
Ketika semua titik terang dari masalah yang mereka hadapi sudah jelas, Arkan hanya bisa terpaku dengan wajah aneh yang dia buat sambil bertanya pada siapapun yang mendengarnya di sana.
“Apa aku ada di sini untuk melihat kelahiran dari orang tidak waras lainnya?”
Arkan yang masih menggenggam pisau di tangannya meletakkan pisau tersebut di sofa tempat Justin biasa duduk karena sudah tidak mau melibatkan diri dalam percakapan aneh kedua orang tersebut.
Namun, ternyata Ryou dan Riz hanya menengok ke arahnya dengan wajah datar tanpa memberikan respon berarti.
“……”
Arkan yang menyadari hal itu langsung terlihat tidak nyaman dan bertanya dengan sinis.
“Kenapa melihatku begitu?!”
Ryou berusaha tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh bartender di depannya dan kembali bicara pada Riz.
“Tidak ada. Jadi sekarang, um–”
“Namaku Riz Mortem dari tempat penjualan mayat [Riz Mortem]”
Ryou yang mendengar hal tersebut terdiam dengan tatapan serius dan bergumam dalam hatinya.
‘Sudah kuduga. Untuk bicara dengan orang yang memiliki pola pikir seperti iblis, setidaknya kita harus mengerti cara pikir seperti iblis juga agar bisa menyesuaikan diri’
Ryou melanjutkan kembali pembicaraannya.
“Riz ya, namaku Yuki Ryou. Jadi Riz, karena bartender itu mengatakan nasib mereka yang dibawa itu tergantung padamu, artinya kau memiliki akses ke sana iya kan? Kau mengatakan kalau kau berasal dari penjualan mayat. Itu artinya kau juga berhubungan dengan tempat itu”
“Aku memiliki kios dagang di sana jadi tentu aku memiliki kunci dan akses masuk ke tempat itu. Pagi ini aku juga mengunjungi tempat itu untuk memberikan laporan dan berdiskusi dengan Jack-sama mengenai harga barang untuk pembukaan nanti malam”
“Jack-sama?” Ryou cukup penasaran dengan nama asing lain yang muncul
“Ah, itu adalah nama pemilik wilayah pasar gelap sekaligus suami dari Seren-sama”
“Jadi suami-istri itu memiliki profesi sebagai pembunuh sekaligus pembisnis ya. Luar biasa gilanya”
Seperti nada pujian tapi sebenarnya Ryou mengatakannya dengan wajah tidak bersahabat. Dia bahkan sempat melampiaskan kemarahannya di dalam hati.
‘Mereka bahkan berani membawa Kino. Aku akan membuat mereka menyesal jika sampai membuat Kino terluka sedikit saja!!’
Riz melanjutkan kembali penjelasannya.
“Mereka memang pembunuh namun cara pandang mereka tidak sama. Berbeda dengan istrinya, Jack-sama itu sebenarnya orang yang sangat realistis. Meskipun dia juga pembunuh yang lebih kuat dibanding istrinya, tapi sejak dia membuka bisnis penjualan manusia di wilayah gelap dia jadi lebih mementingkan pasar dan kemajuan bisnisnya dibandingkan dengan kesenangannya sebagai pembunuh”
“Memangnya ada yang seperti itu?” tanya Ryou sambil memiringkan sedikit kepalanya karena heran
“Tentu saja ada, setidaknya Jack-sama adalah salah satunya. Seren-sama juga hanya melakukan semua hal yang disukai oleh Jack-sama tanpa pernah membantahnya. Aku hanya bisa memberitau ini pada kalian”
“Soal apa? Katakan?!” Ryou mulai terlihat tertarik dengan kata-kata Riz barusan
“Mulai detik ini, berdoalah agar Jack-sama berubah pikiran dan tidak tertarik lagi dengan anak-anak atau kakakmu itu”
**
Di luar ruangan Justin, Kaito mendatangi Theo dan anak-anak lain yang duduk di kursi di bar.
“Kaito-nii, apa yang terjadi di dalam? Siapa orang aneh yang menangis tadi?” tanya Theo
“Dia rekan dari tuan bartender dan sepertinya kenalan lama Justin. Dia tidak berbahaya dan akan membantu kami untuk menyelamatkan ketiga orang itu. Tenanglah ya”
Mendengar hal itu, semua anak-anak termasuk Theo merasa senang. Michaela bahkan memeluk Kaito. Awalnya, Kaito panik karena tidak pernah menerima hal seperti ini. Namun, akhirnya yang bisa dilakukan oleh Kaito adalah membiarkan gadis kecil itu melakukan semua yang dia suka.
“Nama kakak Kaito-niichan kan?”
“Benar. Kau bisa memanggilku begitu” jawab Kaito sambil tersenyum
“Kaito-niichan, tolong selamatkan mereka semua ya. Aku ingin bertemu Stelani-neechan dan Fabil-niichan lagi. Aku juga ingin bertemu Kino-niichan lagi!!”
Kaito berlutut dan berkata pada mereka semua.
“Tentu. Aku akan melakukan semua hal agar bisa menyelamatkan mereka semua”
“Kaito-nii…”
Kaito terlihat serius dan berkata dalam hatinya.
‘Apapun yang terjadi, tidak ada pilihan lain selain memikirkan kemungkinan terburuk. Rencanaku dan Ryou itu juga sebenarnya langkah terakhir yang bisa diambil. Sebisa mungkin aku tidak ingin membuatnya melakukan itu tapi jika memang terpaksa–’
Kaito melihat ke arah ruangan Justin sambil menunggu ketiga orang yang ada di dalamnya keluar. Dia berdiri dan melihat jam sakunya kembali. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.32 dan ekspresi Kaito mulai terlihat serius.
‘Kita tidak bisa membuang-buang waktu lagi. Semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan’ gumam Kaito dalam hati
Setelah memasukkan kembali jam saku miliknya, dia melihat Theo dan anak-anak itu kembali agar tidak menimbulkan kecemasan.
**
Di dalam ruangan Justin, Riz menjelaskan sesuatu yang membuat dua orang lainnya menjadi tidak bisa mengatakan apapun.
“Berdoalah agar Jack-sama berubah pikiran dan tidak tertarik lagi dengan anak-anak atau kakakmu itu!”
“……” Ryou dan Arkan melihat satu sama lain dengan tatapan heran
“Arkan mungkin mengenal mereka saja, namun karena dia tidak berbisnis di sana jadi kau tidak tau sifat dan kebiasaan mereka”
Arkan yang mendengar itu langsung berkomentar dalam hati.
‘Kau kira aku mau mengenal iblis berwajah manusia itu?!. Maaf ya, ketika mengenal Justin saja aku merasa umurku sudah menipis sepuluh sampai dua puluh tahun!. Kalau sampai mengenal mereka hingga tau hobi dan tanggal lahir mereka nanti, aku yakin umurku akan memendek lebih banyak dan hanya tersisa beberapa menit!!’
Ryou dan Arkan kembali mendengarkan Riz.
“ Jack-sama itu mudah sekali tertarik pada sesuatu tapi mudah juga bosan. Jika dia tidak tertarik dengan manusia atau orang yang akan dijual, kemungkinan besar dia akan menjual mereka dalam keadaan hidup dengan harga yang murah agar tidak perlu merawat mereka”
“……”
“Alasannya karena kalau mereka masih tetap ada di sana dalam keadaan hidup, mau tak mau pengelola pasar gelap harus memberi mereka makan. Jika mereka dibiarkan mati kelaparan, kondisi mayatnya akan jelek dan akan menurunkan harga pasar. Hal itu paling dibenci oleh Jack-sama”
“……” sekarang wajah Ryou dan Arkan semakin aneh
“Dan yang paling penting, sekali Jack-sama tidak tertarik pada sesuatu maka dia tidak akan mau menyentuhnya lagi. Jadi, jika manusia itu sudah tidak menarik minatnya maka dia tidak akan membunuh atau memotongnya. Alasan klisenya karena itu membuang-buang energi dan tidak berguna. Istrinya juga biasanya tidak akan diminta untuk membunuhnya. Ya, kurang lebih seperti itu” Riz menjelaskan dengan sangat serius dan detail
Ryou kembali ‘memuji’ pria bernama Jack.
‘Gila! Di ‘dunia’ aneh ini ternyata ada orang aneh seperti itu?! Jack, dia benar-benar menerapkan konsep yang tidak biasa untuk ukuran pembunuh. Otaknya benar-benar melenceng jauh dari konsep pembunuh yang kutau di anime’
Dan sekarang, setelah mendengar semua itu tiba-tiba timbul perasaan merinding di punggung Arkan. Dia menyadari sebuah celah dari penjelasan Riz.
“Sebentar sebentar, kau bilang kalau berharap dia tidak tertarik dengan mereka bertiga kan? Lalu bagaimana jika dia justru tertarik pada mereka?! Aku punya firasat tidak enak dengan semua penjelasanmu itu,Riz!!”
Mata Ryou langsung menyipit dan berubah tajam.
“Um…kalau itu ya…jelas tidak akan dilepaskan. Minimal akan dibiarkan hidup dengan harga pembukaan yang jumlahnya tidak normal. Maksimal ya…akan dipotong dan dipisahkan sendiri bagiannya oleh Jack-sama. Kira-kira…um, begitulah” Riz menjelaskan dengan terbata-bata dan tidak fokus
Sekarang jelas kalau kemungkinan mereka sekarang benar-benar tidak lebih dari 50:50.
Ryou menghela napas dan berjalan menginjak tubuh Justin.
“Tidak perlu banyak bicara lagi sekarang! Angkat ini dan bawa kami ke lokasi pasar gelap itu sekarang!!”
“Gyaa!! Jangan injak uangku!!”
-Plaak
Riz langsung berlutut untuk memukul kaki Ryou dan membersihkan bekas injakkan kakinya.
Tidak lama setelahnya, Riz langsung melihat ke arah Ryou kembali sambil marah-marah.
“Berisik! Dia bukan untuk menghasilkan uang untukmu tapi sebagai bahan pertukaran untuk keselamatan kakakku dan anak-anak itu!”
“Tapi pertukaran dengan barang juga kan termasuk bisnis! Makanya, belajar ekonomi dan cara mengelola barang dagangan dengan benar agar otakmu pintar sedikit, dasar miskin ilmu!!”
“……”
Ryou yang memerah karena emosi menahan tanganya yang masih memegang dagger agar tidak melempar pisau itu ke arah kepala Riz dengan sengaja.
Arkan sudah tidak mau lagi terlibat dalam adu mulut itu dan dengan inisiatif tinggi keluar mengambil kantong plastik sampah berukuran bersar untuk membungkus mayatnya.
Saat keluar dia menghampiri Kaito dan berbisik padanya.
“Kami akan mulai membungkus mayatnya dan membawanya keluar. Paling tidak, lakukan sesuatu agar anak-anak itu tidak berpikiran yang aneh-aneh”
“Aku mengerti, terima kasih banyak tuan bartender”
Arkan lalu berbalik ke belakang untuk mengambil plastiknya.
Sekarang tinggal Kaito dan anak-anak itu. Melihat Arkan sudah tidak ada lagi di ruangan itu, Kaito mulai bicara dengan Theo dan yang lain.
“Kalian semua, dengarkan aku. Aku berharap kalian tidak melibatkan diri kalian kali ini dan tidak lagi membuat masalah apapun”
“Kaito-nii, apa kalian akan ke tempat berbahaya itu?!. Aku…aku juga ingin menyelamatkan Kino-nii dan–” Theo bersikeras untuk ikut
Sebelum kalimatnya selesai, Kaito langsung memotongnya dan menatapnya dengan serius.
“Kau yang paling tau seperti apa kondisinya saat ini, Theo. Lihat tempat yang kacau ini!. Hal paling penting adalah kau harus menjaga mereka semua sampai kami kembali. Jika sampai terjadi sesuatu pada kalian dan kami tidak ada, kalian semua mungkin akan mengalami hal yang lebih buruk dari ini”
Semua anak-anak itu terdiam mendengarkan kalimat dari Kaito.
“Aku tidak selembut dan sebaik Kino jadi aku tidak akan mengatakan hal yang lemah dan manja kepada kalian semua. Tapi aku tetap peduli pada kalian, jadi jangan membuatku dalam masalah lebih dari ini. Mengerti maksudku, kan?” ucap Kaito dengan nada serius kepada mereka semua
Mereka mengangguk pelan. Bukan karena sakit hati karena Kaito berkata begitu, tapi karena mereka menyadari mereka juga tidak bisa memberikan bantuan apapun.
Kaito memberikan sesuatu pada Theo sebagai anak yang paling besar diantara mereka.
“Ini, ambilah untuk makan siang kalian”
“Sebanyak ini!!” Theo menerima uang sebesar 400 Franc dari Kaito dengan wajah bingung
“Kalian sudah tidak perlu lagi mengemis dan memberikan uang kalian pada Justin sejak dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Uang yang kalian miliki sekarang bisa digunakan untuk membeli makan dan kebutuhan lainnya”
“Tapi–”
“Dengar, kau yang paling besar sekarang Theo. Kedua temanmu itu tidak ada di sini untuk membantumu dan aku berharap kau bisa menjaga mereka semua dengan baik”
“……”
“Kami semua juga tidak akan kembali sampai benar-benar bisa menyelamatkan mereka bertiga. Karena itu, kau harus pergunakan uang ini dengan benar dan pastikan semuanya aman”
“……Aku mengerti” Theo menjawabnya dengan pelan
Kaito menepuk pundak Theo dua kali dan berkata sambil tersenyum.
“Berdoalah agar semua bisa kembali selamat. Dengan begitu, kau bisa bertemu dengan Kino lagi. Ryou sudah bilang padamu, kan? Kalau ingin minta maaf, katakan itu pada Kino ketika dia kembali”
Mendengar hal itu, Theo tidak bisa menahan air matanya kembali dan menganggukkan kepalanya.
Arkan yang berjalan dari belakang sempat melirik mereka semua. Sepertinya, drama mengharukan yang terjadi antara Kaito dan anak-anak itu berhasil membuatnya tersentuh.
‘Aku harap apa yang kulakukan ini benar. Aku tidak benar-benar jahat seperti Justin, karena itu aku masih berharap Stelani dan Fabil bisa kembali selamat tanpa perlu berakhir menjadi dagangan di tempat ini’
Dengan membawa plastik di tangannya, Arkan bergumam pelan lalu masuk ke ruangan Justin.
“Setidaknya, keputusanku untuk pensiun dari pekerjaan ini dan menjadi orang suci di kota harus kupikirkan kembali dengan serius”
Ryou dan Riz yang ada di dalam ruangan itu melihat Arkan datang membawa plastiknya.
“Ini. Aku bawakan ini untuk membungkusnya. Sekarang, Riz…lakukan tugasmu karena kita sudah tidak punya waktu!!”
“Aku mengerti” Riz menerimanya dengan nada lemas
Sebenarnya, Riz tidak syok seperti dugaan Arkan.
Awalnya, dia berpikir bahwa Riz mungkin akan pingsan setelah mengetahui kematiannya, namun ternyata dugaannya salah. Bahkan ketika membungkus mayat Justin seperti yang dilakukannya sekarang, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun.
‘Kurasa ini yang disebut profesional. Apa saat dia membawa mayat-mayat tadi pagi juga dia bermuka datar begitu? Padahal sebelum mengambil kelima mayat pagi ini, sepanjang jalan dia terus bermuka mesum sambil membicarakan bentuk mayatnya padaku’ kata Arkan dalam hati dengan ekspresi wajah heran
Selesai membungkusnya dengan rapi, Riz meminta bantuan Arkan untuk membantu membawanya ke gerobak di luar.
“Hah! Tidak mau! Dia berat dan menjijikan!” Arkan langsung menolaknya
“Kau sendiri yang bilang harus cepat, kan! Jangan banyak bicara dan lakukan! Kalau gerobaknya ada di sampingku aku tinggal menyeretnya saja seperti tadi pagi. Masalahnya dia ada di luar!” Riz bicara dengan nada tinggi
“Ukh…”
Dengan sangat terpaksa, Arkan membantu Riz membawanya.
Kaito dan anak-anak yang lain melihat semuanya. Beberapa anak-anak ada yang mulai ketakutan dan menutup mata mereka, ada juga yang memeluk Theo untuk bersembunyi, termasuk Michaela.
Michaela berbisik pada Theo.
“Theo-niichan, itu Justin-sama?”
“Aa. Dia sudah mati sekarang, Michaela. Dia tidak akan mengganggu dan memukuli kita lagi. Kita bebas darinya sekarang dan tidak ada yang perlu kita takutkan darinya”
Ryou yang keluar paling akhir menghampiri Kaito.
“Kita pergi sekarang, Kaito”
“Kau benar”
Ryou dan Kaito melihat ke arah anak-anak itu.
“Theo, jaga mereka seperti yang kukatakan padamu barusan” kata Kaito sambil menepuk pundak Theo kembali
“Ryou-nii, Kaito-nii…kalian harus selamat!”
“Jangan khawatir. Tidak ada satupun dari kami yang berniat untuk mati!” Ryou bicara dengan nada serius
Ryou menatap Theo lalu berkata, “ingat pesanku sebelumnya dan jangan membuat masalah” sambil mengusap-usap kepalanya yang tertutup topi.
Ryou dan Kaito akhirnya keluar dan Arkan kembali masuk untuk bicara dengan Theo dan anak-anak lain.
“Kalian semua sebaiknya tetap di sini. Jangan kemana-mana karena aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama. Jika kalian lapar, kalian bisa membeli makan di kota namun tetap berhati-hati”
“Kami mengerti” jawab anak-anak itu
“Kalian mungkin tidak tau tapi anak buah Justin-sama masih di luar sana. Jika ada yang datang ke bar, katakan tempat ini sedang dalam renovasi dan tolak semua yang datang termasuk jika dia mengaku sebagai manager tempat ini, mengerti?”
“Kami mengerti”
“Juga seandainya kalian ingin mandi atau tidur, sebaiknya kalian pakai ruang karyawan di belakang. Pokoknya apapun yang terjadi kalian harus menjaga diri kalian semua. Jadikan hal ini sebagai pelajaran!!”
“Kami mengerti”
Arkan seperti kakak atau orang tua yang sangat perhatian kepada anak-anak itu. Bagaimanapun juga empat orang dewasa meninggalkan tujuh anak kecil sendirian itu memang beresiko, tapi mereka melakukan hal itu bukan karena mereka menyukainya.
Akhirnya, Arkan pergi keluar bar dan bersiap untuk pergi dengan tiga orang lain yang sudah menunggunya.
******