
Di bar [Barre des Noirs], Arkan menemani Maggy yang menunggu kepulangan Joel dan ketiga anak lainnya.
Arkan melihat jam di dinding dan waktu telah menunjukkan pukul 17.00 sore.
“Ini sudah terlalu sore. Apa saja yang dilakukan Jey sampai sekarang?” Maggy terlihat cemas
Maggy melihat anak-anaknya yang tidur di bar karena lelah menunggu.
“Untung saja hari ini bar ditutup” gumam Arkan pelan
“Tidak untung karena kita kurang pemasukkan untuk hari ini, Arkan” Maggy menjawabnya
“Maggy-sama, kita tidak sedang membahas hal itu”
“Iya aku tau. Aduh, Jey…dia benar-benar…”
Baru Maggy ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba dia mendengar suara riang dan tawa yang datang.
“Kami pulang~” seru Theo dan kedua anak lainnya
“Kalian sudah pulang?! Akhirnya!!” Maggy menyambut mereka dengan senang
Wanita itu langsung menghampiri ketiga anak-anaknya itu dan memeluknya.
“Mana Joel-papa?” tanya Maggy
“Aku di sini, Maggy”
“Jey! Dari mana saja kau? Bukankah kau bilang akan pulang cepat setelah pergi ke penginapan di–”
“Maggy-mama, dengar!! Kami sudah pergi menemui Kino-niisan dan makan masakan buatan Kino-niisan!”
“Eh? Makan?”
Maggy terkejut mendengar hal itu, tapi dia lebih terkejut lagi karena ekspresi wajah ketiganya tampak bahagia. Arkan juga cukup kaget mendengarnya. Dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk bertanya.
“Kalian benar-benar bertemu mereka?”
“Benar, Arkan-niichan! Kami sudah bertemu Kino-niichan dan yang lain! Mereka tinggal di penginapan yang pernah dikatakannya pada kami. Benar kan, Joel-papa?” Fabil menjawab dengan senyum ceria
“O–oh! Begitulah. Meskipun kami tidak membawa apapun saat ke sana, tapi Kino memang membuat makanan untuk kami” jelas Joel
“Begitu…berarti kalian sudah kenyang ya” Maggy tersenyum
“Maggy-mama, Kaito-nii bilang kalau mereka akan tinggal di sini dulu jadi kami masih bisa bermain ke sana!”
Theo tampak ceria sekali. Berbeda dengan sebelumnya, dia sudah benar-benar seperti melupakan semua hal sedih dan tangisan itu.
Michaela yang tertidur di kursi akhirnya bangun. Bersamaan dengan itu, suara teriakan terdengar.
“Theo-niichan pulang!! Selamat datang~”
Anak-anak lain juga ikut menyambutnya.
“Selamat datang Joel-papa~”
“Stelani-neechan akhirnya pulang~”
“Selamat datang Fabil-niichan~kami sudah menunggu”
Seketika keadaan menjadi ramai. Joel dan ketiga anak-anak itu masuk dan duduk bersama. Mereka sangat antusias mendengarkan cerita keempat orang itu. Theo, Stelani dan Fabil sangat semangat bercerita tentang apa yang dilakukan ketiganya bersama Kino dan kedua kakak lainnya.
“Curang! Aku juga mau makan masakan buatan Kino-niichan!” Michaela merengek
“Masakan Kino-niichan pasti enak. Iya, kan Joel-papa?” tanya anak lainnya
“Tapi tetap lebih enak masakan Maggy-mama” Joel mengalihkan pembicaraan
Arkan dan Maggy hanya melihat mereka semua bercerita.
“Syukurlah semuanya berakhir baik ya, Maggy-sama”
“Benar”
Sejenak Arkan terdiam, lalu bertanya pada Joel.
“Manager, kalau mereka se-senang itu…apa itu artinya mereka sudah menemukan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan tentang permata itu?”
“Mengenai itu, seperti yang bocah kecil katakan tadi kalau Kaito mengatakan bahwa dia akan berada di sini sampai tangan Kino sembuh jadi permata itu masih ada pada kalung Theo”
“Masih ada pada Theo?”
“Benar. Seperti yang dijelaskan mereka, jika permata itu menyentuh Kaito secara langsung maka permatanya akan langsung masuk ke tubuhnya dan kemungkinan mereka akan menghilang”
“Tapi, Kino mengatakan kemungkinan itu masih belum pasti kan?”
“Mereka mengatakan kalau kemungkinan itu memang masih 50:50, tapi hanya untuk berjaga-jaga, Kaito ingin Kino sembuh terlebih dahulu” lanjut Joel
“Begitu”
Arkan cukup lega mendengarnya. Sekarang dia tau bahwa senyum bahagia anak-anak itu karena mereka tau bahwa Kino dan kedua kakak penolong mereka masih akan berada di sini. Namun, satu hal yang membuatnya khawatir.
“Manager, aku berharap hal ini tidak diketahui oleh yang lain bahkan Riz sekalipun. Tidak ada jaminan dia akan mampu tutup mulut meskipun dia adalah temanku”
“Aku tau. Ini soal pengelola pasar gelap, kan? Aku harap kita benar-benar tidak berhubungan lagi dengan mereka berdua. Kenyataan tentang ketiga remaja itu berasal dari dunia lain saja sudah cukup membuatku syok. Sebaiknya
hanya kita yang mengetahuinya”
“Aku juga setuju. Kita tidak bisa membuat anak-anak dalam bahaya, Jey. Kita orang tua mereka sekarang” Maggy ikut menambahkan
“Aku tau itu, Maggy. Itulah sebabnya aku mengadopsi mereka. Hal itu sebagai langkah untuk melindungi mereka
semua”
Di penginapan [Hébergement Clarks], Ryou terlihat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan wajah lelah.
Kino yang duduk di kursi bersama Kaito mencoba menenangkan sang adik.
“Ryou, jangan bicara begitu. Mereka anak-anak baik dan aku menyukainya. Mereka manis seperti Ryou saat masih kecil”
“Manis? Mereka manis? Kau serius mengatakannya? Mereka bahkan mendoakanmu supaya kau tidak sembuh lebih cepat!! Mereka itu setan-setan kecil yang menyebalkan!”
“Ryou, sudah kubilang jangan bicara kasar begitu”
“Aku perlu mengingatkanmu kalau mereka nyaris menarikmu pulang dengan mereka barusan!!” Ryou terlihat meledak seperti kepiting yang sudah matang
“Ryou…”
“Kaito, kunci pintunya dan blacklist mereka dari sini! Kalau perlu jangan perpanjang tempat ini dan cari tempat baru!” Ryou mulai ribut
“Kau benar-benar tidak menyukai anak-anak ya?” Kaito bertanya dengan wajah datar
“Aku tidak suka mereka yang nakal dan tidak tau diri!”
“Tapi kau sendiri juga tidak tau diri, kan?” Kaito sepertinya tau caranya menyindir Ryou sekarang
“……” Ryou melihat Kaito yang duduk di kursi dengan wajah kesal
Tidak lama, Kino melihat Kaito dengan senyum.
“Tapi, Kaito-san…aku masih tidak menyangka kalau Kaito-san akan mengatakan hal seperti itu pada mereka. Aku benar-benar sangat terkejut”
“Tentang kita masih akan berada di sini sampai tanganmu sembuh?”
“Benar”
Kaito melihat perban pada tangan Kino.
“Aku benar-benar cukup khawatir dengan kondisi tanganmu itu. Sekalipun mungkin lukanya akan baik-baik saja, tapi bukan berarti hal itu tidak berbahaya”
“Kaito tidak mengambil keputusan yang salah, Kino. Aku cukup setuju dengan hal itu. Setidaknya, kita bisa pastikan bahwa permatanya ada pada Theo. Lagipula anak itu juga sudah bersedia memberikannya pada Kaito” Ryou ikut bicara
“Begitu. Aku mengerti”
Sudah tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan kecuali menenangkan diri. Di sore hari itu, Ryou memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur sedangkan Kaito mengurungkan niatnya untuk membeli sabun pencuci pakaian.
Kino hanya tersenyum dan melihat kedua orang itu akhirnya tenang.
Malam telah datang. Tidak banyak hal yang dilakukan oleh para remaja itu.
“Apa ada hal lain yang bisa kita lakukan? Ini terlalu damai” gumam Ryou
“Mau coba keluar untuk belanja lagi? Kita bisa beli sabun cuci baju yang tadi sempat tertunda karena tamu sebelumnya” Kino menyarankan sesuatu
“Sepertinya boleh. Lagipula kita tidak bisa merasakan kantuk. Seandainya kita bisa tidur mungkin akan beda ceritanya. Aku tidak mau diam seperti di rumah sakit kemarin” Ryou mulai menggerutu
Kaito melihat kedua kakak beradik itu dengan sangat yakin.
“Saranku kita beli obat tidur agar bisa tidur. Aku ingin sekali merasakan tidur cepat dalam hitungan menit seperti yang dilakukan Ryou terakhir kali”
“Kau sedang menghinaku ya, Kaito?”
“Aku serius. Setidaknya jika kalian ragu dengan obat tidur dosis tinggi, kita bisa beli obat tidur dalam bentuk teh atau minuman herbal. Ada banyak di toko obat seperti yang aku kunjungi beberapa waktu lalu”
“Hmm…sepertinya boleh juga. Ide bagus. Kita juga bisa beli perban lagi untuk luka Kino. Bagaimana?”
“Aku mengerti. Kalau begitu, kita pergi ya” Kino mengangguk
Malam itu, mereka bertiga memutuskan untuk keluar. Dan untuk pertama kalinya mereka keluar tanpa senjata apapun. Tidak ada ide yang lebih aneh selain membeli obat tidur. Sejak mereka memang sudah tidak memiliki rasa kantuk lagi, sepertinya Kaito merindukan masa-masa tidur dengan nyenyak.
Di jalan utama pusat kota yang ramai, ketiga remaja itu akhirnya bisa menikmati malam yang normal.
Kaito melihat Kino dan mengajaknya bicara.
“Ini pertama kalinya kau pergi belanja di malam hari kan, Kino?”
“Kaito-san benar. Saat malam tiba ketika ‘dunia malam’ lenyap, Ryou dan Kaito-san yang pergi, iya kan? Aku bahkan tidak ingat kapan kalian kembali”
“Karena kau sudah tidur pulas saat itu” sahut Ryou
“Ryou benar. Aku senang kita bisa pergi bertiga seperti ini. Aku jadi merasa…setidaknya kita masih bisa merasakan kehidupan sebagai anak-anak biasa tanpa harus bertarung”
“Kau benar Kino”
Ryou melihat sebuah toko mainan dengan pistol air dan mengingat sesuatu.
“Kaito, apa yang terjadi dengan pistol yang kuberikan padamu waktu itu?”
“Pistol?” Kino terlihat bingung
“Pistol yang kami dapat dari anak buah gorilla saat mencoba menyergap aku dan Kaito. Kami mengalahkan mereka dan mengambil pistol mereka. Kami sendiri sempat membawanya ke pasar gelap dan aku yakin pistol itu diambil olehmu lagi, Kaito”
“Aku memberikan itu pada tuan bartender. Sejak aku tidak lagi membutuhkannya, jadi aku memberikannya. Mungkin saja itu lebih berguna di tangannya. Walaupun aku tidak yakin pistol itu masih ada padanya atau tidak” jawab Kaito dengan nada santai
“Begitu. Ya sudahlah. Akhirnya kita bisa lepas dari tatapan sinis orang-orang karena kau tidak lagi membawa pedangmu yang tidak bersarung itu”
“Aku menyimpan senjata kita di bawah tempat tidur dan di dalam lemari pakaian” lanjut Kaito
“Kaito-san…benar-benar sangat waspada ya”
“Itu adalah hal yang diajarkan oleh ‘orang itu’. Dia bilang kalau senjata yang tidak kau bawa sebaiknya disembunyikan di tempat terpisah untuk berjaga-jaga”
Mendengar kata ‘orang itu’, Ryou melihat Kino dengan wajah serius. Tanpa sepengetahuan Kaito, kedua kakak beradik itu semakin ingin mencari tau tentang siapa Kaito sebenarnya.
‘Mungkinkah orang yang dimaksud Kaito sebagai ‘orang itu’ adalah pemilik jam saku kami?’
******