Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 263. Latihan yang Hampir Berakhir



Kino menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkan sihir skala besar.


[Water Art: Big Wave Tsunami]


“Aku mohon pada kalian untuk berhenti sekarang”


Air sungai yang ada di belakangnya mulai terangkat ke atas dan tidak ada yang menyangka bahwa Kino akan langsung menurunkan semua ombak air sungai yang terangkat itu ke arah semuanya.


Ryou yang masih menyerang dan Kaito yang berlari untuk menyusul Ryou berhenti dan melihat bayangan di dekat mereka berubah gelap.


Begitu menengok, keduanya begitu syok.


“Hah?!”


“Ki–Kino…”


Ombak yang hendak diturunkan itu tampaknya siap menyapa semuanya. Dari balik dinding balok tingginya, Xenon merasakan getaran yang tidak kalah hebat.


“Aku tidak percaya mereka bisa sampai sejauh ini”


Dinding balok itu dihilangkan oleh Xenon dan ketika dia melihat apa yang menyambutnya di depan, dia langsung memasang wajah datar.


“Ah…”


Kino tampaknya sudah ingin menghentikan semua itu sehingga dia tidak segan-segan menurunkan ombak airnya dan berubah menjadi tsunami.


“Sebentar….Kino, jangan…brulp…brulp…”


Sebelum Ryou selesai bicara, airnya sudah menyapu bersih ketiga orang tersebut. Kecuali Kino, ketiga orang itu akhirnya basah dan harus menerima sambutan hangat dari air sungai dalam jumlah banyak.


Xenon sepertinya tidak ingin lagi melanjutkan ini sehingga dia menggunakan cara terakhir.


[Magic Jammer]


Semua sihir hilang, bahkan air yang masih terlihat seperti tsunami datang tiba-tiba menyurut.


“Airnya…surut?” Kino terlihat terkejut


Dari kejauhan, Ryou yang baru selesai dengan drama tenggelamnya langsung berdiri dan dengan cepat dia berlari ke arah sang kakak.


“Kino!! Kino, kau baik-baik saja? kau tidak apa-apa? Kakimu sakit, tidak?!”


“Ryou, aku baik–”


“Xenon! Aku masih belum memaafkanmu!” teriak Ryou yang masih memegang erat sang kakak


Kaito mencoba mengeringkan pakaiannya, sedangkan Xenon melihat hasil perbuatan tiga remaja dunia lain itu.


‘Sihir air Kino cukup kuat. Tampaknya itu juga sihir Water Art. Benar juga, bukankah dia terluka?’


Xenon langsung berlari mendekati Kino. Baru berlari beberapa langkah, sebuah pedang siap ‘mencium’ leher Xenon dengan tatapan mata penggunanya yang dingin.


“Masih ingin mengadakan pembantaian sepihak lainnya atau ini akhir dari pertarungan berkedok latihan?” Kaito menatap sinis Xenon


“Kaito-san!”


“Mundur Kino, dia sudah tidak bisa lagi dianggap teman. Kau masih berhutang padaku karena melukai…tunggu sebentar” Ryou menengok ke arah Kino dan kakinya. “Kino…kakimu…”


“Kaki yang terluka sudah sembuh, jangan khawatir. Kaito-san, turunkan pedangnya”


“Benar, Kaito. Turunkan pedangmu sekarang dan biar aku ucapkan selamat karena kalian sudah berhasil menguasai sihir elemen kalian sendiri”


Ketiga remaja dunia lain itu hanya bisa diam tanpa berkata apapun. Dengan pakaian basahnya, Xenon duduk di tanah dengan tiga remaja itu. Dua di antara mereka memasang wajah sinis dengan pedang sungguhan dan pedang bambu di tangan.


“Aku minta maaf karena sudah kelewat batas. Maafkan aku” Xenon menundukkan kepalanya


“Kau kira kau bisa minta maaf dengan mudah seperti itu setelah nyaris membuat kami mati dan melukai kakakku?!”


“Ryou…” Kino berusaha menenangkan adiknya


Kaito memang masih sedikit kesal dengan perbuatan Xenon, tapi dia lebih tertarik pada luka di paha Kino yang tertutup.


“Kino, kau bilang lukamu sudah tertutup. Bagaimana bisa?”


“Aku…”


Kino menjelaskan semuanya kepada mereka dan wajah ketiga orang yang mendengarkan berubah. Dari yang datar kemudian sedikit terkejut, menjadi semakin terkejut hingga akhirnya mereka syok sampai membuka mulutnya.


Xenon langsung berdiri dan menunjuk wajah Kino.


“Kau bisa menggunakan sihir penyembuhan dari sihir elemen?! Kenapa tidak bilang padaku sejak awal!”


“Sihir…penyembuhan? Apa itu?”


“Astaga, demi nenekku yang ada di surga…kalau begini, aku tidak perlu khawatir menghajar mereka bertiga…”


“Kau bilang apa tadi, hah?!” Ryou langsung berdiri dan menunjuk Xenon dengan pedang bambunya


“”Haa~begini anak muda. Sihir elemen kalian itu masuk ke dalam golongan sihir bernama [Spiritual Art Element]. Semua orang memiliki paling tidak satu sampai dua sihir seperti ini dan sihir tersebut tidak bisa dimiliki oleh orang lain”


“Apa itu? Persingkat penjelasanmu!”


Xenon menjelaskan secara rinci.


“Ingat sihir yang kugunakan? [Earth Art: The Ruler of Pebbles] dan [Earth Art: Bottomless Shifting Sand]? Itu adalah sihir yang masuk dalam [Spiritual Art Element]. Dasar dari teknik itu adalah emosi, kekuatan tekad, keinginan dan hal-hal yang berhubungan dengan mental serta perasaan”


“Dua sihir yang kupakai tadi aku dapatkan saat aku pertama kali berlatih sendirian seperti orang gila di hutan pribadi milik keluaragaku. Perlu diketahui, kedua sihir itu hanya aku yang memilikinya”


“Dengan kata lain, tidak ada orang selain aku yang memiliki sihir [Earth Art: The Ruler of Pebbles] atau [Earth Art: Bottomless Shifting Sand]. Karena itu, semua sihir yang memiliki kata belakang [Art] itu bersifat khusus”


Sampai di sini mereka mengerti maksudnya. Kino memperjelas kembali.


“Jadi, sihir [Water Art: The Ruler of Waterfalls] yang semalam aku keluarkan juga hanya dimiliki olehku sendiri?”


“Benar. Sihir Ryou yang barusan juga. Kalau tidak salah [Fire Art: Prominence Flame], benar kan? Itu tercipta dari emosi kemarahan Ryou. Karena itu, hanya dia seorang yang memilikinya”


“Tidak ada [Spiritual Art Element] yang sama di dunia sihir ini. Hanya ada satu dan hanya dia seorang pemiliknya”


“Karena itu, aku kaget melihat kalian memiliki begitu banyak [Spiritual Art Element] yang muncul. Kalian pasti memiliki keterikatan yang kuat”


Xenon melihat ke arah Kino dan menundukkan kepalanya.


“Maaf sudah melukaimu, Kino. Tapi akhirnya kau tau kalau orang dari dunia lain itu memiliki potensi yang belum pernah aku lihat”


“Tidak masalah, Xenon-san. Berkat dirimu, kami berhasil mengerti semuanya. Jika bukan karena Xenon-san, kami mungkin tidak akan mengerti cara kerja sihir itu sendiri”


“Aku tau kau memang baik, Kino” Xenon tersenyum pada Kino


Tapi, tampaknya senyuman Xenon itu tidak memiliki banyak pengaruh untuk Ryou. Dia masih kesal dengan Xenon dan serangannya pada Kino.


“Kau kira penjelasanmu itu akan membuatku memaafkanmu? Aku masih belum puas jika tidak membuatmu minta maaf pada Kino sampai aku memaafkanmu!”


“Kau bercanda ya! Kakakmu saja sudah memaafkanku! Lagipula, aku adalah gurumu! Berani sekali membentakku seperti itu, murid kurang ajar!”


Bersiap untuk adu mulut ronde ketiga. Ryou memulai pembukaan ronde.


“Guru gadungan dan penguji gadungan itu apa bedanya! Tidak ada guru di dunia ini yang nyaris membuat murid barunya mati menjadi daging tusuk segar!”


“Kalau bukan karena tindakanku, mustahil kalian bisa mendapatkan sihir dengan jenis [Spiritual Art Element]. Kalian tidak paham betapa langkanya sihir jenis itu, hah!”


“Persetan dengan langka! Kau hanya menggunakan alasan untuk menghajar kami!”


“Mau aku kubur hidup-hidup dalam tanah?!”


“Mau aku bakar hidup-hidup sampai matang?!”


“……” Kino dan Kaito hanya menyaksikan keduanya


Dengan demikian, berakhirlah sesi latihan ala Sparta dengan hasil memuaskan untuk mereka berempat.


Setelah melakukan drama selama beberapa menit, Ryou dan Xenon akhirnya selesai dengan perang ronde ketiga mereka.


“Kalian berdua sudah selesai?” tanya Kino


“Sudah…selesai…” ucap Ryou


“Terima kasih sudah…mau bersabar sedikit” Xenon menambahkan


“Bagus. Sekarang, kami harus melakukan apa lagi, Xenon? Sihir ini memang sudah didapatkan, tapi kami belum sepenuhnya bisa menguasainya”


“Hmm….latihan lain sepertinya akan lebih membuat kalian terbiasa. Kalau begitu, kita lakukan seperti yang tadi sekali lagi. Mumpung kalian juga belum bisa mengalahkanku”


Tampaknya, pembantaian babak kedua berkedok latih tanding akan kembali dilakukan.


******


Di tempat lain, Mark berlari bersama anggotanya untuk kembali ke Akademi Sekolah Sihir.


“Mark-sama, Earl Midford mungkin telah mengetahui hal ini juga”


“Aku tau itu, tapi tidak akan membuatku takut. Selain itu, aku yakin orang lain di belakang Midford akan menunjukkan dirinya besok. Orang yang dimaksud oleh beastman itu” jawab Mark


Mark mengingat hal yang terjadi beberapa waktu lalu sebelum dia melanjutkan perjalanannya kembali.


***


Mark yang saat itu berhasil menusuk dan membunuh beastman mulai menggali informasi.


“Jadi, karena dia sudah berada di bawah kendaliku…aku ingin mendengar apa yang mayat ini bisa sampaikan kepadaku”


Mark mulai melihat ingatan di dalam diri beastman tersebut. Di dalam sana, hanya ada ingatan yang sama seperti yang dilihatnya di tempat asing semalam.


“Tempat ini…tempat pembunuhan itu. Jadi dia ada di sana dan membunuh mereka juga”


Dia kembali melihat ingatan lain, ada seseorang yang dia kenal dan orang lain dengan jubah tertutup. Kali ini, tidak terlihat siapa dia.


‘Itu…Earl Midford. Tapi, dengan siapa dia bicara? Orang ini ada di sana dan bertindak sebagai saksi mata. Tapi, tampaknya dia belum bisa menunjukkan ingatan yang berguna untukku’ gumamnya dalam hati


Baru dibilang begitu, Mark mendengar sebuah percakapan unik yang tidak biasa.


“Dalam ujian masuk yang akan diadakan, aku ingin kalian pergi dan menyusup ke dalam Akademi Sekolah Sihir. Tujuannya adalah untuk merebut Artifact dan membunuh ketua Dewan Sihir saat ini yaitu Duke Xelhanien”


“Baik, kami akan menjalankan perintahmu. Selama kalian benar-benar bisa menjamin kesejahteraan ‘bangsa kami’ seperti janjimu”


“Tenang saja. Begitu keluarga kerajaan dan semua bangsawan yang setia padanya mulai runtuh dan hancur, kami yang akan menguasai semuanya”


Percakapan itu hanya terdengar sampai di sana. Salah satu suara itu adalah suara Earl Midford dan lainnya tidak diketahui.


“Begitu rupanya”


***


Mark selesai melihat semua memori dari mayat itu dan memasukkannya ke dalam senjata Artifact miliknya. Dia kembali dan memasukkan ketiga golem itu juga. Semuanya lenyap bagaikan tertelan senjata sihir tersebut.


“Mark-sama!!” teriak semua anggota divisi miliknya


Begitu mereka mendekati kapten mereka, Mark dengan mata merah menyalanya mulai terlihat dingin dan serius.


“Kita kembali sekarang. Tampaknya pengkhianat itu senang bermain-main dengan akademi”


Begitu mendengar ucapan sang kapten, mereka akhirnya kembali. Matahari mulai tinggi dan pasukan Divisi Khusus milik Mark berhasil sampai di akademi siang harinya.


******