
Keduanya terdiam mendengarkan apa yang dikatakan Kaito. Kino terlihat sedikit terkejut dan Ryou masih tetap menatapnya dingin. Mereka berdua hanya berdiri tanpa mengatakan apapun.
“Tadi malam aku merasa seperti ada seseorang yang memanggilku. Aku tidak yakin apa itu, tapi dadaku terasa sesak dan perih. Entah kenapa aku bisa merasakan kebencian tapi itu tidak seperti aku yang membuat perasaan benci itu”
“Apa maksudnya itu?” Ryou masih bersikap dingin namun dia bertanya dengan serius
“Aku tidak tau. Karena itu saat Kino bertanya padaku pagi ini, aku tidak tau bagaimana menyampaikannya jadi–”
Kino tersenyum dan melihat Kaito yang terlihat benar-benar seperti orang kebingungan menjelaskan sesuatu.
“Kaito-san, terima kasih karena sudah memberitau kami apa yang kamu rasakan. Lihat, kami mendengarkanmu bukan?. Sekalipun dijelaskan dengan bahasa yang membingungkan atau berputar-putar, hal itu tidak masalah. Katakan pada kami agar kami juga bisa memikirkan solusinya”
“Dengarkan kata-katanya itu, Kaito!. Sejak awal kau sendiri yang bilang kalau kami sudah keluar dari daftar orang normal dalam kamusmu, jadi manfaatkan gelar kami itu”
Ryou masih sedikit kesal tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.
“Aku tau. Aku hanya masih belum–”
Belum selesai bicara, Ryou langsung mendekatinya lagi dan memotong pembicaraannya sambil menunjuk wajah Kaito dengan telunjuknya.
“Ceritakan saja meskipun tidak jelas!. Kau ingat kakakku seorang jenius yang suka mengambil resiko dalam bertindak, kan? Ingat saja hal itu!”
Kino hanya bisa diam mendengar ucapan Ryou. Setelah Kaito menghela napas panjang, dia meminta mereka untuk duduk di kursi kayu.
Ryou yang masih berdiri agak kaget melihat semua barang-barang yang mereka beli tidak ada. Padahal dia yakin dagger baru yang dibelinya untuk hadiah sang kakak ada di sana.
‘Kemana semua barang-barang itu? Apa mungkin…’
Dia menengok Kaito dengan tatapan penuh tanya. Kaito yang sudah duduk di kursi menyadari tatapan Ryou dan melirikan matanya serta menunjuk lemari pakaian tanpa sepengetahuan Kino.
‘Ada di dalam lemari ya’
Ryou bergumam dalam hati.
Akhirnya mereka berdua duduk di kursi kayu dan Kaito mulai menceritakan semua hal yang dia alami semalam.
“Aku merasa tidak begitu nyaman semalam. Saat aku melihat kalian berdua sudah tidur pulas, aku berpikir untuk tidur juga. Tapi entah kenapa aku benar-benar tidak bisa memejamkan mataku dengan benar. Setelah beberapa lama, akhirnya aku bisa mulai rileks dan mencoba untuk tidur. Sampai tiba-tiba dadaku terasa sakit”
“Sakit? Apakah Kaito-san terluka? Dada katamu…mungkinkah jantungmu yang terluka?!”
“Kino, oi! Kau harus tenang. Jangan berubah panik tiba-tiba seperti itu! Dengarkan Kaito sampai selesai!”
Ryou langsung memegangi kakaknya yang berubah tegang. Seperti biasa, Kino langsung menjadi orang pertama yang berubah panik, cemas dan khawatir. Dia bahkan terlihat ketakutan saat mendengar dada Kaito terasa sakit.
“Aku baik-baik saja, Kino. Terima kasih”
“Sungguh?”
“Iya. Bisa aku lanjutkan lagi?” Kaito memberikan senyuman karena memaklumi sifat Kino
“Ma–maafkan aku. Silahkan dilanjutkan Kaito-san”
“Seperti yang kubilang, dadaku terasa sakit. Aku merasa seperti ada yang memanggilku tapi aku tidak yakin. Selain ini aku juga jadi merasa seperti membenci sesuatu atau hal yang tidak kutau. Semakin mencoba melawan rasa benci itu, semakin terasa sakit. Meskipun itu hanya berlangsung beberapa menit saja, itu cukup membuatku terjaga
semalaman”
“Semalaman?! Itu artinya kau tidak tidur tadi malam?!” Ryou langsung kaget mendengarnya
“Begitulah. Setelah itu aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan sensasi yang mengejutkanku sampai membuat jantungku seperti tersengat listrik. Rasanya benar-benar tidak nyaman sekali”
Kaito memegang dadanya dan memperlihatkan ekspresi seakan dia masih menahan rasa sakit tersebut.
“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa masih sakit?” Ryou bertanya serius
“Sudah tidak lagi. Terima kasih atas kejutannya semalam, sekarang aku benar-benar terkena insomnia dan rasa kantuk di tubuhku tidak ada yang tersisa sama sekali” dengan senyum santai Kaito menjawab pertanyaan Ryou
Kino terdiam sesaat dan berpikir. Setelah itu dia mulai mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
“Kaito-san, hal itu kemungkinan bersumber dari permata ingatanmu. Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada permata itu di kota ini”
“Aku juga berpikir begitu Kaito. Hanya kau yang mengenali kepingan ingatanmu itu. Bahkan sekalipun ada banyak permata berwarna ungu di depanmu, aku bisa menebak kau akan langsung mengenali benda itu adalah kepingan ingatanmu” Ryou menambahkan penjelasannya
“Saat berada di pohon besar waktu itu, Kaito-san langsung yakin bahwa itu adalah kepingan ingatanmu. Di tempat ini pun, aku yakin Kaito-san akan bisa mengenalinya”
“Aku juga sependapat. Kurasa rasa sakit yang kurasakan itu bisa menjadi sebuah petunjuk keberadaan kepingan ingatan itu”
Kaito mulai merasa sedikit lebih baik setelah bercerita semuanya kepada mereka. Sudah diduga hal ini memang harus didiskusikan bersama. Seluruh atmosfer dan suasana di sekitar mereka kembali membaik. Kesan Kaito pada Kino yang seolah membuat garis pembatas karena merasa belum pantas dipercaya olehnya hilang dari pikirannya. Kaito yakin dia bukanlah orang seperti itu.
“Aku minta maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman pagi ini, Kino”
“Aku juga minta maaf padamu, Kaito-san. Kedepannya, aku akan lebih memperhatikan Kaito-san dengan lebih baik lagi. Aku juga akan memperhatikan Ryou lebih keras agar tidak mengatakan hal yang menyakiti hatimu”
Mendengar kakaknya bicara begitu, Ryou seperti tidak terima dan olahraga mulutnya diawali dengan pengajuan protes kepada sang kakak.
“Siapa yang menyakiti hatinya?! Kino, kakakku yang paling baik…aku dan kau sama-sama tau seperti apa sifatku. Aku hanya akan mengatakan semua yang ada dalam pikiranku, itu saja!. Dia memang kriminal yang pernah mencuri uang jamaah di altar kan?. Dia sendiri yang mengaku!. Aku tidak salah sama sekali!!”
“Ryou!. Aku baru mengatakannya. Jangan bicara tidak sopan pada Kaito-san!”
“……”
Wajah Kaito sekarang berubah aneh seakan-akan mengatakan keinginan terdalamnya di pagi itu.
‘Aku ingin mengurungnya di dalam kamar mandi agar dia diam di sana sekarang!’
Setelah hal-hal kecil telah berlalu, Kino menyadari dia tidak sempat mengeringkan rambutnya. Dia berdiri dan bermaksud mengambil handuk kecil di dalam lemari pakaian itu dan dengan secepat angina Ryou memegang tangan kakaknya.
“Tunggu dulu, tunggu dulu!. Mau kemana?”
“Mengambil handuk kecil di dalam lemari. Ada apa, Ryou?”
“Biar aku saja yang ambilkan!. Kau duduk saja di sini” Ryou memaksa Kino untuk duduk
Kino hanya bisa heran dengan sikapnya namun tetap menuruti sang adik. Ryou membuka lemari pakaiannya dan mengambil handuk kecil di dalam sana. Dia melihat semua benda yang dibelinya bersama Kaito semalam.
“Bicara soal semalam, bukankah Kaito-san ingin membeli air dan beberapa peralatan. Apakah kalian tidak jadi membelinya?” Kino bertanya pada Kaito
“Jadi. Aku menyimpannya di lemari pakaian itu. Kebetulan isinya hanya handuk kecil dan selimut tambahan jadi aku simpan di dalam sana. Selain itu, ada benda menakjubkan yang kami beli” Kaito tersenyum
Kalimat itu membuat Kino penasaran dan saat menengok ke lemari, dia melihat sang adik membawa sesuatu. Tiga buah dagger baru dengan bentuk sama persis seperti miliknya yang hilang di ‘dunia malam’ waktu itu.
“Ini–”
“Ini hadiah dariku. Aku membeli ini untukmu. Aku tidak ingin sarung pengikat di pinggangmu itu hanya sebagai hiasan saja. Aku yakin ini akan berguna untukmu, Kino” Ryou memberikan ketiga dagger itu pada sang kakak
Wajah Kino berubah merah strawberry dengan senyum senang. Dia terlihat bahagia menerima dagger itu.
“Ryou, terima kasih banyak!. Aku suka sekali. Ini hadiah dari Ryou ya…senangnya~”
Kino benar-benar terlihat senang. Ryou yang mendengar itu juga tertawa bahagia dan Kaito yang melihat itu tidak bisa menahan senyum manisnya.
“Yah, sebenarnya ini ide Kaito. Tapi, aku tau kalau kau memang membutuhkannya. Aku benar-benar tidak menyadari hal itu sampai Kaito yang mengingatkanku. Maaf ya”
“Mm, aku senang menerimanya. Kaito-san juga, terima kasih banyak. Ini pagi yang terbaik. Aku merasakan hal bagus akan banyak terjadi setelah ini”
“Aku juga berharap begitu” Kaito menjawab dengan nada santai
Tidak melupakan handuk kecil yang diminta Kino, Ryou juga membantu mengeringkan rambut sang kakak. Setelahnya, mereka mulai bersiap untuk sarapan dengan roti sisa kemarin dan air.
Kino yang sudah menyimpan ketiga dagger itu di sabuk pengikat yang terpasang di pinggangnya mulai menyiapkan rotinya. Dia membagikan rotinya kepada mereka.
Namun sebelum makan, Kaito berdiri dan berjalan menuju tempat tidurnya untuk mengambil jam saku yang masih berada di saku dalam jubahnya. Dia melihat waktu yang ditunjukkan jam itu dan raut wajahnya berubah. Matanya mulai menyipit tajam dengan ekspresi tidak senang.
“06.30 ya. Tenyata sudah sesiang ini. Kita tidak bisa kehilangan waktu lebih banyak”
“Kita harus makan dan mulai mencari petunjuk jam saku milik kami kembali” ucap Ryou
Ryou dengan cepat menghabiskan semua roti di tangannya dan meminum air dalam botol dengan sekali tegukkan beruntun tanpa napas sedikit pun.
Kino juga mencoba menghabiskan rotinya secepat yang dia bisa. Tentu saja dia tidak akan se-ekstrem sang adik.
“Setelah ini, kemana kita akan mencari petunjuk keberadaan jam saku itu? Apa Kait-san sudah memikirkan rencananya?” Kino bertanya sebelum meminum airnya
“Ada beberapa hal yang kupikirkan meskipun aku belum yakin. Pertama, kita sebaiknya mengunjungi altar terlebih dahulu. Aku sedikit penasaran dengan kasus kehilangan barang di sana”
“Begitu. Kurasa ada baiknya jika kita bertanya lebih jauh mengenai hal itu. Baiklah, aku setuju. Ryou juga setuju, iya kan?”
Tidak butuh waktu lama, mereka segera bersiap. Rencana Ryou untuk mandi di pagi hari berubah menjadi cuci muka sekedarnya untuk mempercepat waktu.
Setelah memasang sabuk pengikat, memakai jubahnya dan memastikan tidak ada yang tertinggal lagi, mereka bersiap untuk pergi.
Kino memberikan kembali jam saku Ryou untuk dibawa bersamanya tapi dia menolak dan meminta sang kakak yang menyimpannya.
“Kamu yakin?”
“Aku akan baik-baik saja, Kalau jam saku kita sudah ketemu, aku akan mengambil jam saku milikku itu darimu. Sementara ini simpanlah untukmu dulu, Kino”
“Aku mengerti. Aku akan menjaganya baik-baik”
Setelah mengunci pintu kamar mereka, Kaito dan kedua kakak beradik itu menuruni tangga dan keluar dari penginapan.
******
Matahari bersinar memasuki lubang-lubang bangunan yang sudah tua. Anak-anak itu masih tidur berselimutkan kain tipis. Fabil menjadi yang pertama bangun dan membangunkan Stelani.
“Stelani, ayo bangun. Sudah pagi. Kita harus pergi sekarang”
“…Mmm” Stelani mencoba bangun dan membuka matanya sambil mengusap-usap matanya
“Ayo bangun. Aku akan membangunkan yang lain. Kau bangunkan Theo”
“Theo…”
Fabil membangunkan anak-anak yang lain. Saat Stelani melihat tempat dimana Theo biasa tidur, dia tidak menemukannya dan pagi itu dia langsung menghabiskan energi pertamanya untuk panik.
“Theo tidak ada!”
Stelani teriak diikuti oleh wajah panik semua orang. Dalam sekejap, semuanya langsung menjadi ‘segar’ karena kepanikkan, bukan karena sarapan lezat. Mereka langsung berlari menuju tangga lantai bawah dan seketika kepanikkan menghilang saat mereka melihat Theo tertidur di kursi kayu.
“Dia!”
Stelani langsung turun dan memukup kepala Theo sambil berteriak.
“Bangun sekarang, dasar tukang tidur!!”
“Akh!!” Theo langsung terbangun dari tidurnya
Reaksinya begitu kaget sampai dia terjatuh dari kursinya karena terlalu terkejut.
“Oi, Stelani! Ini masih pagi, jangan suka mengagetkanku!”
“Itu salahmu karena tidak ada di tempat. Kenapa kau tidur di sini?”
Theo berusaha bangun dan duduk kembali di kursi kayu. Sambil menggaruk kepalanya, dia bicara dengan nada malas.
“Aku tidak bisa tidur semalam jadi pindah ke sini”
“Tidak bisa tidur…”
Stelani langsung terlihat murung. Dia bicara dengan nada pelan pada Theo.
“Kau tidak memikirkan apa yang kita dengar semalam, kan?”
“……”
Theo tidak menjawab. Stelani tau arti diam itu. Dia hanya menghela napas dan memberi peringatan pada Theo.
“Kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya, ingat? Aku berharap kau tidak membuat yang lain cemas dengan wajah kusutmu itu. Aku dan Fabil berusaha untuk bersikap normal jadi kau juga harus melakukannya”
“Iya, aku tau!” Theo berdiri dan pergi ke luar karena kesal mendengar Stelani
Fabil dan yang lain ikut turun dan keluar. Pagi itu, mereka bersiap untuk pergi ke altar.
Berjalan melewati jalanan yang sama seperti semalam, pikiran Theo masih dihantui kejadian itu lagi dan lagi. Stelani dan Fabil saling menatap satu sama lain dengan wajah cemas. Kecemasan mereka berubah saat seorang anak menarik tangan Fabil.
“Fabil-niichan, apa kita akan ke altar lagi untuk meminta sumbangan?” tanya Michaela pada Fabil
“Iya, kita akan ke sana lagi hari ini. Di sana banyak sekali orang baik yang akan memberi kita uang. Setelah dapat uang, kita akan memberikannya pada Justin-sama untuk ditukar dengan roti. Jadi, ayo semangat” Fabil berusaha menyemangati anak-anak lain
Tidak begitu berhasil karena wajah mereka langsung murung. Beberapa anak bahkan mengungkapkan isi hatinya.
“Aku tidak suka roti dari Justin-sama”
“Roti semalam yang terbaik. Rasanya enak dan empuk”
“Tidak bisakah kita makan roti seperti semalam lagi, Fabil-niichan?”
“I–tu...”
Fabil menjadi panik mendengar keluh kesah anak-anak lain. Stelani juga tidak bisa membantu karena tidak banyak yang bisa dilakukan anak-anak lemah seperti mereka. Mereka masih hidup di bawah kekejaman tempat kumuh yang terasing.
Akan tetapi, Theo dengan begitu percaya diri dan serius memberi jawaban yang ingin didengar semua anak di sana.
“Tentu saja bisa. Kita akan makan roti lezat dan empuk seperti semalam. Aku yang akan mengusahakan sesuatu, jadi jangan cemas. Lakukan semua seperti biasa dan jangan membuat penduduk curiga”
Mendengar kata-kata itu, Fabil langsung menghampiri Theo yang berjalan paling depan dengan nada marah.
“Theo, kau! Bukankah kau yang paling sering melakukan tindakan mencurigakan!. Kau tidak boleh mencuri lagi di altar atau kami semua juga akan terkena masalah!”
“Aku tau! Aku juga mencoba untuk melakukan yang terbaik!” Theo berteriak ke arah Fabil
Semua langsung berhenti di tempat. Fabil yang mendengar nada tinggi dari Theo tidak merubah raut wajahnya sedikitpun. Theo menghela napas dan bicara dengan wajah serius kepada Fabil.
“Dengar, Fabil. Aku juga memikirkan cara terbaik tanpa membahayakan kalian lagi, jadi kau tenang saja. Kemarin uang yang kudapatkan adalah hasil kerjaku sendiri tanpa mencuri apapun. Hari ini pun aku yakin aku akan bisa melakukan hal yang sama. Aku sadar bahwa cepat atau lambat penduduk pasti akan curiga pada kita semua karena itu aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Kumohon kali ini percaya padaku”
“……”
Fabil terdiam. Dia menengok Stelani dengan wajah cemas. Stelani hanya mengangguk tanpa memberikan komentar apapun. Fabil kali ini menghela napas dan mengatakan “baiklah” padanya.
Setelah semua percakapan panjang yang baru saja terjadi, mereka sudah cukup kehilangan banyak waktu. Menyadari itu mereka berlari agar bisa lebih cepat sampai ke altar.
Akan tetapi, berlari di pagi hari dengan perut kosong memang tidak baik untuk anak-anak yang sedang tumbuh. Mereka sudah mulai kelaparan dan lelah. Keadaan itu cukup sulit namun mereka harus melakukannya demi mendapatkan uang.
Setelah melewati jalan panjang, akhirnya mereka sampai di belakang altar. Mereka menarik napas sebentar.
“Kalian semua baik-baik saja? Masih bisa berjalan ke altar?” Stelani bertanya pada anak-anak lain
“Masih”
“Tidak apa-apa Stelani-neechan”
“Kami baik-baik saja, jangan khawatir”
Hampir semua anak menjawab tidak masalah dengan senyuman. Senyum ceria di pagi hari untuk menutupi rasa lelah dan lapar mereka. Melihat itu Theo menatap mereka dengan sendu.
‘Aku sudah memikirkan semuanya semalam. Aku harus melakukan yang terbaik hari ini’
Dari sini, mereka semua berpisah dengan Theo. Stelani, Fabil dan anak-anak lain berjalan ke altar, sedangkan Theo memilih untuk pergi ke kota. Di kota, dia bisa leluasa mencari pekerjaan meskipun serabutan. Mengangkat kotak dan karung atau sekedar mencuci piring di restoran tidak masalah.
“Hari ini awal yang baru. Aku harus berjuang”
Sepanjang jalan, pikiran Theo memang tidak begitu jernih dan masih penuh dengan hal-hal berat. Tetapi ini adalah pagi yang baru di hari baru, dia tidak boleh sampai melupakan tujuannya untuk melindungi teman-temannya dari Justin.
“Lupakan masalah yang lain dulu, Theo. Lupakan tentang masalah semalam dan pembunuhan itu–”
-Deg
Theo teringat kembali dengan rekam kejadian pembunuhan itu, tentang lantai yang dipenuhi darah dari mayat kedua orang yang mati di ruangan Justin dan ketiga wanita itu. Sekujur tubuhnya kembali gemetar dan wajahnya berubah pucat. Dia berjongkok sambil menutupi wajahnya.
“Sial, kenapa teringat hal itu lagi?!"
Dia benar-benar tidak tau apa yang harus dilakukannya. Padahal sudah berusaha keras untuk melupakannya, kenapa rekam pembunuhan itu masih terus menghantuinya. Hanya bermodalkan sedikit tarikan napas dia berusaha berdiri dan bersandar dahulu di dinding bangunan di dekatnya.
“Dasar sial! Mau sampai kapan kau seperti ini, Theo? Kalau begini, membalas semua perbuatan gorilla sialan itu hanya mimpi. Kuatkan dirimu, Theo. Kuatkan dirimu”
Sambil berusaha menguatkan dirinya sendiri, Theo berjalan perlahan menelusuri jalan di kota.
******