
Di bar [Barre des Noirs], Theo dan anak-anak lain duduk bersama dengan Joel. Selesai makan, akhirnya mereka bisa tersenyum senang.
“Kenyang~” ucap semua anak-anak itu serentak
“Terima kasih makanannya, Joel-ojichan~” kata Michaela yang memberikan senyumannya pada Joel
“Sama-sama. Sekarang kalian mandi lalu coba pakai baju barunya. Setelah itu, kita pergi belanja makanan dan pakaian untuk kalian lagi. Siapa yang mau ikut?”
“Aku!!” semua anak mengangkat tangannya kecuali Theo
Joel tersenyum senang melihat anak-anak itu semangat, tapi tetap saja perhatiannya tertuju pada Theo yang masih duduk terpaku pada benda di tangannya. Joel meminta Michaela dan yang lain untuk membersihkan semua sampah makanan mereka dan membuangnya ke belakang.
“Setelah selesai membuang sampahnya, kalian bergantian mandi. Joel-ojichan akan menunggu anak-anak manis selesai mandi” ucapnya dengan senyum ala om-om
“Baik~” jawab anak-anak serentak
Michaela dan teman-temannya mengambil sampah makanan di meja dan membuangnya. Kini, hanya tinggal Theo yang masih duduk di kursi sambil melihat benda mirip bandul di tangannya.
Karena penasaran, Joel menghampiri anak itu.
“Apa yang kau lihat sampai seperti itu, bocah kecil?” Joel mendekati Theo diam-diam sambil bertanya karena penasaran
Seketika, Theo yang terkejut langsung menggenggam erat bandul kalung di tangannya dan berteriak ke arah Joel.
“Huwaaaa! Jangan mengagetkan aku ya, paman mesum!”
“Oi, aku hanya bertanya. Kau saja yang terlalu berlebihan” jawab Joel dengan santai
“Tapi kau tiba-tiba di dekatku seperti setan yang muncul tiba-tiba! Tidak bisakah kau bertanya seperti orang normal pada umumnya, paman mesum?!” kata Theo sambil marah-marah
“Oi, kau kejam sekali. Baru selesai makan dan kau langsung…hmm? Itu…apakah itu bandul kalung di tanganmu?” Joel melihat benda di tangan Theo dan bertanya
“……” Theo terdiam sambil menoleh ke samping kirinya
Dia menolak memperlihatkan bandul di tangannya dan tidak mau melihat wajah Joel. Tapi, Joel sudah terlanjur melihatnya dan dia menjadi sedikit penasaran.
“Bocah, percuma saja kau pura-pura tidak dengar dan bersikap acuh padaku. Aku lihat itu tadi. Itu bandul kalung, kan? Berwarna ungu seperti batu permata”
“……” Theo masih diam dan mengabaikan Joel
Tidak lama setelah itu, Michaela datang dan menarik baju Joel.
“Joel-ojichan, kami sudah selesai membuang sampah. Sekarang tunggu kami selesai mandi ya”
“O–oh! Kalau begitu kalian mandilah dulu. Nanti aku akan menunggu bersama kakak kalian ini dan kita pergi berbelanja bersama!” jawabnya dengan semangat untuk membuat anak-anak tersebut gembira
“Yeaay!! Ayo mandi! Kita mandi bersama saja ya semua!” seru seorang anak kecil laki-laki
“Baiklah! Biar lebih hemat air” jawab anak kecil lainnya
“Huh?!”
Mendengar itu, Theo dan Joel saling melihat satu sama lain dengan mata lebar dan wajah aneh yang tidak bisa dijelaskan.
“Ayo mandi sama-sama!” ajak salah seorang anak laki-laki yang menggandeng tangan Michaela
Michaela diam dan terlihat ingin menolak. Dia melihat ke arah Theo dan Joel. Wajah keduanya langsung berubah pucat.
Dengan cepat kedua orang itu langsung berdiri bersamaan dan saling memandang kembali satu sama lain.
“Ini…tidak benar kan…paman mesum?
“Hentikan mereka semua!”
Theo langsung memegang tangan Michaela dan anak laki-laki itu, sedangkan Joel memanggil anak-anak lain yang sudah terlanjur sampai belakang untuk kembali.
“Theo-niichan…” Michaela memeluk Theo
Theo melihat anak laki-laki itu dan berkata “kau jangan bergerak dulu”
Joel yang berhasil membawa semua anak-anak itu akhirnya mengumpulkan mereka semua ke tempat Theo berada. Theo menatap mereka dengan tatapan marah.
“Coba lihat diri kalian! Aku tanya berapa anak laki-laki di sini?”
“Em–empat…” jawab salah satu anak kecil laki-laki
“Tapi, kalau dengan Theo-niichan jadi lima orang” seru anak lainnya
“Lalu…berapa jumlah anak perempuan di sini?” tanya Theo sambil melihat anak-anak itu dengan sorot mata tajam
Michaela mengangkat satu tangannya dengan senyum ceria lalu menjawab pertanyaannya.
“Dua. Michaela dan Sienna!” jawab Michaela
“Bagus. Lalu, untuk anak laki-laki… kenapa kalian justru mengajak kedua anak perempuan ini mandi bersama kalian!” Theo berteriak ke arah anak kecil laki-laki
Joel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memegangnya dengan satu tangan dan tersenyum karena kepolosan anak-anak itu, sedangkan Theo sudah menjadi merah seperti tomat karena emosi.
Dia langsung menarik tangan Michaela dan gadis kecil lain bernama Sienna ke sampingnya. Setelah itu, Theo melihat keempat anak laki-laki yang berdiri dengan tatapan tanpa dosa dan langsung meneriaki mereka.
“Kalian semua ini laki-laki! Jangan menjadi pengikut paman mesum yang ada di sana itu ya!” Theo berteriak sambil menunjuk ke arah Joel
“Eh? Apa?! Kenapa justru aku yang disalahkan, bocah kecil?!” Joel protes
“Memang itu ajaranmu, kan?!”
“Kapan aku meracuni mereka? Kau kan tau kita baru bertemu hari ini?!” Joel mencoba membela diri
“Terserah! Pokoknya untuk kalian berempat, dengarkan aku! Mau kalian kecil atau sudah besar…laki-laki dan perempuan tidak boleh mandi bersama! Kalian dengar itu tidak?!”
“Tapi kalau tidak mandi sama-sama bukannya akan lama?” seorang anak kecil mencoba mencari alasan
“Kalian mandi saja sendiri! Selama ini begitu, kan? Kalaupun mandi bersama, kalian mandi bersama aku dan Fabil. Tapi, memangnya selama ini kalian pernah mandi bersama Michaela atau Stelani?” tanya Theo dengan nada sinis
“Belum pernah” jawab seorang anak laki-laki
“Karena itu kami ingin mandi bersama mereka sesekali” timpal anak lainnya
Sontak Theo berubah menjadi semerah kepiting rebus siap santap dan berteriak dengan asap di kepalanya.
“Jangan bercanda dan dengarkan perkataanku ini, dasar anak-anak nakal!! Pokoknya jangan pernah sekali-kali kalian mengajak Michaela dan Sienna mandi bersama kalian atau aku kurung kalian di kamar mandi! Mengerti tidak?”
Anak-anak itu masih melihat satu sama lain tanpa rasa bersalah. Mereka hanya bingung kenapa Theo mengatakan hal itu.
“Berarti kalau lama juga tidak masalah?”
“Lebih baik lama daripada kalian yang masih kecil ini berubah menjadi pengikut paman mesum itu!” kata Theo sambil menyilangkan kedua tangannya
“Oi, aku sudah bilang bukan aku yang mengajari mereka!” Joel terlihat sangat depresi sekali dan mencoba memperbaiki citra miliknya
“Diam kau!” Theo membentaknya dengan wajah memerah seperti kepiting baru matang
“Hiks…”
Joel hanya bisa menangis di pojok ruangan. Entah karena begitu baik pada anak kecil, dia berusaha untuk tidak memarahi mereka dan memilih mengalah sambil memperlihatkan wajah menyedihkan miliknya.
Michaela bertanya pada Theo.
“Jadi, aku boleh mandi bersama Sienna?”
“Karena sesama anak perempuan tentu saja boleh. Asal jangan mandi dengan anak laki-laki, mengerti?” kata Theo yang menjawab gadis kecil itu sambil menasehatinya
“Baik~” jawab kedua gadis kecil itu
“Untuk kalian anak laki-laki nakal, kalian bisa mandi setelah mereka berdua mandi. Kalau mau, kalian bisa mandi bersamaan dengan maksimal dua orang. Mengerti?” ujar Theo kembali
Karena mereka masih anak-anak yang polos, mereka hanya bisa menjawab iya dan mengerti. Walaupun di sini, Theo yang menjadi pusing karena mengatur mereka semua.
‘Aku benar-benar kehilangan separuh dari makanan yang telah kumakan karena marah-marah! Apa gunanya aku makan tadi? Haaah’ gumam Theo dalam hati
Setelah itu, semua anak-anak kecil itu mengangguk. Mulai dari Michaela dan temannya Sienna terlebih dahulu yang mandi bersama. Theo duduk lagi bersama keempat anak kecil lainnya sambil menunggu Michaela selesai mandi. Joel yang telah mendapatkan kembali mentalnya ikut bergabung dengan mereka.
“Kau benar-benar seperti kakak untuk mereka ya, bocah kecil” puji Joel
“Aku seperti penjaga mereka dibanding kakak”
“Tapi aku tidak melihatnya begitu. Kau cukup bertanggung jawab untukku”
“Yang seharusnya seperti kakak adalah Stelani dan Fabil. Mereka jauh lebih bisa mengurus mereka semua dibandingkan diriku” jawab Theo sambil membuka topinya dan meletakkannya di atas meja
Joel terdiam. Ketika Theo memberikan jawaban itu padanya, dia bisa melihat wajah anak kecil itu tampak sedih karena kedua temannya diculik dan masih belum kembali. Dia juga tidak bisa menghubungi Arkan yang berada di wilayah paling berbahaya di tempat asing tersebut.
‘Serius, kuharap mereka semua kembali dengan selamat. Selain itu, sampai sekarang aku masih tidak percaya bahwa karyawan bodoh satu itu juga sampai terlibat’ gumam Joel dalam hati
Dia sempat melihat jam dinding di bar dan waktu telah menunjukkan pukul 13.50 saat itu. Sudah cukup lama waktu yang terlewatkan dan kepastian tentang keselamatan mereka masih belum diketahui.
‘Anak-anak ini masih dalam kondisi syok meskipun mereka terlihat sudah lebih baik. Tapi, aku juga tidak bisa berdiam diri. Masalahnya, sekalipun aku memanggil petugas keamanan…mereka tidak akan mau mengurusi permasalahan di tempat terasing ini. Selain itu, kita sedang berurusan dengan pasangan suami-istri psikopat itu. Kalau gegabah, maka kepalaku yang akan berakhir di etalase pasar gelap!’
Joel melirik Theo dan anak-anak itu, lalu dia melihat kembali barnya yang tidak lebih baik dari sebelumnya.
“Tidak bisakah tempat ini terlihat lebih buruk lagi?” gumamnya pelan
Theo yang mendengarnya berkata dengan nada meledek.
“Paman mesum, kalau kau mau menghancurkan tempat ini…aku dan mereka semua akan menjadi sukarelawan. Bagaimana?”
“Tidak tidak tidak tidak, aku hanya bercanda! Jangan terlalu menganggap semuanya serius!”
“Tapi aku serius! Tempat ini memang sudah bobrok, kan?” jawab Theo sambil senyum meledek
“Heh! Uang dari tempat ini sudah banyak terkumpul untukku bersenang-senang dengan pacar…ehem, maksudku untuk membahagiakan istriku” Joel menjawab dengan wajah panik sambil berpura-pura batuk
“Sudah kuduga kau memang mesum…” Theo yang belum menyelesaikan kalimatnya melihat keempat anak-anak itu dan menasehati mereka semua “…ingat ya, kalian kalau sudah besar jangan seperti paman mesum ini. Kalian harus tumbuh seperti Kino-nii atau minimal sepertiku. Mengerti?”
“Hmm…Theo-niichan suka marah-marah juga. Sepertinya aku mau seperti Kino-niichan saja”
“Aku juga”
“Aku juga tidak mau seperti Joel-ojichan dan Theo-niichan yang galak. Kino-niichan lebih baik”
Theo mulai kembali memerah tetapi kali ini wajahnya seperti strawberry yang siap dipetik.
“Dasar anak-anak nakal!”
“Ahahahaha, sudah kuduga mereka semua jenius!” Joel yang mendengar jawaban polos anak-anak itu tertawa terbahak-bahak
“Kh…”
Melihat respon Theo dan semua anak-anak itu, Joel cukup senang karena dia bisa yakin bahwa anak-anak ini sudah benar-benar ceria. Michaela dan Sienna selesai mandi dan sudah memakai pakaian baru mereka.
Dengan senang, kedua gadis kecil itu memamerkannya kepada Theo dan yang lain. Joel yang terlihat senang, memasang wajah senyum lebar yang berakhir mendapatkan lemparan topi dari Theo ke wajah pria besar itu dengan umpatan kata ‘mesum’ yang tidak lupa disisipkan.
Setelahnya, keempat anak lainnya mandi secara bergantian. Theo menemani kedua gadis kecil itu duduk.
“Nee~aku sudah wangi dan cantik kan, Theo-niichan?” tanya Michaela yang duduk di samping Theo dengan senyuman manis
“Iya, kau sudah cantik”
“Ehehe. Terima kasih untuk bajunya, Joel-ojichan~”
“Hmm…hmm…sama-sama” jawab Joel sambil mengangguk dan tersenyum
“Pakaian kotornya sudah diletakkan di belakang juga, kan?” tanya Theo
“Sudah. Habis ini, Theo-niichan mandi juga dan kita pergi ke kota bersama. Nanti belanja di tempat yang bagus dan beli daging lagi. Benar kan, Joel-ojichan?”
“Hmm, tentu saja kita akan pergi belanja bersama” Joel menjawab sambil mengusap-usap kepala Michaela
“……” Theo tidak menjawab dan diam
Di balik diam itu, Theo memiliki banyak hal untuk dipikirkan. Bukan hanya masih khawatir tentang semua orang yang belum kembali namun juga tentang bandul permatanya.
“Aku akan mandi setelah ini, tapi kalian saja yang pergi belanja. Aku akan menjaga bar”
“Eh~kenapa? Aku ingin pergi belanja bersama” rengek Michaela
“Tidak per–“
“Pokoknya ikut!”
“Michaela…”
“Aku hanya ingin bersama Theo-niichan! Kalau…kalau semua ada, aku juga ingin pergi belanja dan makan bersama semuanya! Aku ingin bersama semuanya! Aku…hiks…aku hanya ingin bersama semuanya. Hiks...huwaaa”
“Aiya…menangis lagi” Joel mulai terlihat kerepotan sambil mengacak-acak rambutnya
Michaela mulai menangis dan memeluk Theo kembali. Tidak lama setelah itu, gadis kecil lain menangis, disusul dengan suara tangisan dua anak laki-laki yang menunggu gilirannya mandi. Lebih menakjubkannya lagi, dua anak yang baru saja selesai mandi tiba-tiba datang dan ikut menangis mendengar suara yang lainnya menangis.
“O–oi!!” Theo berubah panik sekarang
“Pokoknya ikut! Kita belanja sama-sama untuk Stelani-neechan dan Fabil-niichan! Kita beli kue untuk Kino-niichan juga! Pokoknya beli sama-sama! Huwaaa….” Michaela masih terus merengek dan menangis
Joel hanya melihat mereka dan menepuk pundak Theo.
“Bocah kecil, perasaan anak-anak itu murni. Kalau kau tidak mengikuti keinginan mereka…nanti konser menyedihkan ini tidak akan berhenti. Percayalah padaku”
“A–apa maksud…”
“Mereka hanya ingin bersamamu karena kau adalah sosok kakak yang sekarang bersama mereka”
“Eh?”
“Kau bilang kalau kau melihat dirimu sebagai penjaga mereka, iya kan? Tapi kurasa itu adalah pandangan secara sepihak darimu saja. Anak-anak ini tidak berpikir demikian. Mereka menganggapmu sebagai kakak mereka juga dan mereka ingin bersamamu”
“……”
“Sesekali, rayakan saja kebebasanmu ini dengan bersama mereka”
Theo menunduk dan melihat anak-anak yang menangis. Mereka mendekati Theo seakan dia akan berpisah dari mereka.
“…A–aku…”
Theo mencoba terlihat tenang dan menarik napasnya.
“Aku…aku harus mandi dulu, Michaela”
“Hiks….” Michaela dan anak-anak lain mengangkat kepala mereka
“Aku harus mandi dan mencoba pakaian baruku dulu. Se–setelah itu, kita pergi belanja ke kota sama-sama” jawab Theo dengan wajah tersipu malu
“Theo-niichan akan pergi juga?”
“Umm” Theo mengangguk
Melihat respon itu, Michaela dan semua anak-anak itu menjadi senang. Joel yang mendengar itu tersenyum dan pergi ke belakang sebentar untuk memberikan waktu ketujuh anak itu bersama.
******