Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 110. Pertukaran yang Adil di Mata Iblis bag. 1



Beberapa menit sebelumnya, Riz berjalan bersama dengan Jack setelah mengabaikan mayat Will yang terbaring di tempat kejadian.


“Ja–Jack-sama…apa maksudnya tadi itu?”


“Apanya?”


“Tentang…tentang kau ingin bertemu dengan orang yang kubawa–“


“Dia yang membunuh Justin, benar kan?”


“I–itu…itu mungkin juga tapi…”


“Dia juga yang membunuh William”


“Tapi itu…”


Jack hanya melirik Riz yang terlihat cemas.


“Riz, kau hanya perlu tenang dan berpikir jernih. Aku sudah menyetujui kesepakatan denganmu dan memberikanmu kesempatan untuk kembali ke tempat ini demi menebus remaja itu”


“……”


“Selama mereka belum keluar dari tempat ini dan membawanya kabur, aku masih akan menahan diri untuk tidak membunuh mereka. Bagaimanapun juga, kau tau aku lebih mengutamakan bisnisku sekarang dibandingkan membunuh tanpa alasan. Kau percaya padaku, kan?”


“Aku…aku percaya padamu, Jack-sama. Hanya saja…”


“Ahahahaha, jangan khawatir seperti itu. Terkadang apa yang dikatakan oleh iblis sepertiku bisa lebih dipercaya, dibandingkan dengan apa yang manusia katakan”


“……” Riz hanya mendengarkan dengan wajah cemas


“Kau harus ingat, Riz. Dibandingkan iblis berwujud manusia sepertiku…ada yang lebih berbahaya. Namanya ‘manusia yang bersandiwara seperti malaikat, namun menusuk dari belakang’. Jangan kau lupakan itu” lanjut Jack


“Begitu”


“Kau sendiri tidak lupa kalau sudah menjadi iblis berwujud manusia, kan?”


Jack bertanya dengan nada sedikit menggoda Riz. Akan tetapi, tampaknya ucapan Jack sudah membuat Riz menjadi serius dan menjawabnya dengan tegas.


“Setidaknya aku masih memiliki perasaan khawatir pada temanku, Jack-sama” jawab Riz dengan penuh keyakinan


Jack cukup terkejut dengan jawaban itu. Dia hanya tersenyum dan tertawa tanpa merasa tersinggung dengan jawaban itu. Riz benar-benar memilih panutan yang menakjubkan.


Sepanjang jalan, tidak ada momen tanpa berdoa di dalam pikiran Riz.


‘Aku mohon tolong jangan membuat masalah lebih dari ini! Tolong berakhir damai! Tolong kalian yang membawa remaja dan gerobak milikku tidak bertindak bodoh yang membuat orang di depanku ini marah! Ayolah, bahkan Arkan juga belum kembali. Aku benar-benar terlibat masalah. Tolonglah wahai dua orang asing yang baru kukenal…jangan membuat mentalku jatuh sebelum pembukaan malam ini!’


Di saat mereka berjalan santai, dari jarak yang cukup jauh Riz melihat banyak orang dan terlebih lagi dia melihat sesuatu.


“Ge–gerobak milikku!!” Riz


Namun, Riz dibuat terkejut dengan pemandangan setelahnya. Sebuah perkelahian atau mungkin pertarungan yang dia lihat dari jarak jauh. Dia melihat seseorang menyerang wanita dan dengan cepat dia ditendang hingga terjatuh.


“I-itu!!!”


“Oh!! Malaikatku~” Jack terlihat tersenyum


Lalu, tanpa memikirkan kalimat Jack selanjutnya Riz langsung berubah panik.


“Mereka…mereka berkelahi, Jack-sama!!”


“Mereka hanya berkenalan, Riz” jawab Jack santai


“Tidak ada orang normal yang berkenalan dengan pedang! Aku harus menghentikan mereka! Mereka bisa menyebabkan masalah untuk jantungku dan Arkan nanti!”


Riz dengan cepat berlari meninggalkan Jack di belakangnya dan berteriak.


“Kalian semua, hentikan!”


Semua orang yang kaget mendengarnya menengok ke belakang, sedangkan Seren yang memandang ke arah depannya tersenyum lebar dengan apa yang dilihatnya.


“Kalian semua, kumohon hentikan ini sekarang!”


“R–Riz?!” Kaito terkejut


Di belakang Riz, terlihat seseorang yang berjalan dengan santai namun mengeluarkan senyuman dan aura yang membuat Kaito meningkatkan kewaspadaannya kembali.


‘Mungkinkah dia adalah pengelola yang seorang lagi?’ pikir Kaito dalam hati


Dia melihat ke arah wanita itu dan sepertinya dugaan Kaito benar. Wanita yang posisinya berada di belakangnya itu melambaikan tangannya dan tersenyum senang sekali.


“Bahkan di siang hari seperti ini, keberuntunganku sama buruknya seperti terjebak di ‘dunia malam’. Belum selesai menghadapi iblis wanita itu…ternyata iblis lainnya telah muncul” gumam Kaito dengan nada lirih


Riz yang mendekati mereka semua disambut Arkan dengan ‘puji dan syukur’.


“Dari mana saja kau, penjual mayat! Aku hampir terkena serangan jantung karena pergi dengan ib…maksudku dengan Seren-sama yang terus memeluk kepala manusia layaknya boneka anak-anak!!”


Riz yang mendengar kalimat ‘puji dan syukur’ itu langsung membalasnya dengan ‘pujian’.


“Jangan bercanda ya, bartender gila! Kau yang meninggalkanku ketika transaksi kita belum selesai!! Kau tidak tau, aku bahkan diharuskan menghabiskan kue dan tehnya dulu sebelum keluar dari sana!”


“Itu karena aku panik dengan nasib kedua anak ini!”


“Dan sekarang kau harus panik dengan situasi buruknya sekarang, bodoh! Hasil dari transaksinya itu tidak berjalan semulus kulit bayi baru lahir!” Riz berteriak dengan menunjuk ke arah gerobaknya


Mendengar kalimat ‘hasil dari transaksinya itu tidak berjalan mulus’ membuat Arkan, Ryou dan Kaito terkejut. Bukan hanya itu, wajah mereka bahkan berubah pucat. Hal itu juga dirasakan oleh kedua anak yang berusaha membantu Ryou berdiri.


“Apa maksudnya itu, Riz?”


Ryou yang telah berdiri mencoba untuk berjalan menghampiri Riz dengan memegangi perutnya.


“Itu…itu karena…”


“Yo, kalian semua~”


Tidak disadari oleh yang lain, tiba-tiba pria berpakaian santai dan tampan itu telah berada di belakang Riz. Kaito bahkan tidak bisa mengatakan apapun dari mulutnya dan hanya bisa menggunakan pikirannya untuk menjelaskan semua yang terjadi.


‘Pria ini…dia memiliki aura yang jauh lebih berbahaya dari wanita bernama Seren. Sudah dipastikan bahwa jika sampai terlibat pertarungan dengannya, aku harus memaksakan semua kemampuan bertarungku! Ditambah lagi, mereka benar-benar tidak menunjukkan celah sedikit pun di setiap gerakan mereka! Dengan orang sebanyak ini, aku tidak akan bisa melindungi mereka semua! Ini tidak bagus!’


Semua orang begitu kaget melihat pria itu ada di belakang Riz, termasuk Riz sendiri.


“Ja–Ja–Jack-sama! Ja–jangan muncul di belakangku seperti hantu!”


-SLAASH


Dengan cepat, Kaito menyerangnya tanpa aba-aba. Dia melompat dan mengayunkan pedangnya ke arah pria itu. Tentu saja pria itu langsung dengan cepat menghindar, namun gerakannya begitu santai. Dia hanya mundur satu langkah dan setelah itu melompat ke belakang dengan lompatan ringan.


“Kaito!! Kau ingin memenggal kepalaku juga ya?” Riz berteriak


“Aku tidak punya urusan dengamu, Riz. Aku ingin tau kenapa dia bisa dengan mudah menyebut Kino sebagai ‘mahakarya’. Penyelamatku bukanlah barang! Jangan seenaknya saja mengatakan hal semudah itu setelah kau melukainya!!”  Kaito terlihat marah dan berteriak ke arah pria itu


Reaksi Kaito membuat keadaan menjadi cukup mencekam. Stelani dan Fabil langsung berlari kembali dan memeluk Arkan karena takut. Arkan yang melihat Kaito marah juga tidak bisa melakukan apapun.


Namun, reaksi berbeda diberikan oleh pria itu. Dia tersenyum dan terlihat begitu santai tanpa merasa tersinggung dengan tindakan Kaito barusan.


“Aku ke sini hanya untuk menyelesaikan transaksi terakhir dengan Riz dan mengambil mahakar…maafkan aku, maksudku remaja di gerobak itu. Jangan terlalu galak padaku”


“Transaksi terakhir kau bilang?”


Kaito melihat ke arah Riz yang dengan panik mencoba untuk menjelaskan semuanya pada mereka.


“Be–begini…Arkan mungkin hanya mengetahui sebagian dari hasil transaksinya, tapi…mayat Justin tidak bisa membebaskan remaja itu karena suatu alasan”


“……!!!”


Semua orang terkejut termasuk Arkan sendiri.


“Tapi sejak awal aku bermaksud menukar mayat Justin sama dengan ketiganya dan membatalkan semua sisa transaksinya!!”


“Aku tau! Tapi remaja itu sepertinya memiliki nilai yang lebih besar dari mayat Justin sehingga…sehingga dia hanya bisa ditebus dengan uang!!” jelas Riz kepada semuanya dengan wajah panik


“Uang…Jangan bercanda! Kakakku bukanlah barang!!” Ryou berteriak


Kalimat itu lantas membuat Jack membuka matanya lebar-lebar dan dengan cepat berlari ke arah Ryou. Kaito menyadari bahwa pria itu berlari ke arah mereka. Dengan cepat dia berusaha untuk menghadangnya, namun Seren melempar kepala Will ke arah Kaito yang membuat Kaito terpaksa membelah kepala tersebut menjadi dua.


Darah tentu saja mengenai dirinya dan area sekitar termasuk mengenai pakaian anak-anak itu dan Arkan. Tidak lupa juga mengenai Ryou.


“Ah, Will jadi terbelah. Harusnya aku tidak melemparnya tadi. Maafkan aku ya, Will” gumam Seren dengan wajah sedih


Sekarang, Jack tela memegang leher Ryou. Atau bisa disebut mencekiknya.


“Kh!!”


“Kau bilang kau adik remaja ini. Siapa namamu dan nama kakakmu ini?” Jack bertanya dengan senyuman


Semua yang ada di sana tidak ada yang bisa bergerak. Kaito yang ingin bergerak mengurungkan niatnya karena bisa saja Ryou mati saat dia mencoba menyerangnya.


“Aku…tidak akan memberitau…siapa nama…ku!! Terutama pada…iblis seperti…dirimu!!”


“Hoo~tapi bercanda. Aku sudah dengar berkali-kali mereka semua memanggil namamu. Ryou ya…dan kalau tidak salah pria berpedang tanpa sarung pedang itu menyebut nama remaja itu Kino. Ryou dan Kino ya…nama yang bagus. Aku suka kalian”


Jack tersenyum dengan wajah merona. Tentu saja senyuman itu bersamaan dengan cekikan yang semakin kuat pada leher Ryou.


“Uhuk!!”


“Ryou-niisan!!” Stelani teriak melihat Ryou dicekik


“Ja–Jack-sama! Kumohon hentikan itu!” Riz berjalan dan mencoba menghentikan Jack


Namun tatapan Jack yang dingin membuatnya berhenti dan ketakutan.


‘Ini tidak benar! Aku harus melakukan sesuatu agar bisa menyelesaikan semuanya dan pulang tanpa membuat masalah!’


Riz berpikir dalam keadaan panik, hingga dia melihat kepala Will yang terbelah dan dia mendapatkan suatu gagasan ide yang mungkin saja berhasil membuat Jack tidak keluar batas.


“Jack-sama! Jack-sama masih memiliki transaksi yang belum diselesaikan denganku! Aku ingin membeli remaja itu dan membebaskannya! Tolong jangan lupakan tujuan kita mengejar mereka semua!” Riz meneriaki Jack


“Oh iya, kau benar. Aku harus mengambil remaja itu lagi dan menyelesaikan jual-beli denganmu”


Jack melepaskan cekikannya pada leher Ryou. Ryou terlihat mencoba mengatur napasnya.


“Uhuk…uhuk…”


Seren menghampiri sang suami dan memeluknya. Sekarang, Riz mencoba bernegosiasi dengan memanfaatkan keadaan.


“Jack-sama…aku ingin mengajukan sedikit perubahan pada negosiasi tadi”


“Hei hei, harganya sudah murah Riz. Aku tidak akan menurunkannya. Kau tau aku sudah bilang kalau…”


“Kaito, katakan…apakah kau yang membunuh paman Will?” Riz bertanya pada Kaito sebelum Jack selesai dengan kalimatnya


“Aku dan Ryou yang melakukannya” Kaito menjawabnya dengan wajah serius


“Kau dengar sendiri, Jack-sama? Mereka berdua yang membunuh paman Will…”


“Oi Riz! Kau ingin mereka berdua terlibat masalah ya?” Arkan memotong ucapan Riz dan bertanya dengan nada panik


“Diam sebentar!” Riz berbisik pada Arkan dan memintanya untuk diam


Kedua pasangan suami-istri itu terdiam dan berusaha menebak apa yang kira-kira akan diajukan Riz sebagai banding. Riz melanjutkan kembali perkataannya.


“Jack-sama pernah mengatakan bahwa bila terjadi pembunuhan dan korbannya mati, maka pelaku pembunuhan bisa langsung menjual korbannya kepada pedagang atau pembeli lain termasuk ke pengelola seperti Jack-sama atau Seren-sama. Dengan kata lain terjadi transaksi langsung di tempat. Aku tidak salah, kan?”


Sekarang, Kaito mengingat kembali penjelasan Riz.


[Dulu aku pernah mendengarnya langsung dari Jack-sama bahwa jika ada orang yang dibunuh lalu mati di dalam pasar dengan cara apapun dan terlepas dari siapapun yang melakukannya, maka mayatnya akan secara sepihak menjadi milik orang yang membunuhnya dan bebas digunakan untuk segala jenis transaksi]


[Siapapun pelakunya tidak masalah]


[Hal itu sebagai langkah lain agar pasar tetap bisa berjalan dan pasokan barang terus masuk. Selama ini sudah ada beberapa kasus seperti itu di dalam. Hasilnya pembeli yang menang dapat menjual kembali korbannya]


Kaito mulai mendapatkan celah untuk bebas dari tempat itu dengan membawa Kino tanpa membahayakan semuanya.


“Paman Will bertarung dengan Ryou dan Kaito yang merupakan temanku dan dia mati. Itu artinya mereka bisa menjual mayat paman Will kepada kalian berdua…” jelas Riz dengan penuh percaya diri


“Begitu rupanya!” Kaito bergumam pelan dengan wajah penuh percaya diri


“Aku, Riz Mortem, selaku teman sekaligus pedagang pasar gelap ini akan mengambil alih mayat paman Will dan bermaksud menjualnya kepada kalian dalam transaksi langsung sekarang!”


******