Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 19. Permata di Dunia Malam bag. 4



Malam masih belum berakhir dan begitu pula dengan pertarungan mereka yang belum selesai. Kaito seakan menolak untuk menyerah meskipun dia tau tubuhnya sudah penuh luka. Kecepatannya dalam menangkis serangan juga semakin melambat, membuatnya semakin sering terkena serangan dari para mantis. Ryou membantunya ketika dia memiliki celah untuk menangkis serangan mantis yang ditujukan langsung ke arah Kaito.


“Kaito!! Aku akan mengurus ini! Sebaiknya kau cepat pergi sekarang!” Ryou membunuh seekor mantis itu lagi sambil berteriak ke arah Kaito


Kaito melirik Ryou dan langsung pergi sambil berkata, “tolong urus sisanya untukku”


Kaito mulai berlari lagi dan benar-benar berada dekat dengan pohon itu. Tiba-tiba kawanan mantis itu berbelok mengejarnya kembali. Kali ini mereka seperti tidak menghiraukan Ryou sama sekali dan menargetkan Kaito sebagai sasaran utama.


“Apa?! Mereka tidak menyerangku dan mengejar Kaito?”


Ryou terkejut sesaat dan langsung mengejarnya kembali. Dari arah belakang, seekor mantis hampir menghunuskan pedangnya ke tubuh Kaito tetapi hal itu gagal. Dari belakang sebuah anak panah mengenai mantis itu. Organ yang mengenainya tidak vital, tapi berhasil menghentikan serangannya dan membuat mantis itu jatuh ke tanah.


“Kaito-san, lari! Biar aku yang mengurusnya. Jangan berhenti!!”


Kino yang berhasil memperkecil jarak antara dirinya dengan kedua orang di depannya berhenti berlari sejenak dan bersiap lagi dengan busur panahnya. Sekali lagi, dia berhasil mengenai mantis itu. Satu demi satu mereka jatuh namun tetap saja dia belum bisa membunuh mereka satupun.


Mantis yang terkena panah di sayap dan bagian punggungnya langsung dibunuh oleh Ryou menggunakan pedangnya. Dengan begini meskipun tidak berhasil membunuh seekor pun, tapi Kino berhasil membantu Ryou membunuh mereka.


‘Aku masih belum bisa mengendalikan tembakanku dengan panah ini. Tapi, setidaknya bisa menghambat monster itu dengan ini. Selain itu, malam benar-benar tidak membiarkan kami sendiri. Jika kawanan monster itu berhasil dibunuh seluruhnya tetapi Kaito-san masih belum berhasil mengambil permatanya, selama kami masih berada di ‘dunia malam’, makhluk lain akan muncul kembali seperti kata Kaito-san. Aku harus melakukan sesuatu agar bisa membunuh semua monster belalang itu’


Kino terus menembakkan anak panahnya sampai dia menyadari jumlahnya semakin sedikit. Jumlah anak panah yang tersisa hanya tinggal tujuh buah. Dan untuk mengambil kembali anak panah yang sudah ditembakkan membutuhkan waktu.


Dia mengambil botol kecil berisi racun di kantong kain miliknya. Jumlah racun yang ada di sana hanya tersisa dua botol dan tentu saja itu tidak cukup untuk membunuh kelompok mantis yang masih tersisa lima belas sampai dua puluh ekor lagi di sana.


“Hanya ini satu-satunya cara. Paling tidak aku harus sebisa mungkin membantu mereka untuk sampai ke pohon itu, terutama Kaito-san”


Kino meneteskan sedikit racun ke tiap anak panah yang dimilikinya. Efeknya mungkin tidak akan secepat saat dia menggunakan itu untuk membunuh goblin sebelumnya, kuantitas yang digunakan saat itu juga berbeda dengan yang sekarang dipakainya tapi itu cukup untuk membuat damage sampai akhirnya mantis itu mati perlahan.


Semua racun dalam botol sudah habis digunakan. Kino mulai menembakkan anak panahnya satu demi satu. Akurasinya memang masih belum baik tapi semua panah itu tetap mengenai bagian tubuh tujuh ekor mantis yang menjadi target serangannya.


Mantis-mantis itu jatuh ke tanah dan tidak bisa bergerak dan mati perlahan. Ryou sempat menengok ke belakangnya dan melihat kakaknya berlari mendekatinya. Dia mengurangi kecepatannya dan akhirnya sejajar dengan Kino.


“Lukamu?” Ryou melirik sambil melihat tubuh Kino yang sebelumnya terluka


“Aku sudah lebih baik meskipun sepertinya belum sepenuhnya sembuh. Tapi, saat ini tidak ada waktu memikirkan lukaku, Ryou. Tampaknya para monster itu mulai mengincar Kaito-san dan tidak menghiraukan kita sama sekali. Ini kesempatan bagus. Aku hanya memiliki dua buah dagger ini bersamaku. Tidak ada cara lain selain bertarung dari jarak dekat”


“Itu tidak akan membantu sama sekali. Selain itu, Kaito seperti tidak melihatku meskipun dia masih merespon saat aku bicara dengannya”


“Aku memiliki sebuah ide, tapi ide itu mungkin akan membuat seolah-olah Kaito-san yang menjadi umpan”


“Jika itu bisa membantunya, kurasa pantas untuk dicoba. Katakan padaku sekarang dan aku akan melakukan apapun untuk membuat rencanamu berhasil, Kino”


Kino mengatakan idenya pada Ryou sambil berlari menuju Kaito yang berada di depan mereka tanpa bisa lepas dari kepungan para mantis.


Kaito masih bergelut antara hidup dan mati dengan mantis-mantis itu. Total jumlah mereka kurang dari sepuluh ekor sejak Kino berhasil melumpuhkan tujuh ekor dengan anak panah beracunnya dari jarak yang cukup jauh hingga membuat mereka mati perlahan.


Kaito tidak habis pikir bahwa mereka jadi mengincarnya karena jaraknya dengan tempat permata itu hanya tinggal beberapa langkah lagi.


‘Ini seperti mereka melindungi permata itu dan tidak membiarkanku mendekatinya. Dia mulai mengabaikan semua yang ada di belakangku dan hanya mengincarku meskipun mereka diserang oleh kedua kakak beradik itu’


Teori itu tidak salah. Mereka memang mengincar Kaito karena alasan itu. Mereka tidak membiarkan siapapun yang terlihat oleh mereka mendekati permata itu dan mengambilnya.


Awalnya saat jumlah mereka banyak, mereka mengincar orang yang paling terbuka pertahanannya karena yakin semua musuh mereka akan mati. Namun dengan jumlah mereka yang kian menipis karena dibunuh membuat mereka lebih memprioritaskan orang yang berada dekat dengan benda yang mereka jaga yaitu musuh yang paling depan.


Dari belakang, Ryou berhasil menyusul Kaito dan sekali lagi memberikan support padanya. Disaat ada kesempatan, Ryou memberikan botol obat yang dipegangnya dan mengatakan sesuatu pada Kaito.


“……!!!’


Kaito terdiam dan melihat ke arah Ryou dengan tatapan terkejut seolah tidak percaya dengan yang didengarnya, tapi sorot mata Ryou sangat tajam dan wajahnya juga terlihat begitu kesal.


“Jangan bertanya padaku kenapa! Aku hanya menyampaikannya padamu. Yang jelas jika kau ingin berhasil, lakukan seperti yang kukatakan padamu atau semuanya akan sia-sia!”


“……”


Kaito hanya diam dan meminum obat yang diberikan Ryou. Seperti yang diketahui bahwa obat itu memang tidak bisa langsung cepat bereaksi. Tetapi setelah meminumnya, Kaito tidak membutuhkan waktu untuk menungu efek obat itu dan melakukan serangan balik. Ryou juga semakin cepat beradaptasi dengan serangan mereka dan menjatuhkan seekor mantis lainnya.


Tiba-tiba serangan kedua orang itu terhadap kelompok mantis itu terhenti.  Kaito yang sejak awal terus berlari mendekati pohon secara mendadak berhenti berlari dan mulai berlari sedikit menjauhinya. Tentu saja para mantis itu mengikuti Kaito karena mereka menganggap dia adalah musuh yang berada dalam jarak yang masih sangat dekat dengan permata tersebut.


Ryou yang awalnya bersikap seolah akan menyerang, menggunakan kesempatan itu untuk berbalik mundur mengikuti Kaito seolah mereka menariknya pergi.


Permata di pohon itu begitu kecil. Hanya seukuran batu kerikil namun begitu bersinar. Bentuknya mirip dengan batu berharga [Amethyst] atau [Purple Sapphire] jika diperhatikan lebih dekat. Batu tersebut terlihat menempel pada bagian tengah pohon besar itu. Tapi ternyata, ada sebuah akar dari pohon itu yang menjadi tempat menempelnya batu permata itu. Akar itu tidak begitu terlihat dari jauh dan permata tersebut diletakkan di sana.


Semua hal itu dideskripsikan sesuai dengan apa yang dilihat oleh Kino saat dia sudah berada di dekat pohon itu dan berhasil mengambil permata itu. Dia mengambilnya dan memasukkanya ke sakunya dan lari menjauh dari sana melewati sisi belakang pohon.


**


Sebelum hal ini dilakukan, Kino yang saat itu berlari bersama Ryou memikirkan sebuah rencana dan memberitau sang adik apa yang harus dilakukannya.


“Aku ingin Ryou memberikan obat luka ini untuk Kaito-san. Aku hanya memiliki dua botol yang tersisa. Dengan kamu memberikan ini padanya maka hanya ada satu botol lagi yang kita miliki. Pisau ini juga akan kuberikan kembali untuk Ryou”


Ryou berhenti berlari dan menerima dagger itu.


“Bagaimana dengan rencananya?”


“Untuk rencananya, aku ingin Ryou dan Kaito-san mengalihkan pandangan mereka. Apapun yang terjadi alihkan semua monster belalang itu agar tidak melihat ke arah pohon. Aku akan memutar dari sisi samping memanfaatkan


akar besar di sekitar tempat ini untuk pergi ke belakang pohon dan diam-diam akan kucoba mengambilnya”


Ryou menatap Kino dengan tatapan kesal dan ingin sekali berkata kasar pada kakaknya, namun tidak dilakukannya. Sebelum dia membuka mulutnya, Kino sudah membuka mulutnya kembali untuk mengatakan sesuatu.


“Aku sudah tau apa yang mau dikatakan oleh Ryou. Rencana ini memang sangat dipaksakan, sama seperti saat melawan goblin. Tapi, kamu mungkin tidak tau bahwa waktu yang kita miliki hanya tersisa kurang dari dua jam”


“Kurang dari dua jam kau bilang?!” mendengar itu Ryou terkejut


Dia menyadari bahwa waktu semakin sedikit untuk mereka. Padahal tujuan mereka sudah ada di depan mata. Sungguh akan menyedihkan dan  sia-sia jika harus mati-matian bertarung tanpa mendapatkan benda yang menjadi tujuannya selama ini.


“Jika permata itu ikut menghilang bersama dengan ‘dunia malam’ ini, aku tidak bisa membayangkan harus berapa lama lagi Kaito-san menunggu sampai permatanya ditemukan lagi. Dan aku juga tidak bisa membayangkan berapa lagi ‘dunia malam’ yang harus kita masukki untuk menemukan petunjuk cara kita pulang”


“……”


Ryou terdiam dan mulai berlari sedikit lebih cepat sambil berteriak.


“Tidak peduli ini akan berhasil atau gagal, setelahnya biarkan aku memarahimu habis-habisan!”


“Aku mengerti. Setelah ini berhasil, larilah ke dalam kota kembali. Jika memang beruntung, kita tidak akan terjebak ilusi tempat ini lagi dan bisa bertemu di suatu tempat di kota. Dan saat itu, Ryou bisa memarahiku sesukamu”


Ryou mengangkat pedangnya tanda dia mengerti.


Kino memperlambat larinya dan pergi ke sisi samping. Dengan memanfaatkan akar-akar besar di sekitar tempat itu, dia merangkak dan sesekali melihat para mantis itu.


‘Sepertinya para mantis itu tidak melihat sekitar sini’


Ryou dan Kaito benar-benar membuat mereka semua berbalik membelakangi pohon besar itu. Pohon itu luput dari pengawasan kelompok mantis tersebut. Tapi, rencana Kino itu memiliki banyak sekali celah yang membuatnya bisa saja tidak selamat. Alasan pertama karena dia tidak memiliki senjata apapun kecuali perisainya. Alasan lainnya, semakin dekat dengan pohon besar itu, semakin sedikit akar besar yang ada. Jadi, keselamatan Kino sekarang bergantung pada orang-orang yang bertugas mengalihkan pandangan musuh.


Saat mereka berdua bertarung, Ryou sempat melirik ke sisi samping. Dia memastikan bahwa kakaknya benar-benar bisa melakukan rencana penuh resikonya itu. Selain itu, dia juga merasa dia harus menebus kesalahan besar yang dia lakukan karena membuat Kino terluka tadi.


Meskipun awalnya niat mereka adalah untuk mengalihkan pandangan monster itu, entah sejak kapan mereka justru semakin mengurangi jumlahnya. Luka memang hal yang tidak bisa dihindari. Mereka juga tidak bisa selalu menghindar karena pertarungan yang dilakukan mereka sekarang itu dua lawan enam ekor sisa pasukan mantis. Dari perbandingan jumlah, jelas mereka berdua kalah telak, tapi untuk kemampuan membunuh lawan mereka bisa dikatakan cukup mendominasi.


Jumlah mantis-mantis itu terus berkurang. Awalnya melawan musuh yang dapat terbang itu bukanlah hal yang mudah dan terlalu banyak celah bagi mereka untuk menyerang lawannya. Tapi jika diingat kilas baliknya, para mantis itu selalu menyerang dan tidak pernah mau menghindar saat diserang. Mereka terus menyerang membabi buta dengan memanfaatkan jumlah teman-teman mereka yang banyak. Sehingga setelah jumlahnya semakin berkurang, pergerakan mereka jadi lebih mudah dibaca.


Setidaknya itulah yang dirasakan Ryou dan Kaito, sampai akhirnya jumlah mereka tersisa dua ekor.


Hasil akhir dari rencana Kino adalah dia berhasil sampai di pohon besar dan berhasil mengantongi permatanya. Semua itu, karena kedua orang kepercayaannya benar-benar tidak hanya mengalihkan pandangan monster tersebut, tapi juga mencoba membumi hanguskan keberadaan mereka dari tempat itu.


Kino yang tidak mau mengulur waktu segera pergi dari tempat itu dengan cepat. Dia melewati sisi samping pohon tempat dia datang tadi dan pergi memasuki jalan yang ada di sampingnya. Jalanan itu terbentuk dari reruntuhan bangunan altar yang tadinya berada di samping kolam air mancur tempat kemunculan pohon tertinggi di tempat itu.


“Aku sudah mendapatkannya!! Sekarang pergi dari tempat itu dan masuk ke kota!!”


Kino berlari sambil berteriak, memberitau mereka untuk mengikuti instruksinya. Gerakan Kaito sempat terhenti dan melihat pohon besar itu.


“Di sana tidak ada lagi permata... Permata itu sudah tidak di sana. Permata itu sudah tidak disana” wajah Kaito tidak bisa mengekspresikan apapun dan gerakannya terhenti saat itu


“Kaito, rencana selesai! Kita bunuh mereka semua dan bertemu di kota! Apapun yang terjadi, jangan sampai mati!!” Ryou berteriak dan mulai serius menyerang lawannya


Tidak butuh waktu lama, dengan sekali tebas Kaito membunuh keduanya sekaligus. Matanya menjadi tajam seperti hewan liar tapi senyum tipis menghiasi seakan perasaan senang yang ingin diluapkan ditahannya sementara waktu.


“Ryou, kita pergi dari sini!”


Menyusul Kino, mereka berdua memasukkan senjatanya dan bergegas pergi dari sana. Arah yang dipilih kedua orang itu berlawanan dengan arah Kino. Tapi, tetap saja mereka pergi ke dalam kota melewati jalan dan bangunan yang telah menjadi hutan. Meski terpencar kembali dengan sang kakak, Ryou tersenyum bahagia karena semua usahanya dan semua resiko yang diambil oleh kakaknya membuahkan hasil.


‘Aku tau kakakku yang terbaik di dunia’


******


Dengan dikalahkannya semua kawanan mantis itu, artinya sudah tiga makhluk mengerikan yang mereka temui di ‘dunia malam’. Kino melihat jam sakunya sambil berlari kencang. Jam saku tersebut menunjukkan pukul 04.50, hanya tinggal 1 jam 10 menit lagi sampai jam enam pagi.


Sekarang keadaan benar-benar berubah.


Bisa dikatakan perubahan ini ke arah lebih baik karena mereka berhasil mendapatkan permata ungu milik Kaito. Tapi selama masih berada di ‘dunia malam’, kota sekaligus hutan itu tidak akan pernah membuat mereka lolos dari maut.


Yang bisa dilakukan Kino hanyalah terus berlari dan berlari tanpa tujuan. Tenaganya sudah terkuras sangat banyak tetapi jika berhenti dia akan mati. Selain itu, dia menyadari bahwa monster sebelum ini dan sebelumnya lagi berada di sana untuk melindungi permata ungu ini. Artinya kemungkinan dia akan menjadi sasaran dari makhluk ganas lain yang muncul mencapai 100%


‘Aku tidak tau apa yang akan muncul setelah ini. Tetapi yang jelas aku sudah tau seberapa berbahayanya situasiku. Setidaknya aku tidak melibatkan Ryou dan Kaito-san. Bagaimanapun juga tugasku adalah menjaga permata ini sampai ke tangan Kaito-san dan selamat sampai ‘dunia malam’ berakhir. Apapun yang terjadi aku hanya perlu terus berlari’


Akar dan tanaman merambat di semua sisi dapat dilihat jelas oleh Kino namun ada perubahannya. Kino mulai menyadari bahwa warna tanaman merambat dan daunnya tidak lagi hijau, melainkan warna sedikit coklat dengan daun layu.


“Seperti sumber kehidupan mereka telah hilang sedikit demi sedikit”


Kino berpikir, ‘mungkinkah pohon besar itu juga akan layu dan mati sejak permata ini diambil darinya?’


Tapi hal itu tidak penting lagi. Dunia malam masih tersisa satu jam lagi dan hanya tinggal satu jam terakhir semua akan benar-benar selesai.


“Bukan waktunya memikirkan hal aneh. Sekarang bagaimana caranya bertemu dengan mereka berdua dan memberikan ini pada Kaito-san”


Kino terus berlari, menelusuri belokan tiap belokan hingga sampai ke tempat yang cukup luas. Kemungkinan itu adalah jalanan besar di kota sebelum hancur karena akar dan tanaman merambat. Hanya selang sekitar beberapa menit setelah keluar dari gang menuju belokan ke kanan dan sampai ke jalanan besar, Kino disambut dengan sambutan ‘hangat’ dari arah samping kanannya, tepatnya dari dalam sebuah bangunan yang sudah tertutup akar.


-BAAAANG


******


Ryou dan Kaito terus berlari masuk ke dalam kota yang berubah menjadi hutan belantara dengan nyaris semua jalanan rusak dan bangunan yang tidak berbentuk. Mereka lari dari arah depan dan langsung melihat banyak tanaman merambat penuh bunga. Semakin mereka berlari, bunga-bunga itu banyak yang layu dan berguguran dan tanaman merambatnya banyak yang berubah menjadi kecoklatan seperti akan layu.


“Aku melihat tanaman merambat dengan bunga ini saat datang mencarimu bersama Kino. Sekarang mereka menjadi layu” Ryou bicara sambil melirik ke arah Kaito


“Mungkin karena permatanya diambil”


“Kurasa begitu. Tapi itu bukan masalah. Sejak permata itu adalah benda yang kau cari dengan mempertaruhkan nyawamu”


“……”


Kaito berhenti tiba-tiba. Ryou yang mengetahuinya ikut berhenti dan memanggilnya.


“Ada apa? Kita tidak punya banyak waktu. Kalau tidak cepat, Kino akan…”


“Terima kasih banyak” Kaito membungkukkan tubuhnya dan mengucapkan terima kasih kepada Ryou


“……!” Ryou terkejut sampai tidak bisa berkata apapun


“Terima kasih karena sudah menolongku, terima kasih karena…sudah mau mempertaruhkan nyawa kalian demi permata itu. Terima kasih banyak”


Suara Kaito terdengar serak seakan menahan tangis bahagia. Ryou ingin membalasnya dengan rasa senang tapi itu masih belum bisa dilakukan sekarang.


“Masih terlalu cepat untuk berterima kasih padaku. Permata itu belum ada di tanganmu sekarang jadi keberhasilan ini hanya 80% dari yang direncanakan. Selain itu…aku ingin kau mengatakannya juga pada kakakku, sejak dialah yang melakukannya dengan penuh resiko”


Kaito mengangkat kepalanya dan menatap Ryou dengan serius sambil berkata, “kau benar”. Setelah itu mereka kembali berlari untuk mencari keberadaan Kino. Dengan tanda-tanda layunya tanaman merambat di sekitar mereka, mereka cukup yakin bahwa ilusi dari hutan tidak akan menempatkan mereka ke tempat acak seperti sebelumnya. Lalu, saat mereka menemukan jalan berbelok ke kiri di ujung jalan, mereka mendengar suara keras seperti benturan.


-BAAAANG


“……!!!”


Mereka kaget dan seketika menjadi pucat. Saat mereka berbelok, mereka melihat hal yang paling ditakuti. Wajah mereka pucat dan dengan cepat berlari dan mengeluarkan senjata yang mereka punya.


“Kino!!!” Ryou dan Kaito berteriak sekeras mungkin


Kejutan hangat yang menghampiri Kino saat dia hendak berbelok ke kanan dari arahnya berlari adalah tendangan keras yang membuatnya terlempar hingga membuat tubuhnya membentur tembok salah satu bangunan di seberangnya. Benturan yang diterimanya dari tendangan kuat itu membuatnya langsung kehilangan kesadarannya dengan luka cukup serius. Bahkan, perisai yang digunakan untuk menahan tendangan itu penyok dengan bagian batunya yang hancur tak tersisa.


“Kino!!!” Ryou berlari ke arah Kino


Sebelum sampai ke tempat Kino, Ryou melihat ada sesuatu yang datang dari dalam bangunan dengan tembok yang hancur di samping kirinya.


“Mustahil!! Seeekor [Satyr]?!! Bagaimana bisa?!”


Kaito tidak terlihat senang melihat kemunculan monster itu. Makhluk setengah manusia setengah kambing hutan dengan dua kaki, telinga dan tandung kambing itu memiliki ukuran setinggi manusia dewasa berjenis kelamin laki-laki. Satyr itu berjalan dan telah berdiri di hadapan Kino yang pingsan, menatapnya dengan mata merah dan bersiap menginjak tubuhnya.


Ryou yang berlari dengan penuh amarah menghunuskan pedangnya untuk menebas makhluk itu, akan tetapi kecepatan Kaito lebih unggul. Kaito berlari lurus ke arah satyr di hadapannya dengan cepat dan tanpa jeda sedikit pun, dia langsung melompat dan menendang tubuh makhluk itu hingga membuatnya terdorong karena mencoba menahan tendangan Kaito menggunakan kedua tangannya.


“Ryou, Kino masih hidup, jadi cepat bawa dia pergi jauh dari tempat ini! Satyr di depan kita terlihat tidak normal, apapun yang terjadi lindungi kakakmu!!” Kaito berteriak memanggil Ryou


Ryou memasukkan pedangnya kembali dan menghampiri tubuh Kino. Dia melihat kepala dan bibirnya penuh darah, selain itu tangan kanannya juga patah. Ryou menahan emosinya dengan menggigit bibirnya hingga berdarah dan menggendong kakaknya pergi dari sana.


Sekarang, makhluk itu menghadapi Kaito sebagai lawan. Kaito mulai maju menyerang satyr yang berlari ke arahnya dan pertarungan lain yang hebat terjadi. Satyr tersebut hanya menggunakan tangan kosong dan kaki kambingnya untuk menyerang Kaito. Kaito menahannya dengan pedang namun tidak disangka hanya dengan tangan kosong, serangannya begitu kuat.


“Apa maksudnya ini? Dalam ingatanku, satyr tidak memiliki serangan tinju sekeras ini. Tapi, serangan ini terasa berat dan sulit untuk ditahan”


Ini keadaan yang buruk di saat yang tidak tepat. Luka Kaito akibat serangan scyther mantis masih terasa, sekarang harus menahan kekuatan berkali-kali lipat dari seekor satyr. Selain itu, seperti ada yang aneh dengan makhluk itu. Makhluk ini seperti sedang terburu-buru dan ingin segera menyelesaikan pertarungan dengan dirinya.


“Apapun yang terjadi tidak akan kubiarkan kau lewat. Jika ‘dunia malam’ sangat senang dengan hiburan di malam hari, biar aku yang menghiburnya”


******