
Di dalam gedung arsip, Seo Garam melihat ponselnya yang sama sekali tidak bisa digunakan.
“Apa ada yang membawa kabel untuk mengisi baterai ponsel?”
“Kalau ada, kita tidak akan ada di posisi seperti ini” jawab Kim Yuram
“Aku ingin tau bagaimana keadaan mereka bertiga” gumam Seo Garam
Ha Jinan tampak melihat ponsel yang ada di tangannya.
“Kino-ssi…”
Kim Yuram mengerti apa yang dirasakan oleh temannya itu, sejak mereka sama-sama mengkhawatirkan ketiganya. Atau lebih tepatnya orang yang mereka sukai.
“Jangan cemas, Jinan. Mereka akan baik-baik saja”
“Aku tau. Selain itu, berkat informasi dari Ryou-ssi mengenai pintu gerbang yang dijaga oleh para zombie…kita bisa sedikit bernapas lega karena tidak ada zombie di sekitar tempat ini”
“Kau benar, tapi kita tetap tidak bisa keluar dari tempat ini karena keadaan bisa saja berubah”
“Apapun yang terjadi, sebaiknya kita menunggu sampai mereka selesai dan kembali dengan selamat. Sampai itu tiba, kita harus bisa bertahan dengan semua yang ada” ucap Seo Garam
Semuanya mengangguk. Dari kejauhan, Kang Ji Song sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaannya pada keenam teman Baek Hyeseon dan meminta mahasiswa lainnya mengawasi mereka juga.
Sementara itu, di tempat Kaito dan kedua kakak beradik itu sekarang tampaknya benar-benar sangat sibuk.
Mereka terlalu sibuk mengadakan acara pembantaian secara sepihak.
“Abaikan saja yang lain dan cepat ke depan. Cari gedung tempat Song Haneul berada sekarang!” teriak Kaito
“Aku tau! Tapi tidak semudah yang kau katakan?!” Ryou balas berteriak
Para zombie yang masih terlalu banyak mulai mendekati mereka.
“Kh…ini tidak ada habisnya. Kita lari sekarang!” seru Kaito
Ketiganya mulai berlari ke depan. Kino masih menyemprotkan isi tabung pemadam kebakaran itu hingga akhirnya begitu mereka sudah menjauhi gerbang, isi tabung tersebut habis.
‘Sudah habis ya’ pikir Kino
Dia langsung melemparnya ke belakang hingga membuat suara. Untuk beberapa saat, para zombie tersebut mulai teralihkan dengan suara dari tabung tersebut.
“Ada apa, Kino?”
“Isinya telah habis. Kita harus mencari gedung yang disebutkan oleh Song Haneul-san!”
“Gedung F1! Kita harus mencari gedung F1!” teriak Ryou di depannya
“Kalau begitu kita harus cepat!”
Mereka kembali berlari sambil memperhatikan gedung yang ada. Terlihat Ryou tampak kesal untuk beberapa hal.
“Kenapa mereka meletakkan nomor gedungnya secara acak begini?! Memangnya konsep macam apa yang mereka terapkan?! Menyebalkan sekali!”
“Jangan pikirkan itu! Dimana letak gedung F1 itu yang harus kita cari tau sekarang!” ujar Kaito
“Aku juga tau itu! Memangnya kau pikir…itu dia!!”
Ryou menunjuk jarinya pada sebuah gedung dengan tulisan F1 di paling atas. Tidak perlu waktu lama, mereka langsung masuk ke dalamnya.
Para zombie itu mulai mengejarnya kembali. Beberapa dari mereka juga terlihat memiliki kemampuan untuk berlari.
Kaito yang sempat menengok ke belakang sempat bergumam dalam hati.
‘Tampaknya beberapa dari mereka sudah memakan banyak manusia. Ini merepotkan. Kalau sampai ada yang berhasil mengejar sampai ke tempat ini maka kami akan terkena masalah serius’
Kino yang tidak memegang senjata apapun mengambil ponsel dalam sakunya dan menghubungi Song Haneul. Setelah menunggu beberapa detik, panggilan diangkat.
“Halo, Yuki Kino?”
“Song Haneul-san, kami sudah ada di asrama gedung F1 dan akan menaiki tangga menuju lantai tiga. Apakah ada suara aneh di dalam sana? Zombie atau semacamnya?”
“Tidak ada! Tapi tempat persembunyianku terhalang banyak sekali barang. Aku akan memindahkannya dulu. Nanti aku akan menghubungi begitu selesai!”
“Aku mengerti. Zombie-zombie itu mulai memasuki area gedung jadi kalau bisa tolong lakukan dengan cepat!”
Panggilan terputus. Ketiga remaja itu sudah menaikki tangga menuju lantai dua. Sambil memperhatikan sekitar lorong koridor tiap lantai, mereka masih sempat membuka pembicaraan.
“Tampaknya berbeda dengan lantai bawah. Di lantai ini sepertinya hampir tidak tersentuh oleh para
zombie. Aku ingin tau kenapa?” kata Kaito dengan nada penasaran
“Pasti ada sesuatu. Yang jelas kita abaikan itu dan pergi ke lantai tiga!”
Ryou mulai berlari di depan Kaito. Kini, mereka berada di lorong koridor lantai tiga. Ryou dengan cepat mencari nomor kamar tempat Song Haneul berada.
“343, 343…dimana kamar nomor 343?”
Ryou melihat semua pintu kamar yang terbuka. Cukup aneh, beberapa kamar tersebut masih terlihat bersih dan di seluruh tempat itu nyaris tidak ada yang pecah ada noda darah.
Kino berhenti berlari dan terlihat pucat. Kaito berhenti dan menghampiri Kino yang ada di belakangnya.
“Kino, kenapa kau berhenti?”
“Kaito-san…ini terlalu…bersih. Untuk tempat yang sudah dikelilingi zombie, tidak ada tanda-tanda adanya kematian di sini. Kenapa bisa seperti ini?”
Kaito mulai melihat sekelilingnya. Memang sangat aneh sekali. Di lobi bawah, memang ada pecahan kaca dan sedikit noda darah. Tapi semakin ke dalam, tidak ada kaca jendela yang pecah.
Memang ada beberapa pintu yang terbuka karena ada mahasiswa yang libur atau masuk jam kuliah di saat yang berbeda.
Hanya saja, jika pada akhirnya 80% dari dalam gedung ini tidak terjamah oleh para zombie, apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Itulah yang menjadi pertanyaan Kino.
“Aku tidak mengerti apakah ini ada hubungannya dengan Song Haneul-san yang memiliki permata ingatan Kaito-san atau tidak, tapi seandainya semua orang tau mengenai hal ini…mungkin saja akan lebih sedikit jatuh korban”
Kino terlihat begitu sedih mengingat seluruh zombie di luar itu adalah mahasiswa dan staff di universitas tersebut. Meskipun ini mungkin bukan saat yang tepat untuk meratapi orang yang sudah mati.
“Kita bahas itu nanti. Sebaiknya kita pergi dari sini sebelum adikmu itu berteri–”
“Oi! Kalau kalian punya waktu untuk bergosip, sebaiknya lakukan nanti! Aku sudah menemukan ruangannya!” teriak Ryou yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka
“…Baru aku ingin mengatakan sebelum dia berteriak ke arah kita…kenapa dia bisa muncul sebelum aku selesai dengan ucapanku?” gumam pelan Kaito
“Kaito-san…” Kino hanya tersenyum tipis mendengar gumaman tersebut
Mereka segera berlari menghampiri Ryou yang sudah berdiri di depan sebuah pintu yang tertutup rapat.
Kino dan Kaito melihat nomor pintu tersebut.
“343. Ini benar kamarnya” ucap Kaito
Mereka bertiga saling melihat satu sama lain dan memutuskan untuk membiarkan Kino yang mengetuk pintunya.
-Tok…Tok…Tok…
“……!!!” Song Haneul yang ada di dalam terkejut
Dia segera berdiri dan mengambil sebuah sapu untuk berjaga-jaga. Terdengar suara dari luar.
“Song Haneul-san…apa kamu di dalam? Ini Yuki Kino”
“Yuki Kino?!”
Song Haneul langsung menjatuhkan sapunya dan membuka pintunya dengan terburu-buru. Begitu pintu dibuka, dia tidak bisa menahan air matanya.
“Hiks…hiks…”
“Song… Haneul-san?”
Suara itu persis seperti yang dia dengar pada panggilan telepon. Dia langsung memeluk Kino sambil menangis.
“Huwa….hiks…syukurlah…syukurlah masih ada yang hidup…hiks…syukurlah…”
Setelah beberapa drama panjang yang harus dilalui, akhirnya mereka berhasil bertemu dengan satu-satunya programmer aplikasi [Event Horror Apps] yang tersisa.
Satu-satunya perempuan dari tiga pendiri aplikasi bermasalah yang menyebabkan semua trageri ini terjadi, yaitu Song Haneul.
******