Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 105. Penyelamatan bag. 7



“Ada orang yang telah berjalan di depan kita!”


“Eh?”


Mendengar hal itu, Ryou yang masih mencoba mengatur napasnya berubah menjadi pucat dan syok. Bukan hanya Ryou tapi kedua anak itu juga tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya.


“Di depan sana…ada orang lain yang sudah menunggu kita” Ryou berkata dengan ekspresi wajahnya yang syok


“Ta–tapi Kaito-niisan…” Stelani mencoba memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan bertanya pada Kaito


“Aku serius. Ryou, coba kau lihat sekitar tempat ini” Kaito yang sedikit menundukkan kepalanya meminta Ryou untuk melihat jalanan di area tersebut


Ryou mengikuti arahan Kaito dan kedua matanya tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Di sekitar jalan tersebut, dia tidak melihat kepala milik penjaga gerbang dan terdapat jejak kaki samar yang terbentuk.


“Jejak…kaki…” Ryou terkejut dan berkata dengan pelan


“Kita tidak bisa gegabah sekarang. Ada kemungkinan di depan sana telah menunggu pengelola pasar gelap yang menyadari kedua anak ini telah kabur”


“Eh? Mereka menyadari kami kabur?!” Fabil terkejut


Stelani mulai berpikir dan menyalahkan dirinya sendiri.


‘Ternyata benar, semuanya adalah jebakan! Tidak mungkin kami berdua bisa kabur dari tempat itu dengan mudah dan tanpa penjagaan sama sekali! Ini semua salah kami!’


Stelani terlihat begitu murung, begitu pula dengan Fabil. Berbeda dengan Stelani yang menyalahkan dirinya sendiri dalam hati, Fabil jelas-jelas mengatakannya dengan raut wajah kecewa dan sedih.


“Semua ini karena aku dan Stelani kabur dari tempat itu! Ini semua salah kami! Kami sudah tau bahwa mungkin saja ini adalah jebakan, tapi kami tidak memedulikan kenyataan itu dan hanya berpikir untuk menyelamatkan Kino-niichan!”


Mendengar hal itu, Ryou bicara dengan nada tegas dan itu semua ditujukan kepada kedua anak-anak berani itu.


“Kalian adalah penyelamat kakakku…”


Kedua anak itu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Ryou. Ryou melanjutkan kembali kalimatnya.


“…Berkat kalian, aku dan Kaito bisa mengeluarkan Kino dari tempat itu dan kita sudah selangkah lebih dekat dengan jalan keluar. Jangan pernah menyesali hal hebat yang telah kalian lakukan! Tanpa kalian, Kino mungkin akan lebih lama terjebak di tempat terkutuk itu”


“Ryou…nii-san…”


“Jebakan atau tidak, kenyataan bahwa kita tetap akan bertemu dengan musuh tidak akan berubah. Sekarang, yang bisa kita lakukan adalah maju dan menghadapi mereka”


Kalimat Ryou membuat kedua anak itu lebih baik dan mulai berpikir bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak salah. Hanya saja, Kaito tetap terlihat cemas.


“Ryou, kita mungkin akan melibatkan anak-anak ini dalam pertarungan. Selain itu, aku ingat penjaga gerbang itu mengunci pintu gerbangnya. Tidak mungkin kita bisa membuka pintu itu tanpa kunci”


“Kunci?” Fabil dengan semua keberaniannya mendekati mayat itu dan mencoba merogoh saku celana untuk menemukan kunci


“Aku dan kau terlalu fokus untuk sampai ke tempat keberadaan pengelola pasar gelap tadi dan  melupakan hal penting seperti itu. Bisa saja kunci itu telah diambil oleh orang yang mendahului kita” lanjut Kaito


Ucapan Kaito tepat. Fabil mengatakan bahwa dia tidak menemukan kunci di saku celana mayat penjaga gerbang.


“Sial!” umpat Ryou


Dengan begini, mereka kembali menghadapi masalah serius. Dan meskipun belum diketahui oleh keempatnya, sebenarnya mereka telah dikepung dari dua arah berlawanan.


“Kita harus bagaimana sekarang? Kino bisa mati jika kita diam di tempat ini terus!” Ryou kembali bicara dengan nada kesal


Kaito diam dan berpikir sejenak.


‘Bisakah aku melakukan sesuatu agar menjauhkan kedua anak-anak ini dari pertarungan dan membawa Kino ke tempat aman? Haruskah aku bertaruh pada keberuntungan? Tidak! Ini hanya akan menghabiskan waktu! Keselamatan Kino dipertaruhkan sekarang, aku tidak punya pilihan lain! Aku akan menanggung resikonya jika memang perhitunganku salah’


Kaito bicara dengan sorot mata tajam dan ekspresi serius. Dia sudah memutuskan untuk mengusahakan sesuatu dan bertanggung jawab atas semua keputusannya.


“Kita tidak punya pilihan lain. Aku rasa kita harus tetap berlari menuju pintu gerbang dan mengusahakan sesuatu agar bisa keluar dari tempat ini”


“Kalau begitu jangan buang waktu dan lari!”


Ryou mendorong gerobak itu kembali dan berlari. Fabil mengikuti di belakang Ryou. Kaito berbisik pelan pada Stelani.


“Pegangan yang erat ya, Stelani”


“Aku mengerti, Kaito-niisan. Berhati-hati”


Mereka mulai meninggalkan mayat Will di tanah dan menjauhi lokasi tersebut. Selang beberapa menit, ketika bayangan mereka berempat tidak lagi terlihat, dari kejauhan ada dua orang yang datang mendekati lokasi mayat Will berada.


**


Jack yang telah meninggalkan tempat tinggalnya berjalan santai sambil melihat semua toko dan kios di jalan utama pasar gelap mulai bergumam sendiri.


“Haruskah mayat Justin kuberikan kepada toko milik Max agar dijual kepada langganannya? Atau haruskah aku jual sendiri di toko milikku ya? Hmm…enaknya bagaimana ya?”


“……” Riz hanya diam mendengarkan gumaman Jack dari belakang


Riz yang berjalan di belakang panutannya itu terus berdoa dalam hati.


‘Semoga tidak ada masalah, semoga tidak ada masalah, semoga tidak ada masalah! Aku mohon apapun yang terjadi semoga tidak ada yang terlibat hal merepotkan seperti aksi saling bunuh membunuh. Setidaknya kalau mereka ingin melakukannya, jangan di depanku! Aku cukup menjual mayat siapapun yang mati saja!’


Jack yang sempat melihat Riz berjalan dengan wajah tertekan di belakangnya mulai memanggil namanya.


“Riz…kau baik-baik saja?”


“……” Riz tidak menjawab Jack


“Riz?”


“……”


“……”


“……” Jack mulai diam


Jack yang terdiam mulai mengingat apa yang terjadi sebelumnya, saat dia berdua dengan sang istri di ruang pemotong.


‘Sekarang aku tau perasaan Seren saat memanggil namaku Bahkan sampai membuatnya melempar pisau miliknya karena aku mengabaikan panggilannya. Oh, malaikatku~maafkan kelakuan suamimu ini, sayangku’


Bahkan tanpa istrinya, Jack masih bisa melakukan monolog dalam drama.


Riz yang telah selesai berdoa mulai menarik napas panjang dan bertanya pada Jack.


“Apa tadi Jack-sama memanggilku?”


“Tidak. Aku hanya merasa bahwa karma baru saja datang padaku”


“Karma karena membunuh banyak orang?”


“Bukan. Karma karena mengabaikan panggilan istriku sebanyak tiga kali siang ini. Kalau karma yang itu masih bisa nanti saat aku mati. Jadi kalau bisa jangan datang saat aku masih hidup”


“……” Riz terdiam dengan wajah datar


Selera humor Jack benar-benar tidak mudah diterima akal sehat. Ini membuktikan bahwa Riz memiliki panutan dengan tingkat humor yang luar biasa sulit diterima oleh kebanyakan manusia normal.


“A–aku ingin tau kenapa kita tidak berlari dan justru malah bersantai seperti ini, Jack-sama” Riz bertanya dengan tujuan mengalihkan topik sebelumnya


“Hmm…aku hanya ingin berjalan santai. Kau juga tidak lupa bahwa di depan sana istriku sudah lebih dulu dari kita, kan? Selain itu, ini masih wilayahku. Karena itu, aku sangat percaya diri…”


“Percaya diri…?”


“Percaya diri bisa memotong kaki penyusup yang berani membawa mahakarya ciptaan Tuhan itu”


Sekarang, Riz kembali memancing aura membunuh Jack. Sepertinya dia benar-benar tidak berbakat membuat suasana tenang. Jack melanjutkan kalimatnya.


“Oh, tapi karena mereka orang yang datang bersama denganmu dan Arkan…mungkin aku bisa menawarkan beberapa hal seperti…”


“Seperti pergi dari sini dalam keadaan hidup?” Riz menjadi sedikit bersemangat


“…Seperti pergi dengan dua sampai tiga tulang yang patah dan satu lengan yang terpotong. Tapi, akan kuusahakan kepala mereka tidak lepas dari tempatnya”


“Ja–Jack-sama…itu tidak lucu…sama sekali” kata Riz dengan wajah takut


“Memang siapa yang menyebut itu sebagai lelucon. Tentu saja aku serius”


Riz tidak bisa hanyut lebih dalam lagi. Semua kalimat Jack itu terdengar provokatif dan memancing ketakutannya. Dia harus melakukan semua yang dia bisa agar tetap tenang sambil memikirkan semua kemungkinan terburuk di depannya nanti.


‘Jika memang Jack-sama bertemu dengan Ryou dan Kaito nanti, aku harus bisa membuatnya yakin untuk melepaskan merek semua dan melakukan niat awalku untuk pulang. Setelah mengambil uang dan membayar kebebasan remaja itu, aku benar-benar harus menjauhi Arkan dan mereka semua untuk sementara waktu. Ayolah, Riz! Kau harus bisa melakukannya! Keberuntungan…berpihaklah padaku!’


Setelah berjalan kaki dengan santai, sekitar lima sampai sepuluh menit kemudian Jack mulai berhenti sejenak.


“Aku mencium aroma yang tidak asing di sini”


Riz mengendus udara di sana lalu menjawab Jack dengan nada tidak yakin.


“Ini…bukankah aroma…darah?”


Jack masih belum merubah ekspresi wajahnya dan tetap tenang. Dia mulai berjalan santai dengan senyuman di wajahnya. Riz yang melihat Jack berjalan dengan senyuman mulai merasa takut.


‘Perasaanku mulai tidak enak. Ini jelas aroma darah. Mungkinkah ada yang terbunuh di sana? Hanya satu tebakan yang kupunya yaitu kemungkinan bahwa salah satu dari Ryou atau Kaito berhasil masuk ke tempat ini dan mengalahkan paman Will. Aku tidak berpikir paman Will akan benar-benar kalah atau terbunuh saat menghadapi mereka. Tapi…apakah aroma darah ini adalah aroma salah satu dari kedua remaja itu?’


Telapak tangan Riz mulai berkeringat dan jantungnya mulai berdetak lebih kencang seperti habis melakukan marathon.


Di saat Riz berjalan sambil terus memikirkan banyak hipotesa berat, langkah kakinya terhenti tidak lama setelah dia melihat Jack berhenti. Dengan menelan ludahnya, dia menghampiri Jack dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.


“Mu–mustahil…kenapa…kenapa bisa begini?”


Riz menutup mulutnya dengan satu tangan dan melihat sesuatu yang terbaring di tanah. Tubuh besar berotot dengan tato, lengan kanan yang terpisah dari tubuhnya dan pisau daging besar. Selain itu, mayat tersebut tidak memiliki kepala di sekitar tempat itu.


Mustahil bagi Riz tidak mengenal mayat siapa yang terbaring di sana.


“Pa–pa–paman…Will…” nada lirih Riz keluar memanggil nama Will


Jack yang terdiam mendekati mayat itu dan melihatnya dari dekat.


“Ini William. Dimana kepalanya?”


Memang terdengar seperti sedang bicara hal omong kosong, tapi Jack sebenarnya sedang memperhatikan luka di keseluruhan tubuh Will.


‘Goresan panjang yang kasar dan luka tembak. Ada juga bekas potongan pada leher dan betis kirinya. Ini jelas dilakukan oleh dua orang yang berbeda. Tapi, luka potongan pada bagian leher dan tangan kanannya lebih rapi dibanding sayatan panjang pada tubuhnya. Sepertinya, orang tersebut terbiasa bertarung’


Jack mulai terlihat sedikit bersemangat dan melihat Riz.


“Riz…”


“Ah? I–iya Jack-sama?” Riz yang masih syok menjawab Jack


“Aku benar-benar ingin bertemu dengan orang yang kalian bawa sekarang”


******