Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 116. Setelah Kejadian bag. 1



Kino telah membuka matanya dan disambut hangat oleh semua orang. Hanya berselang beberapa menit, dokter datang dan memeriksa kondisinya. Semua orang sedikit menjauh saat dokter memeriksa dirinya, termasuk Ryou dan kesembilan anak kecil yang terlihat antusias ingin mendekatinya lagi.


Usai memastikan semua baik-baik saja, dokter menyarankan agar dirinya istirahat serta makan yang cukup.


Tempat Kino dirawat sekarang adalah sebuah rumah sakit di kota yang berada di pusat kota. Sejak bangun, wajah Kino berangsur-angsur menjadi segar kembali. Setelah minum obat dari dokter saat memeriksanya, Kino mulai terlihat lebih baik.


Di dalam ruangan Kino, ada lebih dari sebelas orang yang datang berkunjung. Hal tersebut membuat ruangan cukup sesak sekarang. Ditambah lagi, tidak lama setelah dokter keluar, dirinya langsung dihampiri oleh anak-anak kecil yang kembali memeluknya.


Entah kenapa, suasana ramai itu cukup membuatnya cemas.


“Um…kalian semua…memangnya di rumah sakit ini mengizinkan lebih dari tiga orang untuk menjenguk? Selain itu, apakah pagi ini sudah masuk jam besuk?” tanya Kino dengan wajah cemas


“Jangan pikirkan itu, Kino. Ini bukan Jepang jadi tidak perlu mengikuti aturan di tempat ini! Lagipula, sebenarnya aku sudah mengusir bocah-bocah ini tapi mereka masih saja mencoba untuk ikut masuk! Dasar anak-anak nakal!” jawab Ryou dengan wajah cemberut


Ryou sudah terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Hal itu bisa terlihat jelas dari kemampuan mulut pedasnya yang sudah bisa diaktifkan.


Kino hanya bisa tersenyum tipis mendengarkan jawaban sang adik dan beralih pandangan, menatap Kaito dengan harapan mendapatkan penjelasan yang lebih masuk akal.


Kaito jadi lebih peka dari sebelumnya.


“Ehem, sebenarnya sekarang sudah jam sepuluh pagi dan sebelum kau membuka matamu beberapa menit lalu, itu sudah masuk dalam jam besuk. Jadi–”


“Begitu. Jadi ini sudah masuk jam besuk ya”


“Benar. Kira-kira begitulah”


“Jadi, berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Kino pada Kaito


“Terhitung dua hari. Tapi itu tidak masalah, tidak ada hal istimewa yang terjadi saat kau tidur”


Ada hal yang disembunyikan oleh Kaito dari kalimat itu namun dia memutuskan untuk tidak mengatakannya.


Kino menghela napas lega dan melihat sisi lain ruangan tersebut. Ada dua orang asing lain yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


“Mereka…”


Kedua orang tersebut mendekati Kino yang duduk di tempat tidur pasien.


“Ini pertama kalinya kita bertemu. Salam kenal, namaku adalah Joel. Aku pemilik [Barre des Noirs]”


“Joel-san…[Barre des Noirs] ya. Namaku Yuki Kino, salam kenal. Lalu…”


“Namaku Arkan, bartender di bar tersebut. Salam kenal”


“Arkan-san ya. Terima kasih telah menjaga Ryou dan Kaito-san” Kino tersenyum


Ketika berjabat tangan dengan Kino, Arkan berbisik ke telinganya.


“Hei, apa kau benar-benar kakak Ryou?”


“Eh?” ekspresi Kino menjadi bingung sekarang


“Aku tanya apa kau benar kakak kandungnya?”


“A–aku rasa kami lahir dari rahim wanita yang sama jadi, umm…dia adikku. Apa ada sesuatu, Arkan-san?”


“Kau tidak pernah berpikir kalau saat dia lahir, mungkin saja dia ditukar oleh perawat atau orang lain?” wajah Arkan semakin terlihat aneh


“A–apa ada sesuatu yang salah dengan Ryou? Kino menjadi terlihat semakin bingung


“Aku rasa kau harus mulai mencari cara untuk mengetes apakah dia adik kandungmu atau bukan! Sifat kalian seperti langit dan bumi! Ditambah lagi–”


Dari belakang Arkan, Ryou sudah bersiap untuk memukulnya.


“Jangan coba-coba meracuni pikiran Kino dengan omong kosongmu, Arkan. Meskipun senjataku sedang di bawah, kalau hanya satu sampai tiga memar ringan di wajah aku masih bisa membuatnya. Kita bisa coba agar kau diam”


Mata Ryou terlihat penuh dengan emosi. Arkan berpura-pura tidak melihat dan mendengar Ryou langsung mundur ke sisi lain ruangan dan menjauhinya.


‘Sudah kuduga kalau mereka bukan kakak adik sungguhan. Pasti ada konspirasi di sini! Aku yakin sekali!’ gumam Arkan dalam hati dengan wajah datar


Anak-anak yang melihat Ryou memasang wajah seperti itu memeluk Kino dengan erat sambil mengusirnya.


“Pergi sana, dasar kakak setan!”


“Ryou-niichan membuat Kino-niichan takut!”


“Kalian bocah-bocah nakal!!” celetuk Ryou yang mencoba menahan emosi


Tapi rupanya, kalimat dari ketiga anak tertua di kelompok tersebut sukses membuatnya nyaris berubah menjadi kepiting rebus.


“Ryou-niisan memberikan aura negatif pada Kino-niisan. Jangan memasang wajah seperti itu!” kata Stelani dengan wajah cemberut


“Ryou-niichan, kalau marah-marah seperti itu nanti kau cepat tua. Lihat, Kino-niichan jadi kerepotan karena kau terlalu berisik” ucap Fabil sambil menggerakkan tangannya seraya mengusir


“Sebaiknya Ryou-nii menemani Riz-nii di bawah sana! Hush…hush!!” Theo mulai mengikuti gerak tangan Fabil yang mengusirnya


Kaito hanya melihat pemandangan ‘menenangkan hati’ itu dengan wajah datar. Namun sepertinya dibalik semua itu, tersimpan sebuah rasa syukur yang dipanjatkan.


‘Akhirnya ada orang yang bisa melawan Ryou. Ah~inikah yang disebut ketenangan? Maafkan aku, Kino. Terkadang, melihat Ryou seperti ini membuatku cukup tenang dan rileks. Aku bersyukur masih bisa melihat pemandangan indah ini’


Namun sepertinya, puji dan syukur Kaito harus berakhir lebih cepat.


“Oi, bocah-bocah menyebalkan…Jangan seenaknya saja kalian mengusirku!! Pasien yang ada di sana itu adalah kakakku dan kalian ini hanya bocah-bocah menyebalkan yang mengganggu ketenangannya! Minggir dari sana!!”


Wajah Ryou memerah seperti kepiting siap santap, membuat anak-anak kecil lain ketakutan dan mulai mengadu pada Kino.


“Kino-niichan, ada setan!”


“Pergi kau, setan! Kino-niichan, setannya menakutkan!!”


“Kurang ajar kalian!! Siapa yang kalian panggil setan?! Dasar bocah-bocah tidak tau diri! Keluar sana!! Jangan coba-coba mencari perlindungan pada orang sakit!! Kino tidak akan pernah membela kalian semua dan akan memilih mendukungku!” Ryou berteriak karena kesal


“Tidak! Jangan dekati kami, setan! Roh jahat! Orang jelek! Wajah merah Ryou-nii membuktikan kalau kau masih memiliki aura hitam! Jangan nodai Kino-nii!!” Theo membalas teriakan Ryou dengan beberapa ‘pujian’ lain untuknya


“Akan kulempar kalian semua dari jendela kamar ini! Jangan sembarangan bicara kalian, dasar bocah-bocah tidak sopan! Menjauh dari Kino!!”


Meskipun sebenarnya makna kalimat di atas itu memiliki arti sebaliknya.


Sekarang, Kino hanya bisa mematung tidak bergerak melihat ‘aksi brutal secara verbal’ yang dilakukan antara adiknya dengan kesembilan anak-anak itu.


“Kurasa…aku butuh udara segar sekarang” gumamnya pelan


Sudah lelah saling melemparkan ‘pujian’, pertarungan itu berakhir seri dan Kino berhasil menyelamatkan hari tenangnya dengan  meminta anak-anak itu pergi bersama pemilik bar keluar demi mencarikannya makanan.


Setelah Joel dan kesembilan anak-anak itu pergi, yang ada di dalam sana hanya tinggal Ryou, Kaito dan Arkan.


“Awas saja kalau mereka kembali lagi, akan kulempar mereka secara langsung dari jendela kamar ini begitu mereka memasuki ruangan ini!” gerutu Ryou dengan wajah kesalnya


“Ryou, jangan berkata seperti itu. Tenangkan dirimu. Kumohon, dengarkan aku” Kino mencoba menenangkan sang adik


“……”


Arkan benar-benar terkejut melihat Ryou yang langsung berubah tenang karena perkataan kakaknya. Sekarang, Arkan merasa telah bertemu seseorang yang bisa menjadi panutan hidupnya untuk masa depan lebih baik.


Kino menyadari sesuatu.


“Kaito-san, dimana pedangmu?”


“Ah, pedangku berada bersama seseorang yang bernama Riz. Dia menunggu di bawah. Bagaimanapun juga senjata tajam tidak diizinkan jadi…termasuk pedang Ryou dan dagger milikmu, semua dititipkan padanya” jelas Kaito


“Begitu”


Suasana kembali hening dan Arkan mencoba memulai pembicaraan.


“Sebelumnya, aku ingin minta maaf padamu karena terlibat hal yang mengerikan seperti ini. Meskipun ini bukan karena kesalahanku atau manager, tapi kau jadi terlibat karena orang yang berasal dari bar kami”


“Bar kami itu…apakah yang dimaksud adalah pria bernama Justin?” tanya Kino


“Benar. Apa kau mengetahui soal Justin?”


“Aku mengetahuinya karena Stelani-chan dan Fabil-kun yang menceritakannya. Michaela-chan juga sempat bercerita padaku saat kami makan bersama di restoran. Mereka bilang bahwa Justin adalah pria yang jahat”


“Itu benar dan dia adalah reguler di bar kami. Karena itu, aku turut menyesal dan meminta maaf sedalam-dalamnya padamu, Kino”


“I–itu tidak benar. Aku–”


“Selain itu…aku juga mengucapkan terima kasih banyak karena kau sudah melakukan semua hal terbaik untuk melindungi Stelani dan Fabil saat penculikan itu terjadi” Arkan tersenyum pada Kino


Kino terdiam sebelum menjawab kalimat Arkan.


“Arkan-san…”


“Hmm?”


“Sebenarnya, aku tidak begitu ingat apa yang terjadi. Hanya saja, aku ingat bahwa aku diserang oleh seseorang. Setelah itu…”


Kino tidak melanjutkan kembali kalimatnya dan tertunduk diam. Dia mencoba untuk mengingat kembali semua kejadian itu namun tidak berhasil.


Ryou yang duduk di bagian samping tempat tidur pasien menepuk pundak sang kakak.


“Tenanglah” kata Ryou dengan lembut


“Jangan memikirkan hal berat. Kami akan menceritakan semuanya sedikit demi sedikit padamu, Kino” Arkan menambahkan kalimatnya


Kino melihat dan tersenyum pada sang adik. Dengan menarik napas panjang, dia mulai mencoba menguatkan hatinya untuk mendengarkan semuanya dari awal.


Arkan bercerita tentang pertemuannya dengan Kaito terlebih dahulu. Dia menceritakan bagaimana dia bertemu Kaito yang datang ke bar dan tidak sengaja terlibat pertarungan dengan Justin. Dia juga bercerita bahwa saat itu Kaito bermaksud ingin mencari tau tentang jam saku yang hilang.


“Benar juga, apakah jam sakunya sudah ditemukan?” tanya Kino


Ryou mengeluarkan jam saku dari saku celananya dan memberikannya pada Kino.


“Ini. Kaito yang memberikannya padaku. Dia bilang jam ini ada pada Arkan sebelum aku datang” jelas Ryou


“Syukurlah~” Kino melihat jam saku tersebut dengan wajah penuh senyum ceria


Arkan melanjutkan ceritanya. Dia juga bercerita mengenai hubungan Kaito dengan Justin.


“Jadi, pria bernama Justin itu benar-benar mencari Kaito-san?”


“Aa. Tapi, kenapa itu seperti kau mengetahuinya? Apa kau memang telah mengetahui sesuatu sebelum aku dan Ryou?” tanya Kaito pada Kino


“Aku hanya mendengar hal itu dari Stelani-chan dan Fabil-kun ketika bertemu dengan mereka tanpa sengaja. Aku…tidak begitu mengingatnya tapi sepertinya ada sebutan aneh untuk Kaito-san. Pria…”


“Pria berpedang tanpa sarung pedang” jawab Ryou menimpali ucapan Kino sebelumnya


“Itu! Sebutan itu. Um…tapi…entah kenapa, sekarang aku merasa sebutan itu cukup keren untuk Kaito-san, meskipun sedikit terlalu panjang” kata Kino memuji


“……” semua orang terdiam mendengarnya


Bagian terbaiknya adalah kalimat Kino itu murni sebuah pujian, bukan sebuah sindiran pedas, tajam menusuk hati seperti yang selalu dikatakan oleh sang adik pada Kaito.


Menakjubkannya, Kaito tersenyum mendengar itu sambil mengucapkan “terima kasih” pada Kino. Itu dikarenakan dia tau seberapa tulus remaja satu itu dalam memuji seseorang.


Arkan yang melihat Kaito tersenyum hanya terdiam dan tidak ingin berkomentar. Dia memilih untuk mengubah topik dan melanjutkan penjelasannya.


“Setelah itu, aku pergi meninggalkan Kaito di bar bersama Justin yang sekarat akibat melawannya” lanjut Arkan


“Apa…apa itu artinya Kaito-san–”


“Kino, biarkan Arkan melanjutkan ceritanya” Ryou langsung memotong kalimat Kino


Kino merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang adik. Dia juga sempat melihat wajah Kaito yang berubah menjadi serius dan Arkan yang mulai terlihat cemas.


‘Apakah…mereka menyembunyikan sesuatu dariku?’


******