
Selesai dengan Ryou, Xenon mulai menguji percaya lainnya. Beberapa ada yang mulai melakukan ujian secara sendiri-sendiri, namun ada juga yang memilih mencari teman.
Ryou dan gadis bertelinga kucing itu menyingkir ke belakang arena dan memperhatikan pertarungan.
"Nyaa~syukurlah kita berdua lulus. Terima kasih, peserta nomor 87"
"Tidak, ini juga karena kau hebat. Aku tidak tau kalau cambuk itu bisa memberikan efek peningkatan serangan yang besar"
"Ini adalah senjata yang sering aku gunakan untuk bertarung dan berburu"
"Berburu? Apa kau seorang hunter atau semacamnya?"
"Nyaa nyaa? Kamu tau hunter?"
"Jangan bilang kau juga berasal dari luar Negara ini?"
"Aku memang dari luar. Aku berasal hari Negara di bagian barat daya"
"Barat daya?"
Ryou berpikir sejenak.
'Tampaknya arah mata angin menjadi kata yang dipakai untuk mengganti nama tempat di sini. Jam saku itu benar-benar tidak mau kami tau dimana kami semua berada rupanya'
Gadis kucing itu berbalik bertanya pada Ryou.
"Tadi kau bilang 'juga dari luar Negara', apakah artinya kau juga dari luar, nomor 87?"
Sebelum Ryou menjawab, keduanya mendengar suara pengawas ujian.
"Nomor 56 dan 76 gagal"
"Nomor 50 lulus, nomor 33 gagal"
Keduanya memperhatikan penguji yang masih sangat santai di arena.
"Kuat sekali penguji itu ya" puji gadis kucing tersebut
Ryou hanya bisa diam mendengar pujian gadis kucing itu sambil mengeluh dalam hatinya.
'Dia itu menyebalkan sampai ke tulang-tulang. Kalau aku bisa mengalahkannya tadi, aku pasti bisa menyombongkan diriku. Sial!'
Xenon yang ada di arena melihat Ryou dari kejauhan dan memasang senyum meledek.
'Dia meledekku ya. Awas kau saat pulang nanti!' kata Ryou dengan kesal
Ada api yang terlihat di belakangnya seperti akan dilempar ke arah Xenon. Sayang, itu hanya ilusi. Bukan untuk jadi nyata.
Peserta nomor 50 yang berhasil adalah seorang ras pemuda yang terlihat seusia dengan Kaito atau lebih tua.
Dia menghampiri Ryou dan gadis itu.
"Kalian, selamat menjadi peserta yang lulus juga"
"Nyaa~kau juga selamat nomor 50"
"Ahahaha, jangan begitu. Namaku Piero"
"Hoo, Piero ya. Salam kenal. Oh, aku juga mau memperkenalkan diri. Namaku Luna Light. Nomor 87, siapa namamu?"
"Yuki Ryou"
"Yuki ya. Nama yang bagus" kata gadis kucing bernama Luna
"Bukan. Panggil aku Ryou. Yuki adalah nama keluargaku. Di sini aku punya kakak yang juga sedang ikut ujian"
"Kakakmu ikut ujian juga?" tanya pemuda bernama Piero
"Iya. Dia ada di ruang ujian 3. Aku rasa dia mungkin sudah mulai ujiannya sekarang"
"Begitu. Semoga kakakmu juga lulus ya, Ryou" Luna memberikan sedikit dukungannya
"Terima kasih"
Piero memperhatikan gerakan penguji yang saat ini sedang menguji 8 peserta.
"Penguji itu...namanya Xenon van Houdsen ya. Dia kuat sekali. Bahkan sejak tadi, dia hanya menggunakan tangan kosong dan kemampuan bela diri saja untuk membuat banyak orang gagal"
Baru dibahas olehnya, terdengar suara Xenon.
"Delapan orang yang tidur di sana, selamat ya. Kalian boleh pulang. Istirahatlah dan coba kembali tahun depan jika sudah berlatih lagi"
Jessie dan Jene hanya bisa menggelengkan kepala mereka sambil memanggil Xenon.
"Psst! Xenon"
"Hmm?" Xenon mendekati Jene
"Kau ini yang benar saja. Baru meluluskan tiga orang itu bukan sebuah hal yang bagus." kata Jene pelan
"Aku harus bagaimana, Jene-sama? Kita memang butuh orang kuat. Aku menolak bertarung dengan niat main-main"
"Haaah. Ya sudah"
Xenon hanya tersenyum lega lalu memanggil yang lain, "Selanjutnya. Apa ada yang mau maju secara sukarela atau harus aku tunjuk?"
Secara tidak terduga, seseorang dengan dua pedang maju mendekati Xenon.
"Penguji, aku ingin melawanmu. Mohon bimbingannya"
Xenon langsung berubah serius.
'Dia half-elf itu?! Selain itu, dia memiliki aura yang tidak biasa.'
' Aku rasa, aku akan lebih mencurigai dia. Kandidat yang bisa aku anggap sebagai penyusup'
'Meskipun ras saja tidak menjamin, tapi dari ingatan sejarah yang telah kembali aku ingat, peperangan dengan kedua ras tersebut belum selesai'
Jessie dan Jene terlihat serius saat peserta itu datang. Hal tersebut karena mereka juga telah mengetahui soal peserta data kosong.
'Salah satu dari peserta data kosong!'
'Akhirnya dia berani maju dan melawan Xenon '
Dari kejauhan, Ryou melihat ekspresi wajah Xenon yang serius.
'Kenapa dia jadi serius seperti itu? Mungkinkah?!'
Ryou langsung berlari ke depan untuk melihat pertarungan itu.
"Ryou?!"
"Kau mau kemana?"
Kedua orang yang baru ditemuinya ikut berlari mengejar Ryou ke depan.
Ryou berada di depan sekarang. Dia menatap Xenon dan Xenon ternyata sempat melirik Ryou kemudian melihat peserta di depannya.
'Jadi kemungkinan itu...' Ryou sepertinya mengerti dengan lirikan mata itu
Xenon mempersilahkan peserta itu untuk naik ke arena.
"Baiklah. Ingin pakai senjata atau sihir?" tanya Xenon
"Bagaimana kalau penguji yang menentukannya? Kebetulan aku cukup percaya diri dengan senjata atau sihir"
Jene yang melihat peserta itu cukup kesal.
"Dia mau meremehkan Xenon ya?!"
"Jene, jangan terbawa emosi" Jessie mencoba menenangkan kembarannya
Jene sudah kesal dengan sikap setengah elf itu.
Xenon yang mendapat pertanyaan itu langsung menjawab.
"Aku juga cukup percaya diri dengan kemampuan yang aku punya. Jadi, apa kau yakin aku yang memilih?"
"Tidak masalah"
"Baiklah. Aku akan pakai senjata"
"Aku punya dua pedang, apakah penguji mau kupinjamkan?" tampaknya peserta itu begitu meremehkan Xenon
"Tidak perlu. Aku akan bertarung dengan tangan kosong"
"Baiklah. Jangan salahkan aku jika penguji sampai terluka"
Xenon menyadari sesuatu.
'Dia mencoba membunuhku'
Ekspresi serius ditunjukkan oleh Xenon. Bukan hanya dia, Ryou yang melihat itu juga tampak begitu khawatir.
'Apa ini?! Aura ini...meskipun tidak begitu jelas, namun aku mengenalnya. Ini aura yang mirip saat kamu bertiga merasakan hawa membunuh'
Tanpa memedulikan sekitarnya, Ryou berteriak ke arah Xenon.
"Xenon!! Kau harus berhati-hati!!"
"Ryou?" Xenon melihatnya
Dua orang yang baru ditemuinya terkejut saat Ryou memanggil penguji itu dengan nama seakan telah saling mengenal.
"Kau memanggilnya dengan nama? Kalian saling kenal?" tanya Piero
Ryou mengabaikannya dan berteriak, "Jangan gegabah! Gunakan sihir! Aku serius, Xenon! Kau harus memilih sihir kali ini!!"
Jessie dan Jene juga terkejut dengan teriakan itu dan mereka juga sependapat. Tapi, semua adalah keputusan Xenon selaku penguji.
Xenon tersenyum pada Ryou.
"Aku tidak akan kalah. Lagipula, kalau aku kalah...aku tidak akan jadi penguji kalian. Memangnya ada penguji yang lebih lemah dari pesertanya? Minimal dia harus setara dari peserta yang akan diuji"
"Persetan dengan level dan kekuatan! Aku serius!" Ryou masih bersikeras
Xenon menggunakan sihirnya.
[Telepathic Power]
Dia langsung bicara ke pikiran Ryou.
"Ryou..."
"Xenon?!" Ryou bergumam pelan melihat ke arah Xenon
"Jangan bicara dan cukup dengarkan aku. Peserta itu adalah setengah elf yang ada di dalam daftar aneh yang aku pegang."
'Apa?!' Ryou terkejut dalam hatinya
"Aku tau dia berbahaya dan bisa membunuhku karena itulah yang terlihat sekarang di depanku. Tapi aku tidak masalah"
"Kau lihat saja dari sana. Aku akan menang"
[Nox]
Xenon memutus komunikasinya.
Meskipun firasat Ryou masih belum hilang, tapi yang bisa dilakukannya sekarang hanya percaya pada teman baru sekaligus guru sihir pertamanya.
******