
Ketiga remaja dari dunia lain itu memasuki tempat seperti menara tersebut.
“Permisi~” Ryou berteriak dengan suara keras
Sungguh sangat berani atau tidak tau malu lebih tepatnya.
“Ryou! Jangan begitu!” Kino mencoba menenangkan sang adik
“Aku memberi salam”
“Tapi itu tidak…sopan? Kenapa tempat ini sepi sekali?”
“Kita masuk dulu”
Kaito mendorong pundak Kino sehingga mereka masuk ke dalam.
Saat Kaito masuk, pintu tersebut tertutup sendiri. Ketiganya jelas terkejut.
“Kenapa tertutup?!”
“Tidak bisa dibuka?!”
Kino dan Ryou mencoba membukanya, namun ternyata memang tidak bisa.
“Kaito-san, bagaimana ini?”
“Kita coba masuk dulu. Ini seperti perpustakaan. Mungkin saja ada sesuatu yang bisa kita dapatkan”
Kedua kakak beradik itu akhirnya memutuskan untuk masuk. Ryou mungkin tidak lagi panik karena dia yang ingin masuk ke tempat itu pertama kali, tapi berbeda dengan sang kakak yang sudah berdoa di dalam hati sejak masuk ke dalam sana.
‘Kami-sama, lindungi kami. Aku mohon semoga kami bisa keluar sebelum upacara penerimaan’
Kaito melihat seluruh isi dari menara itu.
Sepanjang lantai, hanya ada buku dan buku. Lemari berisi buku. Sudah begitu, banyak lilin yang melayang. Ada tangga aneh yang melingkar, tangga yang bergerak sendiri, tangga yang terbalik dan tangga buntu yang tidak menuju manapun.
“Tempat aneh. Nuansa sihirnya kental sekali” gumam Kaito
“Kino…”
“Ya?”
“Ini seperti film Harry Potter, kau tau. Aku merasa ingatan Kaito kali ini memilih ‘dunia’ yang bagus untuk tersesat”
“Ryou…” Kino mencoba menenangkan sang adik
“Kenapa? Itu benar, kan? Biasanya pembunuhan dimana-mana, darah dimana-mana, mayat dimana-mana. Sesekali kita butuh yang seperti ini”
“......” Kino mencoba menenangkan dirinya sendiri sekarang
Kaito yang mendengar ucapan Ryou juga jadi mulai menyadari sesuatu, “Mungkinkah ingatanku kasihan padaku?”
“Kasihan?”
“Kasihan karena pemiliknya selalu sial, makanya dia memilih tempat yang cukup menguntungkan”
Ryou memandang Kaito dengan perasaan jijik, “Iuuh, itu mustahil. Buktinya keberuntunganmu saja jeleknya minta ampun. Sepertinya bukan kasihan tapi menyiapkan kejutan untukmu agar kau siap dengan kesialan level baru”
“......” Kaito diam
Tampaknya serangan itu cukup membuatnya terkena mental dalam tingkatan berbeda. Kaito memilih menarik napasnya dan menghembuskan perlahan sambil bergumam pelan.
“Kau adalah orang paling sabar, Kaito. Tenang dan jangan panik”
Kino hanya menggelengkan kepala setelah mendengarkan kalimat sang adik.
Mereka sampai di sebuah anak tangga melingkar di tengah.
“Wow, kalau ini Harry Potter…maka aku adalah tokoh utamanya” ucap Ryou dengan percaya diri
Kaito bertanya, “Mau coba naik?”
“Sepertinya begitu”
Ketiganya menaikki anak tangga tersebut. Awalnya tidak ada yang aneh. Anak tangga yang berada di tengah tersebut menuju ke lantai dua.
“Wow, tidak ada yang spesial rupanya” kata Ryou lagi
Makna kalimat itu bukan seperti terkejut melainkan kecewa, namun disampaikan dengan kalimat yang begitu datar.
Di lantai dua itu, terdapat beberapa rak buku lainnya. Namun di sini, mereka bisa melihat beberapa buku melayang di udara.
“Bukunya…memiliki sihir. Sepertinya mereka adalah buku kuno” tebak Kino
“Mungkin saja begitu. Aku mau coba ambil satu”
Ryou mengambil sebuah buku di sana. Dia membukanya dan jelas buku tersebut mengandung tulisan berbahasa Inggris.
“Benar-benar Inggris. Tapi kalau di mata Kaito, ini mungkin bahasa yang disebut Franka”
“Aku mau lihat” Kaito mendengar itu dan menghampiri Ryou. Saat dia melihatnya, Kaito jelas membaca tulisan itu juga, “Ini Franka untukku”
“Sudah kuduga”
“Aku ingin tau apakah kita bisa menemukan sesuatu yang berharga di sini? Tapi tampaknya jika ada sesuatu yang berharga sekalipun, tidak memungkin kita akan menemukannya di tempat ini”
Kino berjalan di rak yang sedikit ke dalam. Saat dia berjalan, dia melihat sesuatu yang bersinar.
“Apa ini?”
Kino mengambil sesuatu di lantai.
“Kenapa bisa ada di tempat ini? Benda apa i–...!!”
Sebuah batu yang tampaknya tidak begitu asing. Warna ungu tua itu adalah sesuatu yang khas.
“Bohong…”
Kino mengambilnya dan membawanya ke tempat Kaito.
“Kaito-san!!”
“Ada apa, Kino?”
Dengan panik, Kino menunjukkan batu aneh yang ditemukannya.
“Ini…mungkinkah…”
-Deg
Kaito merasakan sesuatu yang begitu kuat.
“Ini…ingatanku? Kenapa bisa ada di sini?”
**
Di ruang rapat Dewan Sihir, Emily melihat semua kejadian yang terjadi di dalam lingkup akademi. Tentu saja dia juga melihat semua hal yang dilakukan oleh ketiga remaja dari dunia lain tersebut.
“Kenapa mereka bisa masuk ke dalam [Royal Magical Library] dengan mudah?”
Emily yang saat itu melihat Kino dan Ryou mencoba membuka pintu namun gagal sedikit penasaran.
“Kenapa tidak bisa terbuka? Sejak kapan [Royal Magical Library] bisa terkunci sendiri?”
“Ini aneh. Tempat itu tidak bisa dibuka dari luar sembarangan. Tapi kenapa Ryou bisa membukanya dengan mudah?”
“Emily butuh penjelasan untuk ini. Tampaknya Emily harus ke sana setelah–...Lucas dan Rexa-sama telah kembali!”
Emily langsung memutus semua koneksi sihirnya dan bersiap menyambut keduanya di ruang rapat.
[Nox]
Seluruh sihir Emily telah lenyap. Beberapa menit kemudian, Lucas dan Rexa-sama masuk ke dalam ruang rapat.
“Emily, kami kembali”
“Selamat datang, Lucas, Rexa-sama”
“Terima kasih untuk kerja kerasnya, Emily” kata Lucas memuji sang adik
Ekspresi Emily terlihat senang, namun berubah menjadi kesal.
“Emily memiliki laporan untuk kalian berdua. Sebaiknya kalian berdua duduk dan dengarkan Emily. Karena ini baru saja terjadi, Emily ingin menyampaikan yang terbaru lebih dulu”
Lucas dan Rexa saling melihat satu sama lain. Mereka duduk dan mendengarkan cerita Emily.
**
Di perpustakaan aneh di belakang Akademi Sekolah Sihir, ketiga remaja dunia lain mendapatkan kejutan.
“Kenapa ingatanku ada di tempat ini?”
“Kaito-san, aku menemukannya di dalam sana dan karena benda ini bercahaya jadi aku mengambilnya”
“Kaito…ini benar ingatanmu? Kau tidak bercanda kan?” tanya Ryou tidak percaya
Wajah ketiganya begitu syok dan merasa hal kebetulan seperti ini rasanya seperti mimpi.
“Batu ini cukup besar. Sejauh ini, selama kita melakukan perjalanan bersama, ini yang terbesar. Mungkin saja isinya adalah ingatan paling penting untukmu, Kaito-san”
“Kaito, tidak ada waktu. Kita bisa saja keluar dari sini dan pergi ke tempat selanjutnya. Sentuh itu sekarang! Ayo cepat!”
Ryou terlihat tidak sabar. Akhirnya, Kaito dengan penuh keringat dingin menyentuhnya. Sebuah cahaya terang muncul dan semua berubah putih.
Saat Kaito membuka matanya, dia berada di sebuah suasana keramaian.
“Dimana ini?”
Kaito berjalan lurus ke depan mengikuti jalan yang ada di hadapannya. Sampai akhirnya dia berhenti karena bingung.
“Kenapa tidak seperti biasanya?”
Dia melihat-lihat semua dan sebuah cahaya putih kembali terlihat.
******