
Kaito memberikan tatapan tidak menyenangkan dan senyuman kecut. Dia tau bahwa anak-anak yang dimaksud di altar itu memiliki hubungan dengan anak yang menabrak kedua kakak beradik itu. Tetap saja hal yang paling tidak menyenangkan dari bagian ini adalah dia tidak suka dengan tempat lembab, kumuh dan kurang pencahayaan itu. Bahkan, seorang Kaito yang jarang sekali memberikan julukan aneh sekarang justru mengikuti kebiasaan Ryou.
‘Tempat yang seperti mimpi buruk lain selain ‘dunia malam’. Aku akan menyebut tempat itu sebagai ‘dunia malam’ junior atau ‘dunia malam’ versi beta mulai sekarang. Serius…selain orang-orang di sana tidak ramah, aku merasa tempat itu sangat ‘berat’. Aku belum bisa mencari tau makna kata itu di dalam pikiranku, tapi ada sesuatu yang tidak benar di sana’
Terlepas dari berbagai pikirannya itu, sebuah titik terang sudah berada di depan matanya sekarang dan tidak mungkin dia lewatkan begitu saja.
Ryou yang melihatnya jadi ikut diam dan memanggil Kaito dengan nada suara normal.
“Kaito? Ada apa?”
“…’Dunia malam’ junior–” Kaito bergumam sendiri dengan suara pelan
“Apanya yang junior?” dan Ryou sekarang mulai bingung
Mendengar Ryou memanggil nama Kaito, Kino melihat ke belakang. Kedua orang yang berjalan di belakangnya berhenti. Tentu hal itu membuatnya penasaran dan menghampiri mereka.
“Ada masalah apa? Apa Kaito-san masih lapar?”
“Bukan apa-apa. Sampai tadi aku masih baik-baik saja. Jangan khawatir” Kaito terlihat normal kembali meskipun sebenarnya tidak begitu
Kino dan Ryou melihat satu sama lain tetapi mereka tidak bisa bertanya lebih dari ini. Ketiganya sedang menuju ke titik kumpul awal yang sudah direncanakan sebelumnya yaitu kolam air mancur di dekat bangunan altar.
Kaito melihat jam saku miliknya kembali dan waktu hanya tersisa lima belas menit lagi. Setelah kolaborasi pikiran yang panjang antara dirinya dan Ryou, waktu yang tersisa tetaplah penghalang terbesar.
‘Waktu yang tersisa hanya tinggal lima belas menit dan jika perulangan yang terjadi tidak memberikan keuntungan bagi kami semua, kemungkinan akan sulit mendapatkan jam saku mereka kembali’
Kaito yang masih memegang erat jam saku miliknya mulai memikirkan banyak hal yang bisa saja terjadi pada mereka ketika perulangan tiba. Berbeda dengan sebelumnya, perulangan mereka akan kembali ke pagi hari di ‘dunia siang’ yang artinya mereka bisa saja mengulangi kesalahan yang sama seperti pagi ini atau ada hal buruk lain yang menimpa mereka sebagai gantinya.
Ketiganya kembali berjalan dengan Ryou dan Kaito yang saling berbisik satu sama lain.
“Tadi kau mengatakan sesuatu?” Ryou bertanya dengan wajah penasaran
“Hanya tiba-tiba saja perutku mual karena memikirkan hal yang tidak kusukai baru-baru ini”
“Hal yang tidak kau sukai?”
“Benar. Dan sepertinya itu merupakan petunjuk tentang jam saku kalian”
“Apa?!” Ryou berteriak
Kino yang kaget melihat ke arah Ryou dan bertanya dengan wajah khawatir.
“Ada apa? Apa semua baik-baik saja?”
“A–aku baik-baik saja. Oh!...kakakku, kau pasti lelah membawa kantong roti itu. Sini berikan padaku, biar aku yang membawanya”
Ryou dengan panik dan terburu-buru mengambil kantong belanja dari Kino dan membawanya. Sekarang situasi sedang tidak lucu. Mereka sudah hampir kehabisan waktu dan mau tidak mau hal itu memaksa mereka untuk berlari.
“Sudah tidak ada waktu, kita lari sekarang!”
Kaito yang masih memegang jam saku di tangannya langsung berlari. Kedua kakak beradik itu akhirnya mengikutinya.
“Kaito-san!!” Kino berteriak memanggil Kaito yang sudah ada di depannya
“Kita harus segera ke kolam air mancur. Aku berharap saat perulangan nanti kita masih bisa berada tepat di dekat altar. Meskipun tidak 100% yakin tapi mungkin saja jam saku kalian masih bersama kalian saat itu”
“Kaito!! Kau sudah tau sesuatu?” Ryou berteriak di belakangnya
Ryou menambah kecepatannya. Dia yang membawa kantong belanja berlari mengimbangi Kaito sekarang dan meninggalkan sang kakak di belakangnya.
“Oi! Aku sudah berbuat jahat pada kakakku sekarang dengan membiarkannya berlari di belakangku! Sekarang katakan, kau tau petunjuk itu kan?” Ryou berbisik sambil berlari
“Sekumpulan anak-anak itu tinggal di daerah kumuh yang berada di bawah anak tangga tadi. Anak yang menabrak kalian juga kemungkinan berasal dari tempat itu”
“Kalau begitu bukankah harusnya kita berlari ke sana sekarang?!”
“Dengan waktu yang tersisa kita tidak akan mungkin bisa. Seperti kataku tadi…jika perulangan kita masih ada di kolam air mancur maka kita masih punya kesempatan” ucap Kaito
“Tapi–”
Sebelum Ryou selesai dengan kalimatnya, Kino yang mencoba mengimbangi mereka memanggil dari belakang.
“Kalian berdua kenapa? Apakah ada sesuatu yang dirahasiakan dariku?” Kino menatap dengan tatapan penasaran
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya–” Ryou berbohong untuk menutupi pembicaraannya dengan Kaito
Bagaimanapun juga mereka sudah sepakat tidak akan mengatakannya pada Kino terlebih dahulu. Ryou tidak melanjutkan kalimatnya lagi dan mulai memperlambat kecepatannya agar bisa sejajar dengan sang kakak. Sebelum dia melakukannya dia berbisik pada Kaito.
“Kau harus melibatkan aku dalam rencanamu, mengerti? Kita sudah sepakat melakukannya. Aku tidak akan membiarkan Kino mengetahui hal berbahaya dan melibatnya”
“Aku tau. Aku akan melindungi kalian berdua dengan semua yang kupunya”
“……”
“Ryou?” Kino menatap wajah sang adik
Dia tau Ryou tidak mengatakan hal yang sebenarnya tapi dia memilih untuk diam dan tidak bertanya lebih. Dadanya sedikit sesak akibat menahan emosi sedih dan kecewa karena merasa ditinggalkan.
Dengan napas terengah-engah akhirnya mereka sampai di kolam air mancur dekat bangunan altar lagi.
“Ini…sudah yang kesekian kalinya kita pergi ke sini. Aku…mungkin akan bosan sebentar lagi dengan tempat ini” kata Ryou protes
“Kita akan sering ke tempat ini sampai berhasil menemukan jam saku kita yang hilang dan kepingan ingatan Kaito-san, Ryou. Sebaiknya kamu merubah rasa bosan itu menjadi rasa suka pada tempat ini” Kino berkata pada Ryou dengan senyuman di wajahnya
Tidak biasanya Kino bisa sedikit mengeluarkan lelucon seperti itu biarpun dibalas dengan senyum kecut tidak sedap dipandang oleh sang adik yang bergumam dalam hatinya.
‘Aku tidak akan suka tempat ini sampai kapanpun!. Kalau menikah nanti, aku akan menceritakan pada anak dan istriku bahwa kolam air mancur itu bukan tempat yang cocok untuk melamar seseorang, ingat itu!!’
Ryou hanya suka mengatakan semua hal yang aneh di pikirannya. Sungguh hobi yang unik.
Kaito melihat jam saku miliknya lagi dan hanya tinggal beberapa detik lagi sampai perulangan terjadi. Kedua kakak beradik itu juga mulai terlihat tegang dan berdoa semoga jam saku mereka kembali saat kembali ke pagi hari di ‘dunia siang’ selanjutnya.
“Mus…tahil…”
******
Theo berjalan melewati jalanan gelap yang sepi tanpa cahaya. Beberapa bangunan di sana dihuni oleh orang-orang dengan pencahayaan seadanya dan beberapa lainnya ditempati begitu saja tanpa cahaya. Suasana yang mengerikan bertambah dengan kegelapan malam yang mulai datang bersamaan dengan terbenamnya matahari. Gang-gang sempit di sana terlihat begitu menakutkan bagi yang tidak biasa ke tempat itu.
Theo melewati kios-kios sederhana para pedagang yang masih menggelar dagangan mereka meski matahari sudah tidak menyinari lagi. Berbekal satu sampai tiga buah lilin di sana, mereka masih melayani beberapa orang yang membeli dagangan mereka.
Theo hanya terus berjalan menuju tempat Justin ditemani oleh pikirannya.
‘Sejak kapan aku mulai terbiasa dengan neraka dunia ini? Aku hanya ingat semua yang kulakukan adalah demi bertahan hidup. Saat pertama kali datang ke kota ini, kupikir aku bisa hidup layak seperti yang mereka katakan padaku. Justin…adalah penyebab semua penderitaan kami. Seandainya dia tidak ada, kami semua pasti tidak akan
menderita seperti ini’
Tatapan penuh kebencian menghiasi matanya. Semua pikiran yang menemaninya adalah pikiran negatif yang tidak pernah hilang. Kebenciannya pada Justin membuat semua yang dilakukan Theo adalah untuk membalas perbuatannya dan melindungi teman-temannya.
Sambil menggenggam sesuatu yang tertutup di kerah lehernya, Theo mengucapkan sebuah kalimat penuh kebencian.
“Aku tidak akan pernah memaafkannya!”
**
Di bar, Theo masuk dengan dikelilingi oleh banyak sekali orang-orang tidak ramah yang mabuk. Mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Theo tetapi pandangan mereka sungguh tidak bersahabat. Ketika ingin masuk ke dalam ruangan Justin, dia melihat salah satu dari anak buahnya berdiri di depan pintu tertutup.
“Berhenti di sana” anak buah itu menghentikan Theo
“Aku ingin bertemu gori…Justin-sama!”
“Huh?!” anak buah itu melihat Theo dengan tatapan melotot
Theo hampir membuat dirinya berpindah alam ke akhirat dan masuk dalam daftar penghuni surga saat itu. Jika dia meneruskan kalimatnya itu, hidupnya pasti akan berakhir.
“Kenapa aku tidak bisa bertemu Justin-sama? Aku ingin cepat bertemu dengannya!!” Theo masih bersikeras untuk masuk
Bukan karena dia merindukan Justin atau karena dia adalah penggemarnya. Theo bersikeras masuk karena ingin memberikan semua uang yang dia dapat untuk ditukar dengan roti untuk teman-temannya. Setidaknya malam ini mereka tidak akan kelaparan dan besok mereka tidak perlu bekerja terlalu keras.
“Aku sudah bilang kau tidak boleh masuk!”
Pria tinggi itu memukul Theo sampai jatuh. Hal terbaiknya, uang di saku celananya tidak ada yang terjatuh. Tiba-tiba dari dalam terdengar suara teriakan dan suara tembakan beberapa kali.
-Dor…Dor…Dor…
-Kyaaa!!
-BRAAAK
Pintu terbuka lebar. Dari dalam sana keluar tiga orang wanita yang hanya menggunakan sehelai selimut menutupi tubuhnya. Beberapa bagian selimut terdapat noda darah yang masih baru. Selain itu, semua orang di dalam bar langsung berdiri panik hingga tidak ada satupun yang berani bergerak dari tempatnya. Para wanita penggoda itu hanya menangis di pojok ruangan, berteriak setiap kali suara tembakan itu terdengar.
Di dalam ruangan, Justin yang hanya memakai celana jeans duduk dengan memegang pistol di tangannya dan bersimbah darah di seluruh tubuhnya. Seluruh ruangan itu menjadi ‘sangat indah’ diwarnai cat berwarna merah segar dari darah dua mayat yang tergeletak tak bernyawa. Tubuh mereka dipenuhi dengan lubang dari atas sampai bawah. Jika diperhatikan lagi, mereka yang mati itu adalah dua orang yang diperintahkan Justin untuk mencari tau pria dengan pedang tanpa sarung pedangnya tadi siang.
“Dasar tidak berguna!!! Beraninya para tikus jalanan ini kembali tanpa membawa hasil yang kuinginkan!!! Oi kalian para sampah, singkirkan tikus-tikus ini dari hadapanku sekarang dan jangan coba-coba merusak suasanaku sekarang!!
Justin bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju keluar. Darah yang masih segar menetes dan mengotori lantai bar. Theo yang belum bisa bangkit setelah dipukul oleh anak buah Justin gemetar dan tidak bisa bergerak.
‘Apa yang terjadi sebenarnya!!!’
Hanya kalimat itu yang berputar di otaknya. Dia sempat melirik para anak buah Justin masuk dan membawa kedua mayat itu bersama-sama. Itu jelas masih baru. Mereka baru saja mati dan semua darah itu masih menggenang di lantai ruangan Justin. Para wanita di pojok itu gemetar dan menangis melihat pria berbadan besar itu mendatangi mereka. Dengan tatapan menakutkan, Justin mendekati mereka sambil menodongkan pistol ke leher mereka.
“Jangan berisik atau kalian akan memiliki lubang yang sama dengan mereka berdua, wanita-wanita cantikku”
Tentu mereka tidak bisa langsung diam dan menurut. Siapa yang tidak takut didekati oleh pria besar bertato bersimbah darah dengan pistol yang diarahkan ke leher mereka. Orang normal akan langsung berteriak semakin kencang dan itulah yang ketiga wanita penggoda itu lakukan.
-Kyaaaa
-Dor…Dor…Dor…Dor
Di dalam bar itu hanya ada suara tembakan pistol yang memecah keheningan. Justin langsung terlihat begitu kesal dan menembak mayat wanita itu lagi sampai pelurunya habis. Setelah itu, dia memanggil anak buahnya kembali.
“Lempar para wanita bekas ini ke jalan bersama dua tikus yang tidak berguna ini!”
Justin berbalik dan berjalan masuk menuju ruangannya. Dia sempat melirik Theo yang masih dalam keadaan takut. Theo melihat tatapan dingin dari pria besar bertato itu dan gerakan mulutnya Justin sebelum dia masuk dan membanting pintu seperti mengatakan sebuah kalimat.
“Jangan menggangguku atau kubunuh kau”
Theo tanpa pikir panjang langsung lari meninggalkan tempat itu. Para pelanggan di sana juga tidak lama kemudian mengikuti jejak Theo dengan berlari keluar dari tempat itu.
Theo berlari dengan membawa semua uang yang ada di sakunya. Dia lari dengan perasaan takut dan kacau.
“Apa itu tadi? Apa yang dilakukan gorilla itu tadi?!! Dia membunuhnya!! Dia membunuh semua perempuan yang bersamanya pagi ini, dia melakukannya. Apa yang terjadi sebenarnya!!”
******
Di saat yang sama di tempat lain di kota, di depan kolam air mancur.
Kaito dan kedua kakak beradik itu hanya diam mematung tanpa bisa berkata apa-apa. Waktu di jam saku milik Kaito sudah menunjukkan pukul 06.03 dan sama sekali tidak ada suara jam besar berdentang seperti biasa. Tidak ada yang berubah sama sekali, tidak terjadi perulangan apapun. Langit semakin gelap dan malam di kota itu datang.
“Mus…tahil…” Kaito melihat keadaan sekitar dengan tatapan syok
Tidak kalah dengan Kaito, kedua kakak beradik ini juga menjadi pucat.
“Kaito…perulangannya…”
“Tidak terjadi. Ini…masih di ‘dunia siang’. Tapi, dunia siang itu tidak pernah memiliki langit malam. Benar begitu, kan Kaito-san? Kenapa tidak ada suara jam berdentang seperti sebelumnya?!” Kino menjadi sangat panik sekarang
Bukan hanya ‘dunia malam’ yang hilang, sekarang keadaan ‘dunia siang’ juga menjadi sangat aneh. Langit gelap itu menandakan bahwa malam telah tiba tetapi malam yang dimaksud bukanlah ‘dunia malam’ melainkan benar-benar malam untuk kota itu.
“Ini tidak mungkin. ‘Kedua dunia’ itu…seakan telah lenyap sekarang”
******