Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 129. Orang yang Dicari Iblis Wilayah Gelap



“Apa pria bernama Kaito ada di sini? Aku ingin sekali bertemu dengannya”


Kalimat dari Jack saat itu seperti senjata paling mematikan untuk Joel dan Riz. Seakan sulit untuk bernapas, mereka bahkan nyaris tak berkedip.


“Ka–Kaito katamu? Ke–kenapa tiba-tiba bertanya hal seperti itu, Jack?” Joel mencoba tenang saat bertanya pada Jack


Jack menunjuk pedang yang terletak di atas meja, tepatnya pada meja yang ada di dekat jendela depan dengan ibu jarinya.


“Pedang yang ada di sana itu miliknya dan temannya yang seorang lagi, kan? Aku ingat adik dari Kino itu memilikinya. Jika pedang itu ada di sini, itu artinya dia ada di–”


“Itu…itu tidak benar, Jack-sama” Riz langsung memotongnya


“Apanya yang tidak benar?”


“Ka–Kaito tidak ada di tempat ini! Pedang itu aku yang membawanya”


“Kau yang membawanya? Kenapa bisa?”


Riz mulai panik. Mata Jack terlihat mengintimidasi dan terlihat begitu tajam seakan siap menerkam mangsa di depannya.


‘Pilihanku hanya berkata jujur padanya! Jika tidak, aku khawatir aku akan kehilangan kepalaku setelah ini!’ pikir Riz dalam hati


Sebelum Riz mencoba membuka mulutnya, Theo keluar dari ruangan Justin dan melempar pisau yang dia pegang ke arah Jack.


“Theo!!” Stelani yang keluar untuk menyusulnya berteriak


Anak laki-laki itu begitu kesal dengan dua tamu tak diundang itu. Namun, meskipun Theo melemparnya sekuat apapun, Jack bisa dengan mudah menghindarinya hanya dengan sedikit memiringkan kepalanya.


“Pergi dari sini kau, iblis!!” teriak Theo


“Hmm? Siapa anak manis yang berteriak di sana?” Jack tersenyum dan berdiri


Melihat Jack berdiri, Joel dan Riz langsung dengan cepat ikut berdiri karena panik. Ini seperti mereka harus menjaga Jack dan Seren agar tidak melakukan hal yang buruk di bar.


“Ja–Jack, aku sedang renovasi. Sean baru saja kembali dan aku tidak bisa membiarkan kekacauan terjadi di sini! Tolong jangan melakukan hal yang aneh, ya” Joel berusaha untuk menenangkan Jack


Ini tidak seperti Jack marah atau kesal, tapi dia memang hanya berdiri dari tempatnya dan belum melangkahkan kakinya sedikitpun. Seren masih duduk dengan tenang karena tidak mendengar aba-aba apapun dari sang suami. Tindakan anak kecil yang melempar pisau makan tadi tidak menjadi masalah serius untuk wanita itu, jadi dia memilih mengabaikannya.


Maggy keluar dan berusaha menarik Theo dan Stelani yang ada di luar untuk masuk. Akan tetapi, tampaknya usaha Maggy sia-sia karena Theo terlanjur membencinya.


“Keluar kau dari tempat ini! Kaito-nii tidak ada di sini! Sekalipun dia ada, dia tidak akan sudi bertemu iblis! Pulang kalian dan jangan kembali lagi!” Theo berteriak dengan nada penuh amarah


Di dalam ruangan Justin, Fabil memeluk anak-anak lain dan mencegah mereka untuk keluar.


“Fabil-niichan, apa mereka orang jahat yang menyakiti Kino-niichan?” tanya seorang anak laki-laki


“Benar. Mereka orang jahat dan berbahaya! Kalian jangan takut, aku akan melindungi kalian!”


“Fabil-niichan…aku takut” Michaela memeluk Fabil dengan erat


Wajah panik Fabil tidak bisa disembunyikan dan dia berusaha untuk tidak membuat anak-anak itu menangis.


Di luar ruangan Justin, Stelani dan Maggy berusaha meyakinkan Theo untuk masuk tapi tidak dihiraukan. Theo terus meluapkan emosinya dan berteriak.


“Keluar kau!”


Riz segera berjalan ke tempat anak itu dan berbisik padanya.


“Theo, jangan berteriak seperti itu atau kita semua akan terkena masalah nanti”


“Mereka orang jahat, Riz-nii! Mereka harus pergi!”


“Mereka adalah pengelola pasar gelap dan bisa dibilang atasanku! Mereka bos di tempatku!”


“Apa?! Kau…bekerja untuk mereka?!” Theo terkejut mendengar hal itu dari mulut Riz


Jack segera berjalan ke arah mereka berempat. Hal yang membuat Joel dan Maggy terkejut adalah tidak ada suara dari langkah kakinya. Lantai kayu tidak menghasilkan suara sepatu dan tetap hening, seakan tidak ada yang sedang berjalan. Bagaikan hantu yang sama sekali tidak menyentuh tanah.


Jack berdiri di belakang punggung Riz sekarang. Dengan menatap mata anak kecil di depannya, Jack mengingat sesuatu yang dikatakan oleh Justin.


[Aku sudah muak dengan mereka semua sejak mereka tidak memberikanku uang yang cukup. Selain itu, tikus bernama Theo juga semakin kurang ajar setiap harinya]


Dia tersenyum dan bertanya pada anak itu.


“Kau bernama Theo, iya kan?”


“Memang kenapa?!”


“Justin pernah bilang kalau dia sudah muak dengan kalian semua, terutama denganmu. Sejak kau sangat kurang ajar padanya, dia tidak masalah jika harus mengorbankan kalian semua sebelum ini termasuk dirimu di dalamnya”


“……” Theo terdiam


Stelani yang sebelumnya menarik tangan Theo langsung melepaskannya kembali dan memeluk Maggy begitu Jack mendekati mereka.


Gadis itu belum pernah bertemu dengan pria di hadapannya, namun tubuhnya masih mengingat semua hal buruk yang terjadi dua hari lalu hanya dengan namanya saja. Dia sudah bisa memastikan bahwa pria itu sangat berbahaya.


 Jack melihat gadis kecil yang sedang memeluk istri Joel.


“Kau anak yang dibawa oleh William kemarin, kan? Lukamu sudah sembuh?”


“……” Stelani melihatnya dengan wajah takut dan semakin memeluk Maggy dengan erat


“Jack-sama, ini–”


“Kalian semua tidak perlu takut. Bisnisku sudah selesai jadi kalian tidak masuk dalam daftarku lagi. Aku hanya tertarik pada anak-anak jika memang mereka ditawarkan padaku. Setelah pertukaran dengan Arkan kemarin, kalian bukan lagi hal yang kuminati jadi jangan khawatir”


Jack mengatakan semua itu dengan sangat santai. Wajah senyum yang ramah menghiasi, tapi tetap tidak membuat anak-anak itu tertarik.


“Kau bilang kau tidak tertarik dengan kami, setelah semua hal yang kau lakukan pada teman-temanku dan Kino-nii!! Jangan bercanda kau, setan!!” Theo tidak berhenti mengatakan hal kasar pada Jack


“Theo, jangan berkata– Ah! Jack-sama!!” Riz berteriak saat Jack berjalan dan melihat wajah Theo dari dekat


“Hmm…kau mirip sekali dengan Justin. Apa kau yakin, kau tidak punya ikatan keluarga dengannya?”


“Hah?!”


“Eh? Ja–Jack-sama?”


“Kau benar-benar mirip dengannya. Jelek, menyebalkan, mulut besar tapi pengecut. Bedanya dia sudah mati dan kau masih hidup. Kau yakin bukan adik atau anaknya?”


“Jangan bercanda! Mana mungkin aku memiliki hubungan dengan si gorilla itu!”


“Kau benar, dia…eh tunggu dulu. Tadi kau sebut dia apa?”


“Sebut dia apanya?”


“Itu…yang tadi. Kau menyebut Justin dengan panggilan gorilla, benar kan?”


“……” Theo hanya diam


Jack terdiam lalu tersenyum. Tidak lama kemudian dia tertawa lepas.


“Ahahaha, kau lucu! Gorilla katanya, ahahaha! Riz, kau dengar itu kan? Gorilla katanya, ahahaha. Haah, kau lucu sekali. Namamu Theo, ya. Aku suka sekali padamu. Kau punya selera humor yang lebih bagus dari Justin yang sudah jadi pajangan di mejaku”


Jack berjalan kembali ke tempat duduknya dan merasa sangat senang.


“Gorilla….pfft, hari ini aku akan mengajak kepala Justin mengobrol lagi dan memanggilnya gorilla…hahaha” gumamnya pelan sambil tertawa sendirian


Joel kembali duduk dengan wajah khawatir.


“Nee, aku belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Dimana Kaito sekarang?” Seren kembali bertanya dengan wajah penasaran


Riz segera berjalan mendekati Seren, tapi matanya terlihat serius sekarang.


“Maafkan aku, Seren-sama. Untuk beberapa alasan, kami tidak bisa memberitaumu. Itu karena semua orang termasuk aku dan anak-anak itu masih cukup trauma dengan kejadian dua hari lalu. Istri paman Joel, bibi Maggy juga tidak mengetahui apapun tentang itu”


“Apa ada masalah jika aku hanya mencarinya?” Seren melihat Riz dan bertanya


“Masalah atau tidak, tergantung tujuanmu mencarinya. Kalau boleh tau, kenapa Seren-sama ingin sekali bertemu dengan Kaito?”


“……” Seren terdiam


Secara tiba-tiba sorot matanya berubah dingin dan terlihat tidak ramah sama sekali. Joel menyadari perubahan tersebut.


“Riz!” pria besar itu berteriak ke arah Riz


“Haah~” wanita itu menghela napasnya


Riz cukup terkejut dengan helaan napas Seren yang tiba-tiba. Theo dan dua orang lain di belakangnya juga terkejut.


“Riz kecil sayang, aku mencari Kaito hanya untuk mengobrol sebentar. Selain itu, suamiku ingin sekali bertemu dengan remaja bernama Kino”


‘Kino-nii!!’ kata Theo dalam hati


Ketika mendengar nama Kino, Theo ingin bergegas mendekati mereka tapi Maggy langsung menangkap tangannya dan menariknya ke dalam sambil memeluk Stelani.


“Apa yang kau lakukan, Maggy-obachan! Lepaskan aku! Mereka berniat menyakiti Kino-nii lagi!!”


“Sst! Jangan berkata seperti itu. Jika sampai terjadi sesuatu yang memancing emosi mereka, kita semua akan dalam bahaya”


Fabil yang masih memeluk anak-anak lain terkejut melihat Theo yang diseret masuk. Dia juga sempat mendengar nama Kino disebut.


“Theo, Stelani, apakah terjadi sesuatu di luar?” tanya Fabil dengan wajah cemas


“Fabil, mereka mencari Kino-niisan dan Kaito-niisan! Wanita mengerikan yang menyerang Kino-niisan mencarinya lagi! Bagaimana ini?!”


“Eh?!”


Anak-anak lain mulai merasa takut.


“Tidak! Kino-niichan! Kaito-niichan!”


“Jangan menyakiti mereka lagi!”


“Kenapa Joel-ojichan tidak mengusir mereka? Mereka orang jahat yang tidak boleh bertemu Kino-niichan!”


Theo hanya bisa diam dan menundukkan kepala. Maggy, istri Joel sebelumnya memang sudah mendengar cerita lengkap soal kasus kematian Justin dan penyerangan yang melibatkan mereka. Dia berusaha untuk tidak panik dan menjaga anak-anak itu seperti perintah suaminya.


‘Jey, kau harus lakukan sesuatu agar mereka berdua pergi dari sini!’ gumam Maggy dalam hatinya


Riz kembali bertanya pada Seren.


“Kenapa kalian ingin mencari Kino dan Kaito kembali? Apakah ada hal lain yang masih ingin dibahas?”


“Hmm…”


“Atau…apakah karena keanehan itu?”


“Hmm…”


Tidak ada respon berarti dari keduanya dan hanya memandang satu sama lain. Tidak lama kemudian, Seren mengeluarkan sebuah kantong. Saat datang, wanita itu memakai sebuah tas kecil yang diselempangkan di pundaknya.


“Ini. Kami ingin menawarkan ini padanya”


“Apa itu?” Joel bertanya pada Seren


“Aku sangat tertarik sekali pada Kaito, jadi kami bermaksud untuk menawarkannya pekerjaan”


“….Hah?!”


Riz dan Joel memberikan respon yang sama. Wajah kaget mereka tidak bisa disembunyikan sama sekali. Bukan hanya itu, kedua suami-istri tersebut juga tampaknya tidak main-main dengan ucapan mereka.


“Kau sudah tau bahwa Will kecil kami sudah mati akibat bertarung dengannya, kan Riz? Karena itu kami kekurangan penjaga gerbang. Kami mencari anak buah Justin yang masih hidup tapi tidak ketemu. Sepertinya Justin sempat menyuruh mereka untuk pergi karena suatu alasan. Karena itu…” lanjut Seren menjelaskan


“……” kedua orang itu tidak bisa mengatakan apapun


“Oh, dan ini sedikit uang untuk biaya pengobatan Kino sebagai tanda persahabatanku” Jack menunjuk kantong kecil tersebut


“Pengobatan?” Joel mulai menatap tajam Jack


“Kau pikir aku dan istriku tidak tau? Dengan semua luka itu, sudah bisa dipastikan kalau mereka berada di salah satu rumah sakit di kota. Aku bertanya padamu hanya untuk basa-basi. Kau tidak berpikir bahwa aku ini bodoh dan lugu kan, Joel temanku?”


Mata Jack terlihat mengintimidasi tapi senyum manisnya menutupi hal itu.


“Aku sudah bilang kalau aku datang bukan untuk melakukan hal yang buruk. Kalau aku memiliki niat itu, aku sudah melakukannya sejak awal” lanjut Jack


“Kau benar-benar datang untuk hal itu?”


“Benar. Sejak mereka bukan lagi buruan kami, tidak ada salahnya kalau mengenal lebih baik kan? Bisnis ya bisnis, sosial ya sosial”


“Aku menghargai itu tapi kurasa kau tidak perlu melakukannya. Aku sudah mengurus semuanya” Joel menjawab dengan tegas


“Jadi, dia benar dirawat?”


“Seperti katamu, dia dirawat. Tapi, semua biaya perawatannya sudah aku lunasi”


“Kalau begitu, ambil saja uang ini” Jack mendorong kantong uang itu ke arah Joel


“Tidak perlu” Joel menolak dengan sopan dan kembali mengarahkannya ke tempat Jack


Kejadian itu terus terulang.


“Kau yakin, Joel?”


“Aku yakin, Jack”


“Sungguh yakin?”


“Sungguh yakin”


“Benarkah itu?”


“Benar”


“Meskipun ini jumlahnya 50.000 Franc?”


“Meskipun itu li…apa kau bilang tadi?” Joel terkejut dengan mata melebar


Ternyata bukan hanya Joel saja namun Riz juga terkejut dengan semua itu.


“50.000 Franc. Di dalam kantong itu uang untuk menjalin pertemanan dengan Kino sebesar 50.000 Franc. Kau yakin tidak mau menerimanya?”


Dari arah pintu masuk, tiba-tiba terdengar suara.


“Aku terima uang itu!”


******