
Joel, Michaela dan kedua anak lainnya keluar dari bar. Ketika melangkahkan kakinya, Joel melihat ke sisi kiri jalan. Dia benar-benar masih tidak percaya kalau warna merah di jalan dengan botol sampah dan plastik di sana adalah hasil dari sebuah pertarungan.
‘Aku masih berharap ini mimpi’ katanya dalam hati dengan wajah sedih
“Joel-ojichan, kita tidak pergi sekarang? Aku ingin makan!” Michaela menarik lengan bajunya sambil mengajaknya pergi
“Kau benar. Ayo kita pergi!. Sebaiknya kita cepat agar semua bisa makan. Theo, kau tunggu di sini ya. Jangan lupa untuk–”
Belum selesai bicara, Theo langsung memotongnya.
“Mengusir siapapun yang datang! Harusnya kau juga termasuk, paman mesum!” teriak Theo dari dalam
“Anak itu benar-benar tidak manis sama sekali! Mesum itu bukan kalimat yang baik untuk diucapkan, dasar anak nakal!” protes Joel dengan suara pelan
Melihat ketiga anak yang bersamanya menunggu, dia memutuskan untuk ke kota tanpa pikir panjang. Mereka berjalan melewati jalan yang akan membawa mereka menuju jalan di belakang altar.
Sementara itu di dalam bar, Theo bersama tiga anak lainnya diam di sana.
“Kalau kalian lelah, kembalilah ke ruangan tadi dan tidurlah” kata Theo
“Lalu, bagaimana dengan Theo-niichan?”
Theo menjelaskan hal yang ingin dilakukannya pada anak-anak itu
“Aku akan merapikan kursi-kursi ini semua seperti semula dan memindahkan kayu pintu serta bebatuan yang ada di lantai itu. Kalau memang masih bisa, aku mau coba mengepel lantai untuk menghapus noda yang panjang dan tebal itu”
“Kalau begitu kami akan membantu!”
“Akan lebih cepat kalau kami membantu Theo-niichan!”
“Bukankah kalian lelah? Kalian juga sudah berjuang dengan baik hari ini. Aku hanya ingin melihat tempat ini tidak lebih kumuh dari rumah kita”
“Tidak masalah! Kami baik-baik saja. Selain itu, setelah ini kita akan makan bersama”
Baru mengatakan hal yang ceria dengan penuh semangat, anak kecil itu langsung berubah sedih kembali.
“Aku berharap Stelani-neechan dan Fabil-niichan ada bersama kita sekarang”
“Aku juga begitu”
“Aku juga berharap mereka kembali jadi kita bisa makan bersama lagi seperti biasa”
Theo yang mendengar hal itu tidak ingin membiarkan mereka menangis lagi. Dia dengan cepat mengusap-usap kepala dua dari tiga anak di depannya.
“Oi oi, aku sudah berusaha menghibur kalian dan menahan diriku sendiri agar tidak bersedih! Mereka akan kembali! Kino-nii juga akan kembali!. Kalian ingin bertemu dengan Kino-nii lagi kan?”
“Mau! Kami ingin bertemu dengan Kino-niichan lagi!”
“Benar! Kami ingin makan kue bersamanya lagi seperti hari ini!”
“Kalau begitu jangan membuat wajah itu! Sudah kukatakan bahwa semua akan baik-baik saja! Ryou-nii dan Kaito-nii juga akan menyelamatkan mereka bertiga. Arkan-nii dan temannya juga ikut membantu. Tugas kita di sini adalah selalu bersama dan menjaga diri kita baik-baik sampai mereka kembali serta mendoakan mereka! Itu adalah hal menakjubkan dan paling penting yang bisa dilakukan oleh anak-anak seperti kita” kata Theo dengan senyum
Dia mencoba memberikan energi positif dengan mengatakan semua hal itu juga menunjukkan sikap penuh semangat agar ketiga anak itu ikut bersemangat.
“Selalu bersama…”
“Menjaga diri baik-baik…”
“Dan mendoakan mereka semua…”
Theo mengangguk dan tersenyum pada mereka.
“Benar sekali, itulah yang harus dilakukan. Karena itu jangan sampai menangis lagi, mengerti?”
“Kami mengerti, Theo-niichan!” mereka menjawab serentak
Theo berhasil membuat anak-anak itu bersemangat kembali dan mereka segera mengambil peralatan di belakang untuk mulai bersih-bersih.
Di jalan, Michaela dan dua anak lainnya pergi dengan Joel.
“Joel-ojichan, apa tubuhmu terasa sakit?” tanya Michaela sambil menatapnya
“Tidak, kenapa bertanya begitu?”
“Theo-niichan tadi memukuli tubuhmu dengan tongkat pel dan itu cukup keras, kan? Apa itu tidak sakit?”
“Ahahaha, tentu saja tidak” itu adalah jawaban dari Joel dengan senyum merona
Namun, berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya.
‘Tentu saja rasanya sangat sakit! Bocah nakal itu benar-benar memukulku dengan keras. Untung dia tidak mengarahkan tongkat pel itu dan mengenai bagian terpenting dalam hidupku yang menunjukkan bahwa aku pria sejati. Kalau itu sampai kena maka aku akan kehilangan segalanya!!. Itu adalah aset, harta karun, bukti otentik bahwa aku adalah laki-laki tangguh!. Sampai sekarang, aku bersyukur aset milikku itu masih utuh!’
“Haa~syukurlah masih baik-baik saja” Joel menghela napas sambil mengelus dadanya dengan perasaan lega
“Apanya yang masih baik-baik saja, paman mesum?” tanya seorang anak di samping Michaela
“Eh?! Kau…panggil aku apa tadi, anak manis?”
“Paman mesum. Bukankah Theo-niichan juga memanggilmu begitu?”
Sekarang Joel bingung antara ingin marah atau ingin menangis mendengarnya. Dia memang cukup baik dan lemah terhadap anak kecil. Karena itu, dampak kata ‘mesum’ cukup membuat gambaran dirinya terluka.
“Jangan mengikuti ajaran tidak benar seperti itu! Panggil aku Joel-ojichan seperti Michaela yang manis ini, ya”
Joel tersenyum aneh dan mencoba meyakinkan anak itu agar tidak menjatuhkan mentalnya lebih dari ini.
“Tapi Theo-niichan bilang–”
Sebelum anak kecil itu menyelesaikan kalimatnya, Joel mengeluarkan ‘senjata andalan’ terakhir.
“Kalau kau menurut dan memanggilku Joel-ojichan, nanti kita beli kue yang ada krim di atasnya”
“Joel-ojichan yang baik!!” teriak anak-anak itu dengan senang dan antusias
Kemenangan mutlak untuk Joel. Senjata utama untuk memenangkan hati anak-anak adalah dengan memberikan hal yang mereka sukai dan mereka inginkan. Dia benar-benar tau strategi dalam ‘perang’ menghadapi tipe anak seperti mereka bertiga.
Sepanjang jalan Michaela dan kedua temannya itu terus membicarakan tentang kue yang ingin mereka makan.
Joel yang mendengarkan itu tersenyum, namun di dalam pikirannya dia teringat semua penjelasan dari Theo mengenai kejadian di bar. Di saat anak-anak itu tertawa, dia terlihat serius.
‘Ini bukan saatnya memikirkan renovasi bar!. Aku tau ada yang aneh dengan bar milikku dan Justin sejak kemarin malam. Nox yang tiba-tiba datang ke rumahku untuk mengundurkan diri dan pergi dari kota ini, serta laporan yang kuterima dari Arkan pagi ini mengenai pembunuhan yang terjadi di bar kemarin malam. Siapa yang menyangka kalau itu hanya dikarenakan Justin tidak senang ada pria berpedang tanpa sarung pedang yang datang ke wilayahnya. Sungguh tidak masuk akal!’
Sesekali Michaela mengajaknya bicara mengenai menu makan siang yang ingin dibeli dan pakaian seperti apa yang ingin mereka pakai. Joel hanya mengangguk sebagai tanda dia akan membelikan itu semua dan setuju dengan semua pilihan anak-anak itu.
Namun setelah itu, Joel kembali berpikir.
‘Selain itu, hal yang paling gila adalah dia dengan mudah meminta tolong pengelola pasar gelap untuk membantunya menangkap pria itu dengan menukar Michaela dan anak-anak lain. Satu nyawa ditukar
dengan sembilan nyawa itu bukan hal yang adil! Dua diantara mereka sudah dibawa pergi oleh mereka dan masalah ini semakin bertambah karena melibatkan orang lain yang merupakan rekan dari pria yang dicari oleh Justin. Kaito, nama orang yang dicari oleh Justin dan orang yang bertarung dengannya. Kemungkinan dia juga yang membunuh Justin’
Secara garis besarnya, cerita Theo sudah bisa disimpulkan oleh Joel. Tidak jauh berbeda dengan Arkan yang ingin menyelamatkan anak-anak itu, Joel juga merasa bahwa tindakan Justin sudah terlalu kejam.
‘Meskipun si badan besar itu sudah mati tapi jika pengelola pasar gelap tidak mengetahui hal ini dan mengira Justin masih hidup maka anak-anak ini akan tetap diburu. Aku juga tidak tau apakah Arkan yang sekarang sedang mencoba menyelamatkan mereka akan berhasil membawa korban yang diculik dalam keadaan hidup’ pikirnya dalam hati
Michaela menyadari Joel membuat wajah serius yang menyeramkan.
“Joel-ojichan, apa perutmu sakit?”
“Apa? Aku? Oh, tidak. Aku baik-baik saja, Michaela” Joel menjawab sambil tersenyum
Untuk beberapa saat, Joel berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak dan memutuskan untuk tidak membuat wajah menakutkan yang akan membuat anak-anak itu curiga.
Setelah mereka berhasil sampai di belakang altar, tempat pertama yang dikunjungi oleh Joel adalah membeli pakaian terlebih dahulu.
“Kenapa kita tidak pergi ke tempat makanan? Kami sudah lapar, Joel-ojichan” kata salah satu anak kecil sambil merengek
“Kita bisa memilih pakaian bagus untuk kalian dulu agar nanti makanan yang kita beli tidak dingin. Bukankah makan daging yang baru saja matang dan masih hangat itu sangat enak?”
Anak-anak itu diam dan saling memandang satu sama lain. Mereka akhirnya mengangguk setuju. Akhirnya Joel membawa mereka ke toko pakaian di kota.
******
Di dalam sebuah bangunan gelap, dua kantong plastik besar terlihat bergerak menggeliat. Seakan ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam.
-SREEEK
“Ugh, perutku…” Fabil merintih kesakitan
“Uhuk…uhuk…”
“Stelani…kau…kau tidak apa-apa?”
“Aku baik. Hanya saja tangan kiri dan kaki kiriku sakit sekali. Aku mencoba menahan suara dan air mataku saat ditendang dan diinjak tadi. Rasanya seperti ada tulang yang patah. Hiks…hiks…” Stelani mulai terdengar menangis
“Jangan khawatir, Stelani. Bukan kau saja yang sedang menahan sakit dan air mata. Satu-satunya hal yang membangunkanku dari tidur panjang barusan adalah tendangan dan injakan yang kuat. Aku pikir setelah merasakan sensasi sakit luar biasa itu, aku akan menutup mataku selamanya”
“Aku juga begitu. Aku pikir kita akan mati tadi. Aku tidak ingat apapun. Semua terjadi begitu cepat”
Stelani mencoba untuk mengeluarkan kaki kirinya pelan-pelan dari plastik. Sambil menahan sakit, Fabil juga mencoba merangkak perlahan.
Keduanya yang berhasil keluar dari kantong plastik hitam besar itu akhirnya bisa bernapas. Mereka berhasil keluar dengan cara merobek bagian plastik dengan tangan dan gigi mereka. Hal menguntungkan untuk mereka adalah mereka tidak diikat.
“Tempat apa ini?” Fabil bertanya sambil melihat sekeliling
“Aku tidak tau. Apa kau bisa berdiri, Fabil?”
“Akan kucoba”
Fabil mencoba berdiri perlahan. Awalnya dia menahan sakit di perut dan tangannya, namun dia masih mampu untuk berdiri.
“Aku masih bisa. Biarpun aku merasakan sakit pada kaki kananku, setidaknya masih bisa untuk berjalan normal” Fabil tersenyum sambil menghentakkan kakinya dengan pelan sebanyak empat kali
“Kalau begitu bantu aku berdiri” Stelani mengangkat tangan kanannya
Fabil meraih tangan kanan gadis itu dan membantunya berdiri. Kaki Stelani sepertinya mengalami memar sehingga masih terasa sakit seperti patah tulang.
“Apa kaki kirimu baik-baik saja? Apa masih bisa berlari dengan keadaan seperti itu?” tanya Fabil dengan wajah cemas
“Aku tidak tau, tapi sepertinya akan sedikit sulit. Kurasa harus dibantu seperti ini” jawab Stelani dengan menahan rasa sakit
Keduanya terdiam dan mencoba bergerak menuju pintu yang tertutup.
Tiba-tiba Fabil mengingat sesuatu dan berubah panik.
“Kino-niichan!! Bagaimana dengan Kino-niichan?!”
“Ah! Kau benar! Kita sedang bersama Kino-niichan saat kita diserang!” Stelani ikut menjadi panik
Mereka berdua mencoba mengingat kejadian sebelum mereka diserang. Setelah bersusah payah mengingat semua hal yang terjadi sebelum sampai di tempat asing ini, kedua anak itu langsung berubah syok. Bahkan, tubuh Stelani yang dibantu berdiri oleh Fabil menjadi lemas dan kembali duduk di lantai.
Tubuh gadis itu gemetar dan air matanya kali ini keluar.
“Ah…Kino-niisan tertusuk…dia terluka–” air mata Stelani mulai mengalir dan gadis itu mulai menangis
Fabil yang berhasil mengingat semuanya juga memberikan reaksi seperti Stelani.
“Wanita…ada wanita yang menusuk Kino-niichan dan mencekiknya. Tubuhnya…tubuhnya dilempar dan Kino-niichan diserang lagi…lalu–”
“Fabil, Kino-niisan…hiks…hiks…bagaimana dengan nasib Kino-niisan?”
“Kh…” Fabil mulai meneteskan air matanya melihat Stelani menangis
Mereka akhirnya ingat wanita yang datang dan menyerang mereka, lalu ada pria besar yang bersama wanita itu memukul mereka hingga pingsan. Semua itu akhirnya berhasil diingat tetapi tidak merubah apapun.
“Kita harus keluar dari sini dan mencari tau apakah Kino-niisan juga dibawa ke tempat ini atau tidak!!” Stelani mengeraskan suaranya
Sambil menangis, Stelani terlihat begitu putus asa karena mengkhawatirkan Kino. Fabil juga tidak jauh berbeda dengannya.
“Stelani, ayo kita keluar dari sini dan mencari petunjuk mengenai tempat ini!”
“Mmm…” Stelani mengangguk
Setelah memutuskan untuk keluar, keduanya menghapus air matanya terlebih dahulu. Fabil kembali membantu Stelani berdiri dan mereka berjalan perlahan mendekati pintu keluar. Fabil mencoba membuka pintunya.
“Eh? Tidak…dikunci!!”
Keduanya terkejut. Meskipun begitu mereka tidak langsung membukanya lebar-lebar.
Fabil yang saat itu menopang tubuh Stelani bergeser ke belakang pintu. Hal itu diikuti oleh Stelani. Setelah itu mereka, membukanya sedikit demi sedikit. Jadi sekalipun pintu terbuka dan ada sesuatu yang menghadang mereka, keduanya tidak akan ada tepat di depan pintu dan posisi mereka akan berada di belakangnya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan diri sejak kondisi fisik mereka penuh dengan memar dan menahan sakit.
Stelani yang lebih dekat dengan ujung pintu mengintip sedikit.
“Kosong. Tidak ada apapun”
“Baiklah, ayo jalan!”
Keduanya berjalan mengendap-endap. Ketika sampai di koridornya, terlihat ada beberapa pintu di depan maupun di belakang mereka. Total keseluruhan ada empat ruangan dengan empat pintu termasuk ruangan pertama tempat mereka berada sebelumnya.
Tentu saja semua pintu itu mencurigakan dan aneh. Siapapun yang berada dalam situasi keduanya saat ini pasti akan berpikir dua kali untuk memeriksanya.
“Pintu-pintu itu tertutup. Bagaimana?” tanya Fabil
“Kita tidak punya waktu sebanyak itu untuk memeriksanya. Kita mulai dari pintu di depan kita itu. Pintu itu paling dekat dengan ruangan ini”
“Kalau begitu, kita ke sana dan lihat apa yang ada di dalamnya”
Stelani dan Fabil berjalan dengan tenang dan hati-hati. Meskipun terlihat sepi, namun tetap saja tempat itu sangat mencurigakan.
Mereka mulai bicara sambil berbisik.
“Terlalu tenang. Aku takut ada sesuatu yang tidak beres di sini” kata Fabil dengan wajah serius
“Kita tidak memiliki senjata apapun untuk melindungi diri. Sekarang, kita hanya bisa berharap agar bisa menemukan petunjuk apakah Kino-niisan ada di sini atau tidak”
Meskipun Stelani menjawab begitu, namun sebenarnya dia benar-benar ketakutan sekarang. Tanpa perlindungan dari siapapun dan apapun, mereka harus bisa menemukan cara agar tetap aman.
Akhirnya, mereka sampai di depan pintu itu. Fabil memberanikan diri untuk membuka pintunya.
“Apa ini?! Pintu ini juga tidak dikunci!!” Fabil terlihat syok
“Kita tidak punya banyak waktu!. Buka pintunya sekarang, Fabil!” Stelani mendesak Fabil untuk membuka pintunya
Saat mereka membuka pintunya, pemandangan pertama yang mereka lihat adalah warna merah yang kental dengan dua buah kepala di atas meja.
******