
Di luar, di saat Kino dan tiga orang lainnya berlari menuju pintu gerbang, mereka menyadari sesuatu yang aneh.
“Nee, kalian semua…”
“Ada apa, Kino?” Song Haneul bertanya
“Tidakkah kalian merasa bahwa mereka tidak lagi mengejar kita?”
“Hah?” semuanya berhenti
Mereka mulai memperhatikan sekeliling dan memang tidak ada satupun zombie di belakang yang mendekat.
“Ini mungkin karena pergerakan mereka lambat. Selain itu, mereka juga hanya mengandalkan suara. Aku rasa karena kita sudah semakin menjauhi mereka, kita bisa lolos dengan mudah”
Itulah pikiran positif sang adik. Namun, sepertinya sang kakak tidak berpikir demikian. Dia mulai melihat langit dan hari memang semakin gelap.
‘Kenapa aku merasa bahwa ini bisa sangat berbahaya?’ pikirnya
Kaito mulai melihat ke depan. Dia merasakan ada suara yang sangat banyak di sana.
“Suara?” gumamnya pelan
“Kaito-san?”
“Sst, diam sebentar. Di sana ada suara yang sangat banyak” ucapnya pelan
“Song Haneul, di depan sana sudah gerbang utama kan?” tanya Ryou
“Benar. Jaraknya mungkin hanya tinggal 50-100 meter lagi”
Mata Kaito menyipit dan dia mulai terlihat sangat serius.
“Bukankah aneh. Dalam jarak 100 meter, suara mereka sudah terdengar sampai sini?”
Kino dan Ryou penasaran karena mereka tidak benar-benar mendengar suara tersebut. Mereka mulai memejamkan mata dan mencoba sedikit berkonsentrasi.
“……!!!” mereka membuka mata dengan wajah terkejut
“Terdengar, kan?”
“Benar. terdengar! Mungkinkah itu semua zombie-zombie yang mengejar kita di belakang?” pikir Kino
“Mustahil! Memang mereka bisa terbang atau menghilang lalu pindah ke depan untuk memberi kita kejutan?! Ayolah kakakku, itu sangat mustahil bahkan di dunia fantasi sekalipun”
“Tapi kita sudah berlari kurang lebih 10 menit, Ryou”
“Aku mengerti itu, tapi tetap saja mustahil! Apa yang membuatmu begitu yakin kalau ‘tamu tak diundang’ milik kita bisa ada di depan sana?”
“Ryou, aku harap kamu tidak lupa dengan apa yang terjadi di ‘dunia malam’ saat itu. Ketika kita sudah berhasil mendapatkan permata itu, lalu aku diserang oleh makhluk aneh. Ini bisa saja menggunakan konsep seperti itu”
“……!!!” Ryou dan Kaito terkejut
Sementara itu, tampaknya Song Haneul menyadari bahwa mereka bertiga sedang membicarakan hal yang tidak dia ketahui.
Kaito mulai menyimpulkan penjelasan Kino.
“Maksudmu, karena kita sudah mengetahui kunci untuk mengakhiri event ini jadi semua zombie-zombie itu mulai mencoba menghentikan kita dari depan. Begitu maksudmu, Kino?”
“Aku hanya menduganya, Kaito-san. Namun yang paling masuk di akal hanyalah itu. Katakanlah bahwa ada kemungkinan selain kunci akhir untuk menghentikan event ini, ada sesuatu yang lainnya”
Ini adalah sebuah kode dari Kino.
“Mungkinkah…”
“Benar. Meski hanya 50:50, aku masih berpikir bahwa kunci itu dan tujuan kita ada di sana. Zombie-zombie itu mencoba menghentikan kita untuk mendapatkannya jadi…”
“Aku paham sekarang! Dengan kata lain, mayat itu tidak lagi mencoba menghentikan kita dari dua arah namun ingin langsung berhadapan dengan kita layaknya last boss di game ya” Ryou mencoba ikut menebak
“Sebenarnya aku tidak begitu paham dengan konsep game. Tapi kemungkinan besar begitu”
Kaito mulai membenarkan pemikiran itu. Memang sedikit aneh, mereka saat ini berhenti untuk berdiskusi namun masih belum terlihat satu ekor pun zombie yang datang.
Song Haneul hanya memahami satu hal.
“Intinya kalian ingin bilang kalau seluruh zombie telah mengepung tujuan akhir kita, begitu kan?”
“Tepat!”
“Lalu dengan jumlah kita yang hanya empat orang, bagaimana bisa mengalahkan mayat hidup yang jumlahnya puluhan ribu?”
“Itu masalahnya. Sekalipun mencoba membuka jalan, rasanya mustahil untuk menerobos. Jika kita nekat menyerang, malam hari adalah penghalang terbesar dan jumlah mereka yang banyak akan menguras tenaga kita. Secepat apapun Kaito-san sekalipun, tidak akan bisa mengalahkan semuanya”
“Kau benar, Kino. Ini masalah serius. Di saat kita sudah hampir sampai, kenapa selalu ada tembok besar yang menghalangi?” Kaito mulai terlihat kesal
Ryou mulai duduk di jalan seperti tidak ada dosa dan menggaruk-garuk kepalanya.
“Akh, sial! Seandainya ada sejenis kendaraan seperti di film-film. Paling tidak kita bisa menabrak mereka dan menerobos untuk mengambil kunci gerbangnya”
“Kendaraan?!” Song Haneul
“Benar. Aku kira di kampus-kampus itu, mahasiswa bebas membawa kendaraan sendiri seperti mobil, motor atau scooter listrik. Menyebalkan sekali di sini tidak ada parkiran”
“Siapa yang bilang tidak ada!” kata Song Haneul tegas
“Hah?”
“Memangnya ini zaman batu? Tentu saja ada parkiran dan kendaraan di sini. Tapi, untuk ke sana kita harus berbalik arah lagi dan aku tidak punya kunci mobil bersamaku sekarang”
Ryou berdiri dan mendekati Song Haneul dengan wajah berbinar-binar.
“Berarti ada mobil sekelas Ferrari atau Lamborghini di sini? Ini kampus elit, kan?! Pasti ada, iya kan?”
“Cih! Kukira kampus elit punya yang sekelas Ferrari. Di sekolahku saja mereka semua banyak yang membawa mobil BMW atau Mercedes-Benz. Ternyata kampus elit itu belum tentu keren ya. Aku jadi kecewa pada tempat ini”
“Ryou, kamu tidak boleh bicara begitu” Kino mencoba menenangkan sang adik
“Ryou, kamu itu menyebalkan ternyata” gumam Song Haneul
Kaito mendengar kalimat itu dengan jelas dan dia memberikan senyumannya pada Song Haneul.
“Ada apa?” tanya Song Haneul pada Kaito
“Aku senang kau sependapat denganku mengenai dia” jawabnya
“……?” Song Haneul tidak begitu mengerti
Sekarang, Kino mencoba mengarahkan topik ini kembali.
“Seandainya jika kita bisa menemukan kunci kendaraan atau orang yang mungkin memilikinya, kita mungkin bisa melakukan sesuatu”
Lagi-lagi mereka mengalami kebuntuan. Untuk saat ini, mereka mungkin butuh lebih banyak waktu agar bisa menyelesaikan tujuan akhir.
“Ini buang-buang waktu! Kalau harus balik ke belakang lagi hanya demi kunci mobil, yang ada malam akan datang. Sudah! Kita terobos saja!” ucap Ryou yang sudah kesal
“Ryou…”
“Habis ini sama saja kembali ke awal! Aku ingin kita menerobos dengan kendaraan agar bisa memudahkan pergerakan kita! Tapi kalau sampai harus kembali ke belakang lagi, aku menolak! Tujuan kita hanya tinggal 100 meter lagi!”
“Aku setuju dengan Ryou. Kalau memang terpaksa, aku yang akan menerobos sendiri”
“Itu berbahaya, Kaito-san!”
“Cukup membukakan jalan saja kurasa tidak masalah. Lagipula, selagi mereka tidak menyentuhku semua akan baik-baik saja”
“Kaito-san…” Kino terlihat begitu khawatir
“Aku tidak begitu setuju dengan ide gila itu, tapi keadaan memang memaksa kita untuk bergerak lebih cepat. Jadi…”
Song Haneul terlihat tidak yakin dengan pilihannya, tapi mungkin inilah yang terbaik.
“Ok, sudah diputuskan kita akan menerobos sendiri. Yeah! Akhirnya pilihanku yang terbaik di sini. Sudah kubilang kalau menerobos itu yang paling mudah”
Ryou benar-benar merasa seperti seorang pemenang. Tidak mau terus mendengar Ryou bicara, Kaito langsung lari begitu semua sudah diputuskan.
“Oi! Mau kemana?”
“Melakukan ide besarmu itu! begitu ada celah, kalian mulailah lari lebih dulu!”
Ketiganya mulai bersiap dengan senjata masing-masing. Berjarak kurang dari 50 meter, Kaito bisa melihat lautan zombie di depannya.
“Ternyata Kino benar. Dengan banyaknya zombie di sana, aku akan mulai berasumsi bahwa mayat Jung Leon mungkin juga ada di sana”
Pedang Kaito sudah bersiap untuk memberikan sebuah sambutan hangat.
Di belakangnya, ketiga orang lainnya melihat Kaito mulai menebas satu demi satu zombie tanpa henti. Gerakan yang dilakukannya begitu cepat dan semakin cepat.
‘Ini harus menjadi yang terakhir! Aku mohon setelah ini, bawa kami ke tempat yang lebih aman. Kami-sama, aku mohon tolong bantu kami semua!’ Kino berdoa dalam hati
Ryou menggenggam dua pisau daging besar di tangannya dengan erat sambil memperlihatkan ekspresi serius.
“Kino, aku akan di depan. Jangan sampai jauh dariku. Song Haneul, kau sebaiknya bersiap dengan pisau itu. Senjata itu adalah tameng dan pedangmu sekarang”
“Aku mengerti. Kamu harus berhati-hati” jawab Song Haneul
Tidak ada keraguan lagi dari perempuan itu. Kino sudah bersiap dengan senjata yang dia pegang. Kaito berteriak ke arah mereka.
“Sekarang, maju ke depan dan jangan pernah melihat ke belakang. Serahkan semua padaku dan cepat temukan kunci gerbangnya!”
Ketiganya berlari meninggalkan Kaito di belakang. Begitu ada yang mencoba mendekati mereka dari sisi samping, Kaito menjadi yang pertama memotong tangan dan kepala mereka.
Kino dan Song Haneul mulai menggunakan senjata di tangan mereka untuk melukai zombie.
‘Meskipun tidak bisa memotong kepala mereka, cukup memotong tangannya dulu agar tidak tertangkap!’ dalam batin Song Haneul
Dia mempraktekkan semua itu dengan baik. Satu demi satu zombie yang menyerang telah kehilangan kedua tangannya. Hal itu berpeluang untuk menghentikan kesempatan para zombie itu menyentuh mereka.
Berbeda dengan Kino dan Song Haneul, Ryou tidak segan-segan membelah kepala mereka menjadi dua atau memisahkan kepala zombie-zombie itu dari lehernya.
“Aku sudah bisa melihat pintu gerbang di depan kita dan…geh! Masih ada barikade kedua?!”
“Ryou, perhatikan sekelilingmu! Tujuan kita pos yang ada di samping itu!” teriak Kino pada sang adik yang sudah ada sedikit di depannya
“Pos ya…aku lihat!”
Begitu Ryou memperhatikan sisi lainnya, dia benar-benar dibuat tidak bisa memikirkan hal lain.
“Oi oi oi oi…mungkinkah ini yang tadi dimaksud Kino. Dasar kakak jenius milikku itu” baru bergumam pelan begitu, Ryou langsung berteriak dengan keras.
“Kaito! Mayat yang kau cari ada di depan!”
“……” Kaito menengok ke arah depan
“Mayat Jung Leon ada di depan sekarang dan cahaya di saku celananya itu adalah benda milikmu!!” teriak Ryou
Dengan senyumannya, Kaito langsung terlihat seperti seekor serigala yang menemukan mangsanya.
“Ternyata di sana rupanya”
******