
“Aku tidak percaya pada pilihanmu jadi sebaiknya jangan asal memilih ya, Kaito!” ujar Ryou dengan penuh percaya diri
“Kalau begitu kau saja yang pilih” ucap Kaito sedikit kesal
“Tidak mau karena aku kalah”
“Alasan. Bilang saja kalau salah pilih, kau tidak mau disalahkan”
“Itu kau tau! Karena itu aku bilang aku tidak percaya padamu jadi kalau kau memilih pintu dan kita mengikutimu, aku akan langsung menyalahkanmu karena menganggap kau salah pilih”
Kaito menatap Ryou sambil bergumam dalam hati.
‘Dasar sial. Awas saja kau’
Ryou menatap Kaito dengan tatapan tajam pula, “Apa lihat-lihat?”
“Kau menyebalkan”
“Terima kasih pujiannya. Sekarang, lakukan tugasmu dan bawa kita kembali ke atas”
Kaito mau tidak mau mengikuti perkataan Ryou dan melihat ke arah tiga pintu di depannya dari kejauhan.
“Jadi…aku harus memilih? Kalian serius?”
“Cepat kau pilih atau kupukul kau!” Ryou sudah kehabisan kesabarannya
“Ryou, tenanglah. Jangan begitu. Kaito-san, maafkan Ryou ya. Silahkan dipilih, kami akan percaya padamu”
“Kino yang percaya padamu ya, Kaito. Ingat itu. Kalau aku tidak percaya”
“Ryou…” sang kakak mencoba menenangkan adiknya
Kaito sudah cukup mendengarkan Ryou dan memusatkan semua inderanya.
‘Beberapa waktu lalu sebelum masuk ke dalam, aku merasakan angin yang cukup terasa di kulitku. Aku yakin angin itu berasal dari salah satu pintu ini’
‘Awalnya aku berpikir mungkin dari ruangan ini, tapi sekarang pintu-pintu itu berubah karena sihir’
‘Ada kemungkinan angin yang kurasakan itu berasal dari sihir juga. Berarti di antara mereka, menuju sebuah ruangan lain di dalam akademi dan sisanya mungkin jebakan’
‘Meskipun aku tidak yakin, tapi aku harus melakukannya’
Setelah merasakan semua hawa di sekitarnya, Kaito merasakan sesuatu. Ada suara aneh yang samar terdengar di telinganya.
Dari belakang, Kino memperhatikan dan memanggilnya.
“Kaito-san?”
“Pintu itu…” sambil menunjuk, Kaito berkata, “Pintu itu mengeluarkan suara angin. Aku rasa kita bisa ke sana”
“Benarkah?!” Kino terlihat senang
Pintu yang ditunjuk olehnya adalah pintu berwarna biru yang disentuh oleh sihir air milik Kino.
“Aku yakin pintu itu mengeluarkan angin. Meskipun samar tapi aku mendengarnya”
Ryou terlihat tidak begitu yakin, tapi mengingat pintu itu adalah pintu yang disentuh oleh sang kakak membuatnya sedikit lega.
“Anggap saja keberuntungan Kino akan melindungiku” gumamnya pelan
“Ryou?”
“Tidak apa-apa” Ryou mendekati Kaito dan bertanya, “Kaito, itu pintu yang disentuh Kino. Aku akan menganggap keberuntungan miliknya membawa kita pada jalan keluar. Tapi aku ingin kau jujur padaku, kau yakin itu pintunya kan?”
“Yakin. Aku sangat yakin. Angin adalah elemen sihirnya dan aku rasa aku tidak salah kali ini”
“Baguslah. Kita ambil pintu itu. Kino, ayo”
“Iya”
Ketiganya membuka pintu biru tersebut. Sungguh unik karena pintu itu tidak dikunci dan saat pintu tersebut terbuka, dua pintu lainnya berubah menjadi warna dinding kembali.
“Lihat itu, mereka kembali seperti sebelumnya” seru Ryou
“Mungkin karena kita memilih pintu yang tepat” kata Kino percaya diri
“Atau kita memang hanya bisa memilih satu dari tiga pintu. Ayo masuk”
Ketiganya akhirnya masuk ke dalam pintu tersebut. Saat pintunya tertutup, pintu biru itu akhirnya menjadi seperti semula kembali.
Di dalam pintu ada lorong yang mirip dengan lorong sebelumnya. Cukup panjang tapi semakin lama semakin terang.
Beberapa saat kemudian, lorong tersebut sampai di sebuah pintu yang asing. Tidak kalah anehnya, pintu tersebut kali ini hanya ada satu dan mereka tidak memiliki kenop, gagang pintu atau semacamnya.
“Kaito...haruskah aku memakimu sekarang?”
“Aku tidak salah” kata Kaito datar
“Kau salah. Di mataku keberuntunganmu jelas buruk” Ryou menjawab dengan ketus
“Kalian berdua, jangan bertengkar. Jelas bahwa di depan kita itu pintu, terlihat jelas kan? Kalian harus tenang sekarang”
Kino mencoba menenangkan kedua orang tersebut.
“Maafkan aku”
“Aku juga minta maaf”
Keduanya tenang sekarang. Kino melihat jam saku miliknya dan masih ada waktu sekitar satu jam lebih sedikit.
“Kita masih ada waktu satu jam. Sebaiknya siapkan hati untuk kemungkinan terburuk”
Ryou dan Kaito melihat satu sama lain dan mengangguk.
Dengan pedang yang belum dimasukkan ke dalam sarungnya sejak awal, Kaito mendekati pintu tersebut.
Saat dia menyentuhnya, pintu tersebut terbuka. Namun bentuknya seperti tembok yang bergeser.
“Pintu itu…tembok? Hah?” Ryou kaget
Ada cahaya terang di depan mereka namun suasananya begitu hening. Kaito mengintip dan tidak ada apapun selain sebuah bola kristal yang sangat besar melayang di udara.
Perlahan-lahan, mereka keluar. Terlihat bahwa tempat itu seperti sebuah sebuah altar atau lebih tepatnya ruang penyimpanan khusus.
Ryou melihat sekelilingnya dan tampak protes.
“Apa ini? Tidak ada apapun. Tidak ada lemari, tidak ada kursi. Hanya pintu besar di sana dan…bola kristal?”
“Tapi tempat ini sejuk. Padahal tidak ada jendela tapi angin kuat terasa sampai sini. Bukankah itu aneh?” ujar Kaito dengan ekspresi serius
“Aneh ya…” Ryou memperhatikan sekelilingnya dan mengamati langit-langit tempat tersebut, “Kau benar, Kaito. Jelas pintu keluar kita tadi adalah tembok yang bergeser di sana dan tanpa celah. Apa menurutmu angin itu dihasilkan dari sihir?”
“Aku tidak tau. Tapi memang benar ada angin di sini dan…dingin”
“Haaa~” Ryou mengeluarkan napasnya dan dia bisa melihat uap udara putih di tempat itu. “Dingin…cukup dingin untuk suhu ruangan. Mereka pakai ac sihir ya?”
“Coba kita lihat sekeliling”
Sementara itu, Kino sedang melihat bola kristal yang ada di hadapannya.
Kristal besar tersebut seperti sebuah tempat penyimpanan yang mengandung kekuatan magis di dalamnya. Selain itu, kristal tersebut transparan dan begitu cantik.
“Indahnya. Apa menurut kalian ini kristal sihir?”
“Mungkin saja. Tapi bentuknya besar dan…apa itu?”
“Kenapa, Kaito-san?”
“Ada sesuatu yang melayang di tengahnya. Kalian lihat itu tidak?”
Kino dan Ryou melihat ke dalam kristal tersebut dan memang ada sesuatu yang melayang di dalamnya.
“Buku?”
“Tapi kenapa buku? Apa buku itu berbahaya?”
“Mungkinkah buku terlarang yang memuat sihir kuno. Bisa saja kan?” tebak Ryou
Ketiganya tampak bingung. Semuanya seperti misteri. Tapi waktu misteri yang telah mereka lewati telah selesai.
“Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Ada pintu yang kelihatan normal di sana. Kita keluar lewat tempat itu” seru Kaito
“Kali ini, abaikan dulu bukunya. Keluar dari sini tanpa dianggap penyusup lebih penting. Kino pegang tanganku. Jangan sampai tertinggal ya”
“Aku mengerti”
Kaito menghunuskan pedangnya dan dengan hati-hati membuka pintunya.
“Aman, kita keluar. Ayo!”
Ryou yang menggandeng tangan sang kakak mulai menariknya pelan. Dari sana mereka berlari.
Pintu itu lagi-lagi tembus ke lorong panjang yang kekurangan pencahayaan lagi.
“Kino, kau baik-baik saja?!”
“Aku baik. Ryou bisa melepaskan tanganmu”
“Baiklah” Ryou melepaskan tangannya. Dia mulai mengeluarkan sihirnya kembali.
[Fire Art: Agnimal Candle]
Sekali lagi api berbentuk kucingnya muncul dan langsung mengelus-elus pipi Ryou.
“Iya iya, kerja bagus. Sekarang, tolong terangi jalan di depan ya”
Api tersebut langsung melakukannya. Jalan tersebut lurus dengan lantai marmer dan dinding seperti yang berada di lobi akademi.
“Kita benar-benar ada di wilayah dalam akademi sekarang. Menurut kalian, tempat tadi itu apa?” tanya Kaito sambil memasukkan kembali pedangnya
“Aku tidak tau, tapi yang aku tau kita harus keluar dulu dari sini, baru kita bahas yang tadi” ucap Ryou
Mereka menaikki anak tangga menuju ke atas. Cukup banyak anak tangga yang mereka naikki. Ini seperti saat mereka turun ke ruang rahasia yang ada di perpustakaan menara itu.
Kaito berhenti, “Kalian tenang. Berhenti sekarang”
Kedua kayak beradik itu berhenti.
“Ada apa, Kaito-san?”
“Ada pintu lain di depan kita. Jika ini sama seperti sebelumnya, berarti di depan sana adalah pintu rahasia yang ada di sebuah ruangan”
Kaito melangkah pelan dan saat pintu dibuka, mereka tembus ke sebuah lorong buntu. Pintu yang terlihat dari dalam oleh ketiganya tampak seperti sebuah lukisan besar dari luar.
“Ini…dimana?”
“Kaito, cepat keluar! Aku dan Kino juga mau keluar! Jangan menghalangi jalan!” kata Ryou pelan
“Maafkan aku” Kaito segera menyingkir
Pintu itu kembali seperti semula. Benar-benar petualangan yang unik. Lukisan lebar dan besar itu tampak biasa-biasa saja, namun ternyata menjadi jalan keluar untuk ketiganya.
“Kita…keluar?”
“Mungkin. Kalau begitu, kita lari dari sini”
“Ayo”
Ketiganya mulai berlari lagi. Lorong koridor tersebut membawa mereka ke sebuah belokan. Ada dua belokan yang bisa dipilih.
“Kanan atau kiri?” tanya Kaito yang ada di depan
“Kita berhenti dulu, Kaito-san”
Mereka berhenti dan mengendap-endap mengamati situasi.
“Aman, kita lewat kanani saja tidak masalah. Kalau sudah ada di dalam gedung akademi, kurasa seharusnya kita aman” kata Ryou
Mereka mengangguk. Dengan mengawasi sekitarnya, akhirnya mereka berlari ke arah kanan. Akhir dari penjelajahan ketiganya setelah menemukan tempat asing akhirnya hampir berakhir.
******