
Di waktu yang sama ketika Theo bertemu dengan Kino saat itu, ada orang lain yang melakukan pekerjaan panjang di kota.
Arkan yang telah menghabiskan dua jam waktunya untuk berbelanja semua kebutuhan bar akhirnya bermaksud kembali pulang ke tempat terasing di kota. Dia berjalan di jalanan utama di kota dengan membawa semua belanjaan yang ada dalam daftarnya sendirian.
“Kertas dinding untuk menutupi noda darahnya. Aku beli cukup banyak untuk berjaga-jaga. Lalu aku juga sudah memesan karpet besar di toko langganan dan meminta mereka mengantarkannya siang ini. Haa….ini bisa disebut pemborosan. Sudah begitu hanya aku seorang yang mengurus semua ini sendirian”
Di tengah-tengah gerutuan itu, Arkan melihat sebuah toko jam dan berhenti sejenak di depan pintu masuk toko tersebut.
“Jam ya. Kurasa aku harus mampir sebentar, siapa tau jam saku tua yang kutemukan itu bisa diperbaiki”
Setelah memutuskan untuk mampir, Arkan masuk ke dalam toko tersebut dengan semua belanjaannya.
“Selamat datang, tuan. Ada yang bisa dibantu?” pemilik toko menyambutnya
“Permisi, apa di sini menerima service jam?”
“Oh, tentu saja tuan. Silahkan, silahkan”
Arkan meletakkan semua belanjaannya di lantai dan duduk di kursi yang sudah disiapkan pemilik toko. Setelah Arkan melihat pemilik toko selesai memakai kacamatanya, dia mengeluarkan jam saku antik yang ada di saku celananya.
“Ini jamnya. Sebenarnya jam saku ini aku temukan di tempat kerjaku. Karena sepertinya rusak jadi aku berpikir untuk membawanya untuk diperbaiki. Apa masih bisa?”
“Hmm, sebentar”
Pemilik toko memperhatikan jam saku antik itu baik-baik. Jam tersebut memang memiliki banyak goresan dimana-mana, bahkan terdapat huruf asing pada bagian dalam tutupnya. Setelah dilihat-lihat beberapa menit, pemilik toko tersebut tersenyum.
“Tuan, sepertinya jam ini tidak rusak. Benda ini berfungsi dengan sangat baik”
“Berfungsi?! Kau yakin dengan hal itu? Maksudku, jarum jamnya saja tidak terlihat bergerak sama sekali sampai tadi!. Coba lakukan lebih teliti lagi!”
“Tidak tuan, ini bergerak. Sejak awal jam ini bergerak, lihatlah sendiri”
Pemilik toko memperlihatkan jam saku tersebut kepada Arkan dan dia terkejut dengan wajah datarnya.
‘Bagaimana mungkin? Aku ingat dengan jelas pagi ini jam itu sama sekali tidak bergerak. Apa aku yang salah lihat?’ gumam Arkan dalam hati
“Lalu bagaimana tuan? Apa jam ini jadi anda servis?”
Pertanyaan pemilik toko memecah keheningan dan membuat Arkan kembali ke dunia nyata. Dia hanya bisa melihat jam saku tua itu sekali lagi. Memang benar, sekarang dia melihat seluruh jarum jam pada jam saku tersebut bergerak termasuk jarum jam yang menunjukkan detik.
Setelah diam sesaat, dia mengambil jam saku tersebut dan menyimpannya ke dalam saku celananya.
“Tidak jadi. Terima kasih untuk bantuannya”
Arkan mengambil belanjaannya kembali yang ada di lantai dan pergi keluar toko tersebut sambil terus menggerutu sepanjang jalan.
“Apa aku memang kurang istirahat karena stress berlebih ya? Aku yakin jam itu tidak bergerak sama sekali. Aku sudah memperhatikannya, aku yakin itu. Tapi kalau kenyataannya sekarang jam saku tersebut berfungsi dengan baik, kurasa aku bisa menyimpannya sekarang”
Arkan berhenti lagi sejenak, memindahkan belanjaan yang dipegang oleh tangan satu ke tangan lainnya dan mengambil jam saku tersebut.
“Padahal niat awal jika memang tidak bisa digunakan, akan kubuang lagi benda ini ke tempat sampah. Syukurlah jam saku ini bisa kupakai sekarang”
Sudah tidak ada lagi hal yang ingin didatangi oleh Arkan di kota dan kali ini dia benar-benar memutuskan untuk kembali menuju bar. Setelah berjalan melewati kawasan penduduk, dia menuruni anak tangga yang ada di sana untuk berjalan kembali ke bar.
“Akhirnya kau bisa benar-benar kembali ke bar dan langsung mengurus sisa-sisa pesta berda….Ah!. Sial, aku hampir lupa!”
Niat awal untuk pulang akhirnya ditunda sebentar.
“Aku hampir lupa aku harus ke tempat Riz untuk memintanya mengambil mayat-mayat itu”
Sungguh membuang-buang waktu. Di saat hari sudah mulai siang dan dia masih harus berjibaku dengan semua mayat-mayat di belakang bar tempatnya bekerja.
Perjalanan yang dilakukan Arkan untuk pergi ke tempat yang dituju kurang lebih memakan waktu sekitar lima belas menit sejak dia menuruni anak tangga.
Wilayah yang kurang akan cahaya matahari dan sangat sepi dengan bangunan yang kosong dan tak terawat benar-benar menujukkan tempat asing tersebut akan tetap menjadi tempat yang tidak ramah bagi siapapun, termasuk Arkan yang sudah menghabiskan waktu untuk tinggal di sana lebih dari yang bisa dia ingat.
Setelah lima belas menit berlalu, Arkan sampai di suatu tempat bernama [Riz Mortem]. Selain bangunan tak berpenghuni di sekitarnya, tempat bernama Riz Mortem itu juga merupakan salah satu bangunan tidak bersahabat lainnya karena pada kedua sisi pintu masuknya terdapat ornamen tengkorak sebagai hiasannya.
Melihat hiasan unik tersebut, Arkan berkomentar dengan raut wajah dan nada datar.
“Sungguh selera yang bagus” satu kata untuk tempat yang dia kunjungi saat ini, bau kematian ada di mana-mana
Arkan membuka pintu tempat itu tanpa masuk ke dalamnya.
“Riz, ini aku. Apa kau ada di rumah?”
Tidak ada jawaban sampai sebuah peti mati di tempat itu terbuka. Benar, peti mati yang di dalamnya adalah manusia hidup.
-KRIIIIIT
“Yo, Arkan. Ada yang bisa kubantu?”
Seorang remaja laki-laki yang tinggi berambut hitam model wolf cut dengan poni yang lurus serta pakaian yang hitam keluar dari peti mati tersebut.
Seakan dia enggan untuk masuk, Arkan hanya menahan wajah datarnya di depan pintu sambil bergumam saat remaja tersebut telah keluar dari peti mati dan melemaskan tubuhnya.
‘Dia tidur di dalam benda itu? Hobi yang bagus. Kurasa dia belajar merasakan seperti apa rasanya di dalam peti matinya dulu sebelum dia mati sungguhan’
Remaja tersebut keluar dari peti mati dan berjalan menuju pintu masuk tempat dia berdiri. Arkan tidak melakukan apapun kecuali berdiri di depan pintunya.
“Tidak mau masuk dulu dan bicara baik-baik? Aku bisa buatkan kau the, Arkan” remaja bernama Riz mendekatinya dan mempersilahkannya masuk
“Tidak, terima kasih. Aku harus cepat kembali sebelum karpetku datang. Riz, aku ingin meminjam jasamu. Apa kau bisa memindahkan lima mayat yang ada di belakang bar tempatku bekerja?. Kalau bisa aku ingin kau ikut denganku sekarang”
“Hoo…mayat ya? Apa Justin melakukan sesuatu hari ini?”
“Bukan hari ini tapi kemarin malam. Ada sedikit pesta di bar dan sekarang aku masih harus kerja rodi membereskan sisanya. Justin-sama sepertinya sedang tidak enak hati jadi dia membunuh anak buah dan tiga wanita yang sering menemaninya tidur semalam”
“Menakjubkan! Apa mayatnya utuh? Kondisinya bagus tidak? Kalau bagus aku bisa membawanya ke pasar gelap di tempat ini nanti malam untuk dijual kembali tanpa perlu aku potong lagi” Riz terlihat senang sekali
Mendengar apa yang dikatakan remaja yang kelihatannya lebih muda darinya, Arkan hanya bisa berkomentar dalam hati.
‘Dasar mesum! Aku mempertanyakan seleranya sekarang. Aku sudah mengenalnya cukup lama tapi aku masih belum terbiasa dengan fetish yang dia miliki. Apanya yang bagus dari mayat manusia?’
Kembali lagi ke dalam kenyataan sekarang, Arkan menjawab pertanyaan Riz.
“Mayatnya utuh, hanya ada sedikit lubang di beberapa bagian. Kalau soal kondisi aku tidak tau karena baru kubungkus semalam. Mungkin sudah sedikit berbau atau semacamnya, tapi aku tidak peduli. Jadi, bagaimana?”
“Aku mengerti. Akan kulakukan begitu selesai”
Arkan menutup pintunya dan menunggu di luar ditemani dengan dua ornament tengkorak itu. Sungguh pemandangan yang indah di pagi hari. Hanya menunggu sekitar lima belas menit, Riz keluar dari arah belakang dengan menarik sebuah gerobak bersamanya. Tubuhnya memang kecil tapi sepertinya dia sudah ahli dalam pekerjaan tersebut.
“Jadi, bagaimana keadaan barnya?”
Riz bertanya kepada Arkan dengan wajah senang seakan tidak mewakili jenis pertanyaan yang dia ajukan
“Bagaimana menjelaskannya ya. Pokoknya aku sedang mencoba untuk ganti suasana. Gara-gara semalam, lantai dan dinding bar mendapat warna merah segar dan tuan Nox melarikan diri dari kota. Lihat apa yang kubawa ini?. Ini salah satu rencana renovasi sementara yang kupikirkan”
“Hoo, pak tua Nox sudah pergi. Apa Justin masih di sana?”
“Dia tidak keluar sejak semalam. Awalnya aku mengira dia sudah mati bunuh diri di dalam ruangannya tapi ternyata dia masih hidup”
“Hmm, baguslah kalau dia masih hidup. Dengan begitu bisnisku masih akan bertahan lama. Karena selama ini mayat yang kudapat semuanya adalah hasil dari Justin. Ladang uangku di pasar gelap masih bisa terus bertumbuh. Senangnya~”
Sepanjang perjalanan menuju baru tersebut, Arkan hanya diam sambil sesekali melirik remaja di sampingnya. Itu karena Riz terus bergumam yang tidak-tidak soal mayat dan lainnya sampai telinganya sakit. Kalau seandainya dia hanya remaja biasa yang hidup di kota, pasti hal yang akan jadi topik pembicaraannya sekarang adalah tentang menghabiskan waktu dengan pacarnya, bukan dengan tumpukan mayat.
Mereka akhirnya sampai di [Barre des Noirs].
“Kau langsung saja ke belakang. Mayatnya sudah kususun rapi jadi hanya tinggal kau ambil. Aku mau masuk untuk langsung memasang semua kertas dinding ini. Kalau sudah, kau bisa ke dalam untuk mengambil bayaranmu”
“Baiklah. Aku akan mengambil sumber uangku” Riz tersenyum sambil menarik gerobaknya ke belakang bar tersebut
Arkan yang masuk, mengetuk pintu ruangan Justin untuk memberitaukan hal yang dia lakukan pagi ini, mengingat dia tidak berpamitan padanya sebelum pergi.
“Justi-sama, aku kembali. Aku memanggil Riz Mortem untuk mengangkut semua mayat di tempat pembuangan sampah di belakang. Setelah ini aku akan membereskan semuanya sebelum bar di buka. Apakah Justin-sama membutuhkan sesuatu?”
Awalnya tidak ada respon sama sekali, namun dua menit kemudian dari dalam ruangannya Justin menjawab.
“Apa ada tikus atau sampah yang datang pagi ini?”
Arkan terdiam. Dia sudah tau bahwa tikus yang dimaksud olehnya adalah anak-anak kecil yang biasa mencari uang untuknya dan sampah yang dimaksud adalah anak buahnya sendiri.
“Masih belum. Anak-anak itu kemungkinan akan datang beberapa menit lagi. Untuk yang lain…sepertinya anda harus menunggu sedikit lagi”
Seakan terkena serangan jantung, Arkan sangat kaget begitu melihat pintu ruangan itu terbuka dan Justin menatapnya dengan tatapan mengerikan. Sejak tadi malam sampai pagi ini, ekspresi datar Arkan sama sekali tidak berubah. Tapi sekarang, dia merasakan ketakutan yang amat luar biasa.
Bahkan ketika dia melihat Justin mengarahkan pistol kepadanya, Arkan merasa nyawanya akan langsung berpindah alam setelah ini.
Justin dengan dingin berkata kepadanya.
“Aku tidak suka menunggu”
Meskipun ketakutan, Arkan masih sempat membuat komentar pedas.
‘Kau mungkin tidak suka menunggu tapi itu bukan urusanku, kan?! Itu salahmu kenapa menyuruh semua pria berotot tanpa otak itu pergi mencari pria berpedang tanpa sarung pedang itu!. Kau sendiri saja belum pernah melihatnya secara langsung dan hanya mendengar berita tentangnya dari mendiang anak buahmu yang sudah jadi mayat sekarang!’
Justin masih menatap dingin wajah Arkan yang ketakutan. Niatnya, dia ingin sekali menembak kepala Arkan jika tidak mendapat kejutan tiba-tiba.
“Arkan~ Aku sudah selesai dengan ladang uangku. Aku mau pembayaran…Ah! Justin-sama, sumber uangku yang lain~”
Riz datang dari pintu depan dengan senyum ceria sambil berjalan menghampiri kedua orang itu. Adegan pria botak berotot yang menodongkan senjatanya kepada bartender bar sama sekali tidak menjadi objek yang menarik perhatiannya. Raut wajah Justin masih tidak berubah namun pistol yang ditodongkan ke arah Arkan akhirnya diturunkan.
‘Aku selamat berkat kedatangan Riz’ pikir Arkan
“Kenapa kau di sini, Riz Mortem?” Justin bertanya kepada Riz dengan wajah dinginnya
“Ara, Justin-sama. Kudengar dari Arkan bahwa kau habis berpesta pora semalam, jadi aku datang mengambil ladang uangku. Lima mayat utuh dengan sedikit lubang yang sudah dibungkus rapi sudah ada di luar. Aku mau meminta biaya pengambilannya”
Justin melempar dua kalung permata dan sebuah gelang emas yang ada di saku celananya kepada Riz.
“Itu! Ambil benda itu dan pergi dari sini”
“Uwaaa, ini lebih dari cukup! Terima kasih banyak! Senang berbisnis denganmu, Justin-sama. Tolong kalau ada lagi yang seperti itu, kau harus langsung memanggilku ya. Sampai jumpa lagi, Justin-sama. Aku pergi dulu, Arkan”
Setelah Riz pergi meninggalkan mereka, Justin memasukkan pistolnya dan kembali ke ruangannya mengambil pisau lipat yang ada di sofa dan sebuah pistol lainnya di sana. Dia berjalan keluar bar tanpa berkata apapun.
“Justin-sama, mau kemana?” Arkan bertanya dengan wajah datarnya kembali
“Aku akan mencari pria yang berani masuk ke wilayahku itu sendiri. Menunggu para sampah itu sama sekali tidak membantuku. Aku akan mencarinya di kota dan akan kubawa kepalanya ke tempat ini”
Setelah Justin keluar dan pintu di tutup, Arkan terdiam lalu mengepalkan tangannya sambil berteriak.
“Yeah! Akhirnya kalian semua pergi dan aku bisa bekerja dengan tenang. Semoga kalian semua tidak kembali lagi ke bar ini, pria berotot tanpa otak!!”
******
Di pusat kota, wajah pucat Theo langsung terlihat menggambarkan ketakutannya saat Kino mengatakan permintaannya.
“Maukah kamu membantuku menemukan bendaku yang hilang?”
“Benda…benda milik Kino-nii yang hilang?”
“Aku sedang mencari benda berhargaku yang hilang sejak kemarin, namun sampai saat ini aku belum menemukan petunjuknya. Apa Theo-kun mau membantuku?”
Theo sudah tau apa yang terjadi karena dialah pelakunya. Dia masih berpikir Kino belum mengetahui apapun jadi dia mencoba mengembalikan mentalnya. Dengan sedikit senyum yang dipaksakan, dia bertanya pada Kino tanpa memberikan jawaban dari pertanyaan sebelumnya.
“Ka–kalau boleh tau, benda apa yang ingin Kino-nii temukan itu?”
“Jam saku. Jam saku antik tua berwarna keemasan dengan banyak goresan. Benda itu sangat penting untukku dan aku harus menemukannya”
-Deg
Theo mengingat sesuatu. Dia memang mencuri sesuatu dari orang yang ada di hadapannya kemarin meskipun sebenarnya dia tidak sengaja melakukan hal itu. Karena saat itu Kino baru saja mencoba memasukkan sesuatu ke dalam saku celananya.
Dia juga ingat ketika memberikan semua hasil curiannya kepada Justin, dia melempar semua barang-barang di kantongnya ke arah Justin. Dengan kata lain, jam saku itu juga kemungkinan ikut terlempar.
Theo hanya bisa mematung sambil berkata dalam hati dengan keringat yang keluar dari keningnya.
‘Aku dalam masalah sekarang’
******