
Choi Hanwoo panik dan pucat setelah mendengar Go Yu Bin berteriak. Lebih mengejutkan lagi ketika melihat perempuan itu mulai bertindak.
Go Yu Bin tampaknya sudah cukup kesal dengan tindakan seenaknya yang dilakukan oleh orang-orang yang patuh pada Baek Hyeseon.
Melihat apa yang dilakukan oleh kedelapan orang itu, Go Yu Bin sudah mulai kehabisan kesabaran. Dia berdiri dan menendang salah satu dari mereka dengan keras.
“Cukup! Baek Hyeseon-sunbae! Han Wonjae-sunbae benar, ini bukan saatnya seperti ini! Kenapa sunbae justru lebih iblis dibandingkan zombie di luar?! Setidaknya jika sunbae tidak ingin mati, cobalah untuk mencari cara agar kita selamat dan bekerja sama untuk menghadapi situasi ini”
“Go Yu…Go Yu Bin…”
Choi Hanwoo menjadi lebih panik lagi mendengar temannya berteriak seperti itu. Dia mulai punya firasat buruk.
‘Yu Bin…kalau sepert ini, kau bisa kena masalah!’
Hanya butuh sebuah tusukkan pada kakinya, Go Yu Bin langsung berteriak dengan air mata.
“Aaakh!!”
“Go Yu Bin!!” Choi Hanwoo berteriak dan menghampirinya
Baek Hyeseon mendekati Go Yu Bin dan Choi Hanwoo.
“Kalau kau begitu keras ingin membela mereka, kenapa kau tidak keluar bersama mereka semua? Bawa mereka berdua”
Go Yu Bin dan Choi Hanwoo dibawa paksa oleh semua teman-teman Baek Hyeseon yang lain. Dengan kejam mahasiswa yang ditarik paksa itu dilukai kedua kakinya hingga jeritan terdengar. Gunanya agar mereka tidak bisa lari seperti yang dilakukannya pada Han Wonjae sebelumnya.
Jeritan demi jeritan serta tangis mulai terdengar dari mereka yang diseret paksa dengan kondisi terluka.
“Sunbae, kau iblis!!”
“Tolong! Aku tidak ingin mati!”
“Lepaskan kami! Aku tidak mau mati!”
“Sunbae! Tidak! Jangan!!”
Beberapa orang sudah dilempar keluar oleh teman-teman Baek Hyeseon. Luka di kaki mereka membuat gerakan mereka lambat dan tidak bisa berdiri dengan cepat saat terjatuh.
Setelah sembilan orang dilempar, Go Yu Bin dan Choi Hanwoo serta seorang pemuda lain hampir menemui ajalnya juga.
“Lepaskan kami! Kau akan menyesal, sunbae! Kau akan menyesal! Aku berharap kau mati!” Go Yu Bin berteriak dengan penuh kebencian dan air mata
“Berteriaklah sebelum kau mati. Mereka yang di belakang tidak akan bisa menolong karena aku tidak akan segan-segan melempar mereka juga pada akhirnya” ucap Baek Hyeseon
“Aku sudah mengirimkan informasi kepada mereka semua! Aku sudah memberitau kelicikanmu dan kalian semua! Dasar iblis! Aku berharap kau mati! Han Wonjae-sunbae juga akan mengutukmu! Kau akan mati, sunbae! Akan aku pastikan itu!”
“Lepaskan aku! Tolong! Aku tidak mau mati!!” Choi Hanwoo menangis
Darah yang keluar dari kedua kakinya tidak lagi dihiraukan. Dia terus meronta, namun gagal. Isak tangis semua orang yang menyaksikan itu tidak berhenti. Mereka ingin menolong, tapi mereka juga tidak ingin mati.
“Jika aku mati, orang pertama yang akan aku buru adalah Baek Hyeseon!!”
Itulah teriakan terakhir Go Yu Bin sebelum dirinya ditendang pada bagian perut dengan kuat. Choi Hanwoo beserta seorang lainnya menyusul.
Pintu langsung ditutup dan ketika keduanya melihat ke depan, semua orang yang telah lebih dulu dilempar keluar mulai merintih dan mencoba kabur. Darah di kaki mereka terus keluar namun keinginan untuk hidup sangat tinggi.
Walaupun berusaha, hal itu tampaknya sia-sia. Di tengah teriakan itu, satu per satu dari mereka mati. Bukan hanya satu zombie yang menghampiri, namun ada banyak sekali.
Teriakan yang keras semakin menghilang. Di saat mereka tengah melihat keadaan itu, orang yang dilempar bersama Go Yu Bin dan Choi Hanwoo baru saja menjadi santapan zombie yang menyerang dari belakang.
“Tidak…tidak…” Choi Hanwoo berdiri dan berlari meninggalkan Go Yu Bin
Beberapa langkah setelahnya, seekor zombie berhasil mencakar Choi Hanwoo lalu menangkapnya. Tangan dan leher serta perut dan wajahnya mulai digerogoti oleh banyak zombie.
Choi Hanwoo mati.
Sadar bahwa dirinya sudah tidak akan selamat melihat lingkaran para zombie mendekatinya, Go Yu Bin bersumpah.
‘Aku akan membunuh Baek Hyeseon! Meskipun aku berakhir menjadi zombie, akulah yang akan membunuhnya!’
Dengan berurai air mata dan teriakan keras, lingkaran zombie itu mulai menutupi seluruh tubuhnya.
Go Yu Bin mati.
**
Di saat yang sama, ketujuh remaja dan mahasiswa itu mulai merasa sedikit aneh.
“Kenapa nyaris tidak ada zombie di sekitar sini?” tanya Kino dengan wajah heran
“Mungkinkah mereka pergi ke tempat lain?” Ha Jinan juga bertanya-tanya
“Hanya ada satu kemungkinan, mereka berkumpul di tempat yang terdapat manusia hidup”
Kaito menebak. Tapi mengingat apa yang sudah terjadi sejauh ini, tampaknya memang hanya itu yang masuk akal.
Ryou mulai kehilangan kesabaran.
“Di depan sana itu adalah–”
“Berhenti dan jangan ada yang berteriak!” Kaito menghentikan langkahnya dan semua
Semua orang mendadak panik. Darah dari tas belanja yang dibawa oleh Kim Yuram mulai menetes di tempat yang sama. Kaito memberikan kode untuk pergi ke pepohonan yang ada di sekitar tempat tersebut.
“Apa yang terjadi, Kaito-nim?” tanya Kim Yuram
“Zombie. Mereka tampak baru saja selesai berkumpul pada satu titik. Sepertinya mereka habis terpancing oleh sesuatu” pikir Kaito
Kino memperhatikan ada darah segar di dekat tempat tersebut. Genangan darah itu tampak masih merah cerah, belum sepenuhnya meresap ke dalam tanah dan mengering.
“Mungkinkah baru saja ada yang mati di sana?”
“Mati?!” Ha Jinan terkejut mendengarnya
Suara yang dikeluarkan Ha Jinan cukup keras untuk ukuran mereka yang sedang mencoba bersembunyi.
Terima kasih pada Ha Jinan yang baik hati dan lembut, tamu tak diundang mulai mencari sumber suara tersebut.
“Ma–maafkan aku, Kino-ssi” Ha Jinan menjadi panik
“Tidak apa-apa, Jinan-san. Kami akan mengatasi ini”
“Tidak, Kino. Tidak ada dari kita yang akan mengatasi mereka semua” Kaito bicara dengan tegas
“Kaito-san?”
“Bagaimanapun juga, sekuat apapun aku dan kemampuan bertarung yang kita semua miliki…untuk melawan yang sebanyak itu rasanya sama saja dengan mendatangi kematian. Itu nyaris mustahil. Jika ceroboh, kita akan berakhir menjadi keluarga mereka”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Mereka hampir mendekati tempat ini? Kalau begini, kita akan terkepung seperti sebelumnya”
Seo Garam mulai panik. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak panik di saat kondisi hidup dan mati mulai mendekati mereka.
Lalu, tiba-tiba saja para zombie tersebut berhenti sejenak. Kondisi itu sontak membuat Kaito terkejut.
“Apa? Mereka berhenti?”
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba mereka berbelok dan berjalan ke arah lain.
Entah apa yang terjadi sebenarnya, tapi tampaknya keberuntungan Kaito yang biasanya sangat tidak bisa diandalkan itu mulai berbalik mendukungnya.
Tentu saja itu semua juga berkat keberuntungan semua orang di sekitarnya.
“Ini kesempatan kita! Garam, cepat informasikan Baek Hyeseon bahwa kita hampir sampai. Pastikan mereka menerima dan mengizinkan kita masuk”
“Aku mengerti, Kaito-ssi”
Seo Garam langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan chat melalui aplikasi.
Di dalam gedung arsip, Baek Hyeseon menerima chat tersebut dan meminta orang-orangnya untuk membuka pintunya.
Dia berjalan dan melihat semua orang yang tersisa.
“Aku akan memberikan kalian kesempatan untuk tetap aman. Jangan ada yang mengatakan apapun dan jangan pernah menunjukkan wajah sedih kalian begitu mereka datang. Setelah itu, aku tidak peduli bagaimana kalian bersikap nantinya. Karena mereka juga akan bernasib sama dengan kalian semua”
Tidak ada yang berani menjawab.
Seo Garam membaca balasan di grup dan memberitau semua bahwa Baek Hyeseon sudah siap membukakan pintu untuk mereka.
“Kita pergi sekarang!”
Semuanya berlari menuju gedung arsip.
Di saat seperti itu, wajah Kino mulai terlihat serius. Pikirannya penuh dengan banyak dugaan yang tidak pasti, namun dia merasakan hubungan dan keterikatan yang begitu kuat.
‘Entah apa yang mempengaruhi para zombie itu sehingga berbalik arah dan menjauh, tapi tampaknya itu semua ada hubungannya dengan keanehan yang terjadi di sini. Hanya satu kemungkinan bahwa semua itu karena kekuatan permata milik Kaito-san. Sebelum semuanya berakhir mengenasakan, kami harus menemukannya lebih cepat!’
Begitu mendekati pintu masuk, Kang Ji Song berteriak.
“Sunbae, buka pintunya!”
Tidak butuh waktu lama, pintu gedung arsip terbuka.
Dengan napas terengah-engah, ketujuh remaja itu berhasil masuk ke dalam gedung arisp. Tepat di depan mereka, terlihat sosok yang memasang senyum ramah menyambut mereka.
“Syukurlah kalian semua selamat. Kami senang menyambut kalian semua”
Ketika melihat senyuman itu, satu kata yang ada di dalam pikiran Ryou dan Kaito.
‘Senyuman penuh kebohongan dan kelicikan itu...itu pasti milik penjahat utama di tempat ini’
******