sudah tidak asing lagi.


Ketika berlari lurus ke arah bar, Riz berhenti. Arkan ikut berhenti di belakang gerobaknya.


“Haah…haah…haah…” Arkan terlihat kelelahan dengan napas terengah-engah.


Sambil mengatur napasnya kembali, Arkan melihat Riz diam di tempat. Seketika dia menyadari sesuatu.


“Geh! Aku lupa kalau lengannya masih ada di jalan! Jangan katakan padaku kalau dia–”


Arkan tidak lagi melanjutkan kalimatnya karena wajahnya sudah tampak sangat pucat melihat Riz yang berlutut sambil mengambil sesuatu.


Dalam hati, Arkan mulai berdoa.


‘Aku mohon jangan aneh-aneh!!’


Dan benar saja, Riz berbalik dengan membawa lengan yang ada di jalan dan berjalan untuk meletakkan lengan yang diambilnya dari jalan ke dalam gerobak sambil menangis.


“Huwaaaa!! Lengannya…ada lengannya. Huwaaa….Arkan….”


“Geeeh!!”


Setelah meletakkan lengannya di dalam gerobaknya, Riz langsung berlari ke bar dan saat itulah sebuah pedang nyaris membuatnya berpindah alam jika terlambat sedikit saja.


Riz langsung berteriak sambil menangis begitu pedang tersebut berhenti tepat di depan hidungnya.


“Aaaah!!!.Jangan bunuh aku!!”


“……!!!” orang dengan pedang itu terkejut


“Aku mohon aku tidak bersalah! Aku hanya ingin melihatnya langsung!! Hiks…huwaaa”


“Kau–”


Riz diam tanpa bergerak sedikitpun, sampai akhirnya Arkan berlari dan menghampirinya.


“Kaito, jangan bunuh dia! Dia adalah orang yang bisa membantu kita untuk pergi ke tempat Seren-sama!”


“Orang ini?” Kaito yang ada di depan Riz terlihat heran


Setelah dia menarik pedangnya kembali, Riz hanya terdiam sambil menatap Arkan dengan tatapan memelas. Arkan yang masih memegang pisau di tangannya ingin sekali melemparkan benda itu kepadanya tapi dia harus menahan dirinya sendiri.


Setelah menghela napas panjang, dia meminta Kaito untuk menyimpan pedang di tangannya dan mengijinkannya masuk.


Ryou yang berada di dalam untuk menjaga Theo dan yang lainnya menatap tajam orang yang dibawa oleh bartender kenalan Kaito.


‘Jadi bartender itu yang memiliki jam saku kami sebelumnya dan memberikannya pada Kaito. Aku masih belum tau namanya tapi karena Kaito terlihat tidak begitu waspada ketika di dekatnya, kurasa aku bisa sedikit mempercayainya. Hanya saja untuk pemuda yang datang dengan bartender itu–’


Sambil melirik ke arah Theo dan yang lain, dia bisa melihat bahwa anak-anak itu juga tampak tidak mengenal orang tersebut. Ryou melanjutkan kembali apa yang ada dalam pikirannya.


‘Tampaknya bocah-bocah ini juga tidak mengenalnya. Itu artinya hanya bartender itu yang tau siapa dia. Aku tidak percaya aku mempertaruhkan keselamatan Kino di tangan orang asing!!’


Wajah terakhir yang dibuat oleh Ryou setelah itu adalah wajah kesal dengan sorot mata tajam mengarah kepada tiga orang yang berdiri di depan pintu masuk yang rusak.


Kaito akhirnya membiarkan pemuda yang dibawa oleh Arkan tersebut untuk masuk dan benar saja, hanya dalam beberapa detik dia langsung berlari ke arah ruangan Justin dan berteriak.


“Gyaaa!! Uangku mati!! Ini kiamat! Tidak mungkin!!”


Semua orang termasuk Arkan sendiri sampai kaget dibuatnya. Tentu saja Kaito dan Arkan berlari untuk melihat apa yang terjadi pada pemuda itu.


“Oh, demi semua uangku yang ada di peti mati beserta daftar barang yang ingin aku beli bulan ini…hiks…” sekarang Riz jadi bicara tidak jelas


Muak dengan semuanya, Ryou yang berada di luar ruangan tersebut langsung menghampiri mereka bertiga dan menarik tangan Riz yang meratapi kematian Justin.


Ryou bahkan terlihat begitu menakutkan karena sudah kesal menunggu.


“Berhenti dengan semua omong kosongmu ini dan biar kuperjelas sesuatu!. Kau datang kemari untuk membantu kami semua membawa mayat iblis ini ke pasar gelap atau apapun namanya itu. Benar tidak?!”  Ryou


“Itu…”


“Kalau begitu lakukan tugasmu sekarang!! Aku tidak mau mendengarkan suara tangisanmu itu”


“Si–siapa kau memintaku dengan tidak sopan seperti itu! Aku lebih tua darimu, anak kecil!”


Ryou yang kesal mendengarnya langsung mengambil dagger milik Kino yang diselipkan di sabuk pedang miliknya dan menggunakan itu untuk mengancam pemuda yang ada di tangannya sekarang.


“Berani juga kau! Sedikit informasi untukmu bahwa aku yang membunuh iblis itu. Jadi sebaiknya kau jaga ucapanmu atau kau mungkin akan berakhir lebih mengenaskan darinya”


“Gyaaaa!!!” teriakan yang histeris sekali dari Riz


Melihat itu, Arkan langsung melerai mereka dan berusaha menenangkan pemuda dengan pisau yang bahkan sampai sekarang dia tidak mau memanggil namanya.


Arkan bahkan berusaha menyeret Kaito ke dalam ketegangan ini.


“Tunggu tunggu tunggu tunggu!! Kita sangat bergantung pada Riz sekarang ini! Kalau kau menguliti dia sekarang, nyawa Stelani dan yang lainnya tidak akan selamat!! Tahan emosimu itu! Oi, Kaito! Kau juga lakukan sesuatu pada temanmu ini dan bantu aku!!”


Kaito menunjukkan rasa ‘peduli’ yang tinggi terhadap keadaan tersebut dengan keluar dari ruangan Justin untuk menenangkan Theo dan anak-anak lain yang sempat menjadi panik karena teriakan Riz beberapa waktu lalu.


Arkan hanya bisa memaki Kaito dalam hati.


‘Dasar tidak berguna, pria tidak punya hati, miskin ekspresi!!’


Sudah tidak mau mengandalkan Kaito lagi, Arkan masih berusaha menangkan Ryou yang terlihat kesal dengan sikap tidak masuk akal dari pemuda yang ada di tangannya.


“Aku tidak peduli dengan nasib uangmu itu atau apapun. Buka telingamu itu baik-baik. Kakakku beserta dua orang teman Theo diculik oleh seseorang yang bernama Seren seperti yang dibilang bartender itu dan mereka bisa seperti itu karena kebodohan iblis bernama Justin”


“Eh?” Riz akhirnya menemukan akal sehatnya kembali dan mulai tenang


Sekarang Ryou merasa dia bisa bicara dengan tenang dengan pemuda di hadapannya. Ryou melepaskan pemuda itu dan melanjutkan penjelasannya.


“Kakakku, Kino dan dua teman Theo dibawa pergi oleh wanita bernama Seren ke tempat bernama pasar gelap yang khusus menjual manusia dalam keadaan hidup atau mati. Iblis sial itu menjual semua anak-anak itu demi bisa menemukan temanku yang baru saja keluar dari ruangan itu”


“……” Riz mendengarkan sambil mencoba menenangkan dirinya


“Semua itu dilakukan oleh si bodoh itu demi alasan sepele dan bagian paling buruk dari itu semua, dia melibatkan kakakku di dalamnya”


Riz terlihat terkejut dan melihat ke arah Arkan.


“Apa benar itu, Arkan?” tanya Riz


“Itu benar. Beberapa jam sebelumnya Seren-sama datang bersama pria besar dan tinggi untuk menanyakan dimana Theo dan yang lainnya tinggal. Bahkan sebelum pergi, mereka meminta plastik besar seperti yang kugunakan untuk membungkus mayat-mayat itu. Aku bisa menebak bahwa itu mereka gunakan untuk membawa mereka”


“……”


Riz diam dan berpikir dalam hati.


‘Dilihat dari keadaannya, sepertinya memang benar begitu. Pantas aku yang tidak pernah melihat Justin datang ke tempat Jack-sama pagi-pagi justru melihatnya sebelum aku pulang’


Sekarang, Riz dalam mode serius. Selesai berdrama dan menghapus air matanya, dia berlutut untuk memeriksa kondisi mayat Justin.


Sesuai namanya, Riz memang sudah ahli dalam memeriksa mayat. Dan berkat itu juga dia menjadikan keahliannya untuk menjual mayat yang ditawarkan padanya dan dijual kembali ke pasar gelap.


“Dari lukanya, aku bisa melihat bahwa ini dilakukan oleh orang yang cukup terbiasa memotong sesuatu. Garis bekas potong pada kedua lengannya terlihat sangat rapi Selain itu, ada luka tembak di kaki dan tangannya. Kemungkinan luka ini dibuat sekitar satu jam yang lalu. Kecuali bagian ini”


Riz menujuk ke arah luka pada bagian leher dan melanjutkan penjelasannya kembali.


“Bekas pada lehernya masih baru. Meskipun sudah lewat cukup lama tapi aku bisa tau bahwa Justin belum lama mati. Benar kan? Dan dilihat dari bekasnya, sepertinya pedangmu yang melakukannya” Riz menunjuk pedang di pinggang Ryou sambil melanjutkan penjelasannya


“Benar. Aku yang melakukannya. Karena itu aku bilang bahwa aku membunuhnya. Selain luka di leher, sisanya dibuat oleh temanku di luar ketika bertarung dengan iblis itu. Aku yakin bartender di sana mengetahui detailnya lebih baik daripada aku” jawab Ryou


Riz berdiri dan bertanya kepada kedua orang di depannya sekarang.


“Baiklah, aku kesampingkan dulu masalah sumber bisnisku. Mengenai hal ini, jujur saja aku tidak pernah menyangka bahwa Justin akan melakukan hal tidak masuk akal dengan mengorbankan sembilan nyawa anak-anak itu demi satu orang. Itu adalah hal paling gila lainnya yang pernah kudengar”


“Begitulah. Tapi aku tidak akan heran jika itu dia, sejak dia memang tidak memiliki hati jadi mungkin hal ini memang wajah untuknya” kata Arkan


“Sekarang, kalian ingin aku membantu kalian membawa mayat ini ke pasar gelap. Memang apa mau kalian?”


“Kami ingin menukar mayat ini dengan ketiga orang yang dibawa oleh wanita itu”


Ryou mengatakan hal itu dengan sorot mata tajam. Mendengar hal itu, Riz tentu terkejut tapi dia memberikan jawaban tidak terduga.


“Menukar mayat dengan mereka yang dibawa ya. kenapa kau berpikir itu akan berhasil?”


“Sejak awal mereka tidak dibayar dengan uang tapi dengan nyawa manusia. Kalau dipikir baik-baik, kontrak terjadi karena Justin ingin menemukan temanku sedangkan kenyataannya dialah yang mati. Itu artinya kontrak telah batal”


“Tapi kau pikir dengan matinya Justin, mereka mau memberikan ketiga orang itu?” Riz membantah pemikiran Ryou


“Kita sedang berhadapan dengan pembunuh tapi mereka juga seorang pedagang. Kau tidak lupa hal itu kan?”


“……” Riz terkejut


Sekarang dia mengerti maksudnya dari apa yang coba dijelaskan oleh pemuda di depannya.


“Kau ingin mengadakan pertukaran dengan mereka?!”


“Tepat. Sejak mereka tidak dibayar dengan uang, artinya mereka terbuka untuk opsi barter. Selama nilainya dianggap sama seharusnya bisa dilakukan. Si bodoh itu saja bisa menyewa jasa mereka demi menemukan satu orang dengan sembilan nyawa, seharusnya mayat berharga yang bisa dijual kembali oleh mereka, tidak akan terlalu berat untuk ditukar dengan tiga nyawa”


Penjelasan logis Ryou membuat Arkan dan Riz terdiam. Arkan bahkan bergumam dalam hati setelah mendengar semuanya.


‘Dia bisa memikirkan semuanya sampai sejauh ini! Apakah aku sedang berhadapan dengan iblis sesungguhnya?!’


Riz menyilangkan kedua tangannya dan berpikir.


“Jika yang kudengar itu benar, seharusnya memang bisa. Selain itu di pasar gelap, tidak selalu yang dijual oleh Jack-sama dan Seren-sama itu mayat yang sudah dipotong. Terkadang mereka menjual manusia hidup baik yang masih mulus tanpa luka atau yang sudah dibuat sekarat. Tergantung peminat pasar”


“……” Ryou mendengarkan sambil mengepalkan tangannya dengan erat


“Ini hanya dugaanku saja. Seandainya berhasil sekalipun, kemungkinan kalian akan berhasil itu adalah 50:50. Malam ini, pembukaan pasar gelap lebih berfokus pada bagian tubuh anak-anak. Karena itu aku tidak akan heran jika Jack-sama dan Seren-sama sangat menyetujui pertukaran Justin”


“Karena itu mereka begitu terburu-buru saat datang ke bar ini tadi pagi” Arkan bergumam pelan sambil terlihat cemas


“Tapi, kau harus menyiapkan kemungkinan terburuk” lanjut Riz


“Kemungkinan terburuk?” Arkan langsung melihat Riz


“Ada kalanya semua harus diselesaikan dengan…kau tau apa itu kan?” Riz membuat tanda dengan jarinya


Ryou yang mengerti dengan semua itu langsung tersenyum.


“Kau pikir aku bodoh? Tentu saja aku tau kalau uang bisa menyelesaikan semuanya. Aku juga tau kalau kita sedang berhadapan dengan pembisnis jadi kemungkinan besar mereka akan mau mendengarkan ketika uang yang bicara”


Riz tersenyum dan mengangguk setuju. Mereka berdua akhirnya menemukan kecocokkan satu sama lain dan tersenyum jahat.


Hanya tinggal Arkan yang merasa tidak bisa masuk ke dalam pembicaraan itu.


“Apa aku ada di sini untuk melihat kelahiran orang tidak waras lainnya?”


******