
Di dalam sebuah gedung yang sepi, terlihat seorang remaja yang berlari dengan panik.
“Apa-apaan ini?! Kenapa bisa begini?!” teriaknya
Remaja itu berlari menelusuri koridor gedung tersebut. Di tiap dindingnya, terdapat beberapa bercak darah dan noda darah yang bercampur dengan sesuatu yang menjijikan. Tidak jelas apa itu, namun dia sendiri menolak untuk mencari tau.
Fokusnya sekarang adalah untuk bisa lolos dari sesuatu yang mengejarnya sekarang.
“Aku benci tempat ini?!!” teriaknya
Tampaknya, alasan dia berteriak demikian karena sesuatu yang tidak benar di sana. Di belakangnya, terdapat sesuatu yang mengejarnya.
-GRAAA
“Kenapa aku tidak bisa menemukan sesuatu untuk dijadikan senjata?! Kemana pedangku sebelumnya dan apa-apaan tempat ini? Aku tidak pernah ingin masuk dalam film bertema horror dan zombie!!”
Remaja itu terus berlari dengan cepat. Dia menaiki tangga ke atas dan dengan cepat berlari ke koridor lainnya. Dia memasuki sebuah ruangan yang sepertinya mirip dengan ruang kelas. Saat dia memasuki ruangan tersebut, tampaknya keberuntungannya tidak begitu bagus.
“……!!!”
Remaja itu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Di dalam sana, terdapat tiga makhluk yang mirip dengan makhluk yang mengejarnya barusan. Mereka terlihat sibuk dengan sesuatu yang ada di lantai. Tidak terlihat seperti apa rupa fisik dari ‘sesuatu’ di lantai itu karena tertutup oleh meja, tapi dia bisa menebak apa itu.
‘Manusia’ ucap remaja itu dalam hati
Terdapat genangan darah yang masih baru dan sebuah tangan yang terlihat di antara meja-meja di dalam ruangan tersebut. Sudah dapat di pastikan bahwa manusia itu telah mati. Remaja itu juga melihat ada sebuah tas yang terbuka dengan sesuatu seperti onigiri dan roti yang berserakan di lantai.
Wajah pucat bercampur kesal terlihat dari ekspresinya.
‘Ini benar-benar menyebalkan!’
Untuk beberapa saat, tiga makhluk mengerikan penuh darah dan luka itu tidak memperhatikannya karena remaja itu tidak mengeluarkan suara saat pertama kali mencoba untuk masuk ke ruangan tersebut. Baru setelah remaja itu mengeluarkan suara decitan dari gesekan sepatu dan lantai koridor tersebut, mereka melihatnya.
“Sial!” umpatnya
-GRAAA
Ketiga makhluk mengerikan itu kembali mencoba mengejarnya. Dia kembali berlari dengan cepat untuk menghindarinya.
“Yang tadi satu, sekarang tiga! Memangnya ada berapa banyak zombie di sini!” dia mulai kesal
Memang dari segi kecepatan, makhluk itu sangat lambat. Selain itu, sesuai dengan namanya yaitu zombie. Mereka adalah makhluk yang tercipta dari manusia yang telah mati dan bangkit kembali untuk memakan manusia hidup. Makhluk itulah yang mengejarnya saat ini.
“Dimana si sumber masalah itu berada sekarang?! Aku juga harus mencari Kino, bukan bertemu makhluk tidak menyenangkan ini, dasar sial!!” teriaknya
Karena sudah terlanjur kesal, dia berbalik dan melihat ke arah tiga makhluk yang masih berada jauh di belakangnya.
“Kalau sudah begini, aku tidak punya pilihan. Akan ku habisi mereka dengan tangan kosong seperti saat pertama kali bertemu dengan anjing-anjing liar di altar waktu itu” ucapnya dengan ekspresi kesal
Sudah bertekad seperti itu, tiba-tiba dari arah pintu yang berada di belakangnya, terdengar suara yang cukup familiar di telinganya.
“Ucapan yang bagus, Ryou. Sekarang lebih baik kamu menyingkir sebentar dari sana”
“Apa?!” remaja itu kaget dan menengok ke belakang
Dari arah belakang, seorang remaja lain dengan jubah dan pedangnya berlari melewatinya dengan cepat, setelah keluar dari ruangan di belakangnya. Tanpa perlu bersusah payah, remaja itu segera menebas kepala dari tiga makhluk yang mengejar remaja tadi.
Dari kejauhan, dia hanya bisa melihat hal itu tanpa mengeluarkan suara dan dengan ekspresi datar.
“Itu dia sumber masalah kita” gumamnya pelan
Remaja itu berjalan ke arah remaja dengan pedang di depannya dengan cepat.
Selesai membunuh makhluk mengerikan itu dan membersihkan noda darah dari pedangnya, remaja dengan pedang itu menengok ke arah remaja lainnya.
“Kau beruntung karena bertemu denganku, Ryou. Apa kau baik-baik saja?” tanya remaja berpedang itu
Dia memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang yang ada di pinggangnya dan tanpa ada tanda-tanda dari siapapun, dia menerima sebuah kejutan.
-Jeeeb
“Agh!”
Rupanya, hadiah yang diterima olehnya adalah sebuah injakan dari Ryou ke salah satu kakinya dengan keras. Tidak heran itu membuat remaja yang menggunakan pedang itu sedikit merintih kesakitan.
“Apa yang kau lakukan, Ryou?”
“Itu hadiah untuk kebodohanmu saat di restoran! Siapa yang menyuruhmu untuk menyentuh permata milik Theo seperti itu, Kaito!” bentak Ryou itu
“Itu tidak sengaja. Aku berani bersumpah” ucap Kaito untuk membela diri
“Aku tidak butuh sumpahmu itu! Ini semua salahmu! Kau harus bertanggung jawab, dasar remaja amnesia berumur 21 tahun yang menyusahkan!”
“……” Kaito memilih untuk diam sambil merasakan nyeri di kakinya
Ryou yang masih dalam keadaan marah mencoba menahan diri. Dia melihat ke bawah dan berlutut untuk memastikan lebih dekat.
“Ini benar-benar di luar dugaan. Kenapa bisa ada zombie di gedung ini?” ucapnya serius
“Zombie? Apa nama makhluk ini, zombie?”
“Benar, ini zombie. Asalnya dari manusia yang sudah mati. Kalau di film-film, mereka tercipta karena suatu virus atau sesuatu seperti itu yang bermutasi dan menyerang manusia. Seperti wabah penyakit. Manusia yang mati akibat virus itu akan berakhir seperti ini dan itu menular”
“Menular?” Kaito semakin bingung
“Begitu. tapi sepertinya makhluk ini bisa dibunuh dengan mudah. Jika jumlahnya kecil sepertinya masih bisa diatasi” Kaito berkata dengan nada santai
“Iya, mudah untukmu karena kau punya senja…eh sebentar? Kenapa sarung pedangmu bisa ada bersamamu? Sejak kapan hal itu terjadi?!” Ryou terkejut dengan benda yang ada di pinggang Kaito
Kaito hanya melihat pedang di pinggangnya.
“Sabuk itu juga berbeda dengan yang sebelumnya? Kenapa?!”
“Sabuk ini satu set dengan sarung pedangku yang hilang. Jadi saat aku kehilangan sarungku, otomatis sabuknya hilang juga. Sekarang sudah tidak masalah”
“Bukan itu maksudku! Kenapa dia bisa ada padamu? Dan lagi, lihat pakaianku ini?! Ini pakaian yang sama seperti aku datang pertama kali! Selain itu, pedangku menghilang! Aku tidak bisa menemukannya dimanapun!”
Ryou cukup panik dan syok. Namun, sepertinya dia tidak memiliki banyak waktu untuk itu. Mata Kaito mulai berubah tajam. Ryou yang menyadari itu melihat ke belakangnya dan itu adalah zombie yang lain.
"Cih! Kenapa bisa…hmm?” Ryou terkejut
Zombie itu adalah wanita. Dia terlihat memakai pakaian yang masih baru meskipun terkena noda darah. Selain itu, dari yang terlihat oleh keduanya, tampaknya darah yang keluar dari tubuhnya masih sangat segar.
“Aku lupa dengan dia…” Ryou bergumam dengan nada lirih
“Tidak ada waktu untuk menyesal. Aku akan menjelaskan semuanya setelah membunuh yang satu itu!”
Kaito langsung berlari dengan cepat. Zombie wanita itu segera berteriak dan terlihat seakan ingin menangkap Kaito. dengan gerakan sangat cepat, Kaito tidak membutuhkan waktu lama untuk memenggal kepalanya.
-Pluuk
Kepalanya menggelinding di lantai koridor. Hal yang paling membuat Kaito kesal saat ini adalah darah dari zombie wanita itu sempat mengenai sedikit jubah kesayangannya.
“Menjijikan” ucap Kaito dengan mata dingin
Karena kesal, dia menendang kepala zombie wanita itu jauh-jauh. Seperti sebuah bola sepak, dia menendangnya dengan keras hingga kepala itu menggelinding di lantai koridor sampai akhirnya berhenti sendiri.
Kaito pergi mendekati Ryou setelah memasukkan pedangnya lagi.
“Kita pergi dari sini dan temukan Kino. Tempat ini benar-benar tidak bersahabat. Kalau benar yang kau katakan, kemungkinan ada banyak yang seperti ini di dalam bangunan ini”
“Kau benar. Kino dalam bahaya” Ryou terlihat serius
Akhirnya mereka meninggalkan tubuh keempat zombie itu di lantai koridor dan berlari menyusuri koridor lain di depan mereka.
Selama berlari, mereka berdua tidak mengatakan apapun. Fokus mereka saat ini adalah untuk mencari Kino. Ryou sempat melihat tulisan di setiap pintu yang ada di koridor tersebut. Dia mulai berpikir keras.
‘Tulisan itu…Hangul? Apa ini berarti kami berada di ‘dunia’ yang menggunakan bahasa Korea sebagai penghubungnya? Tapi bagaimana bisa? Sebelumnya di ‘dunia siang dan malam’ serta ‘dunia asing’ itu, mereka menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasanya. Selain itu, untuk berkomunikasi dengan Kaito saat itu…dia bilang dia menggunakan bahasa asing bernama Franka. Mungkinkah…’
Ryou berhenti sejenak di depan sebuah pintu.
“Kaito…”
“Ada apa? Kenapa kau berhenti?” Kaito melihat Ryou dengan wajah bingung
“Coba lihat tulisan di pintu itu? Bagaimana kau membaca itu?” Ryou menunjuk tangannya ke papan yang ada di atas pintu
Kaito tidak bertanya apapun dan langsung melihat tulisan di atas pintu itu. Dengan jelas, dia mulai membacanya.
“Ruang musik. Tulisan itu dibaca ‘ruang musik’. Kenapa dengan ruangan ini?”
“Sudah kuduga”
“Apanya?”
“Kau membaca tulisan itu dalam bahasa yang kau sebut Franka, benar kan?”
“Benar, tapi apakah ada yang salah dengan itu? Seperti apa tulisan itu di matamu?”
“Itu Hangul, salah satu tulisan yang berasal dari duniaku. Tulisan itu dipakai untuk suatu bahasa yaitu bahasa Korea. Korea adalah salah satu Negara yang ada di duniaku, sama seperti Prancis yang waktu itu pernah aku dan Kino jelaskan padamu”
“Hangul…Korea…berarti kekuatan aneh ‘dunia’ ini benar-benar mempengaruhi kita”
Kaito mengeluarkan jam saku miliknya. Dia melihat jamnya saat itu.
“Sekarang pukul 09.15. Kalau dilihat dari keadaan di luar jendela saat aku berada di ruangan pertama sepertinya ini pagi. Anggap saja kita berada di jam 09.15 pagi”
“Apa yang kau lakukan sebelum keluar dari ruangan itu?” tanya Ryou
Kaito menjelaskan sedikit yang dia alami sebelum bertemu Ryou.
“Aku membunuh makhluk yang kau sebut zombie. Ini pertama kalinya aku melihat makhluk seperti itu. Dalam ingatanku, tidak pernah ada makhluk aneh begitu jadi aku sempat bingung untuk membunuhnya. Sampai akhirnya aku memenggal kepala mereka dan berhasil menghentikan pergerakannya”
Ryou sempat terdiam. Dia mulai mengerti sedikit dengan situasi saat ini, tapi hal yang tidak dia mengerti adalah…
“Sekarang kita pikirkan kenapa bisa ada zombie di dalam gedung ini dan bagaimana cara menemukan Kino. Jika kita ada di tempat ini setelah permata Theo masuk ke tubuhmu berarti ada kepingan ingatanmu di sini” Ryou menyimpulkan sesuatu
“Kau benar. Kita bisa membahasnya setelah bertemu dengan Kino. Ayo”
Mereka berdua kembali berlari menelusuri koridor tersebut.
**
Di sisi lain, di sebuah ruangan yang terlihat seperti kantin. Ada dua orang yang sedang berkelahi. Satu di antaranya mulai terpojok dan seorang lainnya sedang berusaha membunuh seseorang.
******