Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 305. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir: Area Level A bag. 7



Ryou memperhatikan peserta dengan nomor 112 yang berdiri di belakang.


"Aku tidak suka anak itu" katanya dengan tatapan sinis


Piero dan Luna juga melihat peserta itu.


"Tampaknya dia memang kuat. Aku harus mengakui bahwa dia bisa membuat penguji mengeluarkan kemampuannya yang–"


"Uwaaaa!!!!"


-Bruuuk


Ketiganya mendengar ada seseorang yang terlempar keluar arena.


"Hah?!" Ryou terkejut dan melihat ke arena


Dia melihat Xenon menepuk kedua tangannya dan berkata, "Peserta nomor 81 gagal"


Kemudian, dia melihat beberapa orang yang tertidur di arena, lebih tepatnya sulit bangun karena baru saja dikalahkan oleh sang penguji.


"Nomor, 91, 94 dan 98 gagal. Kau yang nomor 90, berhasil meskipun kemampuannu masih harus diasah kembali. Nomor 120 gagal, 133 berhasil"


Ryou terkejut melihat Xenon baik-baik saja. Bahkan dia melempar salah satu peserta keluar arena.


Xenon berjalan sambil memberikan senyumannya pada Ryou. Itu bukan senyum bahagia. Itu senyum meledek.


Ryou kesal melihat wajah sombong dan menyebalkan milik Xenon.


"Dasar guru bar-bar!" gumam Ryou


Luna mendengar hal itu dan bertanya.


"Nya? Ryou mengatakan guru? Jadi benar jadi mengenal penguji itu?"


"Hah?! Aku? Tidak tidak. Kau hanya salah dengar. Aku tidak kenal orang yang bisa melempar orang lain dengan sekali lemparan. Hahaha"


Jelas Ryou berbohong. Lagipula Jessie dan Jene juga mengenal Ryou.


Perhatian Ryou beralih ke peserta itu dan berkata pada dua kenalannya, "Kalian diam di sini dulu. Aku mau ke sana. jangan coba-coba mengikuti. Ini urusan pribadi"


"Ryou? Tung–"


Piero mencoba mengejarnya namun Luna melarangnya.


"Sebaiknya tunggu di sini. Ryou tampak serius"


"......" Piero hanya diam


Dia memperhatikan Ryou yang berjalan menjauhi mereka.


Peserta nomor 112 melihat kedatangan Ryou dan berkata dalam hati.


'Itu orang yang menyarankan Xenon van Houdsen untuk mengambil sihir. Apa yang mau dilakukannya?'


'Kurasa dia punya urusan pribadi denganku. Kita lihat apa yang mau dia katakan padaku dan bagaimana sikapnya'


'Jika aku beruntung, mungkin aku bisa melenyapkannya jika dia bermaksud menghalangiku'


Ryou datang mendekatinya.


"Kau mencoba membunuh Xenon ya?"


Benar-benar penuh dengan emosi, pemirsa. Belum mengenal apapun dan dia langsung mengatakan kalimat yang masuk ke inti masalahnya.


"Jangan membuatku tertawa. Itu hanya ujian dan penguji sendiri yang mengatakan untuk menunjukkan kekuatan kita" jawab peserta itu dengan nada santai


Ryou yang sudah kesal mengepalkan tangannya dan langsung berkata dengan nada sinis.


"Kau mengeluarkan aura membunuh. Kau pikir aku tidak tau?"


"......" peserta itu terdiam


Dia langsung menatap Ryou dingin.


'Bagaimana dia bisa tau? Ah, mungkinkah dia mencuri dengar apa yang dikatakan pengawas ujian tadi?'


Peserta itu tersenyum, "Hah, kau hanya mengatakan itu karena pengawas ujian–"


"Aura membunuh yang keluar saat selesai pendaftaran itu juga milikmu, benar kan?"


-Deg


Peserta itu mulai sinis. Dia mulai berjalan menghampiri Ryou lebih dekat dan memberikan pandangan menakutkan.


Mata melotot yang penuh dengan aura membunuh itu berada di jarak yang begitu dekat dengan Ryou.


"Jangan sembarangan menuduh" katanya


"Aku tidak menuduh. Kau mencoba menebas kepala Xenon. Kau ingin membuatnya seolah-olah itu adalah kecelakaan, benar kan? "


Ryou sama dingin dan sinis.


'Aku tau aku gegabah karena mengatakan itu pada orang yang kemungkinan adalah penyusup dan dalang dari kasus orang hilang di sini'


'Tapi, aku tidak bisa seperti Kino atau Kaito yang tenang dan mencari jawaban dengan bukti'


'Aku harus membaca psikologisnya. Emosi seseorang bisa menunjukkan bahwa dia sedang jujur atau berbohong'


'Selain itu, mengaku atau tidak itu bukan masalah. Kenyataan bahwa dia akan kami curigai mulai sekarang akan tetap sama'


'Aku ingin tau tanggapannya!'


Bukan hanya Ryou yang berpikir serius, rupanya orang itu juga berpikiran hal yang sama seriusnya.


'Bocah sialan ini, beraninya dia mencoba menantangku. Selain itu, dia bisa merasakan aura yang kami keluarkan saat menuju pintu keluar'


'Hanya orang dengan kepekaan sihir level atas atau pemilik insting bertarung di atas rata-rata yang dapat mengetahui aura membunuh kami'


'Aku tidak akan begitu kaget jika kedua pengawas itu tau auraku. Sejak mereka memang kuat, aku sadar aku terlalu ceroboh'


'Tapi dia...peserta biasa yang kelakuannya bahkan seperti bocah ingusan yang baru mengenal dunia sudah berani menantangku'


'Aku harus membungkam mulutnya sekarang'


Peserta itu mau menarik pedangnya kembali namun suara dari belakang akhirnya membuat fokus keduanya lenyap.


"Peserta nomor 122 lulus. Dengan begini ujian seleksi [Area Level A] ruang 2 selesai"


"Total peserta yang lulus berjumlah 20 orang. Kami ucapkan selamat kepada para peserta. Bagi peserta yang gagal, silahkan mencoba kembali tahun depan"


"Terima kasih untuk partisipasinya"


Demikian Xenon memberikan ucapannya. Tidak lama setelah itu, Piero dan Luna berlari ke arah Ryou dan peserta nomor 112.


"Kalian berdua, pengawas ujian meminta kita yang lulus berkumpul di depan untuk memberikan penjelasan mengenai hal selanjutnya" kata Piero


Luna merasakan hal yang tidak biasa.


"Nyaa? Kalian kenapa?"


"Tidak masalah" Ryou melihat ke arah peserta nomor 112 itu dan berkata, "Aku masih belum percaya padamu"


"Dan aku tidak berharap dipercaya olehmu juga"


Ryou berjalan lebih dulu meninggalkan peserta itu.


Xenon yang melihat dari jauh tampak curiga.


'Si bodoh itu pasti mengabaikan pesanku. Sudah kubilang jangan memberitau siapapun dulu. Haduh...'


Wajah lelah Xenon membuat Jessie dan Jene khawatir.


"Kamu tidak apa-apa kan, Xenon?" tanya Jessie


"Aku baik-baik saja, Jessie-sama. Hanya lelah karena seseorang"


'Dan itu adalah anak brutal tidak tau peringatan dari orang lain bernama Ryou' gumam Xenon dalam hati


Tapi tampaknya, kedua saudara kembar itu salah paham.


"Apa karena peserta nomor 112 itu? Dia adalah orang yang harus diwaspadai. Algeria-sama juga sudah memperingatkan kami soal dia dan teman-temannya semalam" bisik Jene


"......" Xenon hanya diam


Bukan sebuah rahasia memang. Pertarungan tadi adalah hal yang cukup sulit.


Xenon terpaksa masuk dalam mode cukup serius hanya demi melindungi dirinya saat menguji salah seorang peserta.


'Aku harus membicarakan hal ini pada Kino dan Kaito. Aku harap mereka lulus'


'Selain itu, Lucas-sama juga menggunakan akhirnya untuk mengawasi semuanya'


'Aku yakin beliau sudah tau apa yang terjadi sekarang ini'


Jessie melihat para peserta yang lain telah berkumpul.


"Xenon, kita harus ke tempat mereka"


"Aku mengerti"


Xenon mulai menghampiri para peserta dan memberikan beberapa pengarahan.


"Selamat kepada seluruh peserta yang berhasil masuk dan selamat datang di Akademi Sekolah Sihir"


"Tahap selanjutnya adalah administrasi dan pengenalan yang akan diakan esok hari pada pukul 8 pagi"


"Setelah ini, kalian boleh pulang dan beristirahatlah"


Seluruh peserta yang lulus terlihat sangat senang. Luna melihat Piero dengan ekspresi bahagia.


"Kita lulus! Kita resmi menjadi bagian dari otoritas wilayah timur!!" katanya senang


"Itu benar. Ini adalah langkah awal yang baik untuk masa depan dan semuanya. Akhirnya aku bisa sampai ke tahap ini" Piero tidak kalah senang dari Luna


Ryou hanya bisa lega namun juga kesal dengan peserta nomor 112 itu.


Seluruh peserta akhirnya keluar dari tempat ujian dengan rasa bahagia.


"Kau bagaimana, Ryou?" tanya Luna


"Aku masih ada sedikit urusan. Kalian duluan"


Ryou mengabaikan keduanya. Akhirnya, kedua orang itu keluar dari ruangan.


Dengan terburu-buru, Ryou berjalan dan menghampiri Xenon serta si kembar.


Dia langsung menarik tangan Xenon.


.


"Kita bicara sebentar"


Xenon terkejut. Mau tidak mau dia mengikuti Ryou. Jessie dan Jene jelas mencoba mengikuti keduanya yang keluar dari ruangan dan mengambil jalan lain.


"Jene, bagaimana ini?"


"Kali ini, kita ikuti mereka"


******