Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 101. Penyelamatan bag. 3



Seren bicara dengan nada santai sambil memegang kepala Will.


“Mereka masih ada di suatu tempat di dalam pasar ini dan kurasa mereka bisa saja sudah bersama dengan pelaku yang membunuh Will”


Arkan menjadi semakin panik mendengar apa yang dikatakan oleh Seren.


“Ta–tapi…bagaimana Seren-sama bisa begitu yakin dengan hal i–“


“Aku hanya menebaknya”


“Me–menebak?”


“Kalau memang kedua anak-anak itu ada di lokasi kejadian ini, kemungkinan besar orang yang membunuh Will akan memeriksa seluruh tubuhnya dan menemukan kunci gerbangnya. Setelah itu, dia pasti akan melarikan diri dengan anak-anak itu. Tapi, kuncinya masih ada di saku celana Will sebelum kuambil” kata Seren melanjutkan penjelasannya


“Kalau begitu mereka–”


“Tapi bisa saja kedua anak itu tidak bertemu dengan pelaku dan bersembunyi di sekitar sini”


“Jadi yang benar yang mana?!” Arkan bertanya dengan nada kesal


“Hmm…aku tidak tau” jawab Seren dengan santai


“Argh!!” Arkan menjadi kesal dan berteriak


‘Ini sudah di luar rencana! Kalau memang semua tebakan wanita psikopat itu ada yang benar, maka pilihan satu-satunya adalah mencari mereka ke seluruh tempat ini atau kembali ke tempat Jack-sama untuk bernegosiasi ulang! Tapi, apa lagi yang mau dinegosiasikan?! Apa aku harus mengatakan padanya kalau kemungkinan pria berpedang tanpa sarung pedang yang membunuh penjaga gerbang itu?’


Arkan melirik ke arah kepala penjaga gerbang yang diajak menari oleh Seren dengan penuh senyum.


‘Lihat wanita psikopat itu, dia bahkan menari-nari dengan kepalanya! Aku bisa membayangkan kalau sampai suaminya dengar bahwa orang yang ikut bersamaku adalah pelaku pembunuhannya, kepalaku mungkin akan bernasib sama dengan kepala karyawannya yang mati!’


Seketika pemikiran berat Arkan berakhir. Sekarang, Arkan harus memikirkan kemana dia harus mencari Stelani dan Fabil.


**


Stelani dan Fabil menunjukkan jalan untuk pergi ke gedung tempat Kino berada.


“Di depan sana belok kanan lalu jalan pelan-pelan” kata Fabil


“Aku menger…hah?”


Kaito langsung berhenti mendengar arahan Fabil.


“Pelan-pelan katamu?” tanya Kaito dengan wajah bingung


Ryou yang melihat Kaito berhenti ikut berhenti dan berteriak.


“Oi, kita tidak punya waktu untuk…Ouch!!”


Ryou menahan rasa sakit karena pipinya dicubit oleh Stelani.


“Jangan berteriak dari sini, Ryou-niisan!”


“Hah?! Kenapa memangnya? Ouch! Berhenti mencubit pipiku!”


“Di depan belokan itu kita akan langsung sampai ke gedung tempat kami disekap pertama”


Ryou dan Kaito melihat ke jalan di depan mereka. Kaito bertanya kembali pada Fabil.


“Apa ada orang lain di tempat itu?”


“Tempat itu dan sekitarnya kosong, namun pada bangunan di sampingnya itu terdapat gerobak aneh dan kami sempat mendengar ada suara orang yang keluar masuk ke dalamnya” jelas Fabil


Sekarang mereka yakin bahwa itu adalah tempat dimana pengelola tinggal dan tempat kedua anak itu disekap berada tepat di sampingnya.


Kaito mulai mengikuti saran anak-anak itu untuk bicara pelan. Dia mendekati Ryou dan berbisik.


“Ryou, kita harus berbagi tugas. Untuk menjalankan rencana C, kita tetap tidak boleh gegabah”


“Apa kau bercanda? Kita sudah sampai sejauh ini! Aku harus menyelamatkan Kino!” kata Ryou dengan penuh emosi


“Tapi sekarang kedua anak ini ikut bersama kita!” kata Kaito dengan wajah serius


Ryou terdiam dan tidak bisa membalasnya. Dia menengok ke arah Stelani yang ada didekapannya.


“A–aku tidak apa-apa. Kino-niisan jauh lebih penting! Kau harus menyelamatkannya, Ryou-niisan! Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau adiknya!”


Stelani berusaha untuk memaksa Ryou menyelamatkan Kino tanpa memikirkannya. Tapi melihat kondisi tubuh gadis kecil yang digendongnya, Ryou tidak mungkin mengabaikannya. Selain itu, berkat mereka berdua, dirinya dan Kaito bisa menemukan tempat keberadaan Kino.


“Apa tangan dan kakimu benar-benar membuatmu sulit berjalan?” tanya Ryou lembut sambil menatap wajah Stelani


“Um…” Stelani hanya menunduk tanpa memberi jawaban lain


Ryou sudah mendapatkan jawaban yang jelas dari reaksi gadis kecil itu. Dia menengok Kaito dengan sorot mata tajam dan tenang seakan telah berhasil mendinginkan kepalanya.


“Apakah kau punya rencana cadangan untuk mendukung rencana C?”


“Aku masih belum sepenuhnya yakin dengan pemikiran ini, tapi yang jelas aku tidak berpikir bahwa kita bisa membawa tubuh Kino yang terluka parah dan kedua anak ini secara bersamaan”


Kaito menurunkan Fabil dan melihat postur berdiri anak itu.


“Fabil, apakah kakimu terluka parah?” tanya Kaito


“Kakiku sempat ditendang dan perutku sempat diinjak oleh wanita mengerikan itu tapi aku masih bisa berlari cepat meskipun memaksakan diri. Kalau tidak, aku tidak akan bisa memindahkan tubuh Kino-niichan ke tempat yang lebih baik dan menggendong Stelani” Fabil menjawab dengan begitu percaya diri


“Tunggu, apa maksudmu memindahkan tubuh Kino?” Ryou langsung berubah panik mendengarnya


Wajah Stelani dan Fabil langsung berubah pucat. Stelani yang berada di dekapan Ryou menjadi gemetar kembali. Merasakan tubuh kecil gadis itu gemetar, Ryou langsung melihatnya dengan tatapan panik seperti memiliki firasat buruk.


Fabil memberanikan diri untuk menceritakan hal yang terjadi pada Kino kepada kedua remaja tersebut menggantikan Stelani.


“Di–di dalam ruangan itu, ada sebuah ruangan yang terdapat dua kepala di atas meja dan anggota tubuh yang terpotong dengan darah tebal di lantainya. Kami menemukan Kino-niichan bersimbah darah dengan luka serius seperti yang kami katakan sebelum ini. Kami pikir, wanita mengerikan itu ingin membuat Kino-niichan seperti dua orang yang kepalanya kami lihat di ruangan itu jadi kami memindahkan tubuhnya ke tempat yang lebih aman”


-Deg


Bagaikan tersambar petir, kedua remaja itu menjadi pucat mendengar kesaksian Fabil. Tangan Ryou yang menggendong Stelani bahkan tidak bisa berhenti gemetar. Stelani yang merasakan hal itu memeluk pisau milik Kino sambil menangis.


Mendengar tangisan gadis itu lagi, hati Ryou menjadi sangat yakin bahwa pengelola pasar gelap itu tidak bisa dimaafkan.


“Kaito, aku tidak suka rencana yang penuh dengan basa-basi. Jika memang ingin menggunakan cara kasar, lebih baik kita terobos dan habisi mereka!” ucap Ryou dengan nada kesal penuh amarah


Kaito mengerti perasaan Ryou. Akan tetapi dengan kedua anak yang telah bersama mereka berdua, semua itu akan menjadi lebih sulit. Bagaimanapun juga, mereka masuk dalam daftar orang-orang yang harus diselamatkan. Karena itu, sekarang mereka membutuhkan lebih dari sebuah rencana cadangan untuk mendukung rencana C mereka.


“Fabil, apakah benar di dekat tempat itu ada gerobak?” Kaito bertanya lagi pada Fabil


“Be–benar”


“Begitu. Aku ingin memberitau sedikit informasi untuk kalian berdua yang belum mengetahuinya. Justin sudah mati dan kami berdua yang telah membunuhnya”


“Apa? Justin-sama sudah mati?!!”


Kedua anak itu berteriak secara serentak karena begitu terkejut. Bahkan wajah sedih Stelani berubah menjadi wajah kaget sambil melihat Ryou. Ryou menatap Stelani dan mengangguk.


“Itu benar, aku yang telah membunuhnya bersama Kaito. Dan perlu kalian ketahui juga, benda di dalam gerobak itu adalah mayat Justin yang pada awalnya akan kami gunakan untuk menukar nyawa kalian bertiga”


Keempat orang itu saling bertukar ‘kejutan’. Sekarang, masing-masing dari mereka sudah memiliki gambaran masalah dan kejadian satu sama lain walaupun belum seluruhnya.


“Jadi…akhirnya kami bisa bebas dari Justin-sama…” kata Fabil dengan perasaan lega


“Akhirnya, kami tidak perlu merasa takut padanya lagi. Terima kasih banyak Ryou-niisan, terima kasih banyak Kaito-niisan”


“Sekarang, lupakan soal itu dan kita kembali ke topik. Kita harus mengeluarkan Kino dari tempat itu dan membawanya kabur”


Ryou menatap Kaito kembali dan bertanya dengan wajah serius.


“Kaito, tadi kau membahas tentang gerobak. Apakah kau ingin memanfaatkan gerobak itu untuk membawa Kino?” tanya Ryou


“Tepat. Jika bisa, aku ingin memanfaatkan gerobak milik Riz untuk membawa Kino dan kedua anak-anak ini keluar. Tapi, berhubung tidak mungkin kita membawa dua tubuh dalam satu gerobak berat seperti itu, jadi aku harus memastikan apakah Fabil masih bisa berlari atau tidak”


“A–aku bisa berlari! Jangan khawatir, Kaito-niichan!”


“Begitu. Rencananya, jika memang bisa keluar dari tempat ini aku ingin kau menggendong Stelani kembali. Meskipun aku akan memikirkannya lagi, tapi–“


“Tidak masalah, Kaito-niichan! Nyawa Kino-niichan lebih penting!”


Sorot mata Fabil terlihat begitu serius. Kaito menghargai sikap anak laki-laki itu. Dia mengangguk dan tersenyum.


“Tenang saja, aku tetap akan memikirkan kemungkinan lain. Ini hanya sementara tapi jika kau memang siap tolong lakukan dengan baik demi keselamatan kita semua”


“Mmm!” Fabil mengangguk dengan yakin


“Sekarang, rencana sesungguhnya Ryou. Baik kau atau aku, kita tidak bisa masuk berdua untuk menyelamatkan Kino. Paling tidak, salah satu dari kita berdua harus masuk ke sana sendiri dan sisanya melindungi kedua anak ini sambil memindahkan mayat Justin dan–“


“Aku yang akan masuk dan menyelamatkan kakaku!”


Ryou dengan penuh keyakinan menunjuk dirinya sendiri. Dia mengajukan diri untuk masuk ke dalam dan menyelamatkan Kino.


Kaito melihat sorot mata penuh keyakinan itu dan mengangguk.


“Aku mengerti. Pastikan kau keluar dengan selamat bersama kakakmu itu. Kita masih memiliki hutang padanya. Khususnya kau yang harus minta maaf sambil menunjukkan daftar perbuatan dosamu selama dia tidak di sampingmu”


“Aku tau itu!”


Meskipun kedua anak itu tidak begitu paham arah pembicaraan dua kakak di depan mereka, namun inti dari semua itu mereka mengetahuinya.


Rencana penyelamatan Kino dan keluar dari neraka itu.


Di dalam kantor Jack, Riz terdiam dan tidak bisa melakukan apapun. Bahkan kue di tangannya ikut menjadi ‘penonton’ dari tatapan bingung di wajah Riz.


“Riz, dengarkan aku…”


“Ah? I–iya, Jack-sama?” Riz terkejut mendengar namanya dipanggil oleh Jack


“Kau tau, kalau kue istriku itu bisa bergerak seperti manusia…dia pasti akan membuka mulutmu secara paksa dan memasukan dirinya sendiri ke dalamnya”


“A–apa Jack-sama sedang bercanda?”


“Tentu saja aku serius.Kau harus tau, usaha apa yang dilakukan istri tercintaku untuk membuatnya. Bahkan, aku belum ingin mengunjungi dapur rumah ini lagi karena membayangkan betapa ‘rapi dan bersihnya’ dapurku itu”


“Benarkah itu?”


“Siang ini, dia juga yang memasak daging bayi kam…ehem, maksudku daging kambing muda itu. Aku membayangkan tuan putri itu membuat eksperimen berdarah….ehem, maksudku menerapkan ilmu memasaknya dengan sedikit ekstrim”


Entah kenapa, Jack mencintai sang istri sekaligus sedikit sarkas dalam memuji kemampuan memasaknya di dapur.


Bisa dikatakan, rasa humoris dari panutan Riz ini cukup diacungi jempol. Tetapi bukan itu yang ada dalam otak Riz sekarang.


“Jack-sama…”


“Ada apa lagi? Apa kau ingin tambah kue atau tehnya lagi?”


“Jika…jika aku kembali ke rumahku untuk mengambil uang agar bisa membebaskan remaja itu…apakah kau mengizinkannya?”


“Hmm? Kau mau kembali lagi ke sini, begitu maksudmu?”


Riz dengan penuh keyakinan menunjukkan sorot mata serius dan meletakkan piringnya kembali ke atas meja.


‘Ini mungkin hanya akan menghabiskan waktu. Melihat remaja itu terluka dan kehilangan banyak darah, aku harus melakukan sesuatu! Tapi, jika anak itu tidak dibebaskan dan mati di tempat ini maka semuanya akan gagal dan sudah jelas nasibnya akan menjadi dagangan di etalase toko. Mungkin terdengar seperti bualan tapi apa salahnya mencoba!’ pikir Riz dalam hati


Rencana yang agak memaksakan mengingat dia sudah dipastikan tidak memiliki waktu untuk itu. Tapi, dengan mengajukan pertanyaan itu mungkin saja Jack mau memikirkan tawarannya kembali.


Jack tersenyum senang.


“Kalau kau yakin remaja itu bisa bertahan hidup sampai kau kembali ke tempat ini, kenapa tidak. Pada akhirnya, hanya keberuntungan yang bisa menyelamatkan dirinya dan membuatnya bertahan sampai kau kembali ke tempat ini dengan membawa uang”


Riz hanya bisa berdoa semua ide gilanya itu tidak gagal.


‘Kuharap aku tidak salah! Aku masih benar-benar berharap keajaiban datang sekarang!’


******