Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 219. Event Horror: Kunci Untuk Menyelesaikan Event bag. 6



Kino merasa semua ini tidak masuk di akalnya. Kenapa bisa Song Haneul-san tidak ingat semua  yang dia lakukan? Apakah ada sesuatu yang telah dia lewatkan? Setidaknya itulah pertanyaan yang mulai muncul di benaknya.


Namun, dia tidak ingin berpikiran hal seperti itu dalam kondisi berlari demi menghindari zombie tersebut.


‘Aku mungkin harus memeriksa kembali keseluruhan isi dari cerita yang dibuat Song Haneul-san nanti. Pertama, aku harus menemukan tempat untuk bersembunyi!’ pikir Kino


Di belakang keduanya, Ryou dan Kaito mulai berlari menyusul. Zombie-zombie pada jarak tertentu dibunuh oleh keduanya.


“Cih! Jumlahnya sama sekali tidak berkurang. Yah, wajar saja karena mereka berjumlah lebih dari ribuan”


“Rute teraman untuk kita lewati mungkin bukan yang ini”


“Ini aman sebelum kau nekat! Sekarang jadi tidak aman lagi! Mau aku tampar lagi ya?” ucap Ryou kesal


Kaito melihat Kino dan Song Haneul di depannya.


“Aku rasa Kino ingin menemukan tempat untuk kita bersembunyi. Dia terlihat gelisah”


“Apa?” Ryou melihat ke arah Kino di depan


Hal itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kaito. Kino terlihat beberapa kali menengok bangunan di kanan dan kirinya. Ryou berlari sedikit lebih cepat dan berteriak.


“Kino! Ada apa?”


“Aku tidak merasa kita bisa lari terus menerus seperti ini sekarang! Mau tidak mau kita harus sembunyi!”


“Sembunyi? Lagi? Tempat terdekat di sini hanya gedung fakultas dan gedung arsip! Kau mau kemana jadinya?” Ryou kembali bertanya pada sang kakak


“Aku tidak yakin. Tapi jika kita menuju ke gedung arsip, mereka yang ada di belakang kita akan mulai mengepung tempat itu kembali dan semua mahasiswa yang ada di sana akan dalam bahaya?!”


Kaito melihat tepat di dekat belokan, ada sebuah pintu masuk gedung fakultas lain. Kaito memanggil Kino sambil menunjuk tempat tersebut dengan tangannya.


“Kino! Di depan sana, sebelum kita belok kiri…”


Kino melihat tempat yang ditunjuk Kaito dan mengangguk.


“Kita masuk ke sana!”


Akhirnya keempat remaja itu masuk ke dalam gedung tersebut. Jarak untuk saat ini dari para zombie itu masih terbilang aman. Namun, jumlah yang mengikuti mereka jelas sangat tidak aman.


Begitu masuk ke dalam, tidak peduli ruangan mana yang mereka tuju, keempatnya langsung masuk begitu saja dan menahan pintunya dengan benda yang ada di sana.


Meja dan kursi didorong dan lampu ruangan sengaja tidak dinyalakan. Jangan berharap tempat itu ramah lingkungan karena sudah banyak sekali darah dimana-mana. Membuktikan bahwa ada banyak orang yang terbunuh sebelumnya.


Dengan mengistirahatkan tubuhnya dan terpaksa duduk di lantai penuh noda darah, mereka mulai mengatur napas sedikit demi sedikit.


Hanya selang beberapa menit, terdengar suara yang sangat ‘ramah’ di telinga. Suara yang tidak asing dan bahkan menjadi salah satu suara yang mereka dengan dalam kurun waktu 4 jam terakhir.


“Itu mereka” ucap Kaito pelan


“Jangan ada yang bersuara untuk sementara. Mereka tidak akan membuka pintu yang tertutup” Kino berbisik pelan pada yang lain


Song Haneul yang duduk di lantai meletakkan kedua pisaunya perlahan dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Sang pembuat naskah cerita untuk event kali ini sama sekali belum pernah merasakan ketegangan sejak tragedi ini dimulai.


Siapa yang tau kalau sekarang dia merasakan apa yang dirasakan mahasiswa lain yang selamat. Dia bisa merasakan bahwa kematian begitu dekat dengan siapa saja sekarang.


‘Seperti inikah rasanya berada di ambang ketakutan terbesar? Rasanya aku seperti menonton film drama yang kulihat saat itu namun yang ini begitu nyata. Kenapa bisa seperti ini? Ini…ini bukan acara yang kami harapkan. Bukan yang seperti ini! Bukan!’


Seakan berteriak dan mengeluarkan semua rasa penyesalan serta kekecewaannya, dia mulai mengeluarkan air mata. Masih dengan posisi menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya sama sekali tak terbendung.


‘Leon-nim…Seung Chan…ini mimpi buruk, kan? Kalian pasti akan membangunkanku, benar kan? Ini mengerikan, ini mengerikan!’ jeritnya dalam hati


Suara zombie di luar semakin banyak. Tidak diketahui berapa jumlah yang masuk ke dalam sana, tapi yang jelas mereka lebih dari puluhan.


-BRAAAK


Dari arah luar, terdengar suara zombie yang memukul-mukul pintu ruangan tempat mereka bersembunyi sekarang.


Keempat remaja itu terlihat semakin waspada. Meskipun meja dan kursi untuk mengganjal ruangan tersebut sudah cukup banyak, namun tidak menjamin benda-benda itu akan menahan mereka yang ada di luar sana.


Kaito sudah mengarahkan pedangnya ke depan, begitu pula dengan Kino yang mengarahkan ujung tongkat pel yang dipegangnya. Ryou sudah siap dengan dua pisau daging besarnya.


“Apakah mereka akan tetap memukul pintu ini?” bisik Ryou


“Aku tidak tau. Tapi jika itu terjadi, kita akan tamat” jawab Kaito


“Aku juga menolak”


“Aku bahkan belum memiliki seorang kekasih! Kalau aku mati muda karena ulah mereka semua, di akhirat nanti akan kutuntut mereka semua yang menyebabkan kematianku!”


Ryou tampaknya tidak memiliki rasa cemas sedikitpun menghadapi situasi seperti ini. Dia bahkan sudah siap melakukan tuntutannya jika sampai terbunuh. Sungguh penuh dengan persiapan matang.


“Bisakah kalian berdua tenang dan jangan ribut? Meskipun kalian bicara dengan pelan seperti itu, aku masih bisa mendengarnya. Jangan membahas hal ini dulu, aku mohon”


“Ba–baiklah Kino” jawab keduanya serentak


Kino sepertinya sudah menyadari bahwa Ryou dan Kaito semakin mirip satu sama lain.


‘Kenapa aku merasa mereka berdua jadi saling menularkan sifat buruk masing-masing? Kami-sama, satu Ryou sudah cukup di sini. Aku mohon jangan ditambah dengan Ryou lainnya. Biarkan Kaito-san tetap menjadi Kaito-san yang pendiam’


Sebenarnya ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu tapi tidak masalah.


Suara pukulan dari luar masih terdengar. Semakin keras dan semakin keras, membuat meja dan kursi tersebut sempat bergerak.


‘Aku rasa aku tau bagaimana mahasiswa yang sembunyi di sini bisa berakhir menjadi salah satu dari zombie-zombie itu’ pikir Kaito


Ryou juga memikirkan hal yang tidak berbeda dari Kaito.


‘Hah! Orang-orang yang sembunyi di sini pasti mengalami hal ini juga. Darah di tempat ini adalah bukti nyata kalau mereka mati tidak jauh dari situasi yang kami berempat hadapi. Sekarang, mari kita lihat sampai dimana keberuntungan membawa kami semua selamat’


Song Haneul masih belum berhenti gemetar dan menangis. Suara pukulan dari luar tampaknya masih akan berlanjut untuk beberapa lama.


Kino mulai memperlihatkan wajah paniknya.


‘Ini semakin berbahaya! Jika zombie-zombie itu masih nekat untuk terus memukul dan mendorong pintu itu sampai terbuka, kami tidak akan bisa lari dengan mudah. Jika sampai terlibat pertarungan melawan yang sebanyak itu, energi kami yang tersisa tidak akan bertahan lama’


Kondisi penuh ketegangan itu telah berlangsung beberapa menit. Sepertinya para zombie itu lebih gigih dari yang diperkirakan.


“Kapan mereka berhenti! Rasanya ingin sekali aku keluar dan memotong tangan serta kepala mereka!” ujar Ryou kesal dengan nada pelan


“Silahkan kau buka pintunya kalau ingin cepat bergabung menjadi keluar besar mereka seperti yang kau bilang barusan”


“Kaito, kau mencari masalah ya?”


“Aku hanya sedang memberimu izin untuk melakukan niatmu”


Ryou dan Kaito tampaknya masih sempat berdebat. Kino sudah angkat tangan dan mengabaikan kedua orang itu. Dia hanya fokus berdoa sambil memperhatikan kondisi mental Song Haneul yang terlihat menangis ketakutan.


“Song Haneul-san…”


“Aku…aku tidak apa-apa” ucap Song Haneul sambil mencoba berhenti menangis


Setelah beberapa menit kemudian, zombie-zombie itu tampak mulai berhenti memukul dan mendorong pintu. Suara masih terdengar beberapa kali, namun semakin lama semakin kecil kemudian menghilang.


“Sudah…pergi?” Kino tidak percaya suara tersebut menghilang


“Sepertinya begitu. Akhirnya mereka menyerah juga” Ryou bernapas lega


Baru menarik napas lega untuk beberapa saat, terdengar suara pukulan keras lainnya.


-BRAAK


“……!!!” keempatnya kembali kaget


“……”


Tidak terdengar lagi.


Tampaknya itu hanya sisaan dari zombie yang masih mencoba memukul pintu dari luar satu kali. Beberapa menit ditunggu oleh keempat remaja itu dan ternyata memang tidak ada lagi yang memukul pintu.


Ryou terlihat emosi dengan wajah merah seperti gurita kukus.


“Kurang ajar! Mereka mau membunuhku dengan serangan jantung ya!! Dasar mayat!”


Ryou meluapkan kekesalannya dengan suara pelan, namun dia begitu penuh ekspresi yang menjiwai.


Setidaknya untuk saat ini, mereka mulai ada dalam kondisi aman kembali.


******