Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 131. Arkan dan Drama Kehidupan bag. 2



Arkan turun dari kereta kuda di depan air mancur dekat altar dan melanjutkan perjalanan kembali ke bar dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan, dia masih membawa kantong bekal milik Seren dan sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan apapun dengan semua makanan itu.


“Aku mungkin akan berakhir membuangnya. Semoga saja aku tidak bertemu dengan Seren-sama lagi. Bagaimanapun juga dia bukan regular di bar milik manager jadi tidak perlu khawatir”


Seperti berusaha untuk lari dari kenyataan, Arkan tampak masih belum yakin sepenuhnya dengan gumaman yang baru dia katakan.


‘Aku hanya berharap ini benar-benar pertama dan terakhir kalinya aku bertemu dan terlibat dengan pengelola pasar gelap. Aku sudah tau sejak lama hubungan mendiang gorilla itu dengan mereka. Tapi, terlibat lebih dalam seperti ini bukanlah perjalanan hidup yang baik untukku!’ pikirnya dalam hati


Semua kejadian yang terjadi di sana sama sekali bukan ingatan yang bagus untuknya. Ketika hampir sampai di bar, dia berhenti sejenak.


Dari kejauhan, pada jalan lurus yang ada di depannya masih dapat dilihat bercak merah yang sudah mulai berwarna kehitaman. Sampah plastik dan botol juga tidak luput dari pandangannya.


“Menakjubkan sekali. Rasanya seperti baru mengalami olahraga jantung” gumam Arkan sambil tersenyum tipis


Ketika dia berjalan dan sampai di bar, dia melihat seseorang keluar membawa sebuah gunting dan gulungan garis pembatas.


“Sean-sama?”


“Ah, yo! Arkan! Akhirnya kau kembali. Kudengar kau sedang di rumah sakit bersama dengan anak-anak”


Seorang pria bertubuh besar lainnya keluar dengan senyum cerah ceria. Kali ini, dia sangat ramah. Kulitnya putih dan tinggi. Bagian terbaiknya, dia punya rambut dan tidak botak. Sejauh ini, Arkan selalu kenal dengan banyak pria besar lain yang memiliki kepala botak atau rambut sedikit.


“Kau sudah datang, Sean-sama. Oh, aku lupa kalau manager bilang kau memang kemungkinan datang ke sini. Sudah dari tadi kau di sini, Sean-sama?” Arkan mulai menghampiri pria tersebut


“Ya, sekitar beberapa menit lalu. Hmm, lima belas menit? Dua puluh menit? Aku tidak tau. Ahahaha” pria tersebut berpose tolak pinggang sambil tertawa


“Hoo….Geh?!”


Arkan melihat ke dalam bar dan wajah anehnya mewakili perasaan syoknya. Betapa terkejutnya dia, melihat di dalam bar itu banyak sekali barang-barang dan alat-alat perkakas berserakan di lantai kayu tersebut.


“Apa yang kau lakukan dengan semua alat-alat itu?! Kenapa bisa berserakan semua?!” Arkan mulai berteriak


“Hmm? Itu termasuk rapi. Maggy juga mengatakan kalau aku bebas melakukan apapun karena pada akhirnya tempat ini akan baik-baik saja berkatku” senyum pria bernama Sean itu


“Jangan bercanda di saat seperti ini, Sean-sama. Jangankan berjalan ke dalam, melangkah masuk saja aku sudah tidak bisa!”


“Kalau begitu kau jangan masuk. Tidak susah, kan? Tunggu sampai aku memasang garis ini dan mengukur tinggi pintu ini lalu…”


“Haah, ya sudah. Aku tunggu di luar. Silahkan kau lakukan tugasmu, Sean-sama. Manager bilang kalau kau selesai, besok tolong kembali ke sini lagi”


“Aku mengerti. Nah, kau diam di sana saja ya. Ini akan selesai dengan cepat”


“Serius? Seberapa cepat? Lima belas menit?” Arkan tersenyum senang


“Ahahaha, kalau begitu kau saja yang kerjakan” sindir Sean dengan tawa keras


“Jadi?”


“Satu setengah jam kurang lebih”


“……” Arkan tidak mau berkomentar


Selama Sean melakukan tugasnya, Arkan benar-benar hanya berjongkok di luar. Sesekali, kedua orang itu basa-basi dengan bertanya kabar masing-masing dan tertawa bersama. Tidak lama kemudian, Maggy keluar dari bar dan melihat Arkan. Arkan langsung berdiri.


“Arkan. Kau sudah datang rupanya. Kenapa tidak masuk?”


“Maggy-sama, tadinya ingin masuk tapi…”


“Oh, sedikit berantakan ya. Padahal tinggal kau langkahi saja atau kau tendang dengan kaki sedikit” senyum wanita itu


“Oi, jangan mengajarkan anak orang merusak alat kerjaku” kata Sean dengan wajah sedikit cemberut


“Salahmu kenapa mengeluarkan semuanya di lantai”


“Agar aku mudah mencari yang lain dan tidak perlu bersusah payah” jawab Sean santai


“Terserah kau saja. Bagaimana di rumah sakit, Arkan?” tanya Maggy


“Semua baik-baik saja. Dan Maggy-sama, ada pesan dari manager bahwa Maggy-sama bisa pulang. Aku yang akan menjaga tempat ini. Bagaimanapun juga, sekarang masih jam kerjaku sampai jam enam sore nanti” jelas Arkan


“Hoo, suamiku bilang begitu? Kalau begitu, tolong jaga tempat ini ya. Besok mungkin aku akan kembali ke tempat ini lagi. Kalian pasti akan ke rumah sakit lagi, kan?”


“Sepertinya begitu”


Maggy masuk sebentar untuk membuatkan Arkan dan Sean minum, setelah itu dia berpamitan pada kedua orang itu. Maggy pulang meninggalkan kedua pria itu. Tidak lama setelah punggung wanita itu hilang di sebuah belokan, pokok pembicaraan mereka yang baru dimulai.


“Jadi Arkan, aku memang sudah dengar dari Maggy kalau kau pergi ke rumah sakit. Apa aku boleh bertanya lebih detail?”


“Tidak ada yang spesial, Sean-sama” Arkan mencoba menghindar dari pertanyaan itu


“Tidak ada yang spesial ya. Tapi dengan bercak darah di jalan itu dan di lantai bar, pintu dan dinding pinggir yang hancur…kurasa ada alasan sangat ‘tidak spesial’ yang kau sembunyikan” Sean mulai menyindir Arkan kembali


Sekarang, Arkan tidak punya pilihan selain bicara jujur. Dia tidak bermaksud menceritakan semuanya, tapi satu atau dua hal mungkin akan dikatakan olehnya.


“Baiklah, aku jujur sekarang. Ini karena ulah Justin. Dia bertarung dengan seseorang dan dia mati. Semua bekas darah itu adalah saksi bisu kematiannya” jawab Arkan dengan nada santai sambil kembali berjongkok


“Hee, dia bisa mati juga” respon Sean tidak kalah santai


“Kau tidak terkejut, Sean-sama?”


“Tentu saja tidak. Di tempat asing seperti ini, orang hilang tiba-tiba, orang pergi meninggalkan rumahnya tiba-tiba, orang dibunuh tiba-tiba…itu semua bukanlah hal yang asing lagi. Kau yang sudah tinggal bertahun-tahun di tempat ini pasti menyadari hal itu juga, kan?”


‘Sean-sama benar. Aku bahkan bersikap biasa-biasa saja saat gorilla itu membunuh anak buah dan ketiga wanita penggoda itu kemarin malam. Buat apa kaget dengan kematian satu atau dua orang sekarang?’


Akhirnya, pilihan Arkan lainnya adalah mulai menceritakan beberapa garis besarnya saja. Setidaknya, agar Sean tidak terus mencoba melakukan introgasi berkelanjutan.


“Jadi, Justin dibunuh oleh orang yang dicarinya dan adanya sedikit kasus penculikan terhadap anak-anak jalanan itu. Kau dan Riz menjual mayat Justin untuk menebus korban penculikan. Aku mengerti sekarang” ringkas Sean


“Begitulah kira-kira”


“Hmm…”


Sean hanya merespon sebentar sambil membuat pintu sementara dari kayu pendek yang dia bawa sebelumnya. Setelah itu, dia mengaitkan sebuah kain untuk menutupi pintu dan jendela yang rusak serta memasang garis pembatas.


“Kau cukup baik di mataku” puji Sean


“Tidak juga. Hanya kebetulan ingat kalau aku masih punya sisi baik sebagai manusia. Kalau dilihat dari sisi rata-rata keseharianku, aku mungkin sama jahatnya dengan Justin” Arkan mulai merendah


“Kau masih muda, jangan selalu berpikir hal buruk tentang dirimu”


“Aku tau. Aku mencoba berubah sekarang, Sean-sama” Arkan tersenyum tipis


Sean telah selesai dengan sedikit kerjaannya dan akhirnya masuk ke dalam bar untuk merapikan semua alat-alatnya. Tidak lama setelah itu, Arkan berdiri dan masuk ke dalam.


“Besok aku akan membawa pintu di rumahku dan cat untuk tempat ini. Katakan pada Joel ya”


“Aku mengerti. Sepertinya Maggy-sama sudah membuatkan air minum. Sebaiknya Sean-sama minum dulu setelah itu baru kembali”


Arkan meletakkan kantong bekal yang dia pegang sejak awal di atas meja bar dan memberikan minuman pada Sean. Kedua laki-laki itu duduk sebentar untuk minum. Setelah kurang dari tiga menit, Sean membawa semua perkakasnya dan pulang. Kali ini, Arkan benar-benar sendirian sekarang.


Sambil membuka kantong bekal dan melihat botol serta kotak makan di dalamnya, dia mulai mengeluarkan keringat dingin.


“Kenapa aku tidak memberikan ini pada Sean-sama saja tadi? Dasar bodoh!”


Sekarang, Arkan sudah cukup takut untuk memakannya. Dia memilih untuk membuang kue tersebut ke tempat sampah dan membuang air tehnya ke wastafel di dapur. Setelah mencuci bersih semuanya, dia berdoa dalam hati dengan penuh pengharapan.


‘Semoga aku tidak perlu melihat Seren-sama lagi!!’


Begitu berjalan keluar dapur dan duduk di bar kembali, dia bergumam sendiri.


“Tuhan, kau sudah melakukan banyak tugasmu dengan baik. Kau menyelamatkan gaji dan pekerjaannku, kau menyelamatkan tiga orang yang diculik itu dan kau sudah menyelamatkan aku dari penyakit jantung dadakan. Sekarang, aku minta kesehatan mental yang lebih baik agar tidak perlu dihantui oleh kue dan teh buatan Seren-sama”


Selesai berdoa, hal selanjutnya yang dilakukan olehnya adalah mulai mandi dan membersihkan diri kembali. Akhirnya, dia bisa kembali disebut sebagai bartender elegan.


Hal lain yang dikerjakannya sampai jam kerjanya selesai adalah membersihkan kursi dan meja bar, mencari pasta instan dan memasaknya, mencuci piring dan gelas yang ada lalu duduk kembali sampai waktunya habis. Sesekali dia memejamkan mata meskipun tidak tidur.


Tepat jam enam sore, Joel dan anak-anak itu kembali ke bar.


“Kami kembali, Arkan-niichan~” teriak anak-anak


“Selamat datang”


Joel melihat perubahan bar miliknya dan tersenyum.


“Hmm, tidak jauh berbeda dari keadaan sebelumnya. Masih hancur dan bobrok tapi ini lebih baik. Seandainya aku tidak mendadak memanggil Sean, mungkin hari ini semua sudah selesai”


“Sean-sama akan kembali lagi besok, tetapi dia tidak mengatakan kapan akan datang”


“Tidak masalah. Besok aku dan anak-anak itu akan kembali ke rumah sakit. Lagipula sejak kejadian Justin yang membunuh banyak orang di sini, aku yakin bar ini akan sepi lima sampai tujuh hari”


“Begitu” rerspon sederhana dari Arkan


“Aku juga harus memikirkan banyak hal agar nama baik bar yang sudah bobrok ini tidak semakin bobrok nantinya” Joel mulai menggelengkan kepalanya seakan sedang berpikir


Theo menghampiri Arkan bersama dengan Stelani dan Fabil.


“Arkan-nii…” Theo memanggilnya


“Ya?”


Sebuah pelukan, bukan. Tiga pelukan hangat menghampirinya.


“Terima kasih untuk semua yang kau lakukan demi menyelamatkan kami semua dan Kino-nii”


“Terim kasih banyak sudah melindungiku dan Stelani, Arkan-niichan”


“Arkan-niisan…terima kasih banyak”


Sungguh hadiah lain yang mengharukan. Joel hanya tersenyum melihat itu dan anak-anak lain akhirnya ikut menghadiahkannya pelukan. Sembilan pelukan berhasil didapatkan Arkan.


“Kalian semua, nanti terjatuh” respon datar dari Arkan


Walaupun begitu, bohong jika wajahnya tidak tersipu malu saat ini. Dia memerah meskipun mencoba bersikap keren.


“Aku tidak melakukan apapun. Ryou dan Kaito juga telah menyelamatkan kita semua. Aku tidak melakukannya sendirian” lanjut Arkan


Kesembilan anak-anak itu melepaskan pelukannya dan tersenyum mereka terus memuji Arkan hingga dia tidak bisa memberikan respon lain selain senyuman manis dari wajah tampannya.


******