
“Dibawa Jung Leon katamu?! Jangan bercanda! Jung Leon sudah mati dan…”
Ryou menghentikan kalimatnya. Dia mulai berpikir bahwa perempuan di hadapannya sekarang tidak tau bahwa Jung Leon telah dipenggal oleh mereka dan kepalanya sendiri ada di gedung arsip.
“Sebelum acara di mulai, Leon-nim pergi untuk mencari Seung Chan yang terlambat dari janji yang seharusnya. Kami berdua sempat berpisah dan dia menemukan lokasi Seung Chan karena ada yang meng-upload video di air mancur”
“Video waktu itu ya” gumam Kino
Kino lalu mengambil laptop yang sempat diletakkan di depannya dan menunjukkan catatan seperti novel atau alur cerita pada Song Haneul.
“Song Haneul-san, ini…ini tidak asing untuk situasi saat ini. Ini…persis seperti yang terjadi di kampus ini. Apa ini?”
“Itu adalah naskah untuk event kali ini. Itu dibuat olehku sekitar tiga minggu lalu”
Song Haneul terdiam dan dia mulai menceritakan semuanya.
******
Sekitar tiga minggu sebelum event dimulai, Song Haneul bersama Jung Leon dan Lee Seung Chan sedang berada di perpustakaan.
“Konsep untuk event kali ini tampaknya harus dibuat lebih meriah lagi”
Itu adalah usulan pertama dari Jung Leon saat dia masih hidup.
“Selama ini, event dari aplikasi [Event Horror Apps] sudah mengalami respon begitu positif. Aku juga melihat keuangan kita semakin baik. Kita bisa memanfaatkan itu untuk membeli hadiah yang sangat menarik untuk semuanya” kata perempuan bernama Song Haneul saat itu
“Kau benar, Song Haneul. Mengenai acaranya, apakah kau atau Lee Seung Chan ada ide?”
“Hmm…biar kupikirkan…”
Ketiganya berpikir bersama-sama. Tiba-tiba, sebuah kalimat keluar dari mulut Lee Seung Chan.
“Jung Leon, Song Haneul…sebelum kita semakin serius sampai ke titik ini…semua ini bagian dari mimpi kita, kan?”
“Benar. Ini adalah langkah awal untuk membuat sebuah aplikasi yang bisa digunakan oleh semua kalangan. Karena itu, aplikasi event di kampus ini merupakan sebuah titik penting untuk aplikasi selanjutnya yang akan kita rancang bersama” ucap Jung Leon dengan penuh percaya diri
“Begitu. Aku…aku senang kau mengajakku dan Song Haneul dalam rencana menakjubkan ini”
“Yah…awalnya kita memang harus lulus dulu dari tempat ini untuk mewujudkannya. Ahahaha”
“Kau benar…ahahaha”
Song Haneul hanya mendengarkan dan mencari sesuatu di internet.
‘Hmm?’ ada sesuatu yang menarik perhatiannya
Song Haneul tampak sangat serius sekali layar laptopnya. Dia tampak semakin serius dan akhirnya dia tersenyum lebar.
“Kalian berdua, coba lihat apa yang aku temukan!”
“Apa?” kedua pemuda itu menengok ke arah Song Haneul
Mereka berdiri dan membaca apa yang ada di layar laptopnya dan mulai terkejut.
“Aku ingin kita menggunakan konsep ini. Ini bisa dilakukan untuk acara skala besar dan yang pasti hadiahnya juga tidak main-main! Bagaimana?”
“Ini…jenius! Kau hebat, Haneul. Kalau begitu kita akan membuat acara bertemakan sinopsis film ini! Kau buatkan gambaran kasarnya dan aku akan mencoba membuat konsepnya bersama Seung Chan”
******
Setelah itu, Song Haneul menulis banyak sekali urutan dan kerangka acara. Dia menulisnya seperti akan membuat sebuah narasi novel. Dan itulah yang dibaca oleh kedua kakak beradik itu.
“Jadi, ini adalah naskah yang awalnya ingin digunakan untuk acara event?” tanya Kino
“Benar. Inspirasinya dari sebuah drama tentang semua orang di kota menjadi zombie dan mereka harus menyelamatkan diri. Di sana aku menuliskan beberapa bagian penting dari ringkasan film tersebut”
“Lalu?”
“Lalu, empat hari kemudian Jung Leon membawa kotak kecil itu. Begitu kami buka, isinya adalah kalung liontin permata. Batu di tengahnya berwarna ungu muda yang cantik dan bisa dilepas serta dipasang kembali”
“Ungu?! Batu permatanya berwarna ungu?!” ucap ketiganya serentak
“Be–benar”
Song Haneul terkejut mendengar ketiga remaja di depannya bicara secara bersamaan seperti itu.
Sekarang, ketiga remaja itu mulai melihat satu sama lain. Jelas dalam pikiran mereka hanya ada satu.
‘Itu pasti permatanya!’
Masalah utamanya adalah benda itu ternyata tidak ada di dekat Song Haneul, melainkan berada di saku celana Jung Leon. Jelas bahwa mereka baru saja meninggalkan tubuhnya di perpustakaan waktu itu.
“Bagaimana ini?” gumam Kino pelan
“Sekarang semua terasa sia-sia. Bagaimana bisa kita harus memulainya dari nol” Ryou tidak kalah frustasi
“Aku tidak percaya ternyata permata itu begitu dekat denganku saat itu” Kaito ikut menyesalinya
Memang tidak ada tanda-tanda apapun ketika itu. Dan itulah yang aneh.
Kino menyadari sesuatu.
“Benar”
“Mungkinkah…mungkinkah kamu menunjukkan dan membahas cerita ini kepada mereka juga saat itu?”
“Benar. Setelah melihat kalung liontin permata itu, aku menunjukkan penulisan ini pada mereka. Aku ingin tau pendapat mereka mengenai isi latar acara event ini dan Leon-nim menyetujuinya”
“……” Kino terdiam dengan wajah serius
“Setelah itu, kami menyiapkan proposal resmi untuk diberikan kepada himpunan dan staff kampus. Lalu, dengan izin tersebut juga kami diperbolehkan untuk menggunakan seluruh area kampus sebagai tempatnya” lanjut Song Haneul
Kino mulai bisa melihat apa yang mungkin terjadi.
‘Ternyata begitu. Pantas isinya begitu mirip dengan garis besar narasi dari naskah ini. Dan jika tebakanku benar, maka harusnya hal itu juga ada di dalamnya’
Kino kembali membaca tulisan di layar laptop milik Song Haneul dan dia menemukan sesuatu.
‘Ternyata ada! Siapa yang menyangka akan semudah itu! Seharusnya ini bisa berhasil. Aku akan coba menanyakan hal ini. Semoga saja ini berhasil’ pikir Kino
Kino mencoba menarik napas sebentar lalu bertanya pada Song Haneul.
“Maaf, aku boleh bertanya?”
“Silahkan”
“Apa benar semuanya benar-benar mengikuti apa yang tertulis di sini?”
“Benar. Karena itu, aku sendiri sempat terkejut saat kalian berkata bahwa para zombie ini berkumpul di depan gerbang gedung asrama”
“Begitu. Itu berarti, kita masih bisa menyelesaikan ini dengan mudah”
“Apa maksudnya itu, Kino?” Kaito bertanya-tanya
“Jika benar apa yang tertulis di sini, maka tugas kita hanyalah mencari kunci yang untuk membuka pintu gerbang kampus ini”
Ryou dan Kaito terkejut. Mereka tidak benar-benar habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Kino. Bukan hanya itu, Song Haneul sendiri juga tidak menyangka dengan kalimat tersebut.
“Bagaimana bisa kau seyakin itu, kakakku? Kau tau pintu gerbangnya dijaga oleh zombie para staff dan mahasiswa lainnya. Jadi, akan sangat sulit untuk menemukan kuncinya!”
“Tidak sulit. Lihat ini” Kino menunjukkan laptop Song Haneul
Ryou dan Kaito membacanya. Di sana tertulis sebuah kalimat.
[Pemain yang ingin memenangkan permainan cukup mengambil kunci untuk membuka pintu gerbang sekolah yang berada di pos penjaga yang terletak di dekat pintu gerbang utama. Setelah pintu gerbang terbuka, pemain tersebut keluar sebagai pemenangnya]
“Ini…”
“Ini adalah cara untuk memenangkan event ini secara detail. Itu artinya kita hanya perlu pergi ke pos tersebut dan mengambil kuncinya”
“Tapi tidak mungkin gerbang itu tidak dijaga oleh zombie, bukan? Pasti akan sangat merepotkan” ketus Ryou mengatakannya
“Aku mengerti itu. Tapi, jika memang benar seperti apa yang diceritakan oleh Song Haneul-san…maka ini adalah cara yang tersisa. Bisa jadi hanya ini satu-satunya cara yang kita punya”
Kino terlihat begitu yakin. Melihat itu, Ryou dan Kaito akhirnya memutuskan untuk mempercayai intuisi Kino yang nyaris tidak pernah salah selama ini.
Song Haneul mengepalkan tangannya kembali. Dia mulai meneteskan air mata.
“Hiks…”
“Song Haneul-san?”
“Aku…aku tidak pernah bermimpi akan jadi seperti ini. Hiks…ini semua salahku. Seandainya aku tidak mengatakan ceritaku pada mereka…hiks… semua ini…semua ini tidak akan terjadi…”
“Song Haneul-san…” Kino menjadi sedih mendengar perempuan itu menangis
“Ini adalah langkah penting untuk impian kami bertiga!! Aku…aku dan kedua teman terbaik itu sudah berusaha untuk mewujudkan sebuah mimpi kecil sebagai programmer besar. Hiks…bukan menciptakan teror yang menewaskan semua orang seperti ini!! Huwaa….”
Tangisannya pecah. Dia mulai menangis tersedu-sedu. Ketiga remaja itu tidak bisa melakukan apapun.
“Saat itu…saat itu…aku hanya mengusulkan ide ini untuk…hiks…untuk membuat event bertema horror yang menarik. Hiks…bukan untuk membuat semuanya terbunuh seperti ini…hiks. Ini bukan keinginanku…ini bukan impian kecil kami bertiga”
“……” ketiga remaja itu hanya mendengarkan
“Karena begitu senang…kami mulai menyebarkan berita mengenai event ini bahkan sampai ke artikel kampus…”
“……!” Ryou menyadari sesuatu
[Tema terbesar untuk event yang ingin kami bertiga adakan adalah sebuah simulasi yang melibatkan seluruh pihak dan staff kampus. Terinspirasi dari film bertemakan zombie, rencananya kami akan menggelar sebuah event dengan tema yang sama. Selain itu, Ini akan menjadi sebuah pencapain baru bagi aplikasi [Event Horror Apps] ini]
Saat itu, Kino dan Ryou saling melihat satu sama lain.
Mereka berdua yang telah membaca semua isi artikel tersebut menyadari bahwa siapapun pasti akan hancur bila rencana dan impian mereka tiba-tiba berubah menjadi sebuah tragedi seperti ini.
“Kenapa…kenapa Leon-nim dan Seung Chan harus mati karena impian kecil kami bertiga? Hiks…kenapa impian sederhana kami berubah menjadi sebuah bencana begini? Dimana salahnya? Hiks…aku…aku tidak tau lagi…”
Hanya sebuah tangisan yang terdengar di dalam ruangan itu. Untuk sesaat, tidak ada keinginan dari ketiganya untuk membahas mengenai permata atau yang lainnya.
Mereka hanya menunggu sampai Song Haneul berhenti menangis.
******