
Di gedung asrama, di lantai tiga…
Keempat remaja itu berlari di lorong koridor menuju dapur mahasiswa di lantai tersebut.
“Aku bisa menebak kalau universitas ini adalah yang ter-elit yang pernah aku temui” kata Ryou sambil berlari
“Begitulah. Aku senang sekali bisa mendapatkan beasiswa untuk masuk ke sini. Bukankah kalian juga?”
“Kami…kami bertiga berasa dari luar negeri dan merupakan mahasiswa pindahan”
Kino melihat Ryou yang terlihat tenang setelah mengatakan kebohongan seperti itu. Ryou yang menyadari hal itu langsung melihat sang kakak dan bertanya.
“Apa? Kenapa kau melihatku begitu, Kino?” Ryou terlihat bingung
“Bukan apa-apa”
Kino berusaha tidak memperpanjang masalah tersebut. Begitu sampai di dapur mahasiswa, hal pertama yang diambil oleh Ryou adalah dua buah pisau daging besar dan pengasah pisau.
“Kamu…kamu langsung mengambil benda itu?!” Song Haneul terkejut
“Begitulah. Ini yang paling kita butuhkan sekarang. Oh, iya…aku titip ini di tasmu ya. Aku ingin bisa bergerak dengan leluasa jadi masukan tas belanja ini ke dalam”
Ryou memberikan tas belanjanya pada Song Haneul. Perempuan manis itu hanya bisa diam tanpa menolak perintah Ryou dan memasukkan tas belanjaan itu ke dalam tas miliknya.
Kino dan Kaito hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah Ryou.
“Aku tidak bisa mengatakan apapun mengenai adikmu”
“Tidak apa-apa, Kaito-san. Aku mencoba untuk tenang di sini. Ryou sudah biasa seperti itu. Aku berharap Kaito-san akan terbiasa dengannya”
“……” Kaito hanya dia sambil menutup matanya dengan satu tangan
Ryou dengan cepat mengasah pisau yang ada di tangannya seperti seorang ahli. Begitu dia siap dengan kedua pisau daging itu, dia langsung mencobanya.
Pelan-pelan dia membuka isi kulkas di sana lalu mengambil sebuah kaleng buah yang didinginkan di dalam.
Ryou memperlihatkan senyum licik seperti pada tokoh anime bersifat yandere. Sungguh penuh dengan ekspresi unik.
“Mari kita lihat seberapa efektifnya anakku yang manis ini”
-JLEEB
Dengan cepat dia langsung memotong kaleng itu menjadi dua. Song Haneul yang kebetulan ada di dekatnya tidak bisa mengedipkan matanya dan melihat ekspresi pelaku pemotongan kaleng.
“Ryou…kamu…baik-baik sa–”
“Ahahaha!!”
“Huwaaa!” Song Haneul terkejut dan mundur beberapa langkah
Mendengar tawa Ryou yang seperti orang jahat, Kino menjadi berubah panik.
“Ryou…tenanglah”
“Yeah! That’s my boy! Kita bisa memotong leher mereka semua dengan cepat dengan ini. Kau mau pegang satu untuk pertahanan diri?” Ryou memberikan satu pisau di tangannya kepada Song Haneul
Namun tampaknya dia terlihat menggelengkan kepalanya dengan cepat sebagai tanda penolakan.
“Hmm…yasudah. Aku saja yang pakai. Tapi, di dalam tas belanjaan tadi ada ponsel dan dua pisau yang bisa digunakan. Kau pakai saja ya. Aku akan ganti menggunakan ini. Waktunya memotong daging mantan manusia”
Ryou terlihat bersemangat.
Setelah selesai dengan pisau dagingnya, mereka memutuskan untuk tidak mengambil yang lain lagi.
“Di tempat seperti ini tidak ada pistol atau semacamnya jadi tidak bisa mengharapkan apapun selain dengan pisau atau benda berat seperti tabung pemadam kebakaran” gumam Ryou
Kaito lebih banyak diam daripada berkomentar sekarang. Ryou yang berlari paling depan disusul dengan Song Haneul dan Kino. Kaito menjadi yang paling belakang dengan pedang yang sudah keluar dari sarung pedangnya di tangan.
‘Permata itu ada pada mayat Jung Leon di perpustakaan. Bisakah aku pergi ke sana untuk mengambilnya sendiri?’ pikir Kaito
Dia mempercepat langkah kakinya sedikit hingga sejajar dengan Kino.
“Kino, apa yang kau ketahui mengenai ini semua?”
“Mengenai ini semua ya…yang jelas semua ini sama seperti isi naskah cerita yang dibuat Song Haneul-san”
“Hubungannya dengan kekuatan permataku mungkinkah karena yang dia katakan beberapa waktu lalu?”
“Begitu. Berarti kepingan ingatanku di sini membuat semua yang terjadi di dalam cerita perempuan itu menjadi nyata. Sungguh permata yang merepotkan” Kaito tersenyum tipis mengejek dirinya sendiri
“Kaito-san, ini bukan kesalahan siapapun”
“Tapi, kenapa permata ingatanku memiliki kekuatan yang merepotkan? Sejak kapan aku punya ingatan yang seakan memiliki kehendak dan pikiran sendiri seperti ini? ‘Orang itu’ tidak pernah mengatakan tentang hal ini padaku”
“Mungkin ada hal yang memicu kenapa kepingan ingatan milik Kaito-san memiliki kekuatan aneh di setiap dimensi tempat mereka berada. Tapi yang jelas, untuk yang sekarang kita harus mendapatkannya”
“Apa…sebaiknya kita pergi ke perpustakaan dulu untuk mengambilnya?”
Usulan Kaito membuat Kino berhenti berlari. Hal itu membuat Kaito juga berhenti berlari.
“Kaito-san ingin kembali ke tempat itu untuk mengambil permatamu?”
“Benar. Aku berpikir dengan mendapatkan permata itu, setidaknya kita bisa mencapai satu dari sekian banyak tujuan yang kita miliki sekarang”
“Tapi, kita bahkan tidak tau apakah gerbang utama itu memiliki arah yang sama dengan perpustakaan atau sebaliknya”
“Karena itu, aku akan mengambilnya sendiri. Kau dan Ryou tetaplah pergi bersama Song Haneul”
Kino menjadi pucat mendengarnya dan menghampiri Kaito.
“Itu terlalu berbahaya, Kaito-san!”
Ryou dan Song Haneul sudah hampir sampai di lantai dua. Menyadari tidak ada orang lain yang mengikuti di belakang, Song Haneul berhenti dan memanggil Ryou.
“Ryou, di belakang kita tidak ada mereka berdua”
“Hah?” Ryou melihat ke belakang
Sekarang dia yang panik.
“Wahai kakak dan temanku yang baik, berhentilah memaksa aku yang bukan penyabar ini menjadi seorang penyabar level berat”
Dengan gerutuan itu, Ryou kembali menaikki tangga menuju lantai tiga.
“Kamu mau kemana?” teriak Song Haneul
“Aku mau menyusul mereka. Kau diam di situ dan jangan kemana-mana!”
“……” Song Haneul terdiam
Kino dan Kaito seperti sedang berdebat satu sama lain.
“Itu berbahaya, Kaito-san! Bagaimana jika sampai ada zombie yang menyerangmu?”
“Aku mengerti itu. Tapi jika kita pergi bersama-sama seperti ini, kita hanya akan membuang-buang waktu. Selain itu–”
“Kaito-san, kita bertiga sudah mengetahui kenyataan satu sama lain bahwa aku, Ryou dan Kaito-san saling terhubung sekarang. Jika kamu menyentuh permata itu dan ternyata permata itu hanya ada satu di ‘dunia’ ini, maka kita bertiga akan langsung terlempar keluar dari tempat ini menuju ‘dunia’ tempat permatamu selanjutnya”
“Aku mengerti itu”
“Tapi, tidakkah dirimu memikirkan apa yang akan terjadi pada Seo Garam-san dan yang lain? Ini mungkin terlihat seperti ‘dunia’ persinggahan kepingan ingatanmu. Tapi, sama seperti Theo-kun, Stelani-chan dan yang lain…ini nyata untuk mereka”
Sorot mata Kaito berubah menjadi serius. Dia benar-benar mencoba meyakinkan Kino mengenai usulan miliknya.
“Aku tau hal itu. Aku pernah mengatakannya pada Ryou mengenai hal yang sama saat berada di pusat kota. Aku mengatakan hal yang sama seperti yang kau katakan jadi aku benar-benar paham. Aku akan berhati-hati kali ini. Ini semua agar kita bisa lebih cepat keluar dari masalah ini, Kino”
“Karena itu, hal yang dikatakan Kaito-san itu sangat…”
Kino berhenti bicara. Matanya mulai tidak bisa menyembunyikan perasaan cemas dan khawatirnya.
“Kaito-san…begitu kita keluar dari sini, semua zombie itu akan menyerang dan mengejar kita. Sekalipun kita berpencar nantinya, akan ada zombie yang memiliki gerakan cepat seperti di perpustakaan waktu itu”
“Itu tidak masalah. Aku cukup percaya diri dengan kemampuanku”
“Tapi aku tidak percaya pada tingkat keberuntunganmu”
-Jleeb
Seperti sebuah pisau yang menusuk jantung Kaito. Siapa yang menyangka dia akan mendengar seorang Kino mengatakan kenyataan pahit seperti itu.
‘Kenapa….kenapa aku harus mendengar kenyataan itu dikatakan olehmu, Kino? Aku berharap kau tidak pernah mengatakan hal itu dan sekarang aku merasa keberuntunganku yang menyebalkan itu tertawa di atas penderitaanku’
******