
“Rasa…yang sangat kurindukan” gumam Kaito
Meski hanya sebentar, Kino dan Ryou mendengar apa yang dikatakan olehnya dan menatapnya dengan tatapan bingung.
“Kau bilang apa tadi, Kaito?”
“Rasa yang dirindukan? Apakah Kaito-san pernah makan masakan Jepang?”
“Apakah ini masakan dari tempat asal kalian? Aku hanya merasa pernah melihat bentuk yang mirip dengan ini dan…”
“Dan…rasanya mirip?” Kino bertanya kembali
“Sedikit mirip”
Kedua kakak beradik itu saling melihat satu sama lain. Bukan tanpa alasan, tapi sepertinya memang merasa ada yang aneh.
‘Rasa yang mirip katanya? Bukankah dia hilang ingatan? Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu?’ Ryou bertanya-tanya dalam hati
‘Mungkinkah Kaito-san mengingat hal itu karena ingatan yang telah dia temukan?’ Kino juga ikut bertanya-tanya dalam hati
Kaito menyadari sikap itu dan langsung meluruskan kalimatnya.
“Ini tidak seperti dugaan kalian. ‘Orang itu’, orang yang pernah menolongku pernah membuat masakan ini sebelum aku pergi mencari kepingan ingatanku. Dari segi bentuk, warna dan rasa semuanya hampir mirip. Tapi, aku tidak yakin apakah itu masakan negeri kalian atau bukan. Bagaimanapun juga, tempatku berasal jelas-jelas bukan sebuah Negara bernama Jepang”
“Begitu. Kami mengerti, Kaito-san” Kino tidak mau memperpanjang semua itu dan melanjutkan makan
Memang aneh rasanya tetapi kedua kakak beradik itu memutuskan untuk membahasnya di lain waktu. Ketiga kembali makan.
Sebenarnya, hal ini sangat tidak biasa. Sejak mereka bertiga benar-benar tidak merasakan lapar sama sekali, rasanya seperti ada yang kurang.
Kino dan Ryou yang sempat membeli roti saat mencari jam saku mereka yang hilang di pusat kota maupun Kaito yang memakan roti pemberian Kino saat itu, semua itu dimakan ketika mereka sendiri tidak menyadari bahwa rasa lapar dan haus mereka mulai menghilang.
Namun, karena ini adalah masakan pertama yang dimasak oleh Kino sejak kedatangannya di ‘dunia’ aneh ini maka ini menjadi masakan paling berharga untuk mereka.
Tidak perlu ditanya bagaimana nasib semua makanannya. Mereka lenyap tak tersisa.
“Enak~aku cinta masakan enak” Ryou terlihat puas sekali
“Terima kasih makanannya. Semuanya enak, Kino. Aku terkejut kalau kau benar-benar pintar memasak. Ini melebihi ekspetasiku. Apalagi dengan kondisi tanganmu yang terluka seperti ini”
“Aku tidak berbohong saat aku bilang masakan Kino enak, kan?” Ryou bersemangat
Rasanya di sini, Ryou terlihat seperti orang tua yang bangga pada hasil kerja anaknya. Kino hanya tersenyum dan Kaito hanya mengangguk. Selesai dengan semua itu, Kaito merapikan semua piring yang kotor.
Kino melepas sabuk pengikat di pinggangnya dan meletakkannya di atas meja.
“Aku akan memakai kamar mandinya sebentar untuk membersihkan tubuhku. Sepertinya aku perlu menjemur pakaian ini juga” ujar Kaito
“Terserah kau saja” Ryou menjawab acuh
Dia membantu sang kakak mengganti perban dan mengoleskan obatnya. Selagi Kaito mandi, kedua kakak beradik itu mulai membahas sesuatu.
“Kino, aku yakin kalau Kaito kemungkinan berasal dari Jepang” bisik Ryou
“Aku juga merasa seperti itu, Ryou. Kaito-san mengatakan bahwa namanya itu adalah pemberian dari orang yang menolongnya. Nama Kaito itu sendiri umumnya lebih banyak dipakai oleh orang Jepang dibandingkan di Negara lain”
“Kita sudah pernah mengatakannya saat pertama kali bertemu dengannya, tapi dia sendiri tidak pernah mendengar nama Jepang. Aku yakin ada sesuatu” Ryou terlihat sangat curiga
“Aku juga merasa begitu”
Ryou menjadi serius sekali dan mulai berpikir.
“Masakan yang mirip ya…nikujaga dan tempura serta karaage memang sudah ada dimana-mana di dunia kita. Tapi rasanya di ‘dunia lain’ itu…itu sepertinya nyaris mustahil. Kau juga sependapat kan, Kino?
“Ada kemungkinan orang yang selalu dipanggil dengan sebutan‘orang itu’ oleh Kaito-san memiliki hubungan dengan dunia tempat kita berasal. Meskipun itu hanya tebakanku saja” Kino mulai mengeluarkan hipotesanya
Mereka terdiam. Keheningan itu berakhir ketika Ryou selesai mengikat perban Kino bersamaan dengan Kaito yang keluar dengan pakaian barunya.
“Kalian sedang membahas sesuatu?” tanya Kaito yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk
“Kami…kami hanya membahas apa yang harus kita lakukan setelah ini” Kino dengan cepat memberikan jawabannya
“Hmm…”
Kaito melihat mereka tanpa memberi komentar lainnya dan berjalan ke tempat tidurnya.
“Rasanya aku mulai lupa caranya tidur” gumamnya pelan
“Apa kau bilang tadi?” Ryou langsung menengok ke arah Kaito
“Aku bilang aku mulai lupa caranya tidur. Berbeda dengan makan yang masih bisa kulakukan meskipun tidak lapar, aku tidak bisa tidur jika tidak mengantuk” lanjut Kaito
“Kino bisa tidur karena efek obat. Kau mau meminum obat Kino agar bisa tidur?” Ryou memberikan ide anehnya
“Ryou, jangan mengatakan hal yang aneh-aneh”
“Kalau memang berhasil, kenapa tidak? Aku ingin sekali tidur. Mungkin dengan itu, aku bisa sedikit melupakan kejadian hari ini”
“……” kedua kakak beradik itu terdiam
Tidak disangka, Kaito benar-benar menyetujui ide gila itu. Tentu saja pada akhirnya, mereka tidak memberikan obat itu pada Kaito.
Di dalam ruangan itu, mereka hanya menghabiskan waktu dengan duduk, mengelap senjata dan mandi. Hampir tidak ada dari mereka yang ingin membahas soal kejadian di bar dan permata itu. Mereka bertiga sepertinya telah sepakat untuk menenangkan diri.
“Apa kita membeli sabun untuk mencuci pakaian?” tanya Kaito yang berdiri sambil memegang pakaian yang dipakainya tadi
“Tidak beli. Sepertinya tadi kita semua melupakannya” jawab Ryou yang sibuk membersihkan pedangnya
“Kaito-san ingin mencuci bajumu?”
“Sejak pakaian ini baru saja kita beli, sayang sekali jika berakhir dengan wine seperti ini”
“Bagaimana dengan jubah kesayanganmu itu? Darah penjaga gerbang itu mungkin sudah mengering” celetuk Ryou
“Kurasa itu bukan masalah. Nanti juga hilang”
“Hah?!” Ryou kembali bingung
Lagi-lagi kalimat yang sangat ambigu. Ryou mulai tidak mengerti dengan apa yang dimaksud olehnya.
“Kalian berdua tunggu di sini ya. Kurasa aku akan keluar sebentar untuk membeli sabun cuci pakaian”
“Kenapa tidak mau membawanya ke tukang cuci saja? Jadi orang jangan terlalu sering merepotkan diri sendiri” Ryou memberi saran
“Jika kita melakukannya hanya akan menimbulkan kegaduhan. Untuk orang yang tidak memiliki aroma tubuh seperti kita di ‘dunia’ ini, hal itu hanya akan membuat kita terkena masalah”
“Kau benar”
“Kalau begitu kalian berdua jangan pergi kemana-mana dan–”
-Tok…Tok…
Terdengar suara ketukan dari luar. Kaito dengan perlahan berjalan mendekati pintu. Sejak kembali ke penginapan, pintu ruangan itu sengaja tidak dikunci olehnya jadi Kaito sedikit berhati-hati.
“Siapa?”
“Tuan, ada yang mencarimu” kata seseorang di balik pintu itu
Kaito membuka pintunya lalu melihat seorang pelayan berdiri.
“Ada apa?”
“Maaf tuan, ada yang mencarimu di bawah”
“Siapa? Rasanya aku tidak pernah memberitau tempat ini pada siapapun. Bagaimana bisa ada yang mencariku tempat ini? Apa kalian yakin mereka mencariku dan bukan tamu lainnya?” Kaito bertanya dengan mata tajam
“Kino?!” Kaito terkejut dan langsung menengok ke belakangnya
“Ada apa?” Kino yang bingung bertanya pada Kaito
“Lalu apa lagi?”
“Katanya mereka juga mencari seseorang yang memiliki pedang tanpa sarung pedang”
Kaito langsung berpikir kemungkinan orang yang datang.
“Aku akan turun menemui mereka”
Kaito dengan cepat menutup pintu ruangan lalu keluar mengikuti pelayan tersebut.
“Kenapa dia begitu panik? Memang siapa yang mencari kita? Aku sempat mendengar namamu disebut, Kino”
“Mungkinkah…”
Kino tidak mungkin lupa dengan apa yang pernah dikatakan olehnya. Tentu saja dia mengetahui siapa yang datang.
Tidak lama setelah itu, Kaito mengetuk pintunya.
“Kino, Ryou, aku masuk”
Kedua kakak beradik itu sedang duduk di kursi dan seketika mereka langsung berdiri begitu melihat siapa yang datang.
“Kaito…itu…” Ryou terkejut
Wajah Kaito serius saat itu dan dia tidak bermaksud untuk memperlihatkan ekspresi lain kecuali tatapan dingin dan serius. Dari belakang Kaito, tiga orang anak berlari memeluk Kino.
“Hiks…Kino-niichan”
“Kino-nii…”
“Kino-niisan…hiks…hiks…”
Kino cukup terkejut. Theo, Stelani dan Fabil datang dan langsung memeluknya sambil menangis. Terlihat Joel berdiri sambil memberi salam pada mereka.
“Yo, maaf kami datang tiba-tiba”
Melihat itu, Ryou sendiri tidak menyangka apa yang dilihat olehnya.
“Kaito, apa maksud semua ini? Kenapa mereka bisa datang kemari?!”
“Aku tidak tau. Tapi mereka juga seperti ini saat melihatku”
“Hah?! Tapi–”
-Greeeb
Belum selesai bicara, Ryou mendapat sebuah kejutan dari anak-anak itu juga. Sebuah pelukan hangat yang cukup membuatnya berhenti berkata-kata.
“Ryou-niichan…”
“Ryou-niisan…”
“Kakak galak…”
Meskipun Theo memanggilnya dengan sebutan yang tidak begitu dia suka, tapi pelukan mereka membuatnya tidak bisa berkata apapun.
“Sebaiknya, Kita duduk dulu ya. Silahkan masuk” Kino mempersilahkan semuanya untuk masuk
Kaito segera menutup pintunya dan duduk di kursi bersama Joel dan Ryou. sedangkan Kino menemani ketiga anak-anak itu duduk di tempat tidur besar. Dengan nada tenang dan ekspresi wajah yang datar, Kaito bertanya pada Joel.
“Jadi…katakan ada perlu apa kalian datang kemari, tuan manager?”
“Aku datang karena menemani anak-anak itu. Mereka bersikeras ingin bertemu dengan kalian jadi aku kemari”
Kaito melihat ke arah anak-anak itu.
“Apa kalian tau tempat ini dari Kino?” tanya Kaito pada anak-anak itu
“Umm” Stelani mengangguk
“Kino-niichan bilang kalau kami ingin bertemu dengannya, kami bisa pergi ke kawasan penduduk dan mencarinya di penginapan ini”
“Kau memberitau alamat ini pada mereka, Kino?” Ryou bertanya
“Aku memberitau tempat ini saat kami makan bersama di restoran keluarga. Aku pikir mereka mungkin membutuhkannya”
Kino melihat ketiga anak-anak itu.
“Aku tidak menyangka kalian benar-benar mencariku. Aku pikir kalian membenciku tidak ingin melihatku lagi” Kino tersenyum lirih
“Kami tidak mungkin membenci Kino-niisan!” Stelani memeluknya lagi
“Benar! Kino-niichan sudah menolong kami, tidak mungkin kami membencimu!”
“Aku benar-benar minta maaf ya” Kino balas memeluk anak-anak itu
Momen haru itu cukup membuat Ryou terdiam. Tidak lama setelahnya, dia melihat Joel dengan wajah serius.
“Jadi, tidak mungkin kau datang hanya untuk memperlihatkan momen mengharukan ini kan? Apa tujuanmu kemari? Jika kau ingin membahas soal permata itu, kami bertiga memutuskan untuk tidak membahasnya dulu sementara jadi–”
“Tunggu tunggu tunggu, jangan bicara begitu! Kau harus menahan diri dan biarkan anak-anakku yang bicara. Sebagai orang tua yang baik, aku hanya mengantarkan mereka kemari. Mereka yang ingin bertemu dengan Kino dan Kaito. Begitu katanya” Joel menjelaskan maksudnya
“Bertemu denganku?”
Kaito cukup terkejut dengan itu. Tidak lama kemudian, Theo berdiri dan menghampiri Kaito sambil mengulurkan tangannya.
“Kaito-nii…”
“……!!!” Kaito cukup terkejut dengan itu
“Kalung ini…adalah kalung yang sudah ada bersamaku sejak kecil. Aku tidak ingat siapa yang memberikannya, tapi aku berpikir ini mungkin peninggalan kedua orang tuaku. Sejak aku memilikinya, aku tidak pernah memberitaukannya pada siapapun”
……” Kaito mendengarkan
“Aku ingin jujur kalau…di hari saat kalian pergi untuk menyelamatkan Kino-nii, kalung ini…sempat mengeluarkan sinar”
“Apa?!” ketiga remaja itu~~~~ terkejut
Joel dan kedua anak lainnya diam tanpa mengucapkan kalimat apapun seakan sudah mengetahuinya.
“Aku pikir itu hanya perasaanku, tapi…kalung ini tidak pernah bersinar sejauh yang kuingat. Aku hanya berpikir bahwa mungkin…itu karena apa yang diucapkan oleh kalian benar. Karena itu…aku memutuskan untuk mengembalikan ini padamu” ucap Theo
Namun sebelum ketika Kaito melihatnya, Theo menarik tangannya kembali dan memeluknya.
“Tapi…tapi Kino-niichan bilang kalau kau mengambilnya, kalian akan langsung menghilang dan kami tidak akan bertemu dengan kalian lagi! Hiks…hiks…aku…kami semua masih ingin melakukan banyak hal dengan Kino-nii dan kalian semua. Hiks…makan…makan di restoran…”
“Hiks…kami ingin makan di restoran itu lagi dengan Kino-niisan dan…pergi berbelanja bersama…” Stelani ikut menangis
“Pergi…pergi belanja baju baru dan membeli kue krim…hiks…” kata Fabil yang mencoba menahan tangisnya
“Anak-anak lain sudah membayangkan banyak hal bersama kalian. Tapi kalau kalian pergi sebelum semuanya terwujud…nanti…nanti yang lain akan menjadi sedih…hiks…huwaaa” Theo menangis di pelukan Kaito
Sekarang, ketiga remaja itu hanya bisa menatap mereka semua dengan sedih.
“Aku ingin semua keinginan itu terwujud. Aku ingin bisa makan bersama kalian semua di meja makan seperti keluarga”
******