
Ruangan kantin itu mendadak menjadi hening. Makanan yang semula berserakan di lantai telah dibagikan kepada semuanya.
Waktu sudah berlalu selama kurang lebih 2 jam sejak keributan itu terjadi. Park Cho Joon duduk di dekat tumpukan kursi dan meja yang menahan pintu masuk kantin sendirian. Sementara Seo Garam menjaga dua gadis itu, Ha Jinan dan Kim Yuram.
Kaito memilih memisahkan diri dengan semua orang-orang itu di tempat paling belakang bersama Kino dan Ryou.
Mereka duduk di kursi kantin yang masih ada sambil terlihat membicarakan masalah serius.
“Ini benar-benar merepotkan! Mengingat kita memiliki pikiran yang sama mengenai sumber masalah ini, kita tidak mungkin memberitau mereka semua” bisik Ryou kesal
“Ternyata kalian juga memikirkan hal yang sama denganku?” tanya Kaito
“Tentu saja ini semua karena permata ingatanmu! Aku sudah bilang kalau kau dan permatamu itu pembawa sial!” Ryou memaki Kaito dengan suara pelan
Kino mendengar hal itu dan langsung mencubit lengan sang adik.
“Auch!! Apa yang…ukh…aku lupa kalau kau ada di sampingku…”
Sekarang Ryou menyadari kecerobohannya dan harus siap mendengar ceramah dari sang kakak.
“Aku sudah katakan jangan coba bicara kasar pada Kaito-san, kenapa masih kamu lakukan?”
“Oh! Kau benar, aku lupa mengatakannya…”
“Lupa apa?” Kino menjadi bingung
“Lupa kalau aku sudah katakan pada Kaito kalau kau harus mendengarku mencaci maki dia” Ryou tersenyum meledek
“Ryou…Kaito-san, maafkan Ryou ya…” Kino melihat Kaito dengan wajah bersalah
“Kau sudah tau sifat adikmu itu, kan? Aku tidak mau memikirkannya. Jangan khawatir”
Sungguh lapang sekali hati Kaito. Padahal, sebenarnya dia juga sudah menyerah dengan mulut Ryou, jadi dia memilih untuk tidak berkomentar.
Sekarang, mereka benar-benar membicarakan hal serius.
“Kaito-san, jadi permata milik Theo-kun sudah masuk ke dalam tubuhmu ya”
“Begitulah”
“Hmm~jadi, ingatan apa yang kau dapatkan?”
“Itu…ingatan mengenai kedua orang tuaku lagi”
“Orang tua?” Kino menjadi sedikit penasaran
“Benar. Di dalam ingatanku, mereka mengajakku makan di rumah dan mendengarkan aku bercerita. Aku masih belum ingat siapa nama asliku meskipun di dalam ingatan itu namaku sepertinya disebut beberapa kali” Kaito bicara dengan nada serius
“Begitu. Tapi, syukurlah bahwa ingatan itu adalah ingatan yang baik. Setidaknya itu bukan kenangan yang menyedihkan atau membuatmu marah” Kino berusaha membesarkan hati Kaito
“Kau benar. Bisa mendapatkan ingatan itu saja sudah membuatku bahagia. Tapi, aku jadi sangat merasa bersalah padamu dan anak-anak itu. Maafkan aku”
“Tidak apa-apa. Semua orang hanya bisa berencana, tapi takdir akan selalu berkata hal yang lain. Itu adalah hal terbaik untukmu, Kaito-san. Selain itu, aku senang kami masih bersamamu. Benar kan, Ryou?”
“Setidaknya, tingkat keberuntunganmu itu meningkat dengan adanya aku dan Kino”
Ryou mengatakannya dengan nada sombong. Kaito hanya tersenyum dan menggodanya.
“Aku tau. 99% datang dari Kino dan 1% datang darimu. Aku akan ingat itu”
“Hmm? Apa maksudmu?” Ryou merasa tersindir
“Aku hanya mendapat 1% keberuntungan darimu, sisanya dari Kino. Untuk rasio kesialanku, aku dapat 100% darimu dan 0% dari Kino” Kaito mulai meledeknya kembali
“Kau senang sekali mendengarku mencaci maki dirimu lagi ya, Kaito”
“Lakukan saja kalau siap mendengar Kino menasehatimu lagi”
“Ukh…” Ryou menengok ke arah sang kakak dan tidak membalasnya
Kali ini, Kaito menang. 1-0 untuk kemenangan ini. Seperti ada konfeti di sekitar Kaito sebagai tanda kemenangan.
“Ayo kembali ke topik kita. Untuk isi peraturan permainannya, apakah kalian berdua mengingatnya?” tanya Kaito dengan wajah serius
“Ingat. Kami mengingatnya”
“Tampaknya mereka bermaksud untuk membuat semua orang terbunuh. Tapi, aku masih tidak mengerti apa maksud dari judul event di aplikasi itu” Kaito mulai terlihat bingung
“[Zombie akan mengambil alih Negara ini! Selamatkan diri kalian sebelum kalian mati!]. Aku rasa, kata ‘Negara ini’ pada konteks judulnya adalah kampus ini” ujar Kino
Kino mulai mengeluarkan hipotesisnya secara lengkap.
“Judul event itu mewakili keadaan tempat ini sekarang dan bisa dilihat bahwa semua orang di tempat ini pasti dianggap sebagai partisipan. Event ini sendiri dimulai jam 08.00 pagi, dimana semua mahasiswa, tenaga pengajar maupun staff pasti telah berkumpul di sini”
“……” Ryou dan Kaito mendengarkan dengan serius
“Dari peraturan permainannya sendiri, sepertinya baik pengguna yang men-download aplikasi tersebut atau tidak akan dianggap sebagai objek yang sama rata. Itu artinya, kita sendiri juga adalah peserta hidup di sini” lanjut Kino
“Korban yang menjadi zombie di luar adalah mahasiswa di kampus ini. Tapi, jumlah orang yang bersembunyi di dalam kantin tidak begitu banyak. Artinya masih ada kelompok lain yang bersembunyi di seluruh tempat ini” Ryou ikut mengeluarkan pemikirannya
Kaito berpikir sejenak dan menyadari sesuatu.
“Kalian berdua, apakah bangunan ini ada di tempat asal kalian?”
“Ada. Bangunan ini namanya kampus, Kaito-san. Tempat bagi siswa yang melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Usia untuk melanjutkan pendidikan di bangku universitas itu normalnya 18 tahun ke atas”
“Atau bisa jadi lebih tua darimu juga, Kaito. Karena untuk menempuh pendidikan lanjut di sebuah universitas, batasan umur itu tidak penting”
“Bukan itu yang ingin aku tau. Yang ingin aku tanyakan, apakah normalnya tempat ini memiliki satu bangunan dalam areanya?”
-Deg
Kedua kakak beradik itu mulai mengerti maksud Kaito.
“Area…bangunan…”
“Dalam aturan event itu, dikatakan bahwa ‘keluar dari wilayah kampus dalam keadaan selamat’. ‘Wilayah kampus’ itu pasti mengacu pada area yang luas. Jadi aku mulai berpikir bahwa ada setidaknya dua atau tiga bangunan di wilayah ini…”
“……”
“Aku benar, kan?” Kaito terlihat serius
Kino mulai berpikir kembali.
“Kalau bisa, kita harus mencari tau denah lokasi dan jalan pintu gerbang kampus ini” Ryou menambahkan
Sepertinya, grup remaja asing sudah menemukan hal yang harus dilakukan. Kini, mari beralih ke grup mahasiswa lain.
Ini adalah saat dimana Seo Garam dan dua gadis lainnya mengobrol. Mereka memilih duduk di lantai sambil memakan cemilan yang dibawa oleh Ha Jinan sebelumnya.
Tentu saja topik pembahasannya itu adalah tiga remaja asing yang dianggap sebagai mahasiswa baru.
“Seo Garam, menurutmu…bagaimana soal orang asing itu?” tanya Kim Yuram dengan ekspresi serius
“Mereka…mereka menakjubkan”
“Tapi, aku cukup takut pada Yuki Ryou” timpal Ha Jinan
“Kau benar, Jinan. Yuki Ryou itu cukup menakutkan. Aku yakin kalian mendengar apa yang dia katakan tadi. Saat Cho Joon menghentikan pukulannya itu”
Kim Yuram membuat mereka berdua mengingat apa yang dikatakan oleh Ryou sebelumnya.
[Jika kalian bertanya padaku siapa yang pantas untuk mati di ruangan ini, aku akan menjawab bahwa dialah orangnya]
Kalimat itu benar-benar membuat ketiganya melihat remaja asing di belakang dengan tatapan cemas. Tapi, Seo Garam lebih cemas lagi pada keadaan Park Cho Joon. Dia melihat pria yang tadinya penuh emosi menjadi sangat pendiam.
Kim Yuram menyadarinya.
“Garam, kenapa kau perhatian dengan orang itu? Dia nyaris membunuh Ha Jinan!”
“Tapi dia menyukai Kim Eunji”
“Dia hanya memaksakan kehendaknya! Selain itu, jika dia menyukainya…kenapa dia tidak menghentikan Eunji yang nekad menemani Jinan untuk mencari makanan?! Dia egois karena tidak ingin membahayakan dirinya!” Kim Yuram merasa kesal
Ha Jinan hanya bisa terdiam dan sedih. Seo Garam melihat bekas merah pada lehernya.
“Jinan, lehermu…”
“Ah…” Ha Jinan mencoba menutupinya
“Kenapa dengan lehermu? Perlihatkan padaku!” Kim Yuram memaksa
Dia terkejut melihat bekas cekikan itu akhirnya menimbulkan bekas yang terlihat. Dengan penuh kekesalan, Kim Yuram melihat Park Cho Joon dari kejauhan.
“Pria pengecut itu!!”
“Yuram, jangan!” Ha Jinan mencoba menghentikannya
“Aku benar-benar tidak habis pikir padanya! Dia menyalahkan orang lain padahal itu karena ketidakmampuannya sendiri! Jika dia menyukai Eunji, harusnya dia melindunginya dan ikut dengannya saat itu!”
Nada bicara Kim Yuram naik. Yang awalnya mereka bicara dengan suara pelan, akhirnya sekarang semua orang bisa mendengar itu termasuk Park Cho Joon. Seo Garam langsung melihat gadis itu dengan tatapan panik.
“Kim Yuram, jangan berkata seperti itu”
“Memang kenapa?!”
“Yuram…” Ha Jinan melirik yang lain
Ketika melihat sikap kedua temannya itu aneh, dirinya langsung melihat sekeliling.
Dari kejauhan, ketiga remaja asing itu melihat mereka.
“Sepertinya ada pertengkaran” ujar Kaito
“Lupakan. Sekarang bagaimana rencananya, Kino?”
Kino berpikir sebentar. Dia melihat kembali tiga mahasiswa yang sebelumnya memperkenalkan diri mereka.
“Aku rasa membangun kepercayaan dan komunikasi itu bagian terpenting. Kita bisa bertanya pada mereka. Selain itu, pria bernama Park Cho Joon itu sepertinya memiliki hubungan dengan gadis bernama Kim Eunji”
“Serius kita harus bicara dengan mereka?” Ryou terlihat sangat keberatan
“Kita harus melakukannya, Ryou. Kita juga harus mencari tau tentang orang yang membuat aplikasi [Event Horror Apps] tersebut”
“Jung Leon bersama zombie pertama Lee Seung Chan” Kaito menjawab
“Tepat. Salah satu dari rekan Jung Leon bernama Song Haneul masih belum terdengar. Mungkin saja dia selamat” lanjut Kino
Ryou terlihat begitu keberatan, tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa mereka memang sangat membutuhkan informasi sekarang.
Permata ungu yang menjadi kepingan ingatan Kaito selanjutnya ada di ‘dunia’ itu sekarang. Mau tidak mau, untuk bebas dari serangan zombie di seluruh wilayah kampus, mereka harus mencari tau peta dan informasi pribadi mengenai tempat itu.
Ryou setuju dan dia berdiri.
“Ingat ya, hanya bicara seperlunya. Berbeda dengan saat kita di bar paman manager itu, kali ini kita tidak perlu mengatakan asal kita semua. Mengerti?”
Kino dan Kaito mengangguk setuju. Mereka berdiri dan berjalan menghampiri ketiga mahasiswa itu.
Ha Jinan melihat Kino dan yang lainnya berjalan ke arah dia dan teman-temannya sekarang.
“Seo Garam, Kim Yuram, mereka kemari”
Melihat itu, keduanya mulai terlihat begitu tegang.
“Permisi, boleh kami bergabung di sini?” Kino tersenyum dan bicara dengan sopan
Tampaknya, wajah mereka mulai tidak begitu tegang setelah Kino yang bicara. Senyum itu ternyata bisa merubah pandangan seseorang rupanya. Ha Jinan dengan malu berkata “silahkan duduk”
Siapa yang menyangka, dengan satu senyuman bisa membuat suasana menjadi lebih baik.
Ha Jinan bahkan menawarkan coklat itu pada Kino.
“Yuki Kino, apakah kau ingin makan coklat ini?”
“Ah, terima kasih. Coklatnya hanya sedikit jadi lebih baik untuk Ha Jinan-san. Selain itu, cukup panggil aku dengan sebutan Kino. Yuki adalah nama keluarga aku dan Ryou. Karena kami kakak adik jadi lebih baik memanggil dengan nama depan kami agar terdengar akrab”
Ha Jinan tiba-tiba merasakan sesuatu. Wajahnya berubah merona seperti strawberry dan ada perasaan aneh dalam dirinya.
‘Terdengar…akrab…’ gumamnya dalam hati
Ini seperti, gadis bernama Ha Jinan telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Kino. Ternyata, cinta itu bisa muncul di situasi tak terduga rupanya.
******