Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 201. Satu Langkah Untuk Mengakhiri Event



“Kami tidak akan mati semudah itu”


Kedua kakak beradik itu mengatakannya secara bersamaan, membuat kedua gadis itu terkejut.


“Kami tidak bisa membiarkan keadaan kita semua terus begitu” jelas Kino


“Jika kalian meminta aku dan Kino untuk tidak pergi, sama saja menghilangkan kesempatan untuk kabur. Lagipula, di antara semua orang di sini…apa ada yang bisa bertarung seperti kami?”


Kedua kakak beradik itu tidak ingin membuang waktu lagi. Seandainya mereka tidak bisa meyakinkan mereka sekalipun, keduanya akan tetap pergi.


Namun, Ha Jinan dan Kim Yuram akhirnya mau merubah pikiran mereka. Dengan sedikit catatan.


“Kalian…harus kembali dengan selamat” kata Kim Yuram


“Sejak awal tidak ada yang ingin mati jadi tidak perlu khawatir soal itu”


“Kino-ssi…pastikan Kino-ssi dan Ryou-ssi kembali”


“Aku mengerti. Terima kasih, Ha Jinan-san, Kim Yuram-san”


Seo Garam dan Kang Ji Song ikut menghampiri keduanya. Tidak jauh berbeda dengan kedua gadis itu, mereka juga menunjukkan wajah sedihnya. Namun, hal itu ditutupi dengan senyuman.


“Kalian berdua, terima kasih untuk semuanya”


“Aku benar-benar tidak tau bagaimana nasibku jika tidak bertemu dengan kalian saat itu. Sampai saat ini, aku masih merasa bersalah karena pernah bersikap seenaknya pada kalian” Kang Ji Song mulai memperlihatkan ekspresi menyesal


“Kami berdua juga sangat terbantu berkat seluruh informasi yang kalian berikan”


Jawaban Kino membuat Kang Ji Song mengulurkan tangannya dan memintanya untuk berjabat tangan. Kino dengan senang hati membalas hal tersebut dan menjabat tangan Kang Ji Song.


Untuk beberapa saat, Ryou sempat terdiam lalu meminta sesuatu pada Garam.


“Garam, biarkan aku yang membawa ponselmu” kata Ryou sambil mengulurkan tangannya


“Ponsel?”


“Benar. Aku berpikir seandainya kami memiliki ponsel salah satu dari kalian, kita masih bisa saling berkomunikasi. Dan jika kami bisa mendapatkan peluang bagi kalian untuk pergi, maka dengan ponsel itu kami bisa menghubungi kalian”


Sebuah usulan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh semuanya. Sebenarnya ada alasan di balik semua itu.


‘Di dalam ponsel Seo Garam, terdapat dokumen yang sudah aku kirimkan mengenai denah lokasi, data mahasiswa sampai artikel yang berhubungan dengan [Event Horror Apps]. Jika ingin mencari petunjuk, aku yakin hal itu akan sangat membantu’ kata Ryou dalam hati


Kino tampak menyadarinya karena apa yang dilakukan Ryou saat berada di ruang praktikum saat itu.


‘Ryou kemungkinan ingin kembali melihat semua file yang telah dikirimkannya ke email di ponsel Seo Garam-san’


Seo Garam yang mendengar alasan tersebut tidak membutuhkan waktu lama untuk memberikan jawabannya pada Ryou. Dengan mengutak-atik sebentar ponselnya, dia langsung memberikannya.


“Kau…bebas menggunakannya. Semua aplikasi sudah tidak aku berikan password. Selain itu, semua nama akun beserta kata sandinya sudah aku tulis pada note app di sebelah kanan atas”


“Terima kasih”


“Nomor Ha Jinan, Kim Yuram dan Kang Ji Song ada di sana. Kami akan sebisa mungkin melakukan yang terbaik sampai kalian semua kembali”


“Pastikan…pastikan kalian menghubungi jika memang terjadi sesuatu!” Kim Yuram mendekati Ryou kembali


Ryou hanya mengangguk. Ha Jinan juga memegang tangan Kino sekali lagi.


“Kino-ssi…jika kau kembali nanti…aku…aku ingin…aku ingin jadi orang yang menyambutmu kembali!”


“Terima kasih. Aku akan melakukan yang terbaik agar kita semua selamat” Kino menjawab dengan senyuman


Tidak mau membuang waktu, mereka berpesan kepada semua mahasiswa itu untuk tidak melakukan apapun yang berbahaya seperti sebelumnya.


“Sudah lima menit dan aku tidak mau memberikan tambahan waktu. Kalau kalian memiliki waktu lebih, bantu aku untuk memindahkan semua penghalang di pintu”


Suara Kaito yang cukup terdengar keras membuat kedua gadis itu langsung tersentak dan melepas semua pegangan tangan dan tatapan khawatir pada kedua kakak beradik itu.


“Seo Garam-san, Ha Jinan-san, Kim Yuram-san, Kang Ji Song-san, kami pergi dulu. Semoga kita semua bisa bertemu lagi”


“Setelah kami bertiga keluar dari tempat ini, tutup pintu dan jendela dengan kain atau apapun yang ada dengan cepat dan jangan pernah membukanya sebelum kami menghubungi”


Mereka mengangguk. Keempat mahasiswa itu mengantar Kino dan yang lain sampai ke depan pintu bersama mahasiswa lainnya.


Satu dari mereka mengintip ke jendela dan melihat banyaknya zombie yang lewat.


“Banyak sekali! Ini masih terlalu banyak! Apakah kalian yakin akan keluar sekarang?” tanya mahasiswa itu dengan wajah pucat


“Kerumunan itu sedang menuju suatu tempat. Kita tunggu sampai semuanya pergi lalu kami akan memastikan bahwa tidak ada zombie di sekitar sini. Jika memang sempat, kami akan memeriksa pintu gerbang juga dan mencari peluang untuk keluar” ucap Kaito


Kaito sempat melihat jam saku di tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 02.25. Sambil memasukkan kembali jam saku miliknya, dia bertanya pada orang yang berada di dekat jendela.


“Bagaimana?”


“Tinggal sedikit lagi. Di belakang ada sekitar tiga ekor yang tersisa”


“Tiga ya. Sepertinya tidak masalah kalau kita menerobos sekarang. Kita pergi. Kino, Ryou, bersiap dengan senjata kalian”


“Kami sudah siap, Kaito-san”


“Kita pergi dari sini”


Meskipun semuanya tampak sangat takut dan mencemaskan orang yang sudah menyelamatkan mereka semua, tapi sudah dapat dipastikan bahwa ini adalah langkah terbaik. Selain itu, hal ini memang menjadi tujuan ketiganya.


“Kalian, zombie-zombie itu sudah tidak ada lagi! Ini kesempatan kalian untuk keluar!”


Kalimat dari mahasiswa yang mengintip keluar itu merupakan tanda untuk ketiganya. Begitu pintu di buka, mereka langsung berlari keluar dengan cepat ke arah berlawanan dari arah para zombie itu pergi.


Semua mahasiswa di dalam gedung arsip mulai menutup kembali pintunya dan mengganjalnya dengan meja dan kursi kembali. Kang Ji Song mengambil pisau yang sebelumnya dilempar ke dekat pintu lalu menyimpannya.


‘Aku yakin ini akan berguna. Aku mohon, apapun yang terjadi kalian bertiga harus kembali’


Di luar, Kaito dan kedua kakak beradik itu telah lari menjauhi gedung arsip dan bersembunyi di balik sebuah semak-semak di belakang sebuah gedung fakultas lain.


“Yeah! Kita berhasil keluar dan terbebas dari mereka semua” Ryou terlihat sangat senang


“Benar, meskipun aku harus melihat kau dan Kino melakukan drama perpisahan terlebih dahulu sebelumnya”


“Itu bukan keinginanku! Mereka saja yang terlalu histeris!”


“Tapi, itu hal yang wajar. Mengingat mereka berpikir mungkin kita bertiga ini melakukan hal berbahaya demi mereka semua”


Ucapan Kino membuat Ryou dan Kaito terdiam.


“Tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar” jawab Ryou santai


“Jadi, bagaimana rencananya? Nekat ingin mengikuti mereka terlebih dahulu atau ingin mencari petunjuk tentang keberadaan Song Haneul-san?”


Kaito berpikir sejenak. Untuk beberapa saat, dia terlihat begitu cemas.


Sebuah pikiran rumit datang di saat Kaito telah bertekad untuk mencari tau keberadaan permatanya.


‘Seandainya memang ada kemungkinan untuk menemukan permata ingatanku di tempat yang sedang dituju oleh kawanan zombie itu, maka aku rasa itu masih jadi prioritas utama. Namun, permainan ini akan berakhir ketika ada satu orang yang berhasil keluar dari gerbang tempat ini. Sekarang, yang mana yang harus aku dahulukan?’


Hal itu sangat wajar karena pergerakan aneh dari para zombie yang membuat spekulasi di luar pemikiran normal mereka. Namun sepertinya, bukan hanya Kaito yang berpikir demikian.


“Kalian, tidak kalian memikirkan sebuah opsi lain?”


“Apa yang kau maksud, Kino?”


“Tujuan kita memang menemukan kepingan ingatan Kaito-san dan mencari tau keberadaan Song Haneul-san. Tapi, dengan semua zombie yang pergi secara berkelompok seperti tadi itu…bukankah seharusnya semua zombie yang menjaga pintu gerbang juga kemungkinan ikut pergi?”


Ryou terkejut mendengarnya. Dia jelas menyadari bahwa seluruh zombie yang pergi ke arah yang sama itu memang berasal dari seluruh bangunan. Tapi, dia belum sempat berpikir sampai sejauh itu.


“Kau benar…mungkin saja kita bisa memastikan hal itu. Jika memang pintu gerbangnya sudah tidak dijaga oleh kawanan zombie dan kita bisa keluar dari sini…bisa saja hal itu justru memudahkan kita mencari permata milik Kaito”


“Tapi, bagaimana kalau ternyata tidak seperti itu?” Kaito bertanya pada Kino


“Mungkin sebaiknya, kita coba memastikannya terlebih dahulu agar kita yakin. Bagaimana?”


Tampaknya, Kaito tidak menolaknya. Sejak dia sendiri juga merasa hal itu perlu dilakukan.


Ketiganya sedikit merubah arah yang dituju dengan memanfaatkan situasi dimana para zombie itu tidak ada di sekitar mereka.


Dengan peta yang sudah di-upload oleh Ryou ke ponsel Seo Garam, mereka memanfaatkannya untuk mencari arah menuju pintu gerbang terdekat.


“Ada dua pintu gerbang di sini. Yang terdekat ada di lokasi yang sama seperti di dalam video yang kita lihat beberapa waktu lalu. Hanya tinggal beberapa menit lagi kita akan sampai” ucap Ryou


Begitu mereka sampai di dekat pintu gerbang yang dituju, mereka bersembunyi di balik pohon besar di sekitar tempat tersebut.


Ketiganya melihat sesuatu yang sulit untuk dipercaya.


“Kenapa bisa begini?!”


******