
Sedikitnya, mari berpindah ke dalam bagian lain.
Ini adalah kejadian yang terjadi di pagi hari, tepatnya di waktu yang sama saat Akademi Sekolah Sihir baru akan melakukan upacara penerimaan.
**
Di kediaman keluarga van Houdsen saat ini, setidaknya ada sebuah hal yang sangat tidak menyenangkan terjadi.
-PRAANG
-CLAAANG
“Dasar tidak tau diri!”
Itu adalah suara teriakan dari sebuah ruangan. Ruangan itu adalah milik Axelia dan yang berteriak di dalam sana adalah Vexia, ibunda Rexa.
Nyonya besar itu mengeluarkan emosinya dengan cara membanting sebuah teko aluminium beserta beberapa benda di atas meja dalam ruangan tersebut.
Di sana, hanya ada tiga orang yaitu sang pemilik ruangan, Axelia beserta pelayan setianya Marie dan Vexia.
Dia kembali menendang teko di lantai.
“Ini semua karena kamu dan putra terkutukmu itu!” teriaknya
Axelia hanya bisa takut sambil menahan air matanya.
“Vexia-sama, aku mohon jangan seperti ini”
“Diam kamu! Gara-gara dan putra kotormu itu, Rexa dan masa depannya hancur! Sudah begitu, semua hal buruk akan menimpa keluarga ini! Ini semua karena kamu dan putramu yang sial itu!”
Pelayan bernama Marie memberanikan dirinya untuk membela sang majikan.
“Vexia-sama, itu berlebihan! Axelia-sama tidak melakukan apapun!”
“Diam kamu, pelayan!”
-Plaak
“Ah!”
“Marie?!” Axelia terkejut melihat sang pelayan terjatuh ke lantai akibat tamparan kuat dari Vexia. Dia langsung membantunya untuk bangun. “Marie, kamu baik-baik saja?!”
“Aku…aku tidak apa-apa, Axelia-sama”
Vexia yang melihat itu langsung menendang Axelia hingga tersungkur ke lantai.
“Akh!”
“Axelia-sama!”
Kemudian, seperti adegan ibu tiri yang menyiksa Cinderella, Vexia menjambak rambut indah Axelia dengan keras hingga membuatnya menjerit.
“Sakit! Tolong lepaskan aku…” rintihnya. Dia mencoba menyentuh tangan Vexia yang menjambaknya. Namun ditepis dengan tangan satu lagi hingga tangan Axelia memerah.
“Diam kamu! Murahan dan tidak berkelas sama sekali. Jangan membuatku ingin muntah!”
Marie merangkak dan memohon pada Vexia untuk melepaskan majikannya, akan tetapi sebuah tendangan hingga membuat Marie tersungkur kembali yang didapatkan.
Vexia menatap dingin penuh kebencian kepada Axelia di pagi itu.
“Biar kuberitau dirimu, wanita kotor. Gara-gara pertunangan Rexa anakku dengan Misha batal, banyak anak keluarga dalam bagian van Houdsen yang mengalami kerugian”
“Banyak gosip beredar dan banyak keluhan tentang kondisi ini. Aku sendiri juga tidak memiliki keberanian untuk menghadapi Earl Midford karena hal ini, apa kamu mengerti?!”
-BRUUUK
“Akh!”
Vexia mendorong kembali Axelia ke lantai. Dia berusaha bangun namun terlalu sakit tubuh itu menerima dorongan Vexia.
“Aku tidak akan memaafkan hal memalukan yang diterima oleh keluarga ini karenamu!”
“Jika bukan karena kamu yang menggoda suamiku dulu, semua hal ini tidak akan terjadi! Kamu sudah menghancurkan masa depan keluarga ini dan juga masa depan Rexa! Aku tidak akan membiarkanmu, murahan!”
Kemudian, Vexia pergi dari ruangan itu.
Semua hal buruk yang menimpa Axelia di pagi hari itu adalah rasa sakit yang sangat dalam. Wanita cantik itu menerima begitu banyak luka batin dan fisik, dandanan cantik di pagi itu, riasan dan pita di rambutnya harus rusak. Gaun manis lembut yang dikenakannya mulai sedikit kotor.
Air mata menetes dengan rasa sakit di seluruh tubuh.
“Hiks…hiks…maafkan aku…”
Marie, sang pelayan setia langsung menghampiri majikannya.
“Axelia-sama! Axelia-sama, Anda baik-baik saja?! Marie akan membantumu, ayo bangun”
Pelayan itu memegang tangan sang majikan, tetapi tubuh lunglai itu tidak sanggup untuk berdiri.
“Marie…hiks…”
“Axelia-sama…”
“Apa yang Anda bicarakan?! Anda tidak seperti itu, Anda bukan pembawa kesialan! Axelia-sama dan Xenon-sama adalah orang yang baik! Rexa-sama juga sangat mencintai kalian berdua! Marie juga menyukai kalian berdua!”
“Tapi…tapi Vexia-sama menderita karena aku. Hiks…aku hanya tidak ingin anakku dibenci oleh dunia ini. Xenon adalah malaikatku…hiks…”
Tangisan itu membuat Marie ikut sedih dan menangis bersama sang majikan.
“Maafkan ibu, Xenon. Maafkan ibu, Rexa-sama. Hiks…Revon-sama, maafkan aku”
“Hiks, Axelia-sama…hiks…hiks…”
Sungguh pagi hari yang bagaikan neraka. Seperti seseorang yang sangat hina, Axelia menerima perlakuan tidak menyenangkan di pagi itu.
Akan tetapi di luar ruangan tersebut, ada seseorang yang berdiri lalu pergi menuju sebuah ruangan.
Di dalam sebuah ruangan yang dituju orang tersebut, dia seperti bicara pada seseorang.
“Begitu, terima kasih” kata pria tinggi yang gagah tersebut
Ruangan itu sangat tidak asing. Seperti ruang kerja kepala keluarga van Houdsen.
“Terima kasih untuk laporannya” kata sosok pria yang berwibawa itu
Orang yang melaporkan itu bertanya, “Apakah ini tidak apa-apa, Revon-sama? Membiarkan Vexia-sama terus bersikap seperti itu?”
“Selain itu, ada banyak dampak hal buruk yang terjadi akibat menyebarnya berita tentang pertunangan Rexa-sama yang batal dengan Misha Diana Midford-sama”
“Revon-sama juga pasti akan mengalami hal yang tidak menyenangkan karena tuntutan dari anak keluarga van Houdsen. Hubungan kerjasama juga mungkin akan berpengaruh”
“Aku mungkin sangat lancang mengatakan hal ini, tapi Axelia-sama sudah sangat menderita jika Revon-sama tidak melakukan sesuatu”
Revon, suami dari Vexia dan Axelia sedang bicara dengan ajudan pribadinya. Atau kita bisa menyebutnya pelayan pribadi, Wave Ceruli.
“Wave…”
“Ya, Revon-sama?”
“Terima kasih sudah mau melaporkan hal ini padaku”
“Baik”
Pada akhirnya, Revon tidak mengatakan apapun kembali dan waktu sarapan tiba.
Di meja makan, Revon yang telah duduk untuk menyantap makanannya. Terlihat di sana, Vexia yang makan dengan gaya angkuhnya dan Axelia yang bahkan tidak menyentuh makanannya.
Marie, sang pelayan pribadi Axelia berdiri di belakangnya dengan ekspresi khawatir. Axelia sama sekali tidak menyentuh apapun.
“Kenapa tidak dimakan?” tanya Revon
“Eh?”
“Apa terjadi sesuatu?”
Axelia melihat ke arah sang suami. Dia menggunakan semua cara yang dia bisa untuk menutupi bekas merah hasil tamparan dari Vexia serta mengganti pakaiannya kembali menjadi sangat sederhana.
Dengan senyum yang terlihat baik-baik saja, Axelia menjawab, “Aku hanya sudah kenyang”
“Bagaimana kamu bisa kenyang sementara sendok pun tidak kamu sentuh?”
“Itu…”
-Braak!
Sebuah pukulan di atas meja terdengar. Itu adalah Vexia, dia memukul meja sehingga membuat Axelia dan Marie yang mendengarnya terkejut.
Dengan nada tinggi, dia berkata.
“Kenapa mengurusi orang yang tidak berguna seperti itu?! Biarkan saja wanita murahan itu mau makan atau tidak!”
Marie merasa sangat kesal dengan hinaan itu, namun rupanya sang suami justru terlihat tidak apa-apa.
Rupanya meskipun wajahnya datar, Revon mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.
“Aku yakin kamu belajar tata krama sejak kecil, Vexia”
“Apa?”
“Seharusnya berkacalah sebelum bicara. Menggebrak meja seperti itu bukanlah hal yang pantas dilakukan saat makan. Dan sikapmu itu lebih rendah dari orang yang tidak pernah belajar tata krama”
-Braak!
Sekali lagi, Vexia menggebrak meja. Namun disertai dengan berdirinya dia dari kursinya dan bentakan terhadap suaminya.
“Aku tidak terima kamu mengatakan hal seperti itu padaku, suamiku!”
“Dan aku tidak senang dengan perlakuan aroganmu itu pada wanita yang aku cintai, Vexia”
******