
“Atau aku akan memperpanjang sewa tempat ini sampai Kino benar-benar sembuh” Kaito menyambung kalimat Kino
“……!!!” semua orang terkejut mendengarnya
Kino sempat tidak menyangka bahwa Kaito akan mengatakan hal seperti itu. Kejadian di bar tampaknya tidak begitu merubah sifat Kaito yang baik.
“Setelah itu, aku akan mengambil permata ingatanku dan pergi dari sini” lanjut Kaito
Kino melihat Kaito dan memberinya senyuman. Mendengar ucapan Kaito, Joel langsung terlihat senang dan berkata pada anak-anaknya.
“Lihat, apa Joel-papa katakan. Papa berhasil melakukan sesuatu, kan? Kalian masih bisa bersama mereka
Sontak senyum lebar terlihat dari anak-anak itu. Theo langsung memeluk Kaito dengan erat setelah itu dia berlari memeluk Kino. Ketiga anak-anak itu memeluk Kino dengan senang.
Yang membuat khawatir adalah kalimat yang dikatakan oleh anak-anak itu.
“Kino-niisan tidak perlu cepat sembuh. Kami akan datang merawatmu”
“Hah?” Ryou terkejut mendengarnya
“……” Kino dan Kaito terdiam dengan ekspresi wajah datar
“Kalau Kino-niisan cepat sembuh, nanti kami akan cepat berpisah denganmu. Kami akan merawatmu dengan baik tapi kami akan merawatmu agar Kino-niisan tidak sembuh dengan cepat” lanjut Stelani
“Benar. Nanti kami akan merawatmu dengan baik, Kino-nii”
Baru ada suasana haru beberapa waktu lalu, sekarang seperti ada deklarasi perang dari mereka. Tentu saja deklarasi perang itu ditujukan untuk Ryou.
-Braak
Suara gebrakan meja terdengar. Ryou langsung berdiri dan menunjuk anak-anak itu dengan wajah kesal. Dimulailah pertarungan hebat antara dirinya dan ketiga anak-anak itu.
“Sudah kuduga aku tidak bisa percaya pada air mata buaya kalian, dasar setan-setan kecil!! Awas kalian! Menyingkir dari kakakku!!”
“Pergi kau kakak galak! Kami memelukmu untuk membuatmu lengah!” ucap Theo sambil terlihat kesal
“Aku tau kalian licik! Kembalikan pikiran baikku soal kalian tadi! Akan kukutuk kalian semua!!”
Mendengar itu, Joel sepertinya ingin ikut dalam pertarungan.
“Oi! Apa yang mau kau lakukan pada anak-anakku yang manis, bocah tidak tau diri!”
“Diam kau, om-om mesum! Ajari anak-anakmu ini perilaku yang baik!”
“Mesum…mesum katamu! Aku sudah lulus dari kata itu! Tarik kembali ucapanmu!”
Sepertinya Kino harus sedikit lebih sabar.
“Teman-teman…”
Diacuhkan sekali.
“Teman-teman…”
Dan dua kali.
‘Gawat’ Kaito seakan mengerti situasi ini
Seperti sudah tidak ingin mengulangi kesalahan untuk yang ketiga kalinya, Kaito berdiri dan mengambil pedang miliknya. Dengan wajah serius, dia mulai menghunuskan pedangnya.
“Kalian semua, jika ribut lebih dari ini…akan kuusir kalian semua secara paksa dan akan kupastikan tidak ada satupun dari kalian yang bisa masuk ke tempat ini lagi. Kau juga termasuk, Ryou”
“Apa?!” Ryou seperti tidak terima
“Ingin berhenti bertengkar atau keluar dari sini? Atau kau ingin melihat senyum ramah Kino di sana sebelum dia mengatakan kalimat pedas menusuk untuk kita semua? Pilih salah satu”
Kaito mengancam mereka semua. Tidak disangka mereka semua melihat Kino yang tersenyum ramah seperti tidak memedulikan semua pertengkaran itu.
“Kenapa berhenti? Tidak dilanjutkan lagi?” tanya Kino dengan lembut
“……” semuanya diam
Mereka kembali ke tempat semula dengan wajah datar. Ketiga anak-anak itu duduk dengan manis tanpa mengatakan apapun dan Kaito meletakkan kembali pedangnya sambil menghela napas berat.
‘Hampir saja mentalku jatuh lagi. Ini benar-benar tidak disangka’ gumamnya
Keadaan hening sesaat. Setelah mereka diam beberapa menit untuk menenangkan diri, Kino berdiri.
“Kami tidak punya apapun untuk disajikan. Tapi jika kalian lapar, aku masih ada sedikit sisa sayur dan olahan daging yang bisa dimasak. Mau coba makan masakanku tidak?”
Tawaran Kino adalah suatu hadiah tersendiri untuk ketiga anak-anak itu. Tentu saja mereka menerimanya. Joel hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Untuk beberapa saat, Kino menghabiskan waktunya di dapur dengan ketiga anak itu yang mencoba membantunya.
Di sisi lain, Joel bicara serius dengan Ryou dan Kaito. Dia menceritakan apa yang dikatakan oleh Kino ketika di bar dan apa yang didengar oleh Theo.
“Jadi…itu benar?” tanya Joel pada kedua remaja di hadapannya
“Benar. Tapi seperti yang dikatakan oleh Kino pada kalian, jika permata ingatanku itu tidak hanya satu di tempat ini maka kemungkinan kami masih akan tetap berada di sini. Namun jika hanya satu maka kami akan langsung menghilang” jelas Kaito
“Itu kasus milik Kaito. Tapi berbeda kasus dengan aku dan Kino. Karena pada dasarnya kami tidak sengaja masuk ke ‘dunia’ aneh ini tanpa mengetahui cara untuk kembali, mungkin saja kami berdua akan tetap tinggal. Atau terlempar ke tempat lain” Ryou menambahkan
“Ya…seperti itu. Tapi kami tidak bisa terus di sini. Dari yang sudah-sudah, masing-masing dari kami bertiga sudah pernah berada dalam situasi buruk. Apalagi saat di ‘dunia malam’, Kino hampir mati karena melindungi permata milik Kaito” lanjut Ryou
“Sulit dipercaya. Ah! Jangan salah paham. Aku sudah percaya pada cerita kalian. Aku hanya tidak percaya kalian menghadapi semua itu karena mencari sekeping permata. Terutama kau, Kaito”
“……” Kaito terdiam
“Kau bilang itu adalah ingatanmu, tapi kenapa berbentuk permata dan kenapa bisa tersebar ke tempat atau dimensi lain seperti cerita kalian?”
Pertanyaan yang sangat masuk akal dari Joel. Sampai saat ini, Kino dan Ryou juga tidak pernah menanyakannya. Mereka hanya pernah mendengar kalau Kaito diberitau oleh orang yang menolongnya untuk pergi ke ‘dunia’ lain dengan jam saku yang telah diberikan kekuatan magis sejenis sihir.
“Orang yang menolongku hanya memberitau bahwa ingatanku tersebar menjadi serpihan permata berwarna ungu, tapi aku tidak mengetahui hal lainnya”
“Dari mana dia tau hal itu?” Joel bertanya dengan penuh rasa ingin tau
Kebetulan yang sangat bagus karena ini adalah kesempatan Ryou untuk mencari tau lebih banyak tentang siapa Kaito sebenarnya dan siapa orang yang dimaksud sebagai penolongnya itu.
“Orang yang menolongku memiliki semacam kekuatan yang mungkin jika di dunia lainnya disebut sihir. Di beberapa ‘dunia’ sebelum ‘dunia’ ini, aku pernah melihat seseorang menggunakan mantra untuk menciptakan bola api dan hujan. Mungkin sejenis itu” jelas Kaito
Joel sangat syok mendengarnya. Bukan hanya Joel, tapi Ryou juga cukup syok. Mereka berdua seperti mendapat kejutan dari apa yang dikatakan oleh Kaito. Selain itu, cerita Kaito ini adalah hal yang baru pertama kali didengar oleh Ryou.
“Orang yang menolongku bercerita bahwa dia menemukanku di halaman belakang rumahnya. Saat dia tau aku tidak bisa mengingat apapun, dia memberiku nama dan melakukan sesuatu dengan sihir untuk membantuku”
“……” kedua orang lainnya mendengarkan dengan serius
Tidak disangka, Kino yang sedang memasak juga memasang wajah serius karena bisa mendengarkan cerita itu meski samar.
“Dia mengetahui apa yang aku alami dan memberitauku tentang kepingan ingatanku. Tapi…aku minta maaf karena aku tidak bisa menceritakan seluruhnya pada kalian”
Kaito melihat Ryou dan menengok ke arah dapur lalu melihat Joel sambil melanjutkan kata-katanya.
“Mungkin aku bisa saja menceritakan semuanya pada Kino dan Ryou, sejak mereka berdua adalah penolongku. Tapi, aku tidak bisa mengatakan semuanya padamu, tuan manager. Sejak hubunganmu denganku tidak lebih dari seseorang yang baru ditemui. Meskipun aku berhutang padamu untuk biaya perawatan kami semua, akan tetapi ada batasan dimana aku tidak bisa terbuka padamu”
“Aku mengerti. Itu sudah cukup untukku. Ceritamu sudah sangat terbuka meskipun kita baru saling mengenal. Terima kasih banyak” Joel tersenyum puas
Walau sedikit, Ryou mulai sedikit mengetahui tentang siapa Kaito. Dia juga yakin bahwa Kino juga mendengar semua itu.
Di dapur, anak-anak itu asyik membantu Kino memasukkan sayuran. Kino berusaha untuk terlihat baik-baik saja meskipun sedikit terkejut dengan cerita Kaito.
“Kino-niichan, ada apa?” Fabil bertanya pada Kino
“Tidak apa-apa. Aku masih ada adonan daging. Aku akan coba membuat tempura sayur dan daging”
“Tempura? Masakan apa itu?” tanya Stelani
“Itu masakan dari Jepang. Tempat asalku”
“Kami ingin dengar tempat asal Kino-nii…ceritakan pada kami” Theo terlihat bersemangat
“Aku akan cerita setelah kita selesai memasak ini”
Mereka semua melakukan hal yang cukup menyenangkan dengan memasak bersama. Selesai memasak, mereka makan bersama. Kali ini ketiga remaja itu ikut makan bersama mereka semua.
“Bukankah kalian bilang tidak merasa lapar?” Joel bertanya pada ketiga remaja itu
“Tidak merasa lapar bukan berarti tidak perlu makan. Lagipula ini adalah masakan Kino. Kalian harus tau kalau masakan buatannya itu yang paling enak!” Ryou terlihat begitu percaya diri dengan kalimatnya
Bukan hanya ketiga anak-anak itu yang terlihat lapar dan tergoda dengan aromanya tapi Kaito juga cukup tertarik dengan masakan itu. Dia merasa begitu rindu dengan rasanya, jadi tidak heran jika dia cukup menantikan masakan itu kembali.
Kino menjelaskan menunya di meja.
“Ini tempura sayur, sup sayur tahu dan juga nikujaga. Meskipun dagingnya sedikit karena sudah kami masak tadi”
“Huwaaa~sepertinya enak”
“Ayo dimakan”
Tidak butuh waktu lama, Theo dan yang lain langsung mengambilnya. Joel mencoba menahan diri tapi sepertinya dia cukup lapar untuk menahannya.
“Enak~” keempat tamunya terlihat senang dengan makanan itu
Kaito hanya menikmatinya dengan tenang, sedangkan Ryou hanya mengunyahnya dengan damai.
Situasi hangat yang cukup menggambarkan suasana keluarga.
“Apa ini…sudah bisa membayar apa yang tadi siang kami lakukan pada kalian?” Kino bertanya dengan wajah sendunya
“Kino-nii…”
“Aku benar-benar minta maaf sudah menghancurkan makan siang kalian saat di bar”
“Jangan bahas itu lagi, Kino. Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak” Joel tersenyum
Ketiga anak-anak itu juga tampak bahagia. Ini seperti, satu dari keinginan mereka akan menjadi kenyataan.
******