
Pemandangan yang sangat tidak biasa menyambut Stelani dan Fabil tidak lama setelah mereka membuka pintunya. Dua buah kepala di atas meja dengan darah merah kental.
Keduanya terjatuh ke lantai dengan wajah pucat dan berteriak sekeras yang mereka bisa.
“Aaaah!!!!”
Tubuh mereka gemetar dan tidak bisa mengatakan apapun. Pandangan mereka berubah ketika melihat ada orang lain yang terbaring di lantai dengan tubuh luka dan berdarah.
“Tidak!!! Kino-niisan!!”
“Kino-niichan!!”
Stelani dan Fabil berteriak dan menangis. Seketika itu juga mereka yang belum bisa berdiri akhirnya merangkak dengan tubuh yang gemetar. Mereka melihat wajah Kino begitu pucat dan terdapat sayatan panjang di lengan kirinya.
“Tidak!! Kino-niisan! Kino-niisan!! Tidak! Tidaaak!! Hiks…huwaaaa!!!” Stelani menangis dan tidak bisa mengendalikan dirinya
“Kino-niichan, bangunlah! Darahnya…kenapa bisa separah ini!!” Fabil begitu panik hingga menggoyang-goyangkan tubuh Kino
Pakaian mereka mulai terkena tetesan darah. Mereka melihat sekeliling tempat itu.
“Tempat apa ini, Fabil? Apa ini mimpi buruk? Aku tidak mau ada di tempat ini!!!”
“Ini neraka!! Itu…itu adalah kepala manusia…siapa iblis yang bisa melakukan hal kejam itu pada mereka?!!”
Keduanya tidak bisa berhenti menangis dan mengeluarkan air mata. Kino di hadapan mereka juga tidak bisa melindungi mereka. Satu-satunya hal yang masih merupakan bagian dari nasib baik keduanya adalah di sabuk pengikat milik Kino masih ada dua bilah dagger yang bisa digunakan untuk melindungi diri.
Namun, itu bukan hal penting sekarang. Keduanya terus mencoba membangunkan Kino meskipun gagal.
“Apa yang harus kita lakukan? Lukanya terlalu parah! Ditambah lagi ada bekas irisan di kulitnya, bagaimana ini?!” Stelani menjadi semakin panik
Fabil mencoba mendengar detak jantung Kino dan dia masih hidup. Satu hal yang melegakan. Namun, dengan darah yang terus keluar seperti itu hanya tinggal menunggu waktu sampai Kino benar-benar mati.
“Aku…aku akan mencari sesuatu–”
Fabil merangkak ke arah pintu keluar kemudian berlari ke ruangan tempat dia sebelumnya
“Fabil!!” teriak Stelani
Stelani menangis dengan tubuh gemetar dan wajah pucat saat ditinggal sendiri dalam ruangan itu.
Ruangan yang penuh darah dan potongan tubuh yang tersusun rapi di sisi ruangan benar-benar pemandangan yang tidak menyenangkan.
“Kino-niichan…hiks…hiks…kumohon bangunlah Kino-niichan. Hiks…hiks…aku takut” Stelani menangis sambil memeluk tubuh Kino yang terbaring di lantai dengan waha pucat
Gadis itu bisa merasakan napas Kino yang lemah serta kulitnya yang dingin. Tangan kirinya yang terasa sakit dan sulit untuk digerakan tidak begitu dipedulikan olehnya. Dia memaksakan diri untuk memeluknya dengan erat dan menangis.
Tidak lama kemudian, Fabil datang dengan membawa kain panjang.
“Aku…aku menemukan ini di salah satu ruangan!!”
Stelani awalnya takut kalau itu adalah orang jahat yang membawa mereka sebelumnya, namun setelah mengetahui itu adalah Fabil dia langsung mengambil pisau yang ada di sabuk milik Kino.
“Aku…aku menemukan sebuah kain dari salah satu ruangan itu. Entah kenapa tidak ada satupun pintu yang dikunci dan tidak ada apapun di dalam ruangannya kecuali sebuah meja. Salah satu ruangan memiliki kain besar ini dan–”
Fabil mencoba menjelaskan darimana dia mendapatkan kain itu. Namun belum selesai dengan kalimatnya, Stelani memotong pembicaraan itu.
“Itu tidak penting bagaimana benda ini ada di sana!. Sekarang bantu aku untuk merobek kain ini untuk membuat perban dan menutup luka Kino-niisan!”
Dia meminta Fabil membantunya merobek kain besar itu untuk menutupi luka di tangan kiri Kino.
Dengan cepat mereka berdua memotong dan merobeknya dengan pisau lalu segera menutup luka pada lengan Kino dengannya. Terlihat usaha mereka tampak sia-sia karena darah pada luka Kino terus menembus kain itu. Tetapi hal itu masih lebih baik daripada tidak melakukan apapun sama sekali.
“Darahnya tidak berhenti sama sekali!!” teriak Fabil sambil menangis
“Jangan berhenti! Jangan melihat apa yang ada di tempat ini dan fokus pada luka Kino-niisan! Kita harus menutupi lukanya atau Kino-niisan akan mati!!” kata Stelani dengan nada panik dan suara yang meninggi
“……!!!” Fabil hanya terdiam sambil menahan suara tangisnya
Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain terus mencoba menutupi luka sayatan yang panjang itu dengan robekan kain yang mereka buat.
Fabil kembali mencari sesuatu seperti kain lain untuk membuat perban kain lagi namun tidak ada lagi yang dia temukan. Dia sempat berpikir untuk turun ke bawah namun dia terlalu takut.
Bangunan itu memang terlihat sepi karena lantai tempat mereka berada sekarang juga tidak terdapat tanda-tanda akan ada orang yang datang ke sana. Fabil juga merasakannya sejak dia berkeliling untuk mencari kain tadi. Dia tau bahwa tidak ada siapapun yang mengawasi mereka.
“Apa kau menemukan kain lain untuk menutupi luka Kino-niisan lagi?”
“Tidak ada! Semua ruangan itu kosong. Sepertinya hanya ada sehelai kain itu saja!”
“Bagaimana ini!!” Stelani menjadi panik sambil menggulung pelan-pelan kain itu ke lengan kiri Kino
Fabil melihat sekeliling tempat ini dan ini benar-benar bukan pemandangan yang bagus.
“Stelani…kurasa kita harus memindahkan Kino-niichan dari sini”
“Ini bukan saatnya bergurau seperti itu Fabil!! Luka di lengan Kino-niisan bahkan masih mengeluarkan darah!!”
“Tapi kau lihat sendiri ruangan ini!!. di depan kita itu adalah kepala manusia dan potongan tubuh manusia asli!!. Kemungkinan besar Kino-niichan berada di sini karena nanti dia akan seperti itu juga!!”
“Kino-niisan juga!!!” Stelani terkejut dengan kata-kata Fabil
Dia juga mengetahui ruangan tersebut adalah mimpi buruk dan begitu mengerikan. Bukan hanya darah dimana-mana namun kepala di atas meja dan potongan tubuh yang tersusun di sisi dinding ruangan itu benar-benar kepala manusia. Itu masih baru dan tubuh yang terpotong itu juga masih baru.
“Umph!” Stelani menahan rasa mualnya dengan menutup mulutnya dengan tangan kanannya
Sejak pertama melihat isi dalam ruangan itu dan pandangannya tertuju pada Kino, kedua anak itu melupakan sebuah fakta bahwa mereka akan masuk dan berada dalam ruangan paling mengerikan dan menjijikkan di sana. Stelani baru menyadari hal itu dan rasa mualnya mulai muncul.
“Aku merasa bahwa kita harus memindahkan Kino-niichan pergi dari sini. Kalau kita meninggalkannya di sini dan orang-orang jahat itu kembali maka Kino-niichan akan berakhir seperti ibu dan anak di atas!. Kau tentu mengerti maksudku kan, Stelani?!” kata Fabil dengan sedikit mendesak Stelani
Napas Stelani masih belum stabil namun dia begitu panik ketika kembali melihat darah dari luka Kino kembali keluar. Dengan napas terengah-engah, dia bertanya pada Fabil.
“Bagaimana kita akan memindahkannya dari sini? Kaki dan tangan kiriku tidak akan bisa membantumu menahan tubuhnya. Apa kau memiliki rencana untuk melakukannya?”
“……” Fabil terdiam sejenak
Seperti anak laki-laki itu hanya bisa memberi ide tapi tidak bisa melakukannya karena kondisi tubuhnya juga. Fabil hanya bisa terlihat kecewa pada dirinya, sementara Stelani masih terlihat sedih dan menangis sambil menahan rasa mualnya.
“Kita tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal itu, Fabil! Kita harus menghentikan pendarahan Kino-niisan dulu!” Stelani melanjutkan kata-katanya
“Tapi dibiarkan di sini juga tidak akan menyelesaikan masalah! Seperti yang kukatakan barusan, jika kita tidak membawa Kino-niichan keluar dari sini maka orang-orang itu akan memotongnya! Aku yakin luka sayatan selebar itu dilakukan oleh mereka untuk…untuk memotongnya!”
-Deg
Stelani seperti tersambar petir. Dia tersadar setelah mendengarnya. Gerakan tangan yang sedang memasangkan perban di tangan Kino mulai terhenti. Dia melihat sayatan dari bahu kiri atas turun sampai ke tangan kirinya dengan sedikit kulit yang teriris. Itu terlihat seperti tangannya memang akan dipotong.
‘Fabil benar. Kino-niisan akan mati jika terus di sini tapi aku tidak tau apa yang harus dilakukan. Selain itu jika sampai bertemu dengan wanita menakutkan itu lagi maka hanya tinggal masalah waktu sampai kami berdua bernasib sama seperti kedua orang yang malang itu’
Stelani terus berpikir dalam hati dengan penuh rasa takut dan air mata yang terus menetes. Tidak ada satu momen yang membuat air mata gadis itu berhenti meskipun sedang bicara dengan Fabil.
Fabil yang melihat darah keluar dari luka Kino mulai memikirkan banyak kemungkinan buruk.
‘Aku memang mengatakan ingin memindahkan tubuh Kino-niichan tapi sejujurnya aku tidak yakin apakah bisa melakukannya sebelum wanita itu kembali atau tidak. Selain itu darah masih terus keluar dari tangannya. Jika sampai meninggalkan jejak maka sudah jelas akan ketauan’
Fabil melihat lantai di ruangan itu. Hampir seluruhnya tertutup oleh darah bahkan dia baru menyadari ada jejak sepatu di sana.
“Jejak sepatu?”
“Eh?” Stelani kaget dan melihat di sekelilingnya
Mereka berdua benar-benar terlambat menyadari semua hal di sana.
Stelani menjadi semakin pucat. Jejak sepatu itu adalah jejak dari sepatu laki-laki. Itu membuatnya berpikir bahwa pria besar yang dia ingat itu kemungkinan adalah pelaku yang menyayat lengan Kino.
“Ini sudah terlambat untuk menyesal! Aku sudah putuskan untuk membawa Kino-niichan keluar dari sini sekalipun membuat jejak darah! Kita harus melindungi Kino-niichan agar tidak berakhir seperti orang-orang malang itu” kata Fabil yang sudah membulatkan tekadnya
“Tapi aku belum bisa berdiri!”
“Kau diam saja tidak apa-apa! Aku yang akan menarik tubuh Kino-niichan sendiri. Kau cukup merangkak perlahan ke arah tangga dan awasi jika ada yang datang. Bawa pisau itu bersamamu juga. Jika memang terpaksa teriak saja!” Fabil memberikan instruksi pada Stelani
“Tapi Fabil–”
“Tidak ada tapi, Stelani! Kita juga tidak mungkin diam dalam ruangan yang penuh dengan darah dan bau mayat ini!”
Stelani terdiam dan bergumam dalam hati.
‘Apa yang dikatakan oleh Fabil benar’ itulah yang ada dalam pikiran Stelani
Akhirnya gadis kecil itu mengangguk. Dia melihat dan mengelus wajah Kino yang semakin pucat dengan berderai air mata.
“Kino-niisan, maafkan kami karena tidak bisa membantu apapun. Hiks…tapi kami akan melindungimu seperti saat kau berusaha melindungi kami waktu itu”
Stelani mengingatnya kembali. Dia bisa mengingatnya dengan jelas, bahkan ketika diserang waktu itu, Kino yang telah terluka mengeluarkan salah satu pisaunya dan melindungi mereka.
******
-CRAAAAT
“Ukh…”
Kino terkena sebuah serangan di bagian dadanya. Sebuah luka sayatan yang membuatnya batuk berdarah dan terluka. Kino melangkah mundur akibat menerima serangan tiba-tiba itu dengan tetap menggenggam tangan Stelani.
Meskipun darah keluar dan kakinya sudah gemetar, Kino terus mempertahankan dirinya untuk berjalan mundur sambil mendorong tubuh Fabil yang berada di belakangnya dan menggenggam tangan Stelani agar tidak lepas.
Kino membuat kedua anak itu berada di belakang tubuhnya sekarang dan menempatkan dirinya sendiri yang terluka di depan mereka sebagai pelindung.
Stelani yang kaget dan berubah pucat langsung berteriak sekeras mungkin.
“Kyaaaa!!!!”
“Kino-niichan!!” teriak Fabil
Dia mencoba mendekati Kino namun sambil mencoba mempertahankan tubuhnya agar tetap berdiri, Kino menghalanginya.
“Jangan…kemari, Fabil-kun. Bawa…Stelani-chan pergi dari sini. Uhuk…”
Kino kembali memuntahkan darah dari mulutnya. Fabil yang menahan tangis tidak ingin mengikuti permintaannya. Tapi melihat situasi berbahaya itu, Fabil dengan berat hati menarik tangan Stelani untuk pergi.
Stelani yang menolak terus berusaha untuk mendekati Kino yang terluka.
“Kino…Kino-niisan. Tidak!! Lepaskan aku, Fabil! Kino-niisan!!” Stelani berteriak dan menangis
“Jangan mendekati Kino-niichan, Stelani!! Ini perintah Kino-niichan! Kita harus pergi dari sini!”
Fabil berusaha menarik tangan Stelani yang terus melawan. Meskipun dirinya sendiri juga ingin menarik tangan Kino untuk lari bersamanya tapi sepertinya keberuntungan tidak bekerja seperti keinginannya.
Seorang wanita dan pria besar tinggi dengan tato yang lebih tinggi dari Justin datang. Mereka berjalan dengan santai. Jarak antara kedua orang itu dan ketiganya cukup dekat. Karena jika tidak, mustahil salah satu dari mereka bisa menyerang Kino.
Stelani melihat kedua orang itu. Dia melihat wanita di depannya memegang sebuat pisau dengan tetesan darah. Itu adalah senjata yang melukai Kino.
Walaupun Kino dan kedua anak itu sudah mundur namun tetap saja jarak mereka masih dekat.
Wanita di depan yang memperlihatkan senyumannya itu bertanya pada ketiganya.
“Halo anak-anak manis. Senang bertemu dengan kalian di sini”
Tidak ada jawaban dari mereka bertiga. Wanita itu hanya melihat wajah penuh ketakutan dan waspada dari orang di hadapannya. Melihat hal itu, wanita itu mulai kehilangan senyumannya dan berkata sambil mengangkat pisaunya.
“Kalian tidak mau menjawab atau ingin merasakan benda ini lagi?. Ini masih belum setajam seperti yang tadi pagi kugunakan untuk bekerja karena tidak aku asah lagi sebelum pergi. Tapi kalau hanya untuk membuat satu sampai dua sayatan yang cantik seperti yang dirasakan anak muda itu, aku masih bisa melakukannya dengan baik”
“Siapa…kalian berdua ini? Kenapa kalian…menyerang kami tiba-tiba?” tanya Kino sambil menahan sakit
“Madame, siapa remaja itu? Apa dia ada dalam target di kontrakmu?” tanya pria besar yang ada di belakang wanita itu
“Hmm, kau siapa?” tanya wanita itu
Kino tidak menjawab pertanyaan mereka dan mengambil sebuah dagger miliknya. Dia bersikap seolah siap untuk bertarung. Sambil menahan rasa sakit, Kino yang menyadari situasi semakin berbahaya mulai terlihat serius. Tatapan tidak bersahabat ditunjukkan olehnya.
“Aku tanya sekali lagi, kenapa kalian menyerang kami?”
“Wajahmu manis dan tampan seperti suamiku di rumah tapi kau tidak sopan pada wanita cantik. Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku tapi malah sudah dua kali bertanya” jawab wanita itu dengan wajah cemberut
“Maafkan aku nyonya, tapi sejauh yang aku tau tidak ada wanita normal di dunia ini yang membawa pisau di siang hari dan menyerang orang yang tidak dia kenal lalu bicara dengan nada tenang seperti itu. Kecuali wanita itu memiliki dendam pada orang tersebut atau seorang pembunuh bayaran”
“Hoo, menurutmu aku yang mana?”
“Menurutku nyonya adalah pembunuh bayaran yang diminta seseorang untuk membunuh aku atau anak-anak di belakangku ini” Kino tidak menurunkan kewaspadaannya
Mendengar kalimat yang diucapkan Kino, Stelani dan Fabil menjadi semakin takut.
“Pembunuh…bayaran…”
“Kenapa mereka ingin membunuh kami? Memang apa yang telah kami lakukan sampai ingin dibunuh seperti ini?!”
Wanita dan pria besar itu saling melihat satu sama lain dan tersenyum.
“Madame, anak itu lebih pintar dari Justin. Monsieur pasti menyukainya”
“Kau benar. Akan kubawa sebagai hadiah. Kurasa lebih baik dibawa hidup-hidup agar suamiku bisa menikmati kesenangannya”
Mendengar percakapan itu, Kino semakin terlihat waspada dan benar saja. tiba-tiba wanita itu dengan cepat melompat dan mengarahkan pisaunya kembali. Kino reflek melindungi tubuhnya sendiri. Dia mencoba menahan pisau itu dengan tangan kirinya dan pada akhirnya pisau itu menusuk telapak tangan kirinya.
“Kh…” Kino menahan rasa sakit
Darah keluar dan dengan cepat Kino langsung mencoba memberi serangan balik. Dia mengayunkan dagger yang dipegangnya namun dengan cepat wanita itu mencabut pisaunya dan mundur ke belakang.
“Kino-niisan!!” Stelani teriak melihat Kino kembali tertusuk
Fabil semakin kuat menarik tangan Stelani yang masih terus berusaha berlari ke arah Kino. Kino berteriak kepada kedua anak itu.
“Apa yang kalian lakukan?! Jangan pikirkan aku dan cepat lari dari tempat ini! Apapun yang terjadi kalian harus tetap hidup!. Sekarang lari–”
Sebelum selesai, Kino langsung menerima sebuah tendangan kuat dari sisi samping. Dengan cepat dia langsung terhempas hingga terjatuh. Darah dari tangan kirinya berceceran di jalan dan pisau yang dia pegang akhirnya terlempar ke sisi samping jalan.
“Uhuk…uhuk…kagh!!”
Wanita yang menendangnya mendekat lalu mencekik leher Kino. Kino mencoba melepaskan diri dari cengkeraman wanita itu. Meskipun wanita itu sudah menahan dirinya namun dengan gerakan anak remaja itu, dia terpaksa mencekiknya sedikit lebih keras.
“Aku ingin membawamu hidup-hidup untuk suamiku jadi kau sebaiknya jangan banyak bergerak. Kalau melawan nanti aku kehilangan kendali dan berakhir membunuhmu nanti”
“Agh!!”
“Madame, kendalikan dirimu. Itu hadiah untuk Monsieur” seru pria besar berotot yang melihat itu dari jarak yang cukup jauh
Stelani akhirnya melepaskan genggamannya dan berlari ke arah Kino.
“Kino-niisan!!” dia berteriak sambil berlari
Melihat gadis kecil itu berlari dan mulai mendekati tubuh Kino, wanita itu langsung menendangnya dari jarak yang dapat dia jangkau hingga tubuhnya menghantam dinding. Stelani hampir kehilangan kesadarannya. Sebelum semuanya hilang, dia sempat mendengar Fabil berteriak lalu pria besar itu berlari untuk memukul perutnya.
Setelah itu pandangannya yang mulai gelap melihat sosok Kino yang masih tercekik oleh wanita itu. Tubuh Kino yang awalnya bergerak akhirnya mulai tidak bergerak karena wanita itu mengangkat tangannya dan melakukan gerakan seperti memukulnya.
Stelani mulai kehilangan kesadarannya. Untuk terakhir kalinya sebelum semuanya menjadi gelap, dia mencoba memanggil nama Kino.
“Kino…nii…san…”
******
Stelani yang mengingat semua itu kembali memejamkan matanya untuk melupakannya. Dia tidak ingin mengingat semua hal buruk yang terjadi. Dengan terus mengelus wajah Kino, dia terus menangis.
“Tidak ada waktu lagi! Apa yang kau lakukan?” seru Fabil dengan terburu-buru
“Aku mengerti”
Terakhir, Stelani memeluk Kino kembali sambil berbisik.
“Kami akan melindungi Kino-niisan. Kami tidak akan membiarkanmu mati”
Stelani menghapus air matanya dan mulai bertekad untuk melindungi Kino. Dia mengambil kedua pisau itu dan mengangguk kepada Fabil tanda bahwa dia siap. Gadis itu mencoba berdiri dengan kekuatannya sendiri.
“Sakit!” gumamnya pelan menahan rasa sakit
Tangan dan kaki kirinya itu terasa sakit sekali. Namun dia tetap memaksakan dirinya sejak dia telah bertekad untuk melindungi Kino kali ini. Stelani berjalan perlahan dengan menyeret kaki kirinya. Sesekali mencoba berjalan normal. Tangan kirinya terasa seperti patah namun dia memaksakan diri untuk menggunakannya juga.
Melihat Stelani yang berjuang, Fabil juga tidak ingin kalah. Fabil yang sudah memutuskan untuk mengeluarkan Kino dari ruangan itu akhirnya mulai menarik napas dalam-dalam. Sebelum melakukannya, dia menatap dua kepala di meja itu.
“Maafkan aku karena tidak bisa menolong kalian. Aku berdoa semoga kalian tenang di surga. Tolong doakan kami berdua dari surga agar bisa menolong Kino-niichan”
Selesai menatap kedua kepala itu, dia mulai mengangkat tubuh bagian atas Kino. Dia menariknya pelan-pelan karena tubuh itu tidak ringan.
“Kino-niichan, bertahanlah!”
Fabil mundur sedikit demi sedikit dan mulai berhasil keluar dari ruangan itu.
“Mau dibawa kemana tubuh Kino-niichan?” tanya Stelani yang menengok ke belakang
“Aku ingin menurunkannya tapi tidak mungkin dengan kondisi kita. Untuk sekarang kita pindahkan ke sebelah dulu. Lalu kita coba turun untuk meminta bantuan”
“Aku mengerti. Cepat pindahkan Kino-niisan!. Aku akan mengawasi tempat ini. Semoga wanita menyeramkan itu tidak kembali”
Fabil kembali menarik tubuh Kino. Jejak darah dari tangan Kino tergambar di lantai tapi itu sudah tidak penting lagi. Dengan darah sebanyak itu di lantai ruangan yang mereka masuki dan luka di tangan kiri Kino yang selebar itu, hal tersebut sudah bisa dipastikan.
Keduanya berjuang bersama dengan tugas masing-masing untuk mengeluarkan Kino dari tempat itu.
******