Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 369. Ruang Rahasia bag. 3



“Apa…ini?”


Kino terkejut melihat tempat yang ada di hadapan mereka sekarang. “Ini…tempat apa sebenarnya?”


Seperti kata Kaito sebelumnya, memang ada angin sejuk di tempat itu. Meskipun tidak ada jendela dan atap terbuka bahkan lubang angin, namun jelas tempat terang putih itu terasa sejuk.


“Hmm? Agnimal Candle?” Ryou melihat api berbentuk hewan miliknya. Api itu seperti seekor kucing kecil yang rambut tubuhnya tertiup angin. Api yang membentuknya mulai bergoyang-goyang.


“Sepertinya memang ada angin di sini” kata Ryou


Kaito merasakan wilayah sekitarnya. Dia juga mengamati pintu yang ada di sekitar tempat itu. Ada tiga pintu di sana. Masing-masing pintu tidak ada yang terlihat normal, mereka mencurigakan biarpun terlihat biasa-biasa saja.


“Aku ingin masuk ke salah satunya, tapi aku tidak memiliki jaminan bahwa tiap pintu akan membawa kita ke jalan keluar lain” kata Kaito sambil melihat kedua kakak beradik itu


Kino mendekati Kaito.


“Kaito-san, sebaiknya kita tidak melakukan tindakan gegabah. Waktu kita hanya tersisa kurang dari dua jam dan aku yakin di balik pintu itu pasti ada ruangan lain”


“Aku bisa menebak sekarang. Kita kemungkinan ada di ruang bawah tanah Akademi Sekolah Sihir”


Ryou mendekati keduanya dan menepuk pundak sang kakak, “Ini memang ruang bawah tanah akademi, Kino. sudah terlambat untuk terkejut”


“Bukan. Maksudku kita mungkin sudah ada di bawah salah satu dari gedung akademi. Pintu itu mungkin ada yang akan membawa kita pada jalan keluar, namun mungkin akan menyeret kita lebih dalam lagi”


Kaito melihat wajah Kino yang khawatir dan berkata, “Aku tau. Kita coba pikirkan ini bersama”


Ketiganya masing-masing mendekati satu pintu dan mengamatinya.


“Pintu ini tidak memiliki lubang kunci. Apa itu artinya mereka tidak dikunci?” gumam Ryou


Ryou melihat ukiran unik pada pintu.


“Sepertinya tidak begitu berarti. Coba aku dorong pintu ini. Mungkin saja memang tidak dikunci”


 Ketika dia mencoba mendorong pintu itu, dia terkejut kalau pintunya tidak terbuka.


“Jangan bercanda. Heeeegh!! Benar-benar tidak terbuka”


Meskipun Ryou mendorongnya namun tidak ada tanda-tanda pintu itu bergeser. Sementara itu, Kaito mencoba menarik gagang pintu tersebut.


“Tidak mau terbuka…” Kaito melihat kembali pintu tersebut. “Tidak salah lagi, pintu ini memang tidak terbuka. Sudah begitu, tidak ada lubang kuncinya sama sekali dan tidak ada tanda-tanda pernah dibuka. Kenapa?”


Kino yang berdiri di pintu tersebut tidak jauh berbeda dengan keduanya.


“Apa ada sesuatu yang bisa membukanya?”


Dengan teliti, Kino memperhatikan kembali pintu di hadapannya.


“Aku yakin ada sesuatu yang berbeda. Hmm? Apa ini?” gumamnya pelan


**


Di tempat lain, Galaktika dan ketiga temannya yang berjalan di sekitar akademi bicara mengenai rencana mereka.


“Galaktika, pipimu masih sakit?” tanya Rayel


“Lupakan pipiku. Kita pikirkan apa yang akan kita lakukan selanjutnya”


Melihat lokasi mereka saat ini, mereka ada di lorong yang membatasi antara halaman dengan gedung akademi.


Vares berhenti dan melihat ketiga teman-temannya.


“Sebaiknya kita coba menyusup ke dalam dan mencari tau tentang keberadaan ruang penyimpan Artifact”


“Artifact? Mau menemukan mereka di sini sekarang?” tanya Virgo


Vares terlihat serius.


“Kita harus berkumpul jam satu siang. Sampai waktunya tiba, tidak ada yang tidak mungkin. Kita belum bisa membunuh mereka selagi belum menjadi siswa di sini”


“Setidaknya, selagi tidak dicurigai oleh mereka, hal termudah saat ini adalah mencari petunjuk ruang penyimpan Artifact”


Galaktika tidak ingin mereka pergi dan berpencar lagi.


“Sebaiknya…kita coba mengejar Lady” keluar ide bodoh dari mulutnya


“Kenapa?”


Galaktika bingung saat ditanya seperti itu oleh Vares, tapi dia hanya ingin membuat mereka tidak berkeliaran.


‘Aku harus mendapatkan kesempatan untuk mengawasi mereka’


‘Tentu saja aku juga ingin tau dimana letak Artifact berada, tapi aku bukan lagi bagian dari Rebellenarmee sepenuhnya’


‘Demi mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Duke Xelhanien, aku harus bisa mengawasi mereka dengan baik’


Galaktika ingat hal yang mungkin bisa digunakan sebagai senjata untuk menahan mereka.


“Soal di lobi tadi?”


“Benar. Aku yakin dia belum tenang. Pikirkan apa yang aku katakan soal tindakan cerobohnya tadi. Jika sampai dia yang sedang dalam keadaan emosi membuat masalah dengan orang yang kebetulan melihat dan menegurnya…”


Vares melihat Virgo dan Rayel, “Bagaimana?”


Virgo mengangguk dan melihat ke beberapa sisi area umum tersebut.


“Galaktika benar. Kita coba cari Lady dan pastikan dia tidak membuat masalah untuk sekarang. Selain itu, jangan sampai ada keanehan yang terlihat oleh pasukan divisi”


“Aku melihat beberapa dari mereka berkeliling dari tadi. Meskipun mereka mungkin hanya lewat, tapi tetap saja mengkhawatirkan”


Vares menghela napas dan terpaksa setuju dengan ide itu.


“Baiklah”


Tidak lama setelah itu, mereka menghilang.


**


Kembali ke tempat dimana ketiga remaja dari dunia lain itu menemukan pintu.


“Pintunya sama sekali tidak bisa dibuka. Didorong tidak bisa, ditarik tidak bisa. Apa gunanya gagang pintu ini?” gerutu Ryou dengan suara keras


Tampaknya mereka yakin tidak ada siapapun di sana.


“Tidak ada lubang kunci. Sepertinya ini hanya sebuah pintu palsu” tebak Kaito


“Palsu? Kurang kerjaan sekali mereka membuat pintu palsu seperti ini. Terus yang asli ada di mana? Tidak mungkin isinya hanya ruang kosong seperti ini”


Kino masih belum menyerah dan berpikir kembali.


‘Tidak ada lubang kunci, tidak bisa didorong atau ditarik. Apakah harus digeser?’


Kino mencoba menggeser pintu tersebut.


“Tidak bisa juga. Apa lagi yang…” belum selesai bicara, Kino merasa ada satu hal yang belum dia coba. Dia melihat tangannya dan berpikir, ‘Apa mungkin…’


Kino menempelkan tangannya dan mulai mengeluarkan sihirnya.


“Entah akan berhasil atau tidak, tapi akan aku coba”


[Water Art: Aqua]


Sebuah sihir sederhana yang memancarkan air dengan intensitas sesuai dengan keinginan penggunanya.


Kino mengeluarkan sihirnya sambil menyentuh pintu tersebut. Mendengar suara air membuat Ryou dan Kaito menghampiri Kino.


“Kino, kenapa mengeluarkan sihir di sini?” tanya Ryou


“Aku hanya berpikir kalau semua tidak bisa berarti caranya hanya satu yaitu mencoba membukanya dengan sihir. Karena aku tidak tau sihir apa yang bisa kupakai untuk membuka pintu ini jadi aku pakai sihir yang paling mudah di dalam pikiranku”


Kaito melihat bahwa pintu itu mulai berubah warna.


“Biru?! Warnanya berubah biru?!”


“Apa?!” Ryou terkejut


Bukan hanya warna pintunya berubah, tapi pintu itu mulai berubah bentuk.


“Aku suka sihir, tapi kalau sampai bisa merubah bentuk benda jadi takut sendiri” gumam Ryou


Setelah sihir Kino selesai dikeluarkan, pintu itu akhirnya mencapai bentuk yang berbeda dengan yang lain.


“Bentuknya berubah, ada lubang kuncinya. Sudah begitu warnanya tidak lagi sama”


Kaito melihat pintu-pintu lainnya, “Mungkinkah yang lain juga akan seperti ini?”


“Benar juga. Ayo kita coba”


Ryou dan Kaito mencoba ke pintu mereka masing-masing. Ryou bicara pada api berbentuk hewannya.


“Terima kasih sudah menemaniku. Sekarang, coba bantu aku untuk membukanya ya”


Seperti mengerti maksudnya, dia langsung menyentuh pintu itu. Karena pada dasarnya api itu terbuat dari sihir, jadi masih mengandung energi sihir milik Ryou.


Setelah ditunggu beberapa saat, pintu itu memang berubah warna.


“Berubah! Warnanya berubah!” teriaknya


Sekarang, mereka mendapatkan sesuatu lain yang tidak terduga.


******