Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 373. Sebelum Upacara Penerimaan bag. 5



“Aku yakin tempat itu adalah ruang rahasia di akademi ini. Dan sepertinya aku bisa menebak tempat apa itu”


Kalimat Kino cukup membuat dua orang lainnya penasaran. Mereka akhirnya duduk di pojok ruangan dan membahas apa yang baru saja terjadi.


Kaito memastikan semua yang ada di sekitar mereka aman.


“Kita bicara dengan nada pelan. Ryou, pastikan kau tidak teriak ya”


“Aku mengerti. Kino, katakan tebakanmu?”


“Ingat apa yang dikatakan oleh Xenon-san mengenai sesuatu yang disimpan di tempat ini? Begitu pula dengan artikel yang kita baca waktu itu?”


“Sesuatu yang disimpan…mungkinkah itu adalah…”


“Benar. Kemungkinan tempat yang kita datangi itu adalah tempat untuk menyimpan benda itu. Meskipun aku belum bisa mengatakan apakah itu asli atau tidak”


Kaito melihat ekspresi serius Kino, “Sepertinya kau begitu yakin”


Kino mengangguk dan berkata, “Yakin. Aku cukup yakin, Kaito-san”


Dia melanjutkan kembali penjelasannya.


“Mengingat tempatnya ada di ruangan yang pintunya saja sulit dimasukki seperti tadi, wajar jika tidak ada yang mengetahui seperti apa bentuknya”


“Xenon-san sendiri tidak tau bentuk dan seperti apa rupa benda yang tersimpan di sini”


“Jadi, berdasarkan hal tersebut maka yang paling masuk akal adalah kalau benda itu adalah yang diincar oleh kelompok Virgo-san dan yang lain”


“Artifact…” seru Ryou pelan dengan sorot mata tajam


“Benar. Di dalam bola kristal besar itu kemungkinan adalah Artifact. Benda yang tercipta dari darah mereka yang mati di masa lalu” kata Kino membenarkan


“Kurasa permatamu kali ini membawa kita ke tempat yang sangat bagus, Kaito” kata Ryou


Namun ucapan itu tidak seperti pujian. Ekspresi wajah Ryou terlihat serius. Bukan hanya dirinya namun Kaito juga berpikiran hal yang sama.


“Permataku menuntun kita untuk menyelesaikan masalah di tempat ini. Aku jadi berpikir bahwa semua ini mungkin…”


“Disebabkan oleh ulah kekuatan dari permatamu, benar kan?” tebak Ryou


“Tepat. Meskipun bisa saja hal itu belum tentu benar, tapi aku tidak memiliki tebakan lain soal ini”


Kino berbisik pada mereka berdua, “Xenon-san mungkin harus tau tentang hal ini”


“Kurasa begitu. Kita sudah sepakat akan memberikan informasi apapun demi membantunya dan Xenon sendiri mengatakan akan coba memastikan permata yang ada pada bros kakaknya itu” ujar Ryou


Kaito menambahkan, “Sebaiknya kita tunggu sampai semua ini selesai. Jika memang kita akan tinggal di sini mulai nanti malam, akan jadi lebih mudah bagi kita untuk memulai penyelidikan kembali”


“Aku mengerti”


**


Di lorong koridor menuju lobi, Xenon bersama Jessie dan Jene akhirnya berhenti berlari.


“Sudah hampir sampai” kata Jessie


Dalam hatinya, Xenon berpikir hal lainnya.


‘Setelah ini, bagaimana aku bertemu dengan Rexa-sama?’


‘Aku hampir saja melupakan sesuatu mengenai ingatan Kaito. Permata yang ada pada bros itu mungkin saja adalah permatanya’


‘Mendapatkannya juga hal yang penting, tapi jika harus bertemu dengan Rexa-sama…aku harus menyiapkan mentalku’


‘Haruskah aku membawa Kaito bersamaku saja setelah mereka bertiga resmi pindah ke asrama malam ini?’


Jene melihat ekspresi serius Xenon, “Ada apa, Xen?”


“Apa?” Xenon sedikit terkejut


Reaksi itu mengundang ekspresi curiga dari Jene.


“Kau terlihat tertekan. Apa masih ada sesuatu yang kau sembunyikan?”


“Tidak. Aku tidak menyembunyikan apapun. Aku hanya berpikir…soal bertemu dengan Rexa-sama”


“Rexa-sama?”


“Benar”


Jessie menebak, “Apa Xenon ingin mulai berbaikan kembali seperti yang kita lakukan tadi? Aku setuju jika memang itu yang sedang kamu pikirkan”


“Itu…masih belum yakin. Baru terpikirkan. Itu saja”


Kali ini, kebohongan dari kata-kata Xenon adalah 50:50. Kenyataannya dia memang ingin bertemu dengan Rexa, namun bukan seperti yang dipikirkan oleh Jessie dan Jene.


“Tidak masalah” kata Jene, “Selagi masih mau memikirkan hal itu, artinya ada kesempatan hubungan baikmu dengan Rexa-sama terjalin kembali. Pikirkanlah baik-baik”


“Selain itu, mengenai penyusup yang kau katakan pada kami…aku dan Jessie akan mulai mencari tau dan berunding dengan Algeria-sama setelah upacara”


“Terima kasih, Jene-sama”


Mereka kembali berjalan.


‘Hubungan baik dengan Rexa-sama mungkin bisa menunggu. Ingatan Kaito adalah prioritas utamaku saat ini’


‘Karena pada akhirnya, aku akan tetap menjadi orang yang akan merusak kebahagiaan Rexa-sama’


‘Demi melindungi masa depan Rexa-sama yang berkilau, aku hanya perlu menjauhkan diriku dan tidak menyeretnya dalam masalah’


**


Di ruang Dewan Sekolah, Rexa sudah berdiri di hadapan para tetua dan tentu saja, lambang dari sekolah tersebut, Master Dresden.


“Ini…stempel merah? Apa kamu yakin?”


“Aku tidak akan menarik keputusanku dan skors yang aku ajukan adalah yang paling minimal demi menjaga hubungan baik antara Akademi Sekolah Sihir dengan salah satu keluarga pahlawan, Midford”


Para orang tua itu melihat satu sama lain. Tertulis jelas di sana bahwa ada tanda tangan Duke Xelhanien selaku pemimpin para anggota Divisi Dewan Sihir dan persetujuan itu telah diberi stempel merah


Stempel merah dari pemimpin Divisi Dewan Sihir berarti mutlak dan harus diikuti tanpa memedulikan kondisi dan alasan apapun.


“Aku ke sini hanya ingin memberikan surat tersebut dan meminta Master untuk memerintahkan bagian asrama putri untuk mengemasi barang-barang milik Misha Diana Midford”


Salah satu dari mereka dengan wajah sedikit ragu bertanya, “Apakah Rexa-sama dan Lady Misha…”


“Aku baru kembali dari kediamannya dan memutuskan untuk membatalkan pertunanganku. Itu artinya dia bukan lagi calon istriku dan hanya orang lain”


“Tentu saja aku sudah mengirimkan surat kepada Earl Midford saat meminta Lucas menandatangani dan memberikan stempel merah itu”


“Aku rasa Earl sudah menerima suratku dan berteriak karena emosi”


******


-PRAAAANG


-BRAAAK


“Anak sialan itu?!!!”


“Earl, tenanglah” kata salah seorang pelayan


“Berani sekali dia melakukan hal ini! Dia tidak akan kubiarkan!!”


Barbarossa dan Evergreen yang melihat banyaknya perabotan yang hancur jadi ingin ikut menghancurkan yang lain.


“Diaz-Gemini, aku mau membantu Earl menghancurkan setengah dari kediamannya. Boleh?” bisik Barbarossa


“Aku juga”


“Kalian berdua, jangan bercanda. Ini masalah serius karena Rexa-sama bisa dimanfaatkan. Jika dia membatalkan pertunangannya dengan Lady, rencana kita akan gagal” bisik Diaz-Gemini


-BRAAAAK


Earl memukul meja kerjanya.


“Aku akan membuat anak itu menjadi boneka milikku apapun yang terjadi”


“Dia tidak bisa melakukan hal ini. Aku yang akan memanfaatkannya”


Ketiga Rebellenarmee itu tersenyum licik dan menghampiri Earl.


“Jangan khawatir, Earl”


“Kami akan membuat Rexa-sama kembali…”


“Dan menjadi senjata terkuat untuk mengalahkan Mark Vermillion dan melenyapkan semua yang ada di bawah kekuasaan Raja Lucario”


Sebuah tanda-tanda angin hitam sedang menuju ke arah mereka yang berjuang menghentikan semua kekacauan ini.


******