
Rexa yang mendengar semua itu begitu syok. Tapi terlepas dari itu semua, perasaan kesal menyelimuti.
Ada sebuah kalimat yang begitu membuatnya terpukul.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu dan anak kotormu itu terus menerus mengganggu Rexa! Dia adalah harapan baru untuk menutupi aib dan kenistaan yang sudah kamu bawa, gadis sampah!”
-Deg
Sungguh kalimat yang begitu kejam. Bahkan bukan seharusnya seorang wanita bangsawan berpangkat Marchioness mengatakan hal tersebut.
Hati Rexa seperti tertusuk dan dia bisa melihat air mata terus keluar dan menetes membasahi pipi dan pakaian milik ibu tirinya tercinta, Axelia.
Vexia menjambak rambut Axelia dan mengabaikan rintihan kesakitannya.
“Maafkan aku, Vexia-sama. Tolong maafkan aku, hiks…”
Tidak peduli dengan air mata dan tangisan Axelia, Vexia menampar wajah itu satu kali hingga membuat pipinya memerah. “Diam kamu, murahan!”
-Plak
Vexia kembali mengancamnya, “Dengan wanita kotor…awasi anakmu dengan benar dan jauhi Rexa. Dia tidak boleh kotor karena kalian dan kalian tidak boleh mengotorinya.”
“Aku mengizinkan suamiku menikahi gadis kotor dan hina sepertimu karena aku sudah memiliki rencana masa depan untuk anakku, Rexa”
“Kelak dia yang akan menjadi pemimpin di rumah ini dan aku akan membuat kamu dan anakmu itu keluar dari van Houdsen”
“Di saat itu tiba, van Houdsen tidak akan menerima hinaan seperti ini lagi. Ingat baik-baik kesalahan dan dosa kotor yang kamu lakukan! Murahan, tidak tau diri, pelayan kotor!”
-Bruuuk
“......!!” Rexa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang ibu kepada ibu tirinya.
Vexia mendorong Axelia hingga terjatuh dan membentur lantai marmer megah kediaman tersebut.
Sebelum Vexia keluar, Rexa bersembunyi di balik vas besar di dekat lorong koridor. Melihat sang ibu pergi, dia kembali melihat keadaan ibu tirinya yang masih ada di ruangan tersebut.
Pintu itu tidak tertutup sehingga dia bisa mendengar jelas suara tangis dan rintihan sang ibu tirinya.
“Hiks…maafkan aku. Aku minta maaf…hiks…”
“Tolong jangan benci anakku. Hiks…tolong jangan benci Xenon-ku. Hiks…hiks…”
“Maafkan ibu, Xenon. Ibu minta maaf. Hiks…maafkan ibu, Rexa-sama. Hiks…hiks…”
Tangisan itu membuat hati Rexa hancur sejadi-jadinya dan tanpa sadar malam itu, Rexa menangis sangat keras di kamarnya yang begitu luas.
‘Ibu Vexia melakukan hal yang jahat pada Ibu Axelia. Hiks…” mata Rexa terlihat tajam penuh kebencian. “Aku tidak akan mengakui wanita iblis itu sebagai ibuku. Ibuku hanya Ibu Axelia dan tidak ada yang lain”
Setelah kejadian itu, Rexa begitu protektif dan tidak pernah ingin melihat sang ibu kandungnya. Dan tepat saat ulang tahun Xenon yang ke-6, kejadian itu terjadi.
Kejadian dimana semua orang mempermalukan dua orang yang begitu dicintainya. Betapa hancurnya Rexa kecil saat itu. Bukan hanya melihat ibu tiri kesayangannya menangis, dia harus kehilangan hubungannya dengan sang adik yang begitu disayanginya.
Hingga puncak kesialan terbesar dalam hidupnya adalah saat dirinya harus menerima perjodohan yang diatur oleh sang ibu kandung atas persetujuan sang ayah.
Dari sisi masa lalu, Rexa sama menderitanya dengan Xenon.
Dia memilih untuk pergi ke akademi atas rekomendasi sang ayah.
“Kamu yakin dengan pilihanmu?” tanya sang ayah, Revon van Houdsen. Ini adalah kejadian sebelum Rexa pergi ke akademi.
“Apa?”
“Pertama, jangan pernah membiarkan Ibu Axelia disakiti oleh Ibu Vexia”
“Kedua, aku bisa menggunakan kebebasan dari otoritasku sebagai putra keluarga ini maupun bagian dari akademi tanpa campur tanganmu. Sekalipun keputusan itu adalah hal paling gila yang pernah aku buat”
“Dan ketiga, aku ingin Xenon pergi ke akademi tepat setelah aku menjadi bagian dari Dewan Sihir”
Sang ayah, Revon, cukup terkejut mendengar syarat terakhirnya.
“Dewan Sihir? Kamu mau menjadi anggota divisi?”
“Bukan anggota. Aku yang akan menjadi kaptennya. Dan jika aku berhasil menjadi anggota inti dari Dewan Sihir, kirim Xenon ke akademi. Aku yang akan menjaga adikku”
“......”
“Aku akan menggunakan kekuasaanku sebagai Dewan Sihir untuk melindunginya dan Ibu Axelia. Aku tidak akan membiarkan istri pertamamu itu berbuat seenaknya seperti yang dia lakukan padaku”
Revon tertunduk. Dia berdiri dan mendekati sang anak.
“Apa kamu kecewa padaku?” tanya sang ayah tanpa ekspresi
“Aku kecewa. Tapi aku tau semua itu bukan karena keinginanmu. Meskipun begitu, rasa kecewaku cukup besar untuk tidak mendengarkan keinginan kalian, termasuk keinginanmu”
Revon menepuk pundak sang anak satu kali dan berkata, “Aku mengerti”
Hanya itu yang dikatakan oleh sang ayah.
Tidak butuh waktu lama sampai Rexa benar-benar menjadi kapten divisi di akademi. Divisi yang dipegangnya adalah divisi baru yang sangat kuat.
Sesuai dengan ucapan dan janjinya, dia menggunakan otoritasnya untuk merekomendasikan Xenon ke akademi dan langsung memasukkannya ke dalam anggota divisi yang dipegang olehnya.
Hal itu dilakukan untuk memberinya jabatan, kuasa, kekuatan, nama dan semua yang dibutuhkan untuk melindungi dirinya dan sang ibu.
Sejak menjadi anggota divisi dan memperlihatkan nilai dan kekuatan dirinya, Xenon mulai dikenal sebagai salah satu anggota terkuat kedua setelah Rexa di Divisi Eksekutor. Kekuatannya bahkan setara dengan wakil kapten yang membuatnya selalu mendapatkan rekomendasi dari sang pemimpin Dewan Sihir, Lucas Xelhanien.
Namun, berkali-kali mendapatkan rekomendasi, berkali-kali pula dia menolaknya dengan alasan tidak ingin menjadi aib bagi Rexa.
Dan sekarang ini, seluruh hubungan Rexa dan Xenon selama di akademi dan divisi hanya sebatas atasan dan bawahan serta senior dan junior.
***
Sekarang ini, Rexa sedang ada di hadapan Xenon dengan semua ingatan masa lalu yang telah lama disembunyikan dari sang adik.
Dengan wajah kecewa pada dirinya sendiri dan kesedihan di balik tatapan mata itu, Rexa bertanya pada Xenon.
“Aku hanya ingin mendapatkan kepercayaan dan hubungan baikku dengan adikku kembali. Apa kamu pikir aku bisa menikahi orang yang tidak menyukai orang-orang yang berharga untukku?”
“Apakah di matamu, aku adalah orang lain sekarang?”
Pertanyaan Rexa itu jelas membuat Xenon bingung.
Dia tidak pernah membencinya, dia berusaha melindunginya dari setiap pandangan negatif akibat luka masa lalu di keluarga mereka.
Tapi Xenon hanya tidak tau bagaimana cara mengekspresikannya dan akhirnya…mereka kembali masuk dalam jurang kesalahpahaman.
******