
Di meja bar yang telah menjadi meja makan sementara untuk anak-anak itu, Theo duduk bersama yang lain. Dia memakan kue strawberry yang diberikan Michaela terlebih dahulu. Joel yang masih berdiri di sana memperhatikan pemandangan itu.
Joel mulai mempertanyakan hal kecil yang sejak awal diabaikan olehnya.
‘Luka di wajah bocah kecil itu seperti habis dipukuli. Memarnya masih ada rupanya. Apakah itu juga hasil perbuatan Justin?’
Dia menghampiri anak-anak itu dan melihat hampir semua daging tusuk dan ayam goreng yang dibelinya habis.
“Kalian benar-benar lapar rupanya. Beruntung aku membeli semua ini tanpa harus menunggu makanan berat yang lama itu. Ahahahaha!!” katanya sambil tertawa dan membuat pose tolak pinggang
Tidak lupa, Joel mengembalikan topi milik Theo yang dia pegang di tangannya. Dia meletakkan topi itu kembali ke tempatnya, di atas kepala Theo.
“Apa?” tanya Theo
“Hanya mengembalikan topimu. Kamu ingin aku mengusap kepalamu lagi?” Joel balik bertanya dengan ekspresi seakan meledek Theo
“Hmph!” Theo langsung mengacuhkannya dan kembali makan
Joel yang melihat tingkah Theo hanya bisa tersenyum sambil mempertahankan wajah yang meledeknya. Anak-anak yang masih sibuk dengan makanannya itu tersenyum ke arah Joel sambil mengucapkan terima kasih secara serentak.
“Terima kasih, Joel-ojichan~”
“Oo, sama-sama. Tapi…”
Joel memperhatikan semua anak-anak itu dan melihat kantong belanja berisi pakaian yang dibelinya.
“Aku ingin tau kenapa kalian tidak mandi dan membersihkan diri kalian dulu baru makan?” tanya Joel sambil melihat isi kantong belanjaannya
“Kalau kami bertujuh mandi terlebih dahulu nanti yang lain harus menunggu orang tersebut selesai. Lagipula kau tau kalau sejak awal kami ini kotor, kan? Sudah sangat terlambat untuk memikirkan soal kebersihan” jelas Theo dengan nada datar sambil mengunyah makanannya
Joel tidak mengatakan apapun. Dia merasa seperti sudah menyinggung hati Theo. Tentu saja sejak awal dia tau kesulitan apa yang mereka rasakan. Tapi tidak disangka bahwa pertanyaan kecil bisa membuat suasana kembali menjadi sangat asing untuknya dan anak-anak itu.
“Di rumah kalian itu masih ada air bersih untuk ke toilet, kan?”
Joel benar-benar mengabaikan kenyataan bahwa mereka semua sedang makan.
“Oi! Dimana sopan santunmu, paman mesum! Kami sedang makan. Jangan membicarakan toilet pada kami, dasar bodoh!” teriak Theo
“Aku tidak mengatakan hal aneh, kan? Hanya bertanya soal toilet kalian” Joel berusaha membela diri
“Tidak semua orang nyaman dengan pertanyaan bodohmu itu termasuk aku! Selain itu jangan merusak nafsu makan anak-anak ini!
“Ma–maaf, maaf. Aku hanya bertanya”
“Cih! Dasar orang tua tidak sopan!” gerutu Theo sambil memakan satu daging tusuk yang tersisa
“Ya sudah, aku akan menunggu kalian selesai makan saja”
Theo terdiam dan menjawab pertanyaannya, meski dia merasa sangat kesal karena Joel tidak memperhatikan situasi mereka sekarang.
“Di bangunan tua tempat kami tinggal masih ada air untuk dipakai. Kurasa itu air tanah karena tidak begitu bersih tapi itu cukup untuk kami. Meskipun begitu kami tidak bisa menggunakan air itu untuk minum”
“Begitu”
Joel jadi sedikit penasaran dengan cara mereka hidup selama ini saat berada dalam bayang-bayang Justin. Dia mengambil kursi dan duduk di dekat mereka. Michaela dan anak-anak lain hanya fokus pada makanan dan sup mereka tanpa memberi komentar.
Joel bertanya pada Theo tentang banyak hal.
“Lukamu di wajahmu itu tidak mau kau obati?”
“Ini tidak seberapa. Sama seperti hal yang dilakukan gorilla itu pada kami jadi tidak masalah”
Theo menjawabnya dengan sangat santai. Menurutnya, mungkin itu adalah respon terbaiknya sejak pria besar di sampingnya itu pasti sudah mengetahui seperti apa hidup sulit yang dijalani dia dan semua teman-temannya itu.
“Kau hanya ingin basa-basi saja, kan? Aku tidak keberatan kalau kau bertanya hal lain lagi. Aku yakin kau sendiri sebenarnya sudah mengetahui banyak hal. Hanya saja karena tidak berani melawan gorilla itu, jadi kau memilih untuk diam. benar begitu, kan paman mesum?”
-Jleeb
Tebakan jitu dari Theo. Seakan tertusuk pisau lainnya, Joel jadi menunjukkan wajah panik.
“A–aku hanya mencoba untuk membuatmu tidak kaku lagi” jawab Joel gugup
“Hmm…yah terserah kau saja, paman mesum. Haamph” Theo merespon sambil memakan daging terakhir di tusukannya
“Hei kau, bisa tidak berhenti memanggilku paman mesum! Namaku Joel! Selain itu, aku adalah atasan Arkan dan pemilik tempat ini”
“Bicara soal tempat ini, apa kau tidak merasa aneh sejak pagi sampai siang tidak ada satu orang pun yang datang?” Theo bertanya dengan serius
“Kurasa akibat informasi tentang kejadian semalam sudah membuat beberapa pelangganku tidak datang ke tempat ini dulu beberapa waktu. Selain itu…”
Joel melihat lantai bar yang masih penuh dengan warna merah serta pintu dan dinding yang rusak dengan wajah sedih.
“Aku tidak mungkin membiarkan gosip buruk tentang tempat ini semakin menyebar” lanjut Joel dengan wajah sedihnya
Theo melihat Joel dengan wajah datar, lalu setelah selesai mengunyah daging di mulutnya dia bertanya pada Joel.
“Nee, paman mesum. Apa kau yakin basa-basinya sudah selesai?”
“Eh?”
“Kau mau bertanya tentang bagaimana hidup kami dan apa yang akan kami lakukan setelah ini, kan?”
-Deg
Sebuah pertanyaan yang sangat tidak diduga. Joel mencoba untuk mencari topik pembahasan santai sebagai pembuka sebelum bertanya hal pribadi lainnya. Akan tetapi, anak laki-laki di depannya justru lebih pintar dari dugaannya.
Sambil menelan ludah, Joel melihat Theo dengan tatapan serius.
“Aku benar-benar ingin tau…bukan, aku sudah tau seberapa buruk lingkungan tempat tinggal kalian dan seberapa buruk perlakuan yang kalian terima. Aku juga tau aku mungkin sudah terlambat untuk menolong kalian sekarang. Tapi, aku berharap kalian memikirkan hal ini baik-baik”
“Mengenai apa?”
“Setelah Justin mati, kalian bebas melakukan apapun. Aku ingin tau apakah kau dan anak-anak ini sudah memiliki rencana untuk kedepannya atau tidak”
Theo terdiam dan berpikir sejenak. Ini tidak seperti dia tidak ingin melakukan hal lain setelah Justin mati. Membalas perbuatan Justin dan lepas dari bayang-bayang ketakutannya adalah impian dan tujuan Theo. Namun, setelah impian dan tujuannya itu terwujud maka dia harus memikirkan langkah selanjutnya.
Theo melihat anak-anak kecil di depannya dengan tatapan sendu.
“Paman mesum...”
“Hmm?”
“Sebenarnya aku masih belum memikirkan hal lain. Tapi yang jelas, untuk saat ini aku dan anak-anak ini memiliki keinginan yang sama. Aku hanya ingin kami semua berkumpul kembali. Aku ingin berkumpul lagi dengan Stelani dan Fabil. Aku ingin bertemu lagi dengan Kino-nii dan semuanya”
“Ketika semua kembali dengan selamat, aku akan memikirkan banyak hal bersama. Aku akan memikirkan apa yang akan kami lakukan ke depannya. Karena itu aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang, paman mesum. Tapi, aku yakin setelah semua selamat aku bisa memikirkan jawabannya”
Theo menunjukkan tekad dan keyakinan yang kuat pada sorot matanya. Joel yang melihat itu yakin bahwa anak kecil di depannya ini memiliki keinginan yang kuat.
“Aku mengerti. Ketika saat itu tiba, aku akan bertanya hal yang sama lagi padamu”
“Itupun kalau kau ingat, paman mesum”
“Aku sudah bilang panggil aku Joel. Setidaknya Joel-ojichan seperti yang dilakukan oleh anak-anak manis itu. Nee~”
Theo kembali memberikan komentar pedasnya.
“Senyumanmu itu tidak enak dipandang. Kau benar-benar seperti orang mesum merangkap pedofil. Jangan melihat Michaela dan yang lain seperti itu!”
“Dasar tidak sopan!”
Semua anak-anak lain hanya melihat kedua orang yang lebih dewasa dari mereka itu bicara sambil menikmati sup hangat.
“Mereka membicarakan sesuatu, Michaela. Kau mengerti apa yang mereka bicarakan?” bisik seorang anak kecil itu pada Michaela sambil menikmati supnya
“Aku hanya mengerti mereka membahas sesuatu dengan nama Kino-niichan juga di dalamnya”
“Aku ingin bertemu Kino-niichan. Tentu saja ingin bertemu Stelani-neechan dan Fabil-niichan” bisik yang lain sambil memegang gelas berisi minuman segar
“Aku juga. Nanti kita makan kue lagi bersama Kino-niichan dan yang lain. Theo-niichan juga harus diajak kali ini”
“Benar! Ryou-niichan juga boleh diajak, kan? Dia adik Kino-niichan”
“Aku menyukai Ryou-niichan juga karena dia mengatakan namaku cantik seperti yang Kino-niichan katakan padaku” Michaela tersenyum merona saat mengatakannya
“Kau benar, Kaito-niichan juga baik dan memberi Theo-niichan uang. Nanti kita pergi makan bersama mereka juga ya” kata seorang anak lainnya
“Kau benar. Kalau semua kembali, kita makan bersama seperti ini juga ya” kata Michaela sambil tersenyum
Tampaknya bisik-bisik yang dilakukan oleh anak-anak itu lebih menarik dibandingkan obrolan serius milik Theo dan Joel.
Melihat keenam anak-anak itu berbisik-bisik dan terlihat seru sekali, akhirnya keduanya pun penasaran dengan topik pembahasannya.
“Kalian sedang berbisik-bisik tentang apa?” tanya Theo
“Apa kalian merahasiakan sesuatu dari Joel-ojichan ini?” Joel bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri dan tersenyum lebar
“Kami sedang bicara soal apa yang akan kami semua lakukan nanti setelah Kino-niichan dan semua kembali” jawab Michaela sambil menunjukkan wajah senang
“Eh?” Theo terkejut
Bukan hanya Theo tapi Joel juga kaget mendengarnya.
‘Aku baru bicara dengan bocah kecil ini tentang rencananya kedepan. Siapa yang mengira anak-anak ternyata jauh lebih peka dari orang dewasa. Benar-benar menakjubkan!’ gumamnya dalam hati
Joel yang penasaran akhirnya bertanya sambil tersenyum kepada anak-anak itu.
“Nee, Michaela…memangnya apa yang mau kau lakukan setelah semua kembali?”
“Aku dan yang lain ingin makan bersama dengan Kino-niichan dan semuanya!!”
“Ki–Kino-niichan?”
Joel sempat mengingat nama yang disebutkan oleh anak-anak itu.
‘Salah satu dari orang yang ‘diambil’ oleh pengelola pasar gelap itu ya. Sepertinya mereka memang menyukai anak bernama Kino itu. Aku jadi penasaran seperti apa anak itu’ pikirnya dalam hati
Joel bertanya kembali pada anak-anak itu.
“Kalian benar-benar menyukai Kino-niichan itu ya?”
“Kami menyukai Kino-niichan! Dia baik dan senyumnya manis~” puji seorang anak kecil dengan senyum merona
“Heee~lalu lalu apa lagi?” Joel semakin penasaran dengan reaksi anak-anak itu
“Kino-niichan memberi kami uang 500 Franc saat di altar”
“Li–Lima ra…500 Franc?!” dan sekarang Joel terkejut mendengarnya
“Benar, 500 Franc. Selain itu kami juga makan di restoran keluarga dan memesan semua makanan”
“Aku ingin makan dengan Kino-niichan lagi. Tapi, kali ini aku ingin Theo-niichan juga ikut!” kata Michaela dengan sangat antusias
“Michaela…” kata Theo dengan nada sangat pelan
Michaela yang sangat antusias menyebutkan semua hal yang ingin dilakukannya kepada kedua orang itu.
“Aku ingin bisa berkumpul dengan Stelani-neechan dan Fabil-niichan, lalu makan bersama dengan Kino-niichan dan Ryou-niichan dan Kaito-niichan dan…”
“Aku mengerti. Intinya kau ingin bersama mereka setelah ini, benar begitu kan?” tanya Joel dengan senyum
“Benar. Sebenarnya semua juga ingin melakukannya bersama. Kami ingin mereka semua kembali dengan selamat dan bisa berkumpul dengan kami lagi”
Michaela yang terlihat bersemangat kembali menjadi sedikit sedih. Semua anak-anak lain juga akhirnya menjadi sedih.
Di saat semuanya terlihat bersedih tiba-tiba, Theo mulai menarik napasnya dan tersenyum.
“Paman mesum…”
“Ada apa?”
“Kurasa aku sudah menemukan hal yang ingin aku lakukan setelah ini”
Joel diam mendengarkan. Dia sepertinya sudah mengetahui apa yang ingin dikatakan oleh anak laki-laki itu dengan senyumnya.
“Kurasa aku ingin sekali mencoba seperti apa rasanya bisa makan bersama seperti sebuah keluarga”
“……!!!” Joel terkejut mendengarnya
“Selama ini aku memang selalu melakukannya dengan mereka. Namun kami tidak pernah bisa merasakan rasa hangat yang utuh karena selalu ada bayangan kesedihan dan ketakutan saat hari esok tiba. Sekarang, sumber ketakutan dan kesengsaraan itu telah hilang. Aku juga…sudah menemukan orang yang sangat baik dan aku ingin sekali membalas kebaikannya. Aku…ingin bisa makan bersama dengan orang itu dan semuanya dalam sebuah meja makan yang hangat”
Terdengar seperti keinginan biasa yang sederhana sekali. Tetapi bagi Theo, hal itu adalah hal luar biasa yang bahkan seumur hidupnya mungkin tidak akan pernah dia rasakan. Itulah yang dipikirkannya dulu. Namun, akhirnya tiba saat dimana dia mengatakan keinginan kecilnya.
“Aku harap kalian bisa berkumpul dengan anak bernama Kino-niichan itu dan makan bersama di meja makan yang hangat” Joel mengusap-usap kepala Theo kembali dengan senyuman
******