Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 207. Rencana Penyelamatan Song Haneul bag. 2



-Krriiiiiing


“Itu tandanya! Kita pergi dari sini!”


Ryou langsung menarik tangan sang kakak dan pergi berlari dari sana. Mereka bersembunyi di balik pepohonan yang ada di sekitar Fakultas Seni Rupa. Tampaknya terlalu banyak pohon di sana.


Bunyi alarm tersebut terdengar sampai ke tempat para zombie tersebut.


Sepertinya benar, sekalipun sudah menjadi mayat hidup, manusia memang memiliki telinga yang tajam seperti yang Ryou katakan. Karena itu, banyak sekali tukang gosip dan orang-orang yang mengetahui aib orang lain.


Kino dan Ryou berhasil bersembunyi dan balik semak-semak tinggi. Mereka menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan mengintip sedikit dari balik semak.


Ryou sempat bergumam.


“Sudah kuduga mereka memang punya telinga tajam seperti ibu-ibu tukang gosip di pasar. Sepertinya aku harus bertanya konsep awal kenapa zombie bisa peka terhadap suara. Di anime Gakkou Gurashi juga begitu”


“Ryou, hentikan itu. Ini bukan saatnya mengingat anime” Kino berusaha membuat sang adik berhenti berkomentar


**


Di dalam, Kaito sibuk berlari membawa tabung merah di tangannya.


“Aku tidak tau apa kegunaan benda ini tapi tampaknya ini semacam alat untuk memadamkan api. Apa yang akan mereka lakukan dengan ini dan bagaimana cara kerjanya?” gumam Kaito


Kaito berlari menuju pintu keluar dan dia melihat ada satu, dua lalu semakin banyak zombie yang berjalan.


“Mereka sudah sampai sini?!” Kaito terkejut


Melihat kawanan zombie itu mulai ke arah pintu masuk gedung yang sedang dia masukki, Kaito melompat dari jendela di samping kirinya sebagai jalan terakhir.


Alarm kebakaran dari dalam gedung tersebu terus berbunyi untuk beberapa waktu. Para zombie itu mulai sedikit demi sedikit memasuki gedung.


Kaito mengendap-endap dan memastikan tidak ada yang mengikuti.


Di semak-semak, kedua kakak beradik mulai melihat kaki serta mendengar suara zombie dalam jumlah banyak.


“Mustahil kalau mereka tidak mendengar ini, iya kan?” gumam Ryou


“Lebih mustahil lagi mengikuti saranmu yang begitu tidak masuk akal tadi”


“Saran mana?”


“Saran Ryou yang dengan mudahnya mengatakan agar kita menerobos masuk melewati puluhan zombie di depan pintu gerbang” Kino menatap sang adik dengan tatapan aneh


“Kau salah Kino. Menyarankan kita semua menerobos masuk melewati ratusan zombie, bukan puluhan. Puluhan itu terlalu sedikit. Di game saja, aku mengalahkan 500 zombie. Ya…dengan bantuan cheat tapi. Ehehe”


“……”


Kino hanya bisa terdiam mendengar ucapan aneh sang adik dan menutup matanya sendiri dengan tangan.


‘Kami-sama, aku ingat aku pernah berdoa pada-Mu agar adikku menjadi tenang agar tidak membuatku sakit kepala di masa depan. Kenapa dia sama sekali tidak ke arah lebih tenang? Kenapa semakin membuat kepalaku sakit? Haduh’ Kino mengeluh pada Tuhannya dalam hati


Mari berdoa untuk kesabaran dan keteguhan hati sang kakak dalam  menghadapi adiknya yang sulit diatur. Aamiin.


Kembali lagi ke sisi Kaito yang sedang mengendap-endap menuju sebuah pohon rindang yang ada di samping bangunan.


Dia berdiri di belakang pohon tersebut dan melihat ke arah para zombie yang memasuki area gedung tersebut.


Kaito bicara dalam hati.


‘Aku berhasil kabur dari mereka. Setidaknya jika harus terlibat pertarungan sekalipun, tampaknya aku masih bisa membunuh sekitar 20-30 zombie sambil membawa tabung ini. Tapi jika lebih dari itu, tampaknya akan memakan waktu. Aku harus cepat!’


Memastikan bahwa tidak ada zombie lain yang berputar haluan ke sekitar tempat dia bersembunyi, Kaito menekan kembali ponsel yang diambilnya dari saku dan menghubungi Ryou.


-Drrrrt


“Halo, Kaito? Kau masih hidup? Berapa helai rambut yang rontok dari kepalamu?”


“……” Kaito terdiam mendengar pertanyaan bodoh Ryou


Di sisi kedua kakak beradik itu, Kino sudah tidak tahan dengan sang adik.


“Berikan itu padaku” Kino merebut ponsel dari tangan Ryou


“Eh?! Tunggu! Kaito belum menjawabku!”


“Halo, Kaito-san? Ini Kino”


Kaito yang sedang berada di belakang pohon mulai tersenyum lega dan menjawabnya.


“Kino, kau bisa mendengarku? Syukurlah aku bisa bicara dengan orang normal sekarang. Seharusnya sejak pertama kau saja yang pegang ponsel itu!”


“Jangan khawatir, Kaito-san. Aku akan melarang Ryou memegangnya mulai sekarang”


“Apa?! Kalian berani melakukan tindakan rasis padaku?! Ini Negara bebas! Tidak ada aturan untuk melarang adikmu ini memakai ponsel! Kembalikan itu padaku!”


“Diam sebentar, Ryou! Kaito-san akan sulit mendengarku”


“……” Kaito yang mendengar itu semakin bingung


‘Kedua kakak beradik itu…tidak bisakah mereka tenang dan tidak membuang-buang waktu’ pikir Kaito yang sudah sedikit tidak sabar


Di sisi kedua kakak beradik itu, mereka mulai mendengar Kaito mengatakan sesuatu.


“Kalau kalian terlalu berisik, para zombie itu mungkin akan mendengar kalian bicara. Sebaiknya kita pergi dari sini. Aku sudah membawa tabung merah yang kalian inginkan”


“Benarkah? Itu bagus, Kaito-san. Aku dan Ryou akan segera berlari menuju pintu gerbang dan Kaito-san segeralah bergegas. Posisi Kaito-san berada paling dekat dengan mereka jadi berhati-hatilah”


“Aku mengerti. Hati-hati dan jangan sampai terlihat oleh mereka”


“Kami mengerti”


Kino menutup panggilannya dan memberikan ponsel itu pada sang adik.


“Ukh…iya iya”


“Kita akan bertemu dengan Kaito-san di depan pintu gerbang asrama. Sebaiknya kita bergegas sekarang”


Ryou mengangguk. Sedikit demi sedikit mereka berdua merangkak perlahan dengan tenang menuju jalan. Begitu terlihat jalan menuju pintu gerbang gedung asrama, keduanya langsung bergegas lari secepat yang mereka bisa.


Masing-masing senjata sudah dipegang di tangan dan siap digunakan.


“Kino, kalau bertemu dengan Baek Hyeseon versi zombie, tolong abaikan dia dan biarkan aku yang mengurusnya. Aku memiliki hutang untuk memenggal kepalanya dan aku yakin dia pasti menagih hal itu” ucap Ryou dengan senyum licik


“Ryou…” Kino tidak mau mengatakan hal lain selain nama sang adik karena sudah menyerah


Lupakan soal kalimat Ryou, kedua kakak beradik itu langsung berlari dan belum sampai satu menit, beberapa zombie yang menyadari keberadaan mereka langsung mendekat.


“It’s a party time!” seru Ryou dengan menambah kecepatannya


“Ryou! Ini bukan pesta!”


“Aku tau! Ini pembantaian secara sepihak!! Ya-hoo!!”


Ryou tampaknya begitu senang. Dia tidak ragu memotong tangan para zombie yang mendekatinya dan menusuk kepala mereka dengan pisau. Setelah itu, dengan cepat menendang beberapa dari mereka yang mendekat hingga terdorong dan jatuh, kemudian memenggalnya.


Darah dari leher yang telah terpisah dengan kepalanya mulai terlihat seperti air mancur kecil yang ‘manis sekali’.


Awalnya hanya satu ekor, lalu dua, kemudia lima dan semakin banyak yang terbunuh.


“Aku akan menceritakan ini pada yang lain kalau kembali ke Jepang nanti” gumamnya pelan


Sementara Kino mencoba untuk mengurangi gerakan tidak berarti dan membunuh yang memang ada di dekat jangkauannya. Ini dilakukan karena dia mengetahui batas tenaganya dalam pertarungan.


‘Aku menyadari bahwa aku tidak seperti Ryou yang memiliki kekuatan dan energi lebih untuk bergerak. Sebisa mungkin, aku harus menyimpan tenagaku. Akan tiba dimana aku akan membutuhkan sisa tenaga yang kumiliki untuk melakukan hal yang lebih penting’ pikirnya dalam hati


Dari arah samping, tampak Kaito yang mulai memenggal kepala para zombie itu satu per satu. Dia melihat Kino di depannya dan berteriak.


“Kino!!”


“Kaito-san!!”


Dengan cepat, Kaito menghampiri Kino yang hampir terkena sentuhan zombie.


“Syukurlah aku bertemu denganmu. Adikmu yang kelewat semangat itu sudah ada di depan. Kalau tidak cepat menyusulnya dia bisa mati”


“Aku tau. Kaito-san, gunakan tongkat pel yang kumiliki ini. Biar aku yang menggunakan tabung itu”


“Kau yakin?”


“Kita hanya perlu menerobos mereka! Aku akan membuka jalan dengan ini dan jika ada kesempatan sebaiknya kita lari agar bisa sampai ke tempat Song Haneul-san”


“Aku mengerti. Berikan tongkatnya padaku! Aku kugunakan”


Kino memberikan tongkat pel yang diikat pisau di ujungnya pada Kaito dan dia segera berlari membawa tabung pemadam api itu.


Begitu ada zombie yang mendekati, Kino langsung mengarahkannya dalam jarak dekat dan menyemprotkannya.


terlihat sesuatu seperti busa yang menyembur ke arah wajah zombie tersebut sehingga gerakan mereka melambat.


“Jadi isinya busa putih” gumam Kaito


“Kaito-san, sekarang waktunya!” teriak Kino


Dengan cepat Kaito menerobos dan memotong kepala serta tubuh zombie itu secara acak. Hanya zombie yang datang dari arah depan saja yang dibunuh olehnya, sedangkan dari sisi samping diurus oleh Kino.


Kino menyemprotkan isi tabung pemadam kebakaran itu ke arah zombie yang datang dari sisi samping.


“Tidak perlu membunuh semuanya, Kaito-san!”


“Aku mengerti!”


Kaito yang memiliki dua senjata berbeda di tangannya telah membunuh hampir separuh dari kawanan zombie yang masih ada di depan gerbang asrama. Hingga akhirnya mereka berdua berhasil masuk ke dalam.


“Dimana adik bodohmu itu?”


“Aku tidak tau. Aku hanya…hmm?” Kino melihat sesuatu menggelinding di bawah kakinya


Dengan wajah pucat dia mengenali sosok itu.


“Baek Hyese–”


-Buuk


Dari belakang, Ryou  berlari dan menendang kepala yang menggelinding itu ke arah zombie di depannya. Hebatnya lagi, tendangan itu mengenai perut zombie tersebut hingga terjatuh.


“Yeah! Gol! Rekor terbaik! Tidak ada di dunia ini yang mencetak gol dengan kepala manusia sebagai bolanya. Aku jenius!”


“Ryou!! Apa yang kamu lakukan?!” sang kakak berteriak melihat kelakuan sang adik


“Itu tadi kepala Baek Hyeseon. Aku memotongnya barusan dan memberikan sedikit penghormatan padanya” ucap Ryou dengan senyum licik


“Itu kepala manusia!! Jangan seperti itu! Nanti kamu bisa dikutuk!”


“Dia yang dikutuk karena sudah membunuh temannya sendiri. Sekarang, rasakan hukuman dari langit melalui tendanganku. Aku memberinya nama ‘tendangan keadilan’. Keren kan?”


“……”


Di saat itu, Kino mungkin berpikir untuk menarik telinga sang adik dengan keras dan memarahinya.


‘Kami-sama…kumohon tolong beri aku kesabaran’


******