
Arkan yang malang akhirnya menerima takdirnya sebagai ‘orang paling beruntung’ di malam itu.
Hal itu dikarenakan dia benar-benar bekerja rodi sendirian. Dia mulai mengepel seluruh lantai bar yang penuh darah dengan air yang sangat dingin dicampur cairan amonia yang dia bawa dari rumahnya dalam jumlah banyak.
Sebenarnya saat dia kembali ke bar untuk mempersiapkan ‘peralatan perangnya’, dia melihat pintu ruangan Justin sudah menutup.
“Sepertinya dia menutup pintunya sendiri saat aku pergi tadi”
Dia berpikir hal-hal positif untuk membuat mentalnya kuat menghadapi bar yang berantakan seperti kandang hewan itu.
Akhirnya setelah menghela napas panjang, Arkan mencoba mengetuk pintu ruangan Justin untuk mengepel lantai ruangannya. Namun ternyata dia tidak mendapatkan respon dari orang yang ada di dalamnya.
Arkan akhirnya menyerah dan kembali mengepel lantai bar tersebut.
Saat dia sedang menggeser meja dan kursi di sekitar lantai yang terkena darah, dia melihat kejutan lain yang akan menambah daftar pekerjaan merepotkannya di malam itu.
“Wah wah…ternyata noda darahnya sampai ke dinding. Harus bagaimana aku menutupi ini semua? Haah…”
Arkan menghela napas lagi saat melihat noda darah yang sudah kering di dinding pojok belakang tempat ketiga wanita itu mati.
Dia sepertinya masih belum kehilangan akal malam itu meski otaknya sudah lelah berpikir. Dia mencoba menutupinya sementara dengan menggeser lemari hias di pojok belakang untuk menutupi dinding yang terkena noda darah tersebut.
“Kalau aku tidak lelah besok, aku ingin membeli beberapa kertas dinding untuk menutupinya. Bagus juga jika bar tua ini mendapatkan sedikit sentuhan seni”
Arkan mengatakannya dengan nada positif tapi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Mencoba mendorong lemari hias itu sendirian, Arkan tidak sengaja memecahkan vas bunga yang menjadi hiasan di lemari tersebut.
-CRAAAAASH
“Ya ampun. Aku ingin tau, berapa banyak pekerjaan tambahan yang ada dalam daftarku malam ini? Kenapa shift-ku malam ini sial sekali?”
Dia sempat terkejut karena suara pecahan vas dan mengeluh sesaat.
Sebelum emosinya mencapai titik tertinggi yang bisa membuat mental breakdown, dia berjalan ke dapur untuk mengambil sapu.
Dia sempat melirik ke pintu ruangan Justin yang tertutup rapat.
“Aku pikir dia akan teriak karena suara pecahan vas bunga yang begitu keras. Syukurlah dia tidak membuatku repot sekarang. Aku sudah kewalahan dengan noda darah yang tidak mudah hilang itu, jadi jangan menambah daftar kerjaanku lagi ya”
Dengan cepat dia mengambil sapu dan kantong sampah untuk membuang vas keramik tersebut. Setelah selesai, dia membawanya ke tempat pembuangan sampah yang berada di belakang dan di sinilah mentalnya mulai menipis.
“Aku…hampir melupakan masalah utama tempat ini…” wajahnya membuat ekspresi aneh
Dia nyaris melupakan kelima mayat yang ada di sana. Mereka masih tergeletak di tanah dengan karena dilempar seenaknya oleh anak buah Justin beberapa saat lalu.
Dia meletakkan kantong sampah berisi pecahan vas di samping kantong sampah yang berantakan di sana dan masuk untuk mengambil plastik sampah besar, sarung tangan dan sapu tangan sebagai masker. Dia juga memakai jas hujan agar cipratan darahnya tidak mengenai pakaiannya serta mengganti sepatu kulitnya dengan sepatu boots yang ada di lemari karyawan.
“Perang sesungguhnya di mulai!”
Mengangkat mayat pria besar bertato itu tidaklah mudah untuknya, jadi dia memulainya dengan mengangkat mayat wanita yang ada di dekatnya.
“Mengangkat mayat perempuan dengan mengangkat perempuan yang hidup itu sama saja, benar kan? Jadi seharusnya tidak masalah”
Logika teraneh yang pernah ada tapi cukup masuk akal.
Dia mulai mengangkat dan memasukkannya ke dalam kantong besar pertama. Setelahnya dia mengikatnya kuat-kuat.
“Fiuh, untung masih baru jadi aroma busuknya tidak akan mencemari tempat ini. Kalau sampai membusuk di sini, jangankan pelanggan…orang yang biasa mengambil sampah-sampah ini seminggu sekali juga tidak akan mau
mendekati tempat ini”
Dia mulai mengangkat mayat wanita kedua. Di saat dia ingin mengangkatnya, dia melihat sebuah cahaya agak redup di dekat mayat wanita tersebut.
“Apa itu?”
Cahaya itu akhirnya hilang dengan sendirinya dan hanya menyisakan sesuatu. Sesuatu tersebut adalah benda kecil berbentuk bulat berwarna keemasan dengan rantai cukup panjang.
Arkan melihat hal aneh di sekitar benda itu. Begitu tidak masuk akal sampai membuat wajah dingin tanpa ekspresi itu berubah.
“Bagaimana bisa hanya noda darah di sekitar benda ini yang bersih tanpa sisa?!”
Arkan sekarang menunjukkan ekspresi terkejut. Dia begitu syok tapi begitu penasaran. Dengan ragu, dia mengambil benda itu dengan hati-hati.
Dia melihat detailnya. Terdapat banyak sekali goresan di sekitar tutupnya dan bagian lainnya.
“Ini jam saku? Tua sekali”
Sambil membuka tutupnya, dia melihat ukiran seperti huruf di bagian dalam tutup. Melihat jarum jam detiknya tidak bergerak sama sekali membuatnya berpikir jam itu sudah rusak.
“Benda tua seperti ini kenapa bisa di tempat ini?. Siapa yang membuang benda rongsok ini?”
Arkan terus memperhatikan detailnya, namun benar-benar tidak ada yang menarik dari jam saku itu. Benda itu hanya benda tua antik dengan gaya vintage yang jika dijual ke tempat barang rongsok paling hanya seharga 3 Franc.
Tapi yang membuatnya penasaran adalah kenapa noda darah di sekitar jam saku itu saja yang bersih tanpa sisa sama sekali. Bekas yang dihasilkan di tanah itu berbentuk lingkaran dengan diameter kurang lebih 40 cm, hampir delapan kali lipat dari diameter jam saku itu yang mungkin hanya 4-5 cm.
“Kurasa aku akan menyimpan ini dan melihat detailnya lebih lama setelah selesai bekerja”
Akhirnya, rasa penasaran itu membuatnya mengambil jam saku itu dan menyimpannya sementara di kantong jas hujan bagian atas.
Melanjutkan kerja rodinya itu, perjuangannya mengangkat kelima mayat itu benar-benar seperti kisah ‘heroik’ yang menyentuh. Setidaknya untuk Arkan sendiri.
“Aku benar-benar sudah melakukan yang terbaik, nenek. Lihat cucumu ini dari surga, dia berhasil membungkus lima mayat dalam waktu singkat. Hanya butuh waktu sekitar dua jam untuk melakukannya”
Setelah memberi pesan pada nenek tercintanya di surga, dia melepas jas hujan dan sarung tangannya.
“Haa…dua jam itu termasuk lama, sadar bodoh!. Ini semua gara-gara tubuh besar kedua pria berotot itu. Apa gunanya memiliki otot tebal kalau akhirnya mati karena ditembak? Mengangkat mereka berdua satu per satu menghabiskan tenaga cukup banyak. Tapi kalau berhenti sekarang semua akan semakin merepotkan”
Kelima mayat tersebut juga sudah disusun berderet layaknya mayat yang telah dibungkus.
Arkan melakukan itu semua karena dia berpikir mereka pernah hidup. Karena itu, dia tetap mencoba yang terbaik untuk memperlakukan mereka sebagai manusia sampai akhir.
“Besok selain membeli kertas dinding, sebaiknya aku mampir ke tempat Riz Mortem untuk memintanya mengambil mayat-mayat ini”
Perasaan lega akhirnya dirasakan olehnya. Urusan tempat sampah dan mayat sudah selesai, ditambah dia juga menemukan benda menarik. Begitu masuk ke dalam bar lagi, dia menjadi pucat kembali.
“Kenapa aku bisa lupa soal ini juga?”
Arkan kembali meratapi nasibnya sambil tetap mencoba mempertahankan wajah tenangnya.
Selama dua jam dia mengurus semua kekacauan di belakang, tentu saja dia terpaksa meninggalkan bar sementara waktu. Dan bersamaan dengan waktu berlalu, noda darah di lantai itu tentu saja masih belum dibersihkan seluruhnya.
Bisa dikatakan bahwa Arkan sedang dalam masalah serius lainnya.
“Jenis kayu tua begini pasti akan sulit menghilangkannya dan sudah jelas tidak akan hilang dengan sempurna. Bahkan dengan bantuan air dingin dan cairan amonia sekalipun, tidak akan benar-benar menghilangkan bekasnya. Aku sial sekali”
Dia tidak tau bahwa waktu telah berlalu begitu cepat dan malam terasa seperti tidak akan berakhir. Di malam itu, Arkan merasa bahwa itu adalah malam terpanjang yang pernah dia lalui seumur hidupnya.
Cukup dengan semua rasa lelah yang dirasakannya, dia memilih menyerah dan memutuskan akan menutupi sisa noda darah yang sulit hilang itu dengan karpet. Dan di atas karpet tersebut akan dia letakkan sesuatu agar pelanggannya tidak akan curiga.
“Hmm…besok pagi aku harus membeli karpet yang besar dan sesuatu untuk memastikan tidak ada pelanggan yang curiga. Yah, meskipun semua orang yang datang ke tempat ini hanyalah pemabuk tidak berarti, tapi kalau sampai terjadi sesuatu pada tempat ini…gajiku yang akan jadi korban”
Arkan merapikan semua benda berserakan di lantai bar mulai dari sapu dan tongkat pel, jas hujan dan sepatu boots yang dia pakai serta sapu tangan dan sarung tangan miliknya.
Sebelum itu, dia tidak lupa mengambil jam saku aneh yang dia temukan dari dalam kantong jas hujan bagian atas. Arkan menyimpannya di saku celananya sekarang dan membawanya pulang.
Sebelum pulang, dia melihat jam di dinding bar.
“Haa…jam 01.00 pagi ya, Aku akan pergi ke rumah manager besok pagi dan menceritakan semua yang terjadi malam ini. Setelah itu, aku akan meminta uang untuk membeli kebutuhan bar dan mengajukan surat cuti”
Setelah melakukan pengecekan kembali tentang pekerjaannya, dia melihat ke arah pintu bar tersebut dan mengetuknya sekali.
“Justin-sama, ini Arkan. Malam ini aku akan menutup barnya. Aku tidak akan mengunci pintunya karena brangkas kasir sudah kusimpan di tempat biasa. Besok aku akan memoles tempat ini. Aku berharap Justin-sama tidak keberatan dengan itu”
Dia tidak mendengar respon apapun selama beberapa menit. Sampai akhirnya orang yang di dalam ruangan itu menjawab.
“Aku tidak peduli. Ada yang hal yang lebih penting dibandingkan memikirkan tempat ini. Urus sesukamu. Jangan menggangguku lagi sekarang dan pergi”
“Baik. Selamat beristirahat, Justin-sama”
Arkan keluar dari bar dan berjalan di jalan gelap dengan minimnya cahaya.
Dia berkomentar dalam hatinya.
‘Kukira dia bunuh diri di dalam. Ternyata masih hidup’
Malam panjang berakhir untuk Arkan dan dia harus siap menghadapi kehidupan lainnya saat matahari terbit pagi nanti.
Selesai dengan semua rekam kejadian yang dialaminya sendiri tadi malam, Arkan yang saat ini sudah berada di meja bar mencoba menarik napas sejenak.
“Pagi ini aku sudah ke tempat manager dan mendengar kabar bahwa tuan Nox sudah pergi semalam. Lalu, aku sudah meminta uang terpisah dari pendapatan yang ada di brangkas untuk membeli perabotan baru demi bisa menutupi noda darah itu sana. Aku juga harus ke tempat Riz untuk memintanya mengambil mayat-mayat di luar. Rasanya pagi hariku sudah sangat panjang. Ditambah lagi, manager belum menemukan pengganti tuan Nox. Aku benar-benar harus cuti minggu depan”
Semua gerutuan panjang yang dikeluarkannya di bar yang kosong tanpa pelanggan pagi itu dikatakan dengan ekspresi wajah datar.
Seakan memang tidak merasa terbebani, apa yang keluar dari mulutnya dengan raut wajah miliknya tidaklah sama.
Arkan mengeluarkan jam saku tua yang dia temukan semalam.
“Aku akan menggunakan sedikit waktuku untuk istirahat sebelum menutup bar ini sementara untuk pergi keluar”
Dia mulai membuka tutup jam saku itu dan melihat detailnya sekali lagi.
Tidak ada yang istimewa dengan jam itu. Pemikiran itu tidak berubah sampai sekarang. Namun, yang membuatnya tidak bisa membuangnya karena keanehan yang dia lihat semalam.
Mencoba melihat setiap bagiannya, dia merasa dia tidak mengetahui cara membongkar jam saku ini.
“Sudahlah. Aku sama sekali tidak tau apapun tentang jam saku. Lebih baik aku mengabaikannya sebelum siang hari datang. Mayat di belakang harus cepat dipindahkan”
Arkan mungkin tidak berminat dengan benda tua itu tapi dia tetap melihatnya dengan tatapan serius.
“Jam tua ini mungkin terlihat tidak bagus sama sekali, tapi hal aneh yang kulihat semalam sudah cukup membuatku yakin bahwa jam ini seperti sebuah harta karun. Aku akan melepaskan ini jika memang sudah waktunya”
Dengan tenang, dia memasukkan jam saku tua itu ke dalam saku celananya dan pergi ke pintu masuk bar.
Dia kembali merubah tanda pada pintu menjadi ‘tutup’ dan meninggalkan bar untuk pergi melakukan semua daftar rencananya tanpa berpamitan pada Justin terlebih dahulu.
**
Di dalam bar, Justin masih mengurung dirinya di ruangannya sendiri.
Sejak semalam, emosinya begitu tidak terkontrol. Botol-botol alkohol berada di lantai, dua buah pistol yang dia pakai untuk membunuh kelima orang semalam tergeletak juga di lantai.
Tubuhnya yang masih kotor karena darah semalam belum dibersihkannya sama sekali. Selain itu, noda darah di lantainya juga sudah mulai ada yang mengering.
Tatapan wajahnya dingin seakan benar-benar haus akan mangsa.
“Pengguna pedang tanpa sarung pedang yang berani memasuki wilayah kekuasanku. Meskipun dia tidak melakukan sesuatu sekalipun, aku akan tetap membunuhnya karena berani memasuki wilayah ini. Semua penduduk kota itu…tidak akan kubiarkan memasuki tempat ini”
Mata dingin yang tajam itu seperti sedang menunggu waktu yang tepat.
Justin benar-benar terobsesi dengan mangsa yang bahkan belum pernah dilihatnya sama sekali.
******