
Hari sudah berubah menjadi sore dan akhirnya matahari hampir tenggelam. Di hari itu, semua tampak begitu banyak berubah.
Terlalu banyak hal rumit yang terjadi pada setiap orang.
Rexa dengan masalah adik dan tunangannya, Xenon dengan masalah kakak dan hubungannya, Dewan Sihir dengan pekerjaan dan kertas yang menumpuk, ketiga remaja dunia lain yang harus kuat menahan emosi karena sikap Xenon.
Rebellenarmee juga memiliki beberapa masalah mereka. Namun, hal tersebut tidak begitu terlihat karena mereka memiliki banyak rahasia untuk saat ini.
**
Di tempat Kaito dan kedua kakak beradik itu berada sekarang, bersama dengan Xenon dan si kembar, mereka berada di kantin mewah di dalam akademi.
Suasana hiruk pikuk keramaian semua murid yang makan di sana terasa begitu ramai.
Matahari belum terbenam saat itu, namun ada alasan kenapa mereka memilih pergi ke sana untuk makan.
Alasan yang utama adalah menenangkan Xenon yang masih syok dan alasan kedua adalah untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, misalnya mendengar berita tidak menyenangkan dari para murid yang bisa bergosip seenaknya di lorong koridor.
Meskipun sebenarnya tidak ada jaminan bagi mereka untuk menghindari gosip dan berita yang beredar di kantin tersebut, namun keramaian itu bisa menyamarkan suara dari orang-orang yang sedang bergosip.
Jessie dan Jene duduk di dekat Xenon dan mengambilkan makanan untuknya.
“Xen, ini makan malam untukmu. Kita makan lebih cepat agar kau bisa istirahat” sambil memberikan makanan, Jene menepuk pundak Xenon yang membuatnya tersadar kembali. “Ini, makanlah”
“Terima kasih, Jene…-sama”
Tampak dengan jelas bahwa Xenon masih tidak bisa memfokuskan pikiran dan kinerja otaknya.
Jessie memberinya minuman hangat, “Xenon, minumlah dulu”
“Terima kasih banyak, Jessie-sama. Aku baik-baik saja, sedang tidak haus”
Ketiga remaja dari dunia lain yang duduk berhadapan dengan tiga anggota divisi itu mengingat apa yang terjadi sebelum mereka memutuskan untuk pindah tempat.
***
Sebelumnya, di lorong koridor…
Ini terjadi saat Kino baru saja tiba setelah bicara dengan Rexa. Ryou menceritakan apa yang terjadi dan alasan kenapa Xenon bisa menjadi syok seperti itu.
“Rexa tadi ada di sini dan memberitau Xenon bahwa dia dan gadis sombong itu bukan lagi tunangan karena dia sudah pergi ke rumah gadis itu bersama Lucas dan Mark. Kira-kira begitu”
Jelas hal itu membuat Jessie dan Jene bukan hanya syok, melainkan tidak percaya dan pucat.
Melihat hal itu, Kino yang baru saja bertemu dengan Rexa merasa bahwa Xenon harus bisa menerima semua hal itu.
‘Xenon-san, Rexa-san melakukan ini untukmu. Aku harap kalian bisa saling mengerti. Setelah Rexa-san mendengar semuanya dariku, aku harap kalian bisa berbaikan’
Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Kino.
Jessie memegang tangan sang tunangan sambil bertanya, “Xenon, apa itu benar?”
“......” Xenon terdiam
Melihat respon diam darinya menunjukkan bahwa itu kenyataan.
“Tapi, apakah Vexia-sama mengetahuinya?” tanya Jene
“Rexa-sama mengatakan bahwa dia telah memberitau Marquis van Houdsen. Aku..aku sama sekali tidak tau bagaimana harus…” sebelum kalimatnya selesai, Xenon menutup mulutnya dengan satu tangan. Seakan tidak sanggup berkata-kata, dia menjadi bisu kembali.
Situasi rumit miliki para bangsawan itu membuat Ryou sendiri kesal dan berbisik ke arah sang kakak.
“Bisa aku jadi jahat dan berkata kasar untuk menyadarkan mereka?”
“Jangan begitu, Ryou.” jawab sang kakak sambil berbisik
“Tapi aku sudah muak dengan drama kerajaan ini. Apalagi semua hal tentang bangsawan sangat dibesar-besarkan”
“Kita harus memahami situasi Xenon-san, Ryou. Tidak boleh sampai membuat semua hal ini semakin sulit”
“Aku paham maksudmu itu, Nii-san. Tapi aku sudah tidak tahan. Beri aku pilihan sekarang. Mau aku yang mengeluarkan kalimat jahatku atau kau yang lakukan sesuatu dengan drama di sana?”
Kali ini, Kino dibuat sulit dengan pilihan dari sang adik. Terlepas dari semua itu, wajar jika Xenon dan si kembar menjadi syok.
Hubungan rumit itu sudah ada sebelum ketiga remaja dari dunia lain itu tiba. Setidaknya, begitulah setting tempat itu.
Sempat berpikir hal yang mungkin bisa membantu, Kino melihat di arah lorong depan, beberapa siswa dan siswi lewat.
‘Mereka…sedang membicarakan sesuatu’ pikirnya
Melihat kondisi di sekitar mereka saat ini, tempat hening mungkin bagus untuk saat ini.
“Bagaimana kalau kita pindah ke tempat yang lebih sepi?” saran Kino
Kaito merespon, “Aku setuju, itu bisa menenangkan kita”
Melewati koridor, mereka memutuskan untuk mencari ruangan yang mungkin bisa dianggap sepi saat ini. Tapi itu mustahil.
Kaito melihat jam sakunya saat itu dan waktu saat itu menunjukkan pukul 03.55, yang artinya baru mau masuk jam empat sore.
“Sudah mau jam empat. Tempat mana yang kira-kira sepi namun suasananya nyaman dan teduh?” tanya Kaito sambil memasukkan jam sakunya kembali
Jene menjawab, “Di taman cukup sepi namun area tersebut terbuka”
“Jam segini, para murid ada yang sudah pulang namun ada juga yang masih mengikuti pelajaran”
“Perpustakaan juga cukup ramai. Kelas yang tidak terpakai biasanya dikunci. Karena hari ini adalah hari penerimaan jadi para anggota divisi dibebaskan dari kurikulum dan diminta berpatroli”
“Tidak akan mudah menemukan tempat sepi dan nyaman. Bahkan jika sampai ketauan oleh anggota lain, aku dan Jessie mungkin akan diminta untuk berpatroli juga dan mengurusi administrasi asrama bagi siswa baru”
Ryou berpikir, “Hmm~kalau begitu…kantin kalian ramai tidak?”
“Kantin?”
“Kurasa tempat itu lebih baik. Ini sudah sore, aku yakin tidak akan seramai itu. Di sana Xenon juga bisa makan sesuatu atau minum minuman hangat untuk menenangkan diri”
“Aku sempat melihat spot yang cukup jauh dari keramaian saat kalian membawaku ke sana pertama kali. Kurasa kita bisa coba ke sana”
“Makanan lezat sambil mengobrol kadang bisa membuat hati lebih tenang dan Xenon membutuhkan itu”
Xenon mencoba mengembalikan dirinya sendiri dan menjawab, “Aku tidak lapar”
“Kau tidak tapi aku lapar. Utamakan perutku daripada masalahmu, mengerti?” Ryou menjawab seenaknya
Tentu saja semua itu bohong. Baik Kino, Ryou dan Kaito tidak memiliki nafsu makan, rasa lapar ataupun kenyang.
Semua itu dilakukan karena dia mementingkan mental Xenon saat ini.
‘Di Jepang, orang yang mengalami masalah biasanya pergi ke kafe atau semacamnya, memesan kue dan makan di sana sambil mengobrol’
‘Kantin tempat ini seperti kantin mewah special grade di Oxford University, lebih berkelas dibandingkan kafe di Jepang’
‘Setidaknya selama spot kosong dan jauh dari keramaian bisa kami dapatkan, Xenon bisa menenangkan dirinya dan kami juga bisa membahas banyak hal di sana’
‘Hanya ini pilihan terbaik’
Begitulah yang direncanakan oleh Ryou dan tampaknya sang kakak memahami hal itu.
***
Begitulah akhirnya mereka memilih tempat itu.
Awalnya, seperti dugaan Ryou di awal, kantin itu sangat sepi. Hampir tidak ada murid yang makan di sana.
Mereka berenam masuk dan duduk di kursi paling pojok, terpisah dengan bagian tengah dan depan.
Posisinya saat ini, meja mereka dekat dengan dinding dan berada di dekat tiang besar di sana.
Dilihat dari posisinya, cukup tertutup dan cocok untuk menghindari sorot utama.
Satu jam pertama setelah sampai, yang dilakukan oleh mereka adalah mengambil makanan dan makan.
Akan tetapi Xenon sama sekali tidak menyentuh apapun. Saat Kino mengambilkan teh hangat dengan tiramisu, Xenon mau sedikit merespon.
“Xenon-san, ini akan membantumu sedikit lebih baik”
“Terima kasih, Kino”
Xenon mau memakannya sampai habis. Kemudian setengah jam selanjutnya, kantin itu mulai ramai. Hingga akhirnya keadaannya seperti sekarang.
Sekarang, Xenon kembali tidak bersemangat.
Ryou yang masih sibuk dengan parfait vanilla dan madunya menatap lirih.
“Xenon, kalau kau seperti itu…kau hanya akan membuat dirimu tersiksa”
“Aku hanya tidak percaya Rexa-sama bisa sampai sejauh itu”
“Sebelumnya aku sempat berpikir bahwa kakakmu itu memiliki kelainan jiwa karena memilih gadis arogan, tidak sopan dan sangat cerewet seperti Misha itu. Tapi aku senang dia lebih jenius dari yang aku kira”
“Kau tidak mengerti!” Xenon menaikkan sedikit nada bicaranya dan melihat ke arah Ryou. Dia serius sekarang. “Rexa-sama bisa membuat banyak orang repot dengan keputusannya itu”
“Tapi di sisi lain dia berusaha melindungi apa yang terbaik untuknya”
“Apa?”
“Jangan pura-pura bodoh, Xenon. Rexa jelas mengatakan bahwa dia melakukan itu untuk melindungi kehormatanmu. Jika kau menganggap itu tidak berguna, maka bagiku…kaulah yang punya kelainan jiwa”
******