Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 323. Rencana Selanjutnya dari Setiap Pemain bag. 1



Di ruang rapat, Lucas yang telah mengetahui bahwa semua ujian telah selesai duduk dengan mengawasi setiap ruangan.


“Pesertanya tidak begitu buruk. Lebih dari 20% lulus di tiap ruangan kecuali…”


Lucas terdiam sebentar. Dia tersenyum sambil bergumam dalam hatinya.


‘Siapa yang menyangka rekor Mark akhirnya berhenti sampai di sini. Dia meluluskan 3 orang dan 2 di antaranya adalah peserta dari daftar kosong. Aku akan mengakui kedua orang itu cukup hebat karena telah membuatnya mau memberikan kata lulus’


Galaktika yang masih ada di ruangan tersebut hanya bisa terdiam dengan wajah tegang. Dia masih belum percaya dirinya mau bekerjasama dengan musuh sekaligus targetnya sendiri.


‘Aku telah mengkhianati master dan teman-temanku. Tapi, aku tidak bisa mati sekarang! Aku tidak boleh mati sampai dendamku terbalaskan pada keluarga kerajaan’


‘Mereka telah memerintahkan prajuritnya membunuh semua keluarga dan teman-temanku! Aku tidak akan melupakan hal itu!’


Walaupun Galatika berpikir demikian, dia sendiri tidak bisa melepaskan sihir yang telah dipasangkan Emily padanya.


Lucas melihat wajah tegang dari remaja setengah elf di depannya.


“Kenapa? Apakah masih sulit diterima olehmu mengenai pembicaraan kita tadi?”


“Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku tidak menganggap itu buruk karena kau mau menjamin keselamatanku”


“Aku tidak akan membiarkanmu mati dan akan menyelidiki kasusmu juga. Jadi sebaiknya jangan khawatirkan apapun”


“Aku tau, kau sudah bilang itu tadi. Aku tidak punya pilihan selain percaya”


Lucas tersenyum mendengarnya.


Galaktika mulai bertanya sesuatu, “Aku boleh bertanya mengenai hasil ujiannya?”


“Tentu. Ketiga temanmu lulus. Vares dari pos 2, Rayel dari pos 5 dan Virgo dari pos 7. Ketiganya lulus meskipun Virgo dari pos 7 hampir gagal karena ulah pengujinya yang asyik sendiri”


“Hah?”


“Bukan apa-apa. Yang jelas mereka bertiga lulus”


“Syukurlah” wajah Galaktika terlihat senang. Namun seketika berubah menjadi rasa khawatir. Dia cemas bahwa Lucas akan membunuh mereka segera setelah ujian ini sehingga ekspresi senyum di bibirnya langsung berubah menjadi tatapan sinis.


“Kau tidak bermaksud membunuh teman-temanku sekarang, benar kan?” tanya Galaktika dengan tatapan sinisnya


Lucas hanya menunjukkan senyumannya kemudian menggelengkan kepalanya. Meskipun Galaktika meragukan hal tersebut, tapi akhirnya dia mulai sedikit tenang setelah Lucas berkata padanya, “Aku bukan orang yang suka melanggar janjiku”


Meskipun begitu, Lucas memiliki rencana di balik senyumannya.


‘Aku harus menyelidik Earl Midford. Kebetulan sekali besok Rexa akan pergi ke sana. Aku rasa aku akan meminta Mark menyelidiki tempat tersebut saat kami ke sana besok’


‘Selain itu, tampaknya para anggota Rebellenarmee ini begitu menghormati orang yang disebut master. Besar kemungkinan bahwa orang itu ada di kediaman Earl Midford’


‘Kali ini, aku akan bicara pada Rexa, Mark dan Emily. Kemampuan Emily akan sangat dibutuhkan besok. Memantau dari jauh tidak akan sulit’


**


Di lorong koridor di ruang 2, Ryou mengintip ke dalam ruangan kembali dan tampaknya sudah tidak ada siapapun di dalam.


“Sepertinya Xenon benar-benar sudah pergi. Kemana dia? Apa jangan-jangan sudah pulang? Tapi dia adalah pengurus jadi mungkin kembali ke ruangannya untuk menulis laporan atau semacamnya”


“Kalau begini, aku harus pergi menyusul Kino sekarang. Dia pasti sudah selesai”


Ryou berjalan sambil berpikir ekspresi yang ditunjukkan oleh Xenon sebelum pergi meninggal kedua saudara kembar itu.


‘Xenon tampaknya benar-benar tidak ingin melibatkan mereka. Tapi hubungannya dengan si kembar itu tidak bisa sepenuhnya dikatakan baik’


‘Pada akhirnya, dia benar-benar memasang dinding di hatinya’


‘Mungkin bisa setinggi Tembok China atau setidaknya setinggi Tembok Berlin. Yang mana saja sama, intinya dia benar-benar tidak mau melibatkan mereka’


‘Apakah ada hubungan rumit antara bangsawan dan darah yang mengalir di tubuhnya? Sulit sekali ‘dunia’ kali ini. Permata Kaito menyusahkan!’


Baru menggerutu seperti itu, dari belakang, kedua tangan Ryou dipegang oleh dua orang.


“Hah?! Apa yang kalian laku–…kalian?!”


Ryou terkejut karena tangannya dipegang, bukan, lebih tepatnya dirangkul agar sulit untuk lepas. Dan pelakunya adalah kedua saudara kembar tadi.


“Mau apa kalian, penjahat?!” ucapnya histeris


“Kau yang penjahat karena berani main rahasia di belakang kami berdua!” kata Jene membalas


“Kami ingin kamu ikut dengan kami dan jelaskan apa saja yang disembunyikan oleh Xenon pada kami” kata Jessie


“Oi! Barusan kalian tidak seperti ini, kenapa jadi main kasar dan brutal begini! Lepaskan aku sekarang!”


Jessie seperti sudah putus asa. Dia hanya bisa berharap cara ini berhasil membujuk remaja yang sedang dipegang olehnya. Namun, usaha itu tidak membuat Ryou luluh.


“Mau semelas apapun wajahmu itu, aku bukan orang yang bermulut besar. Ini bukan hal yang patut kalian cari tau dan aku tidak berniat untuk memberitau apapun! Kalau mau, tanya sendiri sama orangnya!”


Jene sedikit kesal sampai mengancam Ryou.


“Begitu. Kalau begitu, kau akan kami awasi”


“Apanya yang mengawasi?”


Keduanya menarik Ryou ke belakang kembali sekarang.


“Lepaskan aku, dasar berandalan! Tolong! Aku diculik kembar berbahaya! Aku harus menjemput kakakku! Lepaskan aku sekarang atau akan kuberi kalian pelajaran!”


“Percuma memberontak!” bentak Jene


“Kino! Kinooo!!!!”


Akhirnya, Ryou harus menerima nasibnya diseret paksa oleh si kembar.


‘Akan aku bongkar rahasia yang disembunyikan Xenon dari kami!’ kata Jene dalam hati


Begitu pula dengan Jessie, ‘Xenon, aku akan segera tau apa yang kamu sembunyikan. Tidak akan kubiarkan kamu memendam semuanya sendirian lagi kali ini. Tidak akan!!’


**


Rexa yang baru saja selesai dengan pos ujiannya segera memberikan laporan miliknya pada Algeria di ruangannya.


“Algeria-sama, terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini. Ini laporanku”


“Rexa-sama juga. Kerja yang bagus. Akan aku lihat dulu ya”


“Silahkan”


Algeria membaca laporannya dan cukup terkejut dengan hasilnya, “12 peserta dari 80 orang. Ternyata tidak begitu banyak juga tahun ini ya”


“Begitulah. Kemampuan mereka bagus, tapi sepertinya untuk ujian [Area Level] yang kita lakukan, kebanyakkan terpusat pada sihir atau serangan kombinasi”


“Sungguh disayangkan. Tapi tidak masalah. Rexa-sama memang sangat teliti seperti Lucas-sama dulu saat menjadi penguji. Ini sudah bagus. Sesuai dengan target, terima kasih”


Rexa terdiam sejenak dan bermaksud bertanya pada Algeria.


“Algeria-sama…”


“Apakah ada sesuatu, Rexa-sama?”


“Apakah Xenon–”


-Tok…Tok…


“Masuk”


“Permisi, Algeria-sama. Aku ingin memberikan–…Rexa-sama?”


“Xenon!”


Rexa menghampiri sang adik dan tersenyum.


“Kamu juga sudah selesai. Apakah tadi sulit?”


Sikap ramah Rexa terhadap Xenon seperti seorang kakak, namun di mata Xenon tidak seperti itu. Dia masih tidak ingin terbelenggu dengan darah yang dianggapnya hina dan memilih untuk bersikap seperti orang lain kepada kakak tirinya sendiri.


“Rexa-sama tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Seharusnya, tidak perlu mencemaskan bawahanmu seperti itu”


“Bawahan? Apa yang–”


“Jika Rexa-sama sudah selesai dengan laporannya, aku ingin memberikan laporanku ada Algeria-sama. Permisi”


Xenon melewati Rexa begitu saja dan memberikan laporan itu tanpa menengok kepada sang kakak sedikitpun.


Tentu saja Algeria tau bahwa hubungan mereka tidak begitu baik, tapi dia mencoba berpura-pura tidak melihat semua itu.


Rexa hanya bisa menahan rasa sakit di dadanya karena penolakan dari sang adik.


‘Sampai kapan…kamu akan menganggapku orang lain? Tidak bisakah kita seperti saudara lagi’


Sebuah bros kecil terlihat di balik pakaian Rexa. Bros yang begitu berharga yang sampai saat ini terus digunakan olehnya sebagai pelindung.


******